
Perintah yang diberikan oleh Ardhi benar-benar dituruti oleh Renjani. Terlihat dengan jelas kalau gadis cantik itu sekarang tengah diam — berhenti untuk memanggil nama satpam yang sering mengabaikan itu, sambil pandangannya lurus menatap ke arah dalam pagar sekolah yang sampai sekarang masih tertutup.
Seperti apa yang dikatakan oleh Ardhi dalam panggilan telepon itu, hanya dibuat menunggu sebentar, sebuah mobil sedan yang tampak tak asing di pandangan pun telah terlihat. Renjani yang tahu kalau itu adalah mobil milik Ardhi pun mulai membuat senyuman tipis. Tak dipungkiri kalau Renjani begitu amat senang dengan kedatangan dari laki-laki itu. Ternyata waktu lima menit yang diucapkan oleh Ardhi bukan hanya sebuah omong kosong belaka.
Ketika mobil sedan itu sudah berhenti, sekertaris kepercayaan Ardhi pun turun dari dalam mobil, lalu langsung mendekati Renjani yang saat ini sedang merasa kepanasan karena terkena sinar matahari yang bisa dibilang kurang bisa santai.
"Selamat pagi nona Renjani," sapa Nindi sambil menundukkan kepala memberi hormat.
Renjani yang tidak terbiasa dengan itu pun tak segan untuk ikut menundukkan kepalanya dan membalas sapaan dari perempuan yang kini masih setia bekerja sebagai sekertaris pribadi dari Ardhi.
"Silahkan naik ke mobil, karena Tuan Ardhi sudah menunggu di dalam," kata Nindi mempersilahkan gadis cantik itu untuk menemui atasannya yang sekarang tengah duduk nyaman di dalam mobil sedan itu.
Tak berniat untuk banyak berpikir, aku pun mulai melangkah mendekati mobil sedan itu. Saat aku berniat membuka pintunya, Nindi sudah terlebih dahulu melakukannya. Sebagai seorang sekertaris dia benar-benar memperlakukan aku yang hanya seorang biasa ini dengan amat baik.
"Silahkan nona Renjani," katanya.
"Terima kasih," ucapku kemudian masuk ke mobil itu. Aku menempati kursi penumpang, persis bersebelahan dengan laki-laki yang kemarin juga sempat aku temui.
"Jalankan mobilnya!" Suruh Ardhi.
Entah kekuasaan seperti apa yang dimiliki, ketika sopir yang mengendarai mobil ini membunyikan klakson, Pak Sarjo sebagai satpam penjaga pun dengan cepat membukakan pintu gerbangnya. Seakan tahu siapa gerangan yang datang berkunjung, Pak Sarjo benar-benar mempersilahkan mobil ini untuk masuk ke halaman sekolah. Bahkan terlihat dengan jelas kalau beliau juga turut menundukkan kepala, seakan sedang memberi hormat.
Renjani yang melihat itu pun seketika melirik ke arah laki-laki yang ada di sebelahnya. Ardhi yang saat ini tengah memandang lurus tanpa adanya ekspresi sama sekali. Dia laki-laki yang selalu memasang ekspresi wajah sama di setiap pertemuan. Sedikit terheran dan penasaran, apakah laki-laki itu juga bisa tersenyum atau tidak. Karena selama bertemu, Renjani sama sekali belum pernah melihat senyuman itu ada.
"Kamu sudah bisa turun," kata Ardhi menyuruh gadis cantik bernama Renjani itu.
Karena merasa tak ada apapun yang ingin dikatakan lagi dengan lelaki itu, Renjani pun bergegas membuka pintu mobil, namun secara tidak terduga laki-laki bernama Ardhi itu menghentikannya. Kenapa? Renjani sendiri juga kurang tahu alasannya. Ardhi menggenggam tangan milik Renjani yang sudah siap untuk membuka pintu mobil itu.
"Setelah keluar, kamu tak perlu menemui guru BK ataupun ikut ke dalam barisan murid yang terlambat," kata Ardhi dan langsung membuat alis Renjani terlihat saling menyatu.
"Kenapa? Bukankah sesuai peraturan—" belum sempat untuk menyelesaikan kalimatnya, Ardhi dengan mudahnya memotong ucapan itu.
"Untuk hari ini kamu bisa bebas dari hukuman dan langsung masuk ke kelas mu," pinta Ardhi yang entah mengapa tak dapat ditolak oleh Renjani. Sekarang siapa yang tidak mau menghindari hukuman. Meskipun cara seperti ini terkesan tidak adil bagi murid lainnya. Selagi ada kesempatan untuk menghindari hukuman, Renjani akan menggunakannya. Kalau hanya sekali melakukan ini, sepertinya tak akan terlalu menjadi masalah.
"Nindi, bisa kamu hantarkan Renjani masuk?" Perintah Ardhi yang langsung dituruti oleh sang sekertaris.
"Baik Tuan."
"Tolong antar dia dengan selamat sampai di kelas!" Tukas Ardhi sembari melepaskan pegangan tangannya dari jemari gadis itu. Ardhi sudah mempersilahkan Renjani untuk keluar dari mobil ini.
"Tuan Ardhi?" Panggil Renjani yang mampu membuat laki-laki si pemilik nama menghela napas berat.
"Maaf! Aku lupa. Maksudku Om Ardhi?" Renjani mencoba memperbaiki apa yang salah dari cara memanggilnya.
"Setidaknya lebih baik daripada Tuan," gumam Ardhi seorang diri.
"Om?"
"Iya? Kenapa?" Ardhi memberikan responnya.
"Terima kasih," kata Renjani yang ternyata hanya ingin mengucapkan hal singkat itu.
"Bukan masalah besar."
__ADS_1
"Oh ya. Bolehkah aku meminta sesuatu?" Tanya Renjani yang tak kunjung keluar dari mobil.
"Mau minta apa?" Ardhi dengan mudahnya menyetujui.
"Bisa tidak kalau kita bertemu lagi, Om Ardhi sekali saja tersenyum. Sepertinya itu akan terlihat bagus," pinta Renjani dengan penuh harap.
Belum sempat menanggapi apapun, Nindi sudah memanggil Renjani agar cepat turun. Bukan tanpa sebab, hanya saja guru BK sudah terlihat menghampiri mereka.
"Nona?" Panggil Nindi yang kemudian memberikan isyarat agar Renjani mau memberikan hormat kepada guru BK nya.
"Terlambat lagi?" Tanya guru BK sambil menatap tajam ke arah Renjani yang sekarang ini sudah turun dari mobil sedan itu.
"Maaf Bu!" Tak bisa mengatakan apapun lagi selain permintaan maaf.
"Cepat masuk ke barisan dan terima hukumannya seperti murid lainnya!" Suruh guru BK itu, namun segera mungkin di cegah oleh Nindi.
"Tuan Ardhi memberi perintah agar nona Renjani bisa diizinkan untuk masuk ke kelasnya," ujar Nindi sambil tersenyum tipis.
"Benarkah? Memangnya Renjani memiliki hubungan apa dengan Tuan Ardhi?" Tanya guru BK ingin tahu.
Nindi yang merasa tidak berhak untuk menjawab itu pun langsung menatap ke arah Renjani yang masih menundukkan kepalanya.
"Nona Renjani? Guru BK sedang bertanya. Apa kamu tidak berniat untuk menjawabnya?" Tanya Nindi dan berhasil membuat Renjani sedikit tergagap. Apa yang harus dijawabnya? Tidak mungkinkan kalau mengatakan yang sebenarnya?
"Ehm? Kami hanya..." pandangan Renjani tidak bisa berfokus pada satu tempat. Kelihatan sekali kalau gadis itu tengah mencoba untuk mencari jawaban yang tepat.
Ardhi yang dikira hanya akan menunggu di dalam mobil pun ternyata pakai acara repot-repot turun dari mobil hanya untuk membantu Renjani dalam memberikan jawaban kepada guru BK.
"Dia hanya saudara jauh," kata Ardhi dengan tegas dan terdengar tak begitu mencurigakan.
"Kamu bisa langsung masuk ke kelas dan ikuti pelajaran yang sudah dimulai," kata guru BK itu.
"Gak perlu ikut di barisan? Tadi, bukankah ibu menyuruhku untuk masuk ke barisan bersama murid lainnya?" Tanya Renjani hanya ingin memastikan yang benar.
"Bu Tiffany?" Panggil Ardhi menyebut nama guru BK itu.
"Iya Tuan?" sahut guru BK dengan cepat.
"Tolong jaga Renjani dengan baik! Saya titipkan dia ke anda. Kalau terjadi sesuatu dengannya, saya akan meminta pertanggung jawaban kepada anda," ujar Ardhi kedengaran bersungguh-sungguh.
Dengan senyumannya, guru BK itu pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sekarang Renjani benar-benar dibuat bertanya-tanya, apakah boleh dirinya mendapatkan kenikmatan dan keistimewaan seperti ini?
"Bu, tapi sepertinya aku akan bergabung saja dengan mereka di barisan dan menerima hukuman," kata Renjani membuat sebuah keputusan yang tiba-tiba.
Memang benar, awalnya Renjani sangat ingin mengambil kesempatan ini agar bisa terbebas dari hukuman, tapi setelah berpikir cukup, ia akan merasa tidak enak kepada murid lainnya. Hari ini Renjani sudah jelas-jelas terlambat dan sangat wajar kalau dia kembali mendapatkan hukuman dari keterlambatannya ini, bukan malah sebuah keistimewaan.
"Renjani? Kamu yakin?" Tanya Ardhi hanya ingin memastikan kalau gadis itu memang bersungguh-sungguh atas apa yang diucapkannya.
"Iya. Aku takut merasa bersalah dengan murid lainnya," ujar Renjani terdengar sama sekali tidak masalah kalau mendapatkan hukuman.
Tak mau membuang waktu lebih banyak lagi, Renjani pun menundukkan kepalanya, hanya bermaksud untuk berpamitan kepada laki-laki bernama Ardhi itu. Setelah melakukannya, ia pun melangkahkan kaki dengan yakin menuju ke arah barisan dari para murid lainnya yang juga terlambat.
"Tolong jangan terlalu keras padanya!" Pinta Ardhi lagi sebelum pergi dari sekolahan ini.
__ADS_1
"Saya hanya akan berikan hukuman yang sewajarnya saja," ujar guru BK itu.
Dikarenakan waktu terus saja memburu, Ardhi yang juga harus segera pergi ke kantor pun mulai masuk kembali ke dalam mobilnya. Untuk sementara ia akan mempercayakan Renjani kepada guru BK itu.
Bertemu dengan Renjani sudah berhasil membuat lelaki itu merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Pikirannya sekarang juga telah bisa fokus pada pekerjaan. Lega karena bisa melihat Renjani di pagi hari.
"Kapan rapat dengan klien dari Italia dimulai?" Tanya Ardhi sambil pandangannya sibuk kembali menatap ke arah iPad.
"Tepat pukul sembilan pagi. Saya barusan mendapatkan telepon dari kantor yang memberitahu kalau klien dari Italia sudah datang," ucap Nindi yang sekarang lebih diperhatikan lagi oleh atasannya.
Mendengar secara jelas apa yang sudah dikatakan oleh sang sekertaris, Ardhi pun melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ini bahkan belum jam delapan pagi, tapi kenapa klien dari Italia sudah datang terlebih dahulu?
"Oh ya Nindi, bisakah saya minta tolong satu hal? Kali ini tidak berhubungan dengan pekerjaan ataupun perjodohan," kata Ardhi mendadak meminta hal seperti itu.
"Tentu saja. Mana berani saya menolak perintah dari Tuan," ucap Nindi yang dengan senang hati.
"Tolong kamu cari tahu apa saja yang dilakukan oleh Syifa setelah pulang dari Austria! Saya hanya curiga kalau dia sudah melakukan hal yang bisa menimbulkan masalah," tutur Ardhi yang ternyata meminta kepada sang sekretaris untuk menyelidiki tentang adiknya.
"Baik Tuan. Saya akan mencari tahu sesuai dengan perintah," kata Nindi sama sekali tidak merasa keberatan.
Mobil sedang yang memiliki lambang empat cincin itu pun bergerak pergi meninggalkan halaman sekolahan ini. Karena tahu kalau atasannya sudah harus menghadiri rapat dengan klien penting, sang sopir pun tanpa segan mempercepat laju mobil ini, melintasi jalanan kota pagi yang bisa dibilang masih ramah lancar.
.
.
.
Dengan kecepatannya, sopir itu pun berhasil membuat sang atasan tiba ke kantor hanya dalam waktu kurang dari dua puluh menit. Kedatangan mobil sedan yang memiliki lambang empat cincin itu langsung mendapatkan sambutan dari salah satu manajer kepercayaan yang juga bekerja di perusahaan Ardhi.
Pintu mobil telah dibukakan, Ardhi yang saat ini terlihat begitu tampan dalam balutan setelan formal rapi, secara perlahan-lahan mulai turun dari mobil itu. Kemunculannya ini mampu membuat semua pekerja yang kebetulan sedang memberi sambutan, menundukkan kepala tanda memberi hormat pada si pemilik gedung perusahaan ini.
Sudah terbiasa dengan semuanya, Ardhi hanya menganggukkan kepala singkat, lalu melangkahkan kaki panjangnya masuk ke gedung perusahaan. Hal pertama yang langsung dilakukannya setelah tiba di kantor adalah menemui klien dari Italia itu. Ardhi tak boleh membuat Tuan Benvolio menunggu terlalu lama. Klien sepenting beliau harus diurus oleh Ardhi dengan amat baik.
"Langsung menuju ke ruang rapat," pinta Ardhi yang kini telah berada di dalam elevator bersama beberapa pengawal dan juga sekertaris.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
-----------------------------------------------------------
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
__ADS_1
✓ Instagram : just.human___
-----------------------------------------------------------