
Kerusuhan yang terjadi bukan semata-mata tanpa sebab. Tidak akan ada asap kalau api tak muncul. Disini Renjani yang menjadi korban secara tiba-tiba mendapat serangan dari guru BK. Entah apa alasannya, tapi kalau dilihat dari ekspresi wajah, mungkin beliau merasa kesal karena baru saja mendapatkan surat pemecatan oleh kepala sekolah. Guru BK hanya berusaha mencari seseorang untuk disalahkan.
Meskipun Renjani sudah mendapatkan bantuan dan pembelaan dari banyak murid yang kebetulan sangat menyukainya, tetap saja itu tak sanggup membuat dirinya aman. Terlihat jelas, pada amukan massa yang sedang memprotes tentang sikap dari guru BK. Sebagai seorang penggemar yang menganggap sosok Renjani seperti primadona, tentu saja sangat dibenarkan kalau mereka semua marah ketika melihat seseorang yang dikagumi diserang.
Mereka saling adu mulut, mengelilingi satu sempat yang sama dan terus berdesak-desakan, bahkan Renjani yang seharusnya aman malah ikut terhimpit oleh mereka. Napas Renjani juga rasanya sudah mulai sesak, sangat berharap kalau semua orang yang ada disini berhenti saling bertengkar.
Ketika pertengkaran ini terjadi, seorang laki-laki yang menggunakan setelan jas lengkap dan kelihatan begitu tampan, mulai datang dengan membawa beberapa orang bodyguard. Untung ia datang, kalau tidak mungkin pertengkaran ini akan sangat sulit dikendalikan.
Dengan bantuan dari beberapa bodyguard itu, ia berhasil membuat jalan yang bisa dipergunakan untuk menarik tubuh Renjani yang masih terhimpit diantara kerumunan. Enggan melihat gadis mungil itu terluka, laki-laki bernama Ardhi yang datang tepat waktu pun mulai menarik Renjani keluar dari tempat penuh kesesakan itu.
Setelah berhasil membuatnya keluar dari sana, Ardhi pun langsung menggendong tubuh gadis cantik itu ala bridal style dan membawanya menuju ke arah mobil yang terlihat sedang terparkir tak jauh dari lokasi kerusuhan terjadi.
Dengan cekatan, Nindi yang memang selalu mendampingi atasannya itu pun langsung membukakan pintu mobil dan memberikan bantuan untuk menempatkan Renjani dalam posisi ternyaman.
Dalam balutan perasaan cemas, Ardhi pun segera meminta sopir untuk membawa gadis itu ke rumah sakit. Kalau dilihat dari kondisi yang sekarang, sepertinya ia membutuhkan perawatan medis. Ardhi yang memang tak berniat untuk meninggalkan Renjani sendirian pun mulai masuk ke dalam mobil dan menempatkan dirinya duduk persis di dekat gadis itu.
Renjani yang sedang dalam keadaan lemas pun terlihat tak sungkan untuk menyandarkan kepalanya pada bahu kekar milik laki-laki bernama Ardhi itu. Hanya meminjamkan bahunya sebagai tempat sandaran, bukanlah menjadi masalah yang serius. Bahkan sekarang tangan Ardhi juga terlihat sedang merangkul tubuh mungil dari gadis pemilik nama Renjani.
"Ke rumah sakit dulu ya?" Tanya Ardhi, namun segera mendapatkan gelengan kepala dari gadis itu.
"Gak perlu. Cukup seperti ini saja, aku sudah bisa merasa jauh lebih baik," kata Renjani yang kini makin memposisikan dirinya dengan nyaman, bersandar pada tubuh kekar milik laki-laki itu.
Awalnya memang benar kalau Ardhi punya rencana untuk mengajak gadis itu untuk menonton sebuah konser musik, namun hanya karena kondisi dan situasinya sudah tak memungkinkan, Ardhi pun lebih memilih untuk membawa gadis itu ke apartemen pribadinya yang kebetulan berjarak dekat dari gedung sekolah.
Bukan tanpa niat buruk, hanya saja Ardhi ingin membuat gadis itu beristirahat sejenak. Karena terhimpit dan berdesak-desakan, deru napas yang dikeluarkan oleh Renjani juga belum terdengar beraturan.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Ardhi dan Renjani, tiba juga di parkiran basemen dari sebuah gedung apartemen. Renjani yang masih memejamkan kedua matanya pun mulai di bangunkan. Bukan tanpa sebab, hanya saja kalau tetap seperti ini takutnya akan menyulitkan Ardhi untuk memindahkannya.
"Renjani?" Panggil Ardhi dengan suara maskulinnya.
Hanya mendengar suara itu, kedua mata cantik milik Renjani yang sejak tadi tertutup pun mulai dibuka lebar. Merasa seperti sebuah mimpi, pada saat terbangun, ia begitu terkejut mendapati diri sendiri yang tengah terlihat nyaman bersandar pada tubuh milik laki-laki bernama Ardhi.
Mulai menyadari hal yang tidak seharusnya, Renjani pun dengan cepat langsung membuat jarak aman dengan laki-laki itu. Ia juga kelihatan sedikit canggung karena kepalanya sekarang sudah tertunduk. Ardhi yang melihat gelagat seperti itu pun mulai merasa aneh.
"Kenapa? Apa kamu sudah baik-baik saja?" Tanya Ardhi sambil menyentuh dahi serta pipi milik gadis mungil itu. Disini Ardhi hanya ingin memastikan tentang keadaannya saja.
"Ini dimana? Kok kita bis ada disini?" Tanya Renjani sembari memperhatikan sekeliling yang masih terasa asing.
"Gedung apartemen," Ardhi tak ragu untuk memberitahu gadis itu tentang keberadaanya sekarang ini.
"Apartemen siapa?"
"Saya."
"Kenapa kita ada disini? Maksudnya bisa ada disini? Tuan gak berniat untuk macam-macam kan?" Tanya Renjani sembari menutupi badannya dengan tangan.
__ADS_1
Entah apa yang sedang ada dalam pikirannya, kenapa gadis itu bisa mencurigai hal yang tak mungkin terjadi? Walaupun Ardhi masih murni seorang laki-laki tulen, dia juga tidak akan sampai tega untuk melakukan hal yang bisa menyakiti gadis itu. Ardhi selalu ingat kalau di dalam keluarga, ia juga memiliki seorang adik perempuan.
"Sama sekali tidak ada dalam pikiran saya untuk melakukan hal seperti itu. Apalagi dengan seorang wanita yang belum saya nikahi," kata Ardhi kedengaran tegas dan bersungguh-sungguh.
Renjani yang sepenuhnya belum bisa percaya, pun tak henti melemparkan tatapan curiga nan mengintimidasi. Bagaimana mau percaya, tanpa adanya sebab ia tiba-tiba dibawa ke gedung apartemen nya. Bukankah tadi Ardhi berniat untuk mengajaknya menonton? Tapi, kenapa malah ke apartemen?
"Apa maksud dari ajakan Tuan menonton adalah di apartemen?" Tanya Renjani dengan kecurigaan yang mulai menjadi-jadi.
"Bukan. Bisakah kamu memberikan saya kesempatan untuk menjelaskan?" Tanya Ardhi diikuti dengan sebuah helaan napas terdengar cukup berat.
Sambil terus menutupi tubuhnya yang masih tertutup rapat dengan seragam, Renjani pun memutuskan untuk mendengarkan penjelasan yang katanya mau diutarakan oleh laki-laki itu.
"Apa kamu tidak ingat dengan kejadian yang tadi sempat terjadi?" Tanya Ardhi mencoba untuk mencari tahu terlebih dahulu, krnaoa gadis itu bisa dengan cepat melupakan kerusuhan di sekolah.
"Memangnya sempat terjadi sesuatu? Aku tidak bisa mengingat apapun lagi, karena tertidur," ucap Renjani kelihatan serius.
Pengakuan yang diberikan olehnya ini sanggup membuat seorang Ardhi bertanya-tanya. Kenapa terasa ada yang aneh? Belum ada beberapa jam berlalu dan gadis pemilik nama Renjani itu sudah bisa melupakannya dengan cepat?
"Apa kamu benar-benar tidak ingat?" Tanya Ardhi memastikan lagi.
"Iya. Apa terjadi sesuatu? Apa aku melakukan hal yang salah? Tuan bisa beritahu aku," jawab Renjani masih terlihat sama.
"Kamu sempat terlibat dalam pertengkaran dengan guru BK, apa kamu ingat?" Tanya Ardhi mencoba memancing ingatan yang dimiliki oleh gadis itu.
"Iya, aku memang sempat sedikit beradu mulut hanya karena beliau ingin mendapatkan nomor milik Tuan," ucap Renjani terlihat seperti seseorang yang sudah mengatakan hal sebenarnya.
"Hanya itu yang kamu ingat?" Ardhi benar-benar merasa bingung sekarang.
Entah apa yang terjadi kepada gadis itu, hanya saja apapun itu sudah berhasil membuat seorang seperti Ardhi khawatir. Bagaimana bisa gadis itu hanya mengingat separuh dari ingatannya? Kemana perginya ingatan yang lain?
Merasa membutuhkan bantuan pihak medis untuk memeriksa soal kondisi Renjani, Ardhi pun tak segan meminta sopir mengemudikan mobil ini kembali. Kali ini ia akan benar-benar membawa gadis itu ke dokter. Ardhi hanya begitu takut kalau akibat sempat terhimpit bisa melukai kepala gadis itu.
"Saya mau menemui dokter Tama," perintah Ardhi dan langsung dituruti oleh sang sopir.
...•••...
Renjani yang masih belum mengingat apapun itu harus menurut pada ajakan dari Ardhi yang tiba-tiba membawanya ke rumah sakit. Entah apa yang terjadi, tapi yang jelas rumah sakit bukan tempat untuk menonton. Apa Ardhi sedang berusaha mengingkari ucapannya sendiri?
"Kenapa Tuan membawa aku kesini? Bukankah katanya kita mau menonton?" Tanya Renjani terheran.
"Temui dokter dulu, baru setelahnya kita pergi untuk menonton," ujar Ardhi yang kini telah berada di depan dari ruangan dokter Tama.
Setelah mengetuk pintu, ia pun mulai membukanya dan melangkahkan kakinya masuk bersama dengan Renjani. Dokter Tama — yang juga menjadi teman Ardhi semasa SMA, pun cukup terkejut melihat kehadiran sosok seorang laki-laki idaman dari banyak wanita sedang menggandeng tangan seorang gadis cilik.
"Tama?" Panggil Ardhi kedengaran begitu akrab.
Dokter Tama yang sebenarnya masih sedikit sibuk pada pekerjaan pun memutuskan untuk lebih merespon terlebih dahulu kedatangan dari temannya itu. Bukan tanpa sebab, hanya saja Dokter Tama merasa penasaran kepada gadis yang kini sedang ada bersama Ardhi. Tumben sekali melihat laki-laki itu bersama dengan seseorang perempuan. Apakah ia sudah benar-benar move on dari mantannya terdahulu?
"Weh, siapa gadis cantik yang lo bawa ini? Kok gue baru lihat sekarang?" Tanya Dokter Tama menyambut kedatangan mereka berdua dengan teramat baik.
Ardhi yang merasa tak terlalu perlu untuk menanggapi pertanyaan seperti itu pun malah sibuk memberitahu mengenai kondisi terkini yang dialami oleh Renjani. Kelihatan dengan jelas kalau laki-laki itu sedang khawatir.
__ADS_1
Disaat Ardhi sedang memberitahu semuanya, entah mengapa sorot mata dan fokus dari dokter Tama hanya bisa tertuju pada sosok Renjani yang tampak begitu menggemaskan karena ternyata juga bingung dengan semua yang keluar dari mulut Ardhi.
Bukannya mendengarkan keluhan yang diberikan oleh temannya, Dokter Tama terlalu asyik terkesima pada kecantikan wajah blesteran ditambah mata berwarna hazel yang dimiliki oleh Renjani. Dalam batinnya juga bertanya-tanya: darimana Ardhi bisa mendapatkan perempuan secantik ini? Menurut dokter Tama, kecantikan Renjani benar-benar sangat memikat hati dan perhatian dari lawan jenis.
"Tama? Lo dengerin gue gak sih?" Tanya Ardhi yang merasa tak digubris.
"Dengar kok, jadi gimana?"
Yakin kalau teman dokter nya itu tak menghiraukan keluhan yang diberikan, sanggup membuat Ardhi berdecak kesal. Jika tidak mengingat tentang pertemanan, mungkin Ardhi akan langsung marah dan memberikan teguran tegas. Selama ini, tak ada satupun orang yang mengabaikan semua ucapannya. Seandainya ada pun, orang itu akan langsung habis ditangan Ardhi.
"Gue bisa kok buat izin praktek lo di lepas," kata Ardhi terdengar seperti sebuah ancaman.
"Ya maaf bro! Gue tadi gak sengaja dibuat salah fokus sama kecantikan dari cewek yang ada di samping lo," ungkap dokter Tama terkesan berani.
"Jangan macem-macem ya! Dia sudah jadi cewek gue. Awas aja kalau lo berani ambil dia! Berhadapan sama gue," kata Ardhi kepada temannya itu.
Renjani yang saat ini masih berada di tengah-tengah mereka berdua pun mulai merasa tak menyangka saja. Selama mengenal Ardhi, dia pikir lelaki itu hanya bisa berbicara dengan kaku, tapi ternyata saat sudah bertemu teman dekatnya, pembicaraan non formal juga bisa terjadi. Kali pertama Renjani mendengar Ardhi berbicara santai.
"Mana ada gue berani merebut apa yang sudah jadi milik lo," kata Dokter Tama dengan pandangan mata yang masih tertuju pada Renjani.
"Matanya tolong dijaga baik-baik ya! Lo belum pernah kan melihat pakai satu mata?" Tegur Ardhi yang kurang suka kalau temannya itu terus memperhatikan ke arah Renjani.
"Serem banget," kata dokter Tama yang diikuti dengan sebuah tawa kecil.
Karena tak mau membuat Renjani terlalu lama berada di dalam ruangan yang membahayakan ini, Ardhi pun mulai meminta saran dari teman dokternya itu mengenai keluhan kondisi yang terjadi pada Renjani.
"Jadi? Gimana? Kenapa dia bisa tiba-tiba lupa soal sebuah kejadian padahal itu baru saja terjadi?" Tanya Ardhi mencoba untuk mencari jawaban.
"Begini ya, gue disini cuma dokter umum dan bukan psikolog. Jadi, akan jauh lebih baik kalau lo bawa cewek cantik ini ke psikolog. Bukan bermaksud apa-apa ya, gue cuma takutnya dia memang mengalami trauma yang bisa membuat ingatannya terganggu. Gue gak bisa jelasin panjang lebar, karena bukan ranah gue buat memberikan penjelasan," kata Dokter Tama dengan tegas.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
-----------------------------------------------------------
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
✓ Instagram : just.human___
-----------------------------------------------------------
__ADS_1