
Dalam keadaan panik, Ardhi kini telah tiba di salah satu rumah sakit, tempat dimana adiknya kini tengah berada. Meskipun Ardhi tengah disibukan dengan segala pekerjaan kantor, ia tetap bisa menyempatkan waktu untuk peduli pada keadaan dari sang adik.
Dikarenakan salah seorang anak buahnya telah berada di rumah sakit, Ardhi tak perlu terlalu sulit untuk mencari kamar rawat inap dari sang adik. Dengan ekspresi wajah yang tampak cemas, Ardhi mulai masuk ke salah satu ruang rawat inap dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Syifa yang sekarang masih terlihat terbaring lemah di atas ranjang tempat tidur rumah sakit.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kata dokter?" Tanya Ardhi tanpa adanya sebuah basa-basi yang berarti.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang kakak, mampu membuat Syifa menggigit bibirnya. Kelihatan seperti seseorang yang sedang ragu untuk memberikan jawaban.
"Kenapa diam saja? Apa kamu tidak mendengar pertanyaannya?" Ardhi mendesak agar sang adik bisa segera menjawab.
"Syifa?" Panggil Ardhi kepada sang adik yang malah kelihatan sedang melamun.
"Aku tidak bisa memberitahu kakak. Takut, kalau akan membuat marah," ujar Syifa memilih untuk merahasiakan hal yang sedang terjadi.
Mendapatkan jawaban seperti itu hanya membuat Ardhi terdiam sembari kedua matanya menatap ke arah sang adik, meneliti dari atas sampai bawah, memastikan hal yang sedang berusaha untuk disembunyikan.
Tanpa memberikan pertanyaan lagi, Ardhi kini sudah mulai tahu dan paham dengan semua yang terjadi disini. Tak butuh dokter untuk menjelaskan Ardhi bisa mendapatkan jawaban dari gelagat sang adik.
"Siapa ayahnya?" Tanya Ardhi sambil melemparkan tatapan tajam nan menusuk.
Diajukan pertanyaan seperti itu sanggup membuat Syifa terkejut. Entah dari mana sang kakak bisa tahu, tapi yang jelas dari dirinya ataupun dokter pasti tidak ada yang mengungkapkan informasi mengenai kondisi sekarang ini.
Pasalnya tepat sebelum sang kakak tiba, Syifa sudah meminta kepada dokter untuk tak memberitahu apapun mengenai kondisi sekarang kepada Ardhi. Bukan tanpa sebab, Syifa hanya merasa belum waktunya bagi mereka tahu. Dari dalam diri Syifa juga belum ada keberanian untuk bilang.
"Sudah beritahu pacarmu tentang ini?" Tanya Ardhi lagi dan kali ini harus mendapatkan jawaban.
Syifa yang menundukkan kepala pun hanya bisa menggeleng untuk memberikan jawaban. Singkat, tapi bisa menimbulkan amarah dalam diri sang kakak. Tahu sendiri kalau selama ini Syifa telah menjadi adik kesayangannya. Saat tahu kabar yang tak seharusnya, Ardhi begitu amat kecewa dan merasa gagal menjadi seorang kakak. Kenapa tidak melindungi sang adik dengan lebih ketat lagi?
"Kak Ardhi maaf!" Ujar Syifa, namun malah berhasil membuat sang kakak memilih keluar dari ruang rawat inap ini.
Sebagai seorang kakak laki-laki yang bisa dibilang selama ini selalu sering memanjakan adiknya, Ardhi merasa cukup sedih, kecewa dan marah. Bagaimana bisa gadis berusia 17 tahun itu mengandung? Padahal yang seharusnya terjadi ia lebih bisa fokus pada pelajaran di sekolah. Kalau kejadiannya sudah seperti ini, Ardhi sangat takut sekolah tak lagi menerima adiknya itu sebagai salah satu murid.
Ardhi yang kini telah berada di luar ruangan rawat inap pun memilih untuk segera pergi. Setelah cukup banyak berpikir, rupanya laki-laki itu memutuskan ingin bergegas menuju ke sekolahan tempat dimana ayah dari anak yang sedang di kandung oleh Syifa berada.
Meskipun kelihatannya Ardhi kerap sibuk pada pekerjaan, tapi ia sama sekali tidak pernah terlewat untuk mencari tahu tentang segala hal yang terjadi oleh sang adik. Bahkan Ardhi tahu kalau Kakek Yudha juga sudah melarang hubungan antar Syifa dengan sang kekasih.
__ADS_1
"Kalian tunggu disini saja. Saya yang akan pergi sendiri. Tolong jaga Syifa dengan baik!" Pinta Ardhi tak mengizinkan anak buahnya untuk mengikut.
.
.
.
Ardhi yang memilih mengemudikan mobil sendirian, pun sekarang sudah dalam perjalanan menuju ke sekolahan tempat dimana ia bisa menemui laki-laki itu. Sama sekali tidak terkejut ketika tahu kalau tujuan sekarang sama seperti sekolah tempat Renjani berada.
Karena Ardhi mengendarai mobil dengan begitu terburu-buru, setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya mobil yang memiliki lambang empat cincin ini bisa tiba juga di tempat parkir dari sekolah yang kelihatan begitu akrab oleh mata.
Enggan untuk membuang banyak waktu lagi, Ardhi pun bergegas melepaskan tautan dari sabuk pengaman, lalu melangkahkan kakinya turun dari mobil
Kehadiran Ardhi ke sekolahan ini yang bisa dibilang cukup tiba-tiba dan mendadak, mampu memunculkan reaksi berlebihan dari murid perempuan. Tahu sendiri kalau ketampanan serta kharismanya mampu dengan mudah menarik hati para kaum hawa dari berbagai kalangan usia.
Dengan mengenakan kacamata hitam, Ardhi pun mulai berjalan semakin jauh ke dalam gedung sekolah. Renjani yang saat ini ada di kelas pun juga sudah mendengar kabar mengenai kedatangan Ardhi dari teman-teman sekelasnya. Jujur saja, saat mengetahui itu, jantung Renjani bisa berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Apakah Renjani merasa kalau kedatangan Ardhi kemari hanya karena ingin menemuinya? Lantas apalagi tujuan dia datang selain itu? Renjani tak bisa memikirkan alasan lain.
Dengan perasaan yang dapat dibilang terlalu percaya diri, Renjani keluar dari ruang kelas, bermaksud bergegas untuk menemui Ardhi. Gadis itu enggan kalau membuat laki-laki tampan itu menunggu terlalu lama.
Baru saja berhasil menuruni anak tangga, Renjani sama sekali tidak percaya dengan apa yang sedang dilihat oleh kedua matanya. Iya, tepat di lapangan sekolah, Renjani melihat sosok Ardhi yang berhasil memberikan sebuah pukulan keras tepat mengenai pipi David dan mampu membuat si penerimanya jatuh ke atas tanah lapang yang keras.
"Minggir!" Perintah Ardhi kedengaran begitu serius dan seperti sedang menyimpan sebuah amarah.
"Kalau saya minggir, Tuan akan kembali memukul David," kata Renjani yang mampu membuat sosok laki-laki dihadapannya bingung sekaligus terkejut.
"Kamu kenal sama dia?" Tanya Ardhi penasaran.
"Iya. Saya mengenalnya. Dia David, teman baik saya," jawab Renjani tanpa ragu memberitahu.
Ardhi yang mendengar jawaban seperti itu pun langsung menyingkirkan niat untuk memukulnya. Tangan yang tadi sudah sempat tertutup kuat pun mulai melemas kembali. Bukan karena amarah menghilang, hanya saja dihadapannya sekarang ada sosok perempuan yang sama sekali tidak ingin disakiti. David sangat beruntung karena Renjani datang untuk menolong, kalau tidak mungkin ia sudah babak belur di tangan seorang Ardhi.
"Tidak bisakah tuan membicarakan baik-baik tentang masalahnya? Kenapa harus pakai kekerasan seperti ini?" Tanya Renjani yang merasa bingung dengan cara tindak dari Ardhi. Memangnya masalah seperti apa yang bisa membuat laki-laki itu harus sampai memukul?
"Agar tak terjadi kesalahpahaman, saya akan meluruskan dan memberitahu alasan kenapa pukulan boleh diterima oleh pria itu," kata Ardhi sembari tangannya menunjuk pada sosok David yang kini telah berdiri.
__ADS_1
Renjani benar-benar dibuat begitu terkejut, ternyata Ardhi lebih ingin membicarakan tentang masalahnya dengan David di tengah-tengah lapangan dan disaksikan oleh banyaknya murid. Apakah harus perlu sampai seperti ini?
"David adalah pacar dari adik saya dan sekarang adik saya sedang berada di rumah sakit. Kamu tahu Renjani, karena laki-laki yang sekarang ini berlindung di belakang kamu, adik saya terancam harus kehilangan masa depannya," ucap Ardhi mencoba menjelaskan semuanya secara singkat.
Renjani yang bisa menangkap semuanya pun mulai melirik dan melihat ke arah laki-laki pemilik nama David itu. Saat melihat gelagat yang dibuat, Renjani yakin kalau segala ucapan dari Ardhi bukanlah sebuah kebohongan.
Sebenarnya ini adalah masalah pribadi yang tak harus didengar atau diketahui semua pihak. Maka dari itu, sebagai seorang penengah diantara keduanya, Renjani dengan berani menutup erat mulut dari Ardhi. Tak ada kata ataupun kalimat lagi yang harus keluar dari mulut itu.
"Jangan disini!" Kata Renjani melarang sambil menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik tuan membawa masalah ini ke kepala sekolah," tambahnya memberikan saran yang kemungkinan bisa diambil oleh Ardhi.
Walaupun kemarahan Ardhi belum sepenuhnya mereda, tapi yang jelas saat ini ia sudah lebih bisa untuk mengontrolnya. Tak berniat untuk terlalu lama berpanas-panasan di bawah sinar terik matahari, Ardhi yang sudah menggandeng tangan milik Renjani pun mulai membawa permasalahan ini menuju ke kantor kepala sekolah.
"Kamu juga ikut," pinta Ardhi.
Mereka bertiga pun menuju ke ruangan kepala sekolah hanya supaya permasalahan tentang Syifa bisa menemukan jalan keluar terbaik. Renjani yakin kalau kepala sekolah akan menjadi seseorang yang bisa memberikan keputusan adil.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
-----------------------------------------------------------
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
__ADS_1
✓ Instagram : just.human___
-----------------------------------------------------------