
Dengan perasaan sedih yang mendalam, David kini sudah terlihat mulai menginjakkan kakinya di rumah. Setelah tadi mengunjungi Syifa hanya karena ingin mengatakan soal keputusannya dan akhirnya berujung dengan ia yang mendapat pukulan keras dari Ardhi, David memutuskan untuk pulang.
Sebenarnya kalau bisa, David masih begitu ingin menjelajahi jalanan kota malam ini, hanya bermaksud untuk menenangkan pikirannya yang mulai kacau. Karena kalau sudah tiba di rumah, David sama sekali tak memiliki kesempatan untuk melakukan itu.
Dengan wajah memar dan ekspresi wajah murung yang sejak tadi terus saja terlukis di wajahnya, berhasil membuat sang ayah yang memang sudah menunggu kepulangannya itu langsung memasang wajah penuh amarah.
Alasan kenapa David memilih pulang ke rumah bukan apartemen adalah hanya karena sang ayah yang memanggil dan meminta. Kalau David tak menuruti, ayahnya yang memang suka memberikan ancaman itu berniat untuk menyakiti sang ibunda.
Beginilah kondisi keluarga David. Alasan yang membuat laki-laki itu meragu untuk menjalani hubungan ke arah yang lebih serius dengan Syifa. Bukan karena tidak mencintai, tapi David hanya takut kalau perempuan tersayangnya harus ikut masuk dalam keluarga toxic seperti ini. David tidak mau membuat Syifa juga ikut merasakan apa yang selama ini dirasakan olehnya. Maka dari itu, saat David sering diminta oleh sang kekasih supaya mau menemui anggota keluarga, David lebih sering untuk memberikan penolakan. Rasa kurang pantas karena memiliki keluarga seperti itu, mampu menghalangi langkah David untuk maju bersama Syifa.
Andaikan saja David tidak berada atau ditempatkan pada sebuah keluarga yang seperti ini, mungkin ia juga tak akan menjadi seorang laki-laki brengsek yang memilih lari dari tanggung jawab. Menggugurkan kandungan sudah menjadi satu-satunya pilihan terbaik yang bisa diambil oleh David.
"Habis berantem sama siapa?" Tanya sang ayah yang telah melemparkan sorot mata tajam menusuk kepada sang putra.
"Sama teman," jawab David tak berani untuk menatap ke arah sang ayah.
Tanpa berkata lebih banyak lagi, sang ayah pun memberikan tamparan yang begitu keras kepada David. Saking kerasnya sampai membuat tubuh dari laki-laki tersungkur di atas lantai dari rumah ini. Beginilah cara dari sang ayah dalam hal mendidik. Terlalu keras sampai tak peduli kalau apa yang dilakukannya bisa cukup menyakitkan bagi sang putra.
"Apa ada sesuatu hal lain yang sedang kamu sembunyikan dari ayah?" Tanya sang ayah tepat setelah memberikan sebuah tamparan sebagai tanda pelajaran untuk sang putra.
Saat mendengar hal seperti itu terucap dari mulut sang ayah, David langsung melebarkan kedua matanya. Terkejut sekaligus penasaran, apakah sang ayah sudah mengetahui sesuatu mengenai Syifa?
"Tidak ada yang terjadi, semua baik-baik saja," bohong David dengan tujuan agar yang terjadi sekarang bisa segera berakhir.
Tahu kalau yang barusan dikatakan oleh David adalah sebuah kebohongan, sang ayah pun bergegas untuk mensejajarkan posisi dengan David, lalu tanpa ada permisi ia kembali memberikan tamparan. Tadi sewaktu berada di rumah sakit, David sudah dihajar habis-habisan oleh Ardhi dan sekarang di rumah pun, ia kembali mendapatkan perlakuan yang sama dari ayahnya. Apakah David memang layak untuk dipukul?
"Sejak kamu kecil, ayah sama sekali tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong. Ingat ya, David! Jangan berpikir kalau kamu bisa membodohi ayahmu ini! Meskipun kamu tidak selalu ada di dekat, tapi kamu tak pernah lepas dari pantauan," kata sang ayah yang ternyata sudah tahu semua hal.
__ADS_1
Sang ayah yang benar-benar marah atas kelakuan dari putranya pun begitu ingin untuk menghajar lagi, tapi keinginannya ini harus dihentikan oleh seorang wanita cantik yang secara tiba-tiba langsung memeluk tubuhnya dari belakang. David yang melihat itu pun mulai merasakan jijik terhadap sang ayah. Bagaimana bisa diusia yang terbilang tak lagi muda, ayahnya masih suka bermain wanita seperti itu? Bahkan sampai tega dibawa pulang ke rumah.
"Sayang sudahlah. Jangan terlalu terlarut dalam emosi! Itu anak kamu sendiri, kasihan kalau terus kamu pukul," ucap wanita itu dan langsung dituruti oleh ayahanda David.
"Dia membuatku kesal. Bagaimana bisa dia menghamili seorang perempuan? Padahal sekarang bukan waktu yang tepat baginya untuk bermain-main. Kamu tahu sendiri kan, kalau hari kelulusan David sudah mau dekat?" kata sang ayah kedengaran begitu lembut kepada wanita yang paling tidak disukai oleh David.
Tanpa ingin lebih lama terlibat pembicaraan dengan sang ayah serta wanita itu, David pun memilih untuk berusaha bangkit dari posisinya. Sambil menahan perih akibat luka pukul yang didapatkannya secara bertubi-tubi, David terlihat sedang melangkahkan kakinya masuk lebih dalam lagi ke rumah ini, bermaksud untuk menemui sang ibunda yang sekarang ada di kamar.
......................
Setelah Renjani melakukan tugas dan berhasil membuat Syifa beristirahat dalam tidur, Renjani dengan perlahan-lahan mulai mendekatkan dirinya kepada sosok Ardhi yang saat ini kelihatan begitu lesu dan wajahnya tampak seperti seseorang yang begitu kelelahan. Renjani tahu dan paham betul, pasti Ardhi juga ikut kesulitan dalam menghadapi masalah ini, tapi mau bagaimana lagi? Untuk mundur ataupun menghindar dari semuanya juga tak mungkin dilakukan.
Tanpa ingin menganggu waktu istirahat dari Syifa, Renjani pun secara hati-hati dan tanpa ada suara mulai menempatkan dirinya duduk di sofa persis bersebelahan dengan Ardhi. Tahu kalau ada yang menempati ruang kosong, Ardhi pun membuka matanya yang sempat tertutup dan menoleh ke arah Renjani.
"Aku tidak bermaksud untuk membangunkan Tuan," kata Renjani diikuti dengan sebuah senyuman tipis yang mengembang di bibirnya.
"Entahlah. Aku hanya terlalu nyaman untuk memanggil seperti itu," ucap Renjani yang berhasil melukiskan sebuah senyuman di wajah lelah Ardhi.
Tak menanggapi dengan kata-kata, Ardhi pun melemparkan fokusnya untuk menilik ke sang adik yang sekarang masih berada di ranjang rumah sakit. Ardhi hanya ingin memastikan kalau kondisi dari sang adik baik-baik saja.
"Barusan tidur," ujar Renjani memberitahu.
"Tidak perlu terlalu khawatir, semua pasti akan baik-baik saja," tambahnya yang kemudian menggenggam erat jemari tangan kekar milik laki-laki itu.
Mendapatkan sedikit kata seperti itu, sudah berhasil membuat Ardhi pelan-pelan membuang semua rasa khawatir yang ada dalam dirinya. Sebenarnya banyak hal yang ditakutkan sekaligus menjadi kecemasan bagi seorang Ardhi, entah apa yang akan terjadi nanti ketika seluruh keluarganya tahu mengenai sang adik yang sekarang ini sedang mengandung. Bisa dipastikan kalau kakeknya akan sangat marah. Untuk melindungi sang adik dari kemarahan keluarga, mau tak mau Ardhi harus memasang badan.
"Kamu tahu, setelah ini akan ada hal yang jauh lebih berat," kata Ardhi sudah memberikan wanti-wanti.
__ADS_1
"Apapun yang nanti terjadi, aku sangat berharap kalau kita tak akan pergi meninggalkan Syifa sendirian," ujar Renjani yang kembali membuat janji.
"Apa kamu akan terus menemani?" Tanya Ardhi ingin memastikan saja.
"Tentu. Aku juga ingin melihat bayi Syifa saat lahir nanti," kata Renjani diikuti dengan sebuah senyuman yang terbilang cukup lebar.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
-----------------------------------------------------------
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
✓ Instagram : just.human___
-----------------------------------------------------------
__ADS_1