
Mobil sedan hitam yang memiliki lambang merk empat cincin, kini telah terlihat berhenti tepat di depan pintu pagar dari rumah yang tampak tak asing. Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup lama — karena tanpa terduga arus lalu lintas malam ini terbilang ramai, Renjani bisa juga sampai di rumahnya.
Tanpa berlama-lama, ia pun mulai melepaskan sabuk pengaman yang sejak tadi membelit di tubuhnya. Namun, ketika Renjani sudah menyentuh pintu mobil dan siap untuk melangkah keluar, secara tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Entah apa yang terjadi pada pikirannya, Renjani hanya merasa kalau masih ada hal yang harus dibicarakan dengan laki-laki bernama Ardhi itu. Bisa dibilang ini masih soal perjodohan.
"Tuan?" Panggil Renjani yang hanya mendapat helaan napas berat dari laki-laki itu.
"Om Ardhi?" Renjani mengubah cara memanggil hanya agar laki-laki itu mau memberikan respon.
"Bukankah yang kedua jauh lebih baik?" Benar saja, saat dipanggil dengan sebutan Om, laki-laki itu langsung menyahuti.
"Kenapa?"
Setelah seharian ini Renjani menghabiskan waktunya untuk terus berpikir mengenai keputusan atau pilihan apa yang harus diambil, gadis yang kini masih berusia 18 tahun itu sudah menemukan jawabannya. Dikarenakan ia tak sanggup membayar uang denda sebanyak 200 juta, pilihan kedua terpaksa di ambilnya.
"Kok diam?"
Dengan tatapan ragu, Renjani mulai melihat ke arah laki-laki yang kini masih ada di kursi kemudi. Apa dia harus mengatakannya sekarang? Walaupun tahu kalau waktu untuk berpikirnya masih banyak?
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu?" Kali ini Renjani benar-benar serius.
"Ya, sure..." dengan mudahnya ia memberikan izin.
"Pilihan kedua, kalau aku tidak bisa membayar uang denda—" Rasanya Renjani sedikit kesulitan untuk menyampaikan kalimatnya. Dengan sengaja ia memberikan jeda sebentar, tapi laki-laki itu sepertinya sudah tahu akan maksudnya.
"Hanya sampai batas waktu tertentu. Tidak selamanya kamu harus berkencan dengan saya," ucap Ardhi yang langsung menjawab pertanyaan belum usai itu.
"Sampai kapan?" Renjani lebih ingin mendengar jawaban yang spesifik.
"Sampai saya mendapatkan perempuan yang tepat," jawab Ardhi sambil memasang tatapan serius.
Mendengarnya berhasil membuat Renjani kembali berpikir. Kalau seperti itu sama dengan tak ada batas waktu tertentu. Bisa saja Renjani harus selamanya berkencan dengan laki-laki itu. Orang penggila kerja seperti Ardhi, tak mungkin akan mendapatkan perempuan dalam waktu dekat. Kalau memang bisa, dia tidak akan dipaksa oleh keluarganya untuk menghadiri kencan buta.
Karena Renjani memang tak yakin akan dirinya sendiri bisa membayar uang kompensasi sebesar 200 juta, dengan perasaan terpaksa ia harus memutuskan menerima tawaran kedua. Kalau dilihat-lihat pilihan untuk berkencan dengannya tak terlalu buruk. Disini Renjani juga bisa membantu laki-laki itu dalam mencari pasangan. Kalau dia berusaha, pasti waktunya tak akan lama.
Sudah berhasil menyakinkan diri, Renjani pun mulai mengatakan keputusannya dengan tegas kepada laki-laki itu. "Baiklah. Ayo kita berkencan."
Mendengar keputusan yang diberikan secara tiba-tiba itu mampu memunculkan sebuah senyuman kecil di sudut bibir dari Ardhi. Siapa juga yang menduga kalau gadis itu akan cepat dalam memutuskan sesuatu.
"Kamu yakin? Kamu tidak lupa kalau masih punya cukup waktu untuk berpikir?" Tanya Ardhi hanya ingin memastikan saja.
"Kalau semakin lama berpikir, itu akan menyulitkan ku dalam beraktivitas," jawab Renjani yang hanya ingin merasa lega.
Belum mengatakan apa-apa, Ardhi pun mengambil amplop coklat yang ada di kursi belakang. Rupanya laki-laki itu selalu membawa surat perjanjian yang beberapa hari lalu juga telah dibaca oleh Renjani.
"Saya tahu kalau kamu akan tiba-tiba memberikan keputusan jadi, surat perjanjian ini selalu saya bawa," ucap Ardhi sembari memberikan amplop coklat dan juga pena. Sekarang untuk mengesahkan perjanjian diantara keduanya, tanda tangan harus dibubuhkan oleh Renjani.
Terlihat seperti seseorang yang sudah yakin, Renjani mulai membuat tanda tangan di atas surat perjanjian itu. Ardhi yang melihatnya pun nampak begitu senang akan keputusan yang dibuat oleh gadis itu. Pilihan untuk berkencan jauh lebih baik daripada harus membayar sejumlah uang.
"Lalu kalau misalkan aku melanggar perjanjian ini, apa yang akan terjadi? Apa ada denda yang harus aku bayar?" Tanya Renjani setelah tanda tangannya ada di atas surat perjanjian itu.
"Tentu saja. Satu pelanggaran akan membuatmu bertemu dengan pilihan pertama," kata Ardhi terdengar seperti seseorang yang licik.
Setelah menyelesaikan semuanya dan mengatakan apa yang sudah seharusnya, Renjani pun mulai melangkah keluar dari mobil ini. Jauh dalam benaknya, Renjani sangat berharap kalau keputusan untuk memilih berkencan dengan pria itu sudah tepat. Renjani sangat tahu kalau di setiap keputusan yang diambil selalu memiliki akibat, karena sudah pernah merasa begitu frustrasi, Renjani sama sekali tak ragu untuk menanggung akibat yang nanti akan terjadi.
"Renjani?" Panggil laki-laki itu dan sanggup membuat si pemilik nama menoleh.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin memastikan kalau nama asli mu memang Renjani," kata Ardhi kelihatan seperti seseorang yang sedang menggoda.
...•••...
Hari benar-benar berlalu begitu cepat, tak terasa akhirnya pagi sudah kembali menyapa. Sinar matahari yang begitu terasa menyilaukan mulai memasuki celah-celah dari sebuah kamar dan karena itu berhasil membuat muda-mudi yang tengah asyik tidur bersama di satu ranjang, mulai membuka matanya, terbangun dari tidur.
__ADS_1
Pagi ini Syifa terbangun dan mendapati dirinya yang sedang berada di dalam pelukan dari sang kekasih. Seperti seseorang yang sama sekali tak memiliki rasa takut setelah berbuat hal yang seharusnya belum boleh dilakukan, Syifa pun mencoba berbalik badan dan menatap dalam diam wajah milik David yang kelihatan masih nyenyak dalam tidurnya. Bukan bermaksud untuk mengganggu, hanya saja sekarang ini Syifa begitu ingin menyentuh wajah tampan milik sang kekasih.
David yang merasakan sentuhan itu pun mulai membuka matanya dan hal pertama yang dilihat adalah sosok kekasih sedang tersenyum kepadanya. Apakah ini sebuah mimpi atau kenyataan? Kenapa Syifa ada di atas ranjangnya? Entah David ingat atau tidak tentang kejadian semalam, tapi sepertinya ia masih menganggap semuanya bukan kenyataan.
"Kamu kok masih ada disini? Bukannya kemarin malam sudah aku antar pulang?" Tanya David yang ternyata belum menyadari kenyataan. Mungkin karena baru bangun jadi, ia belum sepenuhnya ingat akan semuanya.
"Sepertinya kita akan berada dalam masalah," kata Syifa yang anehnya malah tersenyum bahagia.
"Masalah apa yang kamu maksud? Aku tidak mengerti," tanya David yang memang harus bangun dulu agar otak di kepalanya itu bisa digunakan untuk berpikir.
"Babe? Apa kamu tidak mau bangun dulu?" Tanya Syifa dengan jemari tangan yang tak ada habisnya memberikan sentuhan lembut pada wajah laki-laki itu.
David mencoba membuka kedua matanya dan menyadarkan diri. Perlahan-lahan kepalanya mulai bekerja dan mengingat semua kejadian yang sudah terjadi semalam. Apa semuanya asli dan bukan sebuah mimpi? Karena sedikit terkejut, David pun mulai menjauhkan tubuhnya yang masih dalam keadaan tanpa busana itu dari sang kekasih.
Melihat segala tingkah yang dilakukan oleh David, mampu membuat Syifa tertawa. Menurutnya sang kekasih itu tampak begitu lucu. Apalagi saat dia turun dari ranjang dan lupa menutupi diri dengan selimut. Syifa melihat semua yang seharusnya menjadi rahasia.
"Tidak masalah. Karena semalaman aku juga sudah melihat dan merasakannya. Aku akui kalau tubuh bagian bawah mu begitu kuat," ucap Syifa sembari memberikan acungan jempol.
David yang sekarang sudah benar-benar tersadar dan bisa membedakan mana yang mimpi serta kenyataan pun mulai mencoba memakai kembali pakaian yang berceceran di lantai dari kamar ini. Bukankah sudah dibilang kalau David begitu takut akan dirinya sendiri?
"Kenapa ditutup? Apa kamu sudah mau pergi?" Tanya Syifa sedikit kecewa karena kekasihnya tampak seperti akan meninggalkannya.
"Kenapa kamu tidak menghentikan aku?" Tanya David yang anehnya malah kelihatan kesal.
"Apa yang harus dihentikan ketika kita memang sama-sama ingin melakukannya?" Syifa sangat tidak mengerti dengan kekesalan dari sang kekasih.
"Cepat pakai pakaianmu! Aku akan mengantarkan kamu pulang," perintah David dengan tegas.
Tanpa ingin membantah ataupun protes, Syifa yang terlampau begitu berani pun mulai turun dari atas ranjang dan dengan sengaja meninggalkan selimut, membiarkan tubuhnya terlihat. David yang bisa melihat semuanya secara jelas pun langsung memalingkan wajah.
"Apa kamu benar-benar akan mengantarkan ku pulang? Tidak membiarkan ku untuk mandi dulu?" Tanya Syifa sembari memungut semua pakaian miliknya dari atas lantai kamar ini.
"Aku mandi sendiri? Apa kamu tidak mau mandi juga?" Entah bagaimana bisa gadis seperti Syifa mendapatkan keberanian seperti ini.
Karena pertanyaan itu tak memiliki jawaban, Syifa pun mulai melangkahkan kaki masuk ke arah kamar mandi sendirian. Perlu diketahui semua yang dilakukan oleh Syifa sekarang hanyalah sebuah usaha agar tak kehilangan laki-laki seperti David.
Sudah berada di dalam kamar mandi, lagi dan lagi Syifa dengan sengaja tak mengunci pintunya. Dalam kondisinya yang masih belum memakai sehelai benang apapun, Syifa mulai menyalakan shower yang ada, lalu secara tiba-tiba ia langsung berteriak begitu keras. Entah apa rencananya, tapi yang jelas setelah mendengar teriakan itu, David yang hanya mengenakan celana pun tanpa ragu menerobos masuk ke dalam kamar mandi.
Kelihatan panik, David pun mulai bertanya kepada gadis itu. Seperti orang yang sedang ketakutan, Syifa pun mulai menunjuk asal dan mengatakan kalau di kamar mandi ini ada kecoak.
"Kecoak, dia tadi terbang," kata Syifa yang kemudian melangkah mendekat ke arah pintu kamar mandi.
Mendengar aduan itu pun sanggup membuat David mulai melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan kecoak yang dimaksud oleh kekasihnya. Namun anehnya, setelah cukup lama mencari, David tak menemukan apapun. Ia hanya tahu kalau kamar mandi di apartemennya ini dalam keadaan bersih. Semut pun tak kelihatan ada.
"Dimana terakhir kamu melihat kecoak nya?" Tanya David ingin memastikan lagi saja.
"Disini," jawab Syifa yang kini telah berdiri bersandar pada pintu kamar mandi.
Bukannya melihat kecoak, David malah mendapati kekasihnya itu sedang berpose aneh dalam keadaan tubuh yang sudah basah terkena air. Apa Syifa sekarang sedang mencoba untuk menguji kewarasannya?
"Apa kamu berbohong?" Tanya David mulai menaruh curiga.
"Tidak. Kecoak nya memang ada disini," jawab Syifa sambil jemari menunjuk ke arah bawah kakinya.
Melihat model kekasihnya yang seperti itu mampu membuat David meneguk saliva nya sendiri. Tidak perlu ada tes sampai sejauh ini, David masih begitu normal. Dia bisa saja tergoda akan hal sederhana.
"Kenapa diam? Apa kamu tidak berniat untuk menangkap kecoak nya?" Tanya Syifa.
David sedang berusaha untuk tetap membuat dirinya waras. Tanpa ingin mengikuti godaan yang kini tengah diberikan secara cuma-cuma oleh Syifa, David memutuskan segera pergi dari kamar mandi ini.
"Tak ada kecoak. Kamar mandinya bersih," ucap David dengan tangan yang sudah menyentuh handle pintu, siap untuk keluar.
__ADS_1
Karena Syifa merasa kecoak nya belum ditangkap, ia pun berusaha sebisa mungkin untuk menghentikan kepergian laki-laki itu. Syifa menggenggam pergelangan tangannya dengan begitu erat.
"Kecoak nya masih ada, babe," kata Syifa yang kini mulai membuat jemari tangan David menyentuh leher jenjang miliknya.
"Kenapa kamu harus terus mengujiku?" Tanya David penasaran akan alasannya.
"Tidak ada yang sedang menguji mu. Aku hanya ingin supaya kamu menangkan kecoak nya," ujar Syifa yang kali ini tak ragu membuat tangan David menyentuh bagian sensitif nya.
Kalau sudah seperti ini, bagaimana bisa bagi seorang David menahan kewarasan sendiri. Dirinya memang berniat untuk pergi dari kamar mandi, tapi karena kecoak nya belum tertangkap, ia memutuskan tetap setia berada di kamar mandi.
"Babe? Kecoak nya begitu besar. Apa kamu tidak bisa merasakannya?" Tanya Syifa yang kini tengah mulai bermain-main dengan jemari tangan milik kekasihnya.
Persetan dengan kewarasan diri sendiri, David pun mulai menggendong tubuh mungil dari gadis itu, lalu membawanya menuju ke arah shower. Hanya untuk membuat Syifa tetap diam, David sengaja mengikat kedua tangan milik gadis itu dengan kain panjang yang entah mengapa ada di dalam kamar mandi.
"Kamu minta aku buat menangkap kecoak nya kan?" Tanya David yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari gadis itu.
"Kecoak nya sudah tertangkap. Sekarang kamu harus mengurusnya, jangan biarkan dia kabur lagi!" Perintah Syifa dan langsung dituruti oleh laki-laki itu.
Hanya untuk memastikan semuanya tetap aman, David pun mengambil sesuatu dari laci kamar mandi. Kenapa laki-laki itu menyimpan barang seperti itu di kamar mandi?
"Babe? Kenapa kamu memakainya?" Tanya Syifa yang kelihatan tidak puas.
Dengan menggunakan kakinya, Syifa membuang benda yang baru saja diambil oleh David dari dalam laci kamar mandi. Menurutnya untuk menangkap kecoak, tidak perlu pakai apapun. Biarkan menggunakan cara yang normal saja, karena akan lebih mudah.
"Kamu memintaku untuk tidak menggunakan pengaman?" Tanya David sedikit terkejut.
"Iya. Keluarkan saja diluar dan itu tak akan membuat masalah," suruh Syifa yang anehnya terdengar begitu lebih profesional daripada David.
"Babe? Cepatlah! Nanti kecoak nya keburu lari," desak Syifa dalam ketidaksabarannya.
Layaknya seorang yang begitu penurut, David pun mengabaikan semuanya. Bersama dengan sang kekasih, ia mulai mencoba untuk menangkap kecoak nya.
"Ahhhh... lebih cepat untuk menangkapnya!" Pinta Syifa sambil berteriak. Apa gadis itu benar-benar begitu takut dengan kecoak?
"Babe... teruskan jangan berhenti... Ahhh... lebih cepat lagi..."
Kecoak be like : Padahal gue mau pergi nyantuy ke pantai. Sumpah deh, bukan gue yang ada di kamar mandinya.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
✓ Instagram : just.human___
__ADS_1