My Important Bussiness With CEO

My Important Bussiness With CEO
— 30.


__ADS_3

Bukan bermaksud untuk menguntit ataupun hal semacamnya, setelah kemarin sempat berbincang-bincang dengan Kakek Yudha, Ardhi memutuskan menyuruh salah seorang anak buahnya mengikuti Renjani. Karena firasat mengenai sang kakek yang akan melakukan sesuatu itu menggebu dengan begitu keras dalam pikiran seorang Ardhi.


Tak hanya menjadi sebuah firasat, terbukti kalau hari ini, tepatnya setelah Renjani mengantarkan kedua orang tuanya ke bandara, beberapa anak buah dari sang kakek mulai melancarkan aksinya. Mereka membawa secara paksa sosok Renjani menuju ke salah satu villa milik Kakek Yudha yang berada di puncak.


Anak buah yang memang ditugaskan untuk mengikuti pun mulai memberitahu hal penting ini kepada atasannya. Ardhi yang kebetulan masih berada di dalam pembahasan mengenai proyek baru pun memutuskan untuk segera meninggalkan tempatnya. Laki-laki itu merasa harus segera menyusul Renjani yang sekarang ini sudah dibawa oleh kakeknya.


Dengan terburu-buru, Ardhi mulai terlihat mengendarai mobilnya melewati jalanan kota pagi ini yang terbilang cukup ramai dengan kendaraan lainnya. Menyalip ke kanan dan ke kiri hanya supaya bisa segera sampai ke villa untuk menarik Renjani keluar.


Karena Ardhi mengendarai mobilnya secara gila-gilaan, hanya butuh tak lebih dari empat puluh lima menit, akhirnya mobil sedan yang memiliki logo empat cincin itu pun tiba juga di halaman depan dari sebuah villa mewah milik kakek Yudha.


Tak berniat untuk membuang banyak waktu, Ardhi yang sudah berhasil melepaskan sabuk pengaman pun bergegas turun dari mobil, kemudian berlari masuk ke dalam villa itu. Terlalu gampang ditemukan, setelah berada di dalam Ardhi langsung bisa melihat sosok Renjani yang tengah berbincang serius dengan sang kakek.


Merasa harus segera dihentikan, Ardhi yang sudah ada di sana, mulai menggenggam erat tangan milik gadis itu dan membuatnya berdiri dari tempat duduk. Sudah cukup untuk perbincangannya, Ardhi harus segera membawa Renjani pergi dari villa ini.


"Kalau memang ada yang ingin kakek tahu, bisa tanyakan langsung kepadaku," ujar Ardhi yang kemudian melangkahkan kakinya keluar bersama dengan gadis pemilik nama Renjani itu.


Jujur saja, sejak tadi berada di dalam villa bersama kakek dari Ardhi, Renjani merasa begitu kurang nyaman. Perasaan seperti sedang diintimidasi itu hadir dengan jelas. Tak heran ketika Ardhi datang dan langsung membawanya pergi, helaan napas lega bisa mulai terdengar.


"Bukankah hal seperti ini seharusnya tidak ada dalam kontrak kita?" Tanya Renjani sedikit merasa kesal atas kejadian yang seharusnya tak terjadi ini.


"Saya benar-benar minta maaf! Lain kali hal seperti ini tak akan terjadi lagi. Saya bisa pastikan itu," ucap Ardhi sembari mengemudikan mobil yang kini sudah kembali melintas di jalanan kota.


"Apa ada pinalti untuk kesalahan ini?" Tanya Renjani menelisik ingin tahu.


"Pinalti?"


"Iya. Melakukan hal yang tidak termuat di kontrak, bukankah termasuk pelanggaran yang perlu diberikan pinalti?" Renjani sangat berharap kalau ada sedikit kelonggaran mengenai perjanjian yang sudah mereka berdua sepakati. Mungkin saja pinalti itu bisa membuat Renjani terlepas dari hubungan pura-pura dengan CEO Moonlight Group.


"Kamu minta pinalti untuk kesalahan ini?" Tanya Ardhi hanya memastikan saja.


"Tentu. Kalau tidak ada pinalti, mungkin segala ketentuan di kontrak bisa dengan mudah dilanggar. Saya hanya ingin sedikit lebih adil saja," ujar Renjani kedengaran sudah mulai berani.


Ardhi yang memang tidak keberatan untuk memberikan pinalti terhadap kesalahannya sendiri pun dengan cepat bisa menemukan solusi. Mungkin akan adil kalau ia mengurangi jumlah kompensasi yang bisa dibayar oleh Renjani.


"Baiklah. Bagaimana kalau saya meminta kamu untuk hanya membayar 100 juta sebagai uang kompensasi?" Tanya Ardhi yang tampaknya sedikit tidak disukai oleh Renjani.


"Bukankah saya sudah tidak perlu membayar lagi uang kompensasi karena sudah mau setuju untuk berkencan dengan Tuan?" Jawab Renjani kembali mengenakan kata Tuan untuk menyebut laki-laki yang kini masih sibuk mengemudi.


"Kita buat lebih mudah saja. Saya tahu kalau kamu pasti memiliki keinginan untuk segera terbebas dari kepura-puraan ini. Oleh sebab itu, saya menurunkan harga kompensasi dari 200 menjadi 100 juta. Jika kamu sanggup membayar dan melunasi itu, aku rasa kita sudah bisa berhenti berkencan," kata Ardhi memberitahukan hal yang bisa dibilang cukup menarik untuk dibahas.


"Bukankah kamu sempat bertanya batas waktu dari kencan pura-pura ini? Saya sudah memberikan jawabannya," tambah Ardhi yang mampu membuat Renjani mengeluarkan tawa kecil.


Kenapa laki-laki itu sangat licik? Selalu saja menemukan akal untuk tetap bisa mengurung dirinya. Mau jumlahnya dikurangi setengah, kalau masih berada dikisaran 100 juta, Renjani juga masih belum sanggup untuk melunasinya. Meskipun bisa, itu juga akan membutuhkan waktu yang lama. Apakah sekarang ia benar-benar akan terjebak dengan Ardhi dalam waktu yang panjang?

__ADS_1


"Perasaan saya meminta pinalti untuk pelanggaran kontrak, tapi kenapa kedengarannya saya yang sedang diberikan pinalti?" Gumam Renjani yang ternyata bisa didengar oleh laki-laki itu.


"Dengan menurunkan jumlah kompensasi itu sudah termasuk dalam pemberian pinalti," tutur Ardhi yang terlalu sulit untuk didebat lagi.


...•••...


Disisi lain, tepatnya di salah satu kamar dari sebuah rumah mewah yang tampak tidak asing, terlihat seorang gadis muda sedang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Bukan bermaksud karena ingin bermalas-malasan, hanya saja sejak pagi tadi kondisi tubuh Syifa sudah terasa tidak enak. Begitu mual dan seringkali bolak balik ke kamar mandi. Entah apa yang terjadi pada dirinya, tapi yang jelas saat diminta oleh pelayan untuk memeriksakan diri ke dokter, gadis itu menolak.


Daripada harus pergi ke dokter dan meminum obat yang begitu tidak disukai rasanya oleh Syifa, akan jauh lebih baik kalau ia menyembuhkan dirinya sendiri dengan beristirahat. Tidur merupakan obat terampuh untuk menyembuhkan rasa sakit apapun.


Syifa memang berniat untuk segera tidur, tapi ketika berusaha keras memejamkan matanya, ia kembali merasakan mual yang luar biasa. Kalau seperti ini terus takutnya Syifa bisa mengalami dehidrasi.


"Bi?" Teriak Syifa kepada salah satu pelayan, setelah keluar dari kamar mandi.


"Nona muda," saat menoleh dan menghampiri ke arah orang yang membuat panggilan, Pelayan itu kelihatan sedikit terkejut. Pasalnya wajah dari nona mudanya itu tampak begitu pucat, hampir seperti orang yang sedang sakit.


"Apa nona baik-baik saja?" Tanya pelayan itu mulai khawatir dengan kondisi yang dialami oleh Syifa.


Setelah terus keras kepala enggan dibawa ke rumah sakit, Syifa pun mulai meminta bantuan kepada pelayan itu agar mau membawanya ke dokter. Sepertinya Syifa memang sudah tak bisa menahan lagi rasa sakit yang mengguncang tubuhnya ini.


"Ke rumah sakit. Tolong bawa aku kesana," pinta Syifa sambil terus menerus menahan rasa mual yang dialami.


.


.


.


Renjani yang tahu kalau dirinya sekarang sudah tiba di rumah pun mulai bergegas untuk melepaskan sabuk pengaman. Entah mengapa rasanya seakan ia begitu ingin segera meninggalkan laki-laki bernama Ardhi itu. Bukan tanpa sebab, hanya saja setelah tadi mengalami sedikit perdebatan terkait masalah pinalti dari kontrak yang dilanggar, Renjani sudah tersulut dalam rasa kesal yang tak bisa diungkapkan.


"Terima kasih atas tumpangan dan bantuannya hari ini," ujar Renjani sudah bersiap ingin membuka pintu mobil, tapi tiba-tiba di cegah oleh Ardhi.


"Tunggu sebentar."


"Iya? Apa masih ada yang ingin tuan katakan?" Tanya Renjani yang seketika mendapatkan anggukkan kepala dari Ardhi.


"Nanti malam, saya mau mengajakmu dinner," kata Ardhi dengan ajakan yang tentu saja akan mendapatkan penolakan dari Renjani.


"Sepertinya saya tidak bisa, karena malam ini saya akan ada acara makan malam dengan keluarga," ujar Renjani asal hanya supaya bisa memberikan alasan masuk akal dari penolakannya itu.


"Keluarga mana yang kamu maksud?" Tanya Ardhi mulai bingung.


"Saya akan makan malam di rumah bersama ayah dan ibu," kata Renjani yang mungkin melupakan kalau kedua orang tuanya saat ini sudah terbang menuju Paris.

__ADS_1


"Sepertinya kamu memang harus berlatih lagi untuk mencari alasan. Bukankah pagi ini Tuan Aries berangkat ke Paris untuk menyusul kakak mu?" Mungkin perkiraan Renjani, Ardhi tak akan tahu soal kepergian kedua orang tuanya, jadi dengan seenaknya memakai alasan seperti itu untuk menolak. Padahal aslinya, Ardhi tahu kalau Tuan Aries sekarang ini sedang dalam perjalanan ke Paris.


Karena sudah ketahuan memberikan alasan palsu, Renjani pun terdiam sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak ada pembelaan ataupun ucapan apapun yang diberikannya.


"Saya akan jemput kamu nanti malam. Sepertinya untuk beberapa minggu ke depan, saya bisa jauh lebih mudah bertemu denganmu," kata Ardhi dan langsung berhasil membuat gadis itu membuka pintu mobil.


Dalam balutan perasaan malu karena ketahuan berbohong, Renjani pun mulai melangkahkan kakinya cepat-cepat, masuk ke dalam rumah yang saat ini bisa dibilang sedang kosong.


Ardhi yang masih berada di dalam mobil pun sengaja menunggu, sampai sosok gadis itu sudah tak terlihat lagi oleh kedua matanya. Ardhi hanya ingin memastikan kalau Renjani memang sudah bisa sampai di rumah dalam keadaan baik-baik saja.


Pada saat Ardhi masih di mobil dan pandangannya juga terus saja terfokus pada sosok Renjani, tiba-tiba ponsel yang ada di dalam saku jas miliknya berdering. Rupanya laki-laki itu mendapatkan sebuah panggilan dari rumah. Kenapa pelayan rumah menghubungi dirinya?


Merasa kalau ada sesuatu hal penting, Ardhi pun tanpa tahu langsung menjawab panggilan itu. Perlu diketahui, kalau Ardhi sangat jarang mendapatkan panggilan telepon dari rumah.


"Halo, dengan Ardhi disini. Apa ada sesuatu hal penting yang ingin dikatakan?" Tanya Ardhi tanpa basa-basi.


"Tuan, nona muda saat ini sedang dibawa ke rumah sakit. Keadaannya tiba-tiba buruk," kata pelayan rumah dengan suara kedengaran cemas.


"Syifa dibawa rumah sakit? Apa dia sedang sakit?" Tanya Ardhi ingin tahu.


"Sejak pagi tadi nona sudah merasa mual. Nona bilang juga kalau kepalanya terasa begitu pusing. Ini sekarang saya sedang membawa ke rumah sakit bersama sopir," ucap pelayan itu lagi dari balik panggilan.


Tanpa memberikan tanggapan apapun lagi, secara sepihak Ardhi langsung mengakhiri panggilan itu.


Karena Syifa adalah adik perempuan yang paling disayangi, mendengar kabar seperti ini langsung membuat Ardhi kembali menginjak pedal gas dan berkendara menuju rumah sakit. Ardhi harus menemui adiknya karena memang ingin memeriksa sendiri mengenai keadaan sang adik. Sangat berharap kalau penyakit yang diderita oleh Syifa tak terlalu parah.


^^^Bersambung...^^^



Catatan kecil :


- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.


- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.


-----------------------------------------------------------


Story ©® : Just.Human


*please don't copy this story.


Find Me

__ADS_1


✓ Instagram : just.human___


-----------------------------------------------------------


__ADS_2