My Important Bussiness With CEO

My Important Bussiness With CEO
— 32.


__ADS_3

Hanya mengikuti saran yang diberikan oleh Renjani, sekarang Ardhi dan juga David sudah berada di ruangan kepala sekolah. Kehadiran mereka berdua disini memiliki sebuah tujuan pasti. Ardhi hanya ingin membuat perhitungan kepada laki-laki pemilik nama David itu, dengan melibatkan kepala sekolah.


Sebenarnya Renjani bisa dibilang tidak terlibat dalam masalah ini, namun ia tetap harus ada sebagai penengah. Takut sekali kalau tiba-tiba Ardhi yang masih dipenuhi oleh amarah jadi harus menyerang David. Disini, Renjani sama sekali tak ingin melihat salah satu dari mereka terluka.


Renjani yang sekarang ini terlihat sudah mengambil tempat duduk persis berada di tengah-tengah antar dua lelaki yang tengah berselisih pun mulai membuka pembicaraan. Selain menjadi penengah, Renjani juga akan menjadi juru bicara untuk mereka berdua. Takut saja kalau menyuruh mereka yang bersua, adu mulut akan terjadi. Sebelum amarah mereda, Renjani yang akan memandu mereka dalam menyelesaikan masalah yang ada.


"Jadi, ada permasalahan apa? Kenapa kamu membawa mereka berdua kemari?" Tanya Kepala Sekolah sedikit terheran sekaligus bingung saat mendapati sosok Ardhi dan juga David ada di ruangannya.


"Saya kurang tahu apa yang terjadi, tapi mereka berdua tadi sempat bertengkar karena suatu masalah," jawab Renjani sembari menatap ke arah Ardhi seakan sedang memberikan isyarat untuk mulai bersua.


"Masalah? Tentang apa? Bisa dikatakan sekarang dan saya akan mendengarkannya," ujar kepala sekolah yang siap menjadi pendengar.


"Maaf kalau kedatangan saya kemari begitu mendadak. Tujuan saya bukan untuk mencari masalah, tapi meminta pertanggungjawaban kepada laki-laki itu," ucap Ardhi sembari menunjuk ke arah David yang sekarang ini terus menundukkan kepalanya.


"Pertanggungjawaban? Apa David sudah melakukan kesalahan?" Tanya kepala sekolah terus mencoba mencari tahu tentang permasalahannya.


"Dia berpacaran dengan adik saya dan sekarang adik saya sedang berada di rumah sakit. Dokter bilang kalau adik saya sedang mengandung," tutur Ardhi yang tak ragu untuk jujur apa adanya.


Mendengar hal seperti itu keluar dari mulut Ardhi, mampu membuat semua orang yang ada di ruangan ini menutup mulutnya, terkejut. Enggan mempercayai karena rasanya seakan terdengar layaknya sebuah kebohongan.


"Tuan Ardhi sedang tidak berbohong kan?" Bisik Renjani tepat pada telinga milik laki-laki yang kini sedang kelihatan memasang serius.


Sama sekali, alasan Renjani menanyakan hal itu hanya karena ia sedang meragu akan kebenaran. Bagaimana bisa seseorang yang baik seperti David bisa melakukan perbuatan seperti itu? Penilaian Renjani terhadap David selama ini tidak salah kan?


"Saya tidak mungkin berbohong untuk hal sepenting ini. Untuk apa juga melakukannya? Sama sekali tak akan menguntungkan," kata Ardhi merasa sedikit kecewa terhadap sikap Renjani.


"Baiklah, kalau begitu apa Tuan Ardhi memiliki buktinya?" Tanya kepala sekolah yang menjadi pihak netral.


"Bukti? Apa saya harus menyerahkan rekaman CCTV kamar apartemen, dimana mereka berbuat seperti itu?"


Perkataan yang baru saja keluar dari mulut Ardhi mampu membuat kepala sekolah bahkan Renjani terdiam. Kecuali dengan tes DNA, tak ada lagi cara yang tepat untuk membuktikan soal kebenaran dari bayi yang sekarang sedang berada di dalam kandungan Syifa.


"Saya tidak pernah menaruh CCTV di dalam kamar. Jadi, tak mungkin ada bukti untuk itu," akhirnya David mulai ikut bersua.


Mendengar hal itu, sanggup membuat seorang Ardhi tersenyum di sudut bibirnya. Apa yang baru saja keluar dari mulut David adalah sebuah pengakuan?


"Jadi, kamu mengakui perbuatan sendiri?" Kata Ardhi dan dengan cepat langsung mendapatkan anggukkan kepala dari laki-laki pemilik nama David itu.


"Saya bukan pria yang suka lari dari tanggung jawab," ucap David serius.


Mendengar pengakuan jujur seperti itu, berhasil membuat kepala sekolah dan juga Renjani terkejut. Bukan tanpa sebab, pasalnya di sekolah ini David dikenal sebagai seorang anak yang baik dan tidak suka neko-neko.

__ADS_1


"David? Kamu gak lagi bercanda kan?" Tanya Renjani berharap kalau apa yang baru saja bukanlah sebuah kenyataan.


"Tidak ada yang sedang bercanda disini. Aku serius dengan pengakuan itu. Maaf, karena sudah membuat kamu kecewa," ucap David sembari menundukkan kepalanya karena dipenuhi oleh rasa bersalah.


Hanya kelihatannya saja Ardhi memang begitu cuek dan kurang peduli pada keadaan disekitar, tapi aslinya kalau terjadi sesuatu, contohnya seperti kejadian yang menimpa sang adik, orang pertama yang bisa langsung merasa kesal adalah Ardhi.


Setelah mendengar semua pengakuan dari laki-laki yang sudah menjadi pacar dari sang adik, dengan rasa kesal yang masih tersisa dalam diri Ardhi secara tidak terduga langsung memberikan sebuah bogem mentah yang berhasil mengenai tepat di wajah milik David. Karena dilakukan mendadak, banyak yang belum mengantisipasinya.


Renjani yang melihat penyerangan itu pun seketika memasang badannya untuk melindungi mereka berdua agar tak bertengkar di hadapan kepala sekolah. Tanpa berpikir panjang, Renjani dengan berani langsung melemparkan pelukannya kepada laki-laki pemilik nama Ardhi itu. Sengaja dipeluk hanya supaya amarah bisa mereda. Entah dapat keyakinan darimana, tapi Renjani tahu kalau pelukan bisa membuat Ardhi merasa tenang.


"Tuan Ardhi?" Panggil Renjani ditengah-tengah pelukan erat itu.


"Tolong untuk kendalikan amarahnya! Jangan sampai Tuan dianggap menyerang seorang pelajar!" Pinta Renjani bersungguh-sungguh.


Ardhi yang merasakan dan tahu kalau sekarang dirinya sedang dipeluk oleh gadis yang sekarang sudah menjadi kekasihnya, meskipun hanya sebatas kontrak, perlahan-lahan mulai mengendalikan dirinya. Tangannya yang sedari tadi terus tergenggam karena amarah kelihatan mulai terbuka.


"Aku tahu kalau Tuan sedang marah, tapi itu tak akan menyelesaikan masalah yang ada. Jangan buat semuanya menjadi sulit!" Pinta Renjani lagi dan langsung dituruti.


"Kamu bisa lepaskan sekarang. Saya sudah baik-baik saja," kata Ardhi sembari menepuk pelan pundak milik gadis itu.


Karena diminta begitu, tak ada alasan apapun lagi bagi Renjani untuk tetap mempertahankan posisi. Ia melepaskan pelukan itu, lalu mendadak berubah menjadi sedikit canggung.


Tak lama setelah pelukan dilepaskan, Ardhi tanpa terduga mulai menggenggam erat jemari milik Renjani dihadapan David dan juga kepala sekolah. Sebelum benar-benar keluar dari ruangan ini, ada yang ingin disampaikan oleh Ardhi kepada laki-laki yang kemungkinan akan menjadi calon adik iparnya.


"Jangan pernah berpikir untuk kabur! Karena saya pasti akan memburu dan menemukan kamu," tambahnya yang kedengaran serius.


Sudah mengatakan semua itu, bersama dengan Renjani, Ardhi pun melangkahkan kaki keluar dari ruangan kepala sekolah. Emosi serta amarahnya memang masih ada, tapi sekarang bisa untuk diatur, tidak seperti tadi.


.


.


.


Renjani yang digandeng paksa, sampai mendapatkan perhatian dari seluruh murid yang sedang berada disekitar pun mulai mencoba untuk melepaskan tangan laki-laki pemilik nama Ardhi. Bukan tanpa sebab, hanya saja Renjani tak berniat membuat sekolahan menjadi heboh hanya karena ini.


"Maaf Tuan! Tapi, kita sedang ada di sekolah," tutur Renjani dengan genggamannya yang telah terlepas.


"Kenapa kamu selalu memanggil saya seperti itu?" Protes Ardhi yang masih terus mempermasalahkan tentang cara dari gadis itu memanggil.


Sembari tersenyum tipis, Renjani mulai memberitahu alasan yang kerap membuatnya harus memanggil Ardhi sebagai Tuan.

__ADS_1


"Aku hanya merasa itu lebih sopan saja. Bukankah panggilan Tuan memang sesuai dengan hubungan diantara kita? Kita memiliki kontrak, jadi sangat wajar kalau aku memanggil seperti itu."


"Padahal kemarin kamu juga sempat memanggil saya dengan sebutan Om. Kenapa harus berubah lagi menjadi Tuan?" Kata Ardhi yang sebenarnya ingin dipanggil biasa saja oleh Renjani.


"Menurut aku, panggilan itu tidak cocok. Sedikit aneh kalau aku memanggil Om. Aku yang kurang nyaman," ungkap Renjani hanya mencoba untuk berbicara jujur.


"Baiklah. Kalau begitu, terserah kamu mau memanggil apa, karena saya akan berhenti memprotes," Ardhi memilih untuk mengalah saja.


"Terima kasih, karena Tuan sudah mau mengerti," kata Renjani dengan senyuman yang kelihatan mengembang diwajahnya.


Mereka berdua terus berjalan bersama, sampai pada akhirnya Ardhi sudah berada di dekat mobil sedannya yang karena terburu-buru jadi, harus terparkir sembarangan.


"Nanti, kamu pulang jam berapa?" Tanya Ardhi dengan maksud.


"Ehm, kemungkinan jam tiga sore. Memangnya kenapa, Tuan?" Meskipun kedengarannya kurang nyaman, tapi Ardhi tetap akan berusaha untuk membiasakan dirinya dengan panggilan itu.


"Nanti saya akan kembali untuk menjemput kamu. Saya berniat mengajak kamu pergi ke suatu tempat," kata Ardhi yang enggan mendengar penolakan.


"Tapi, Tuan—" belum sempat melanjutkan ucapan, Ardhi terlebih dahulu memotongnya.


"Jangan menolak! Ini perintah. Kalau kamu tetap bersikeras menolak, saya akan menganggap kamu melanggar kontrak perjanjian diantara kita. Kamu tahu kan berapa besaran biaya yang harus dibayar?" Ujar Ardhi kedengaran seperti sebuah ancaman.


^^^Bersambung...^^^



Catatan kecil :


- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.


- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.


 


Story ©® : Just.Human


*please don't copy this story.


Find Me


✓ Instagram : just.human___

__ADS_1


 


__ADS_2