
stella yang berjalan sendiri untuk mencari makanan melihat sekumpulan tentara sedang memenuhi pintu depan pustu.
"Ada apa ya?" ucap batin stella yang tiba tiba menjadi takut.
baru saja stella hendak menyebrang ke warung yang berada di sebrang jalan, iya di kagetkan oleh suara seseorang yang memanggil namanya.
"Dokter stella" panggil erika yang tengah berlari ke arah nya.
"Ada apa suster erika?"
"Dokter ada pasien emergenci di pustu, tapi tak ada satu dokter pun yang berada di tempat sekarang, beberapa dokter dan perawat tengah mengadakan pertemuan di balai desa." ucap erika.
stella yang mendengar ucapan erika seketika berlari menuju ke pustu.
"Permisi, kalo boleh kalian bisa menunggu di luar agar danton bisa di beri penanganan oleh dokter."
"Bagai mana keadaan pasien nya sus?" tanya stella yang baru saja masuk ke ruang igd.
"Pasien dalam keadaan gawat dok, menurut rekan rekannya pasien banyak kehabisan darah dan selama di perjalanan pasien tak sadarkan diri dok."
stella mulai memeriksa luka tembakan yang berada pada bahu yogi. stella terdiam sesaat saat melihat laki laki berbaju loreng di hadapan nya. seketika ada perasaan yang tak enak di dalam hati stella.
"Ada apa ini? kenapa batinku jadi tak enak seperti ini. kenapa aku tiba tiba ingat dengan bang yogi? semoga bang yogi baik baik saja" ucap stella dalam hati.
stella sama sekali tak menyadari kalo laki laki yang berada di hadapan nya adalah yogi suaminya. stella sama sekali tak mengenali yogi karena wajah yogi masih penuh dengan coretan samaran yang iya pakai sebelum terkena tembakan. akan tetapi batin stella merasa sedih melihat laki laki yang berada di hadapan nya. seakan akan iya merasa punya ikatan dengan laki laki tersebut.
"Dok dokter stella ada apa?" tanya erika yang melihat wajah stella yang tiba tiba menjadi sedih.
"Ah i-iya sus, nggak ada apa apa, saya cuma. kasihan saja dengan pasien ini. oh iya Bagai mana dengan pemeriksaan organ vital nya sus?"
"Nadi nya sudah melemah dokter, pasien sudah kehilangan banyak darah"
"Baik kita akan melakukan oprasi untuk mengeluarkan peluruh yang berada di lengan korban."
"tapi dokter alat di pustu ini tidak lengkap"
"Tapi kita juga nggak punya waktu bayak suster kalo harus membawa pasien ke rumah sakit yang berada di kota."
"Suster saya akan melakukan oprasi darurat untuk pasien ini, saya tidak yakin kalo kita membawa nya ke rumah sakit di kota dia akan bertahan, sementara kondisi pasien sudah melemah seperti ini."
"Tapi dokter, bukankah resiko nya akan berakibat fatal untuk pasien juga untuk karir dokter jika kita melakukan oprasi darurat dok, apa lagi dengan alat yang tidak lengkap?" tanya suster erika yang tidak yakin dengan keputusan stella.
"sus kita tak punya banyak waktu lagi, sekarang suster ke mess saya dan panggil dokter andin ke mari sekarang juga, biar keperluan oprasi nya saya yang atur."
__ADS_1
"Ba-baik dokter" dengan rasa ragu suster erika mengikuti perintah yang stella berikan.
kurang lebih 10 menit suster erika dan andin tiba di ruangan yang akan di pake stella buat melakukan oprasi.
"Stell apa kamu yakin?" tanya andin yang sudah mendengarkan cerita dari suster erika.
"Apa kamu tak yakin ndin? apa kita harus membawa pasien ini ke rumah sakit kota dalam keadaan skarat seperti ini?"
Andin terdiam sejenak, iya berfikir apa yang di katakan stella ada benar nya.
''Baik stell kita akan melakukan oprasi darurat."
"suster apakah sampel golongan darah pasien sudah ada?" tanya stella pada suster erika.
"pasien memiliki golongan darah A Rhesus Negatif dok"
stella dan andin seketika kaget mendengar ucapan suster erika.
"Apa suster A rhesus negatif?" ucap stella dan andin kompak.
"Gi mana stell, itu golongan darah yang sangat langkah."
"sus apa ada stok darah yang seperti darah pasien di pustu ini?"
"Maaf dokter stella kita sama sekali tak memiliki persedian darah A rhesus negatif"
"Andin kamu dan suster erika berikan pertolongan pertama dulu, biar aku yang akan keluar mencari golongan darah yang sama dengan pasien, mudah mudahan salah satu dari rekan pasien yang berada di luar ada yang memiliki golongan darah sama."
stella berjalan keluar menghampiri para personil TNI yang masih berada di depan pustu, stella menghampiri salah satu dari mereka.
"Permisi pak," ucap stella pada laki laki berbaju loreng yang sudah berubah warna nenjadi merah akibat terkenah darah yogi, laki laki tersebut tak lain adalah akbar.
"Iya ada Dok, bagai mana keadaan danton yogi? tanya akbar yang masih penuh dengan ke khawatiran.
stella yang mendengar nama yogi seketika mematung dan menatap kosong ke arah akbar.
"Mungkin hanya nama nya saja yang sama laki laki itu pasti bukan bang yogi." ucap batin stella.
"Dok dokter ada apa? bagai mana keadaan nya dok?" tanyq akbar yang menyadarkan lamunan stella.
"Ma-maaf pak pasien sedang dalam keadaan kritis, pasien membutuhkan transfusi darah secepatnya tapi tidak ada persedian darah di pustu kecil seperti ini, apa ada salah satu dari kalian yang mempunyai golongan darah A rhesus negatif?"
"Golongan darah saya A dok, tapi bukam A rhesus negatif, apa saya bisa mendonorkan darah saya dok?"
__ADS_1
"Maaf pak tidak bisa, harus darah yang sama dengan pasien darah A rhesus negatif."
Akbar segera menghubungi semi dan yang lain nya, yang tengah sibuk mengurus para tersangka. tak lama kemudian muncul ayyub,semi,ray dan fahmi dari arah belakang stella
"Gi mana bar?" tanya ayyub
stella yang merasa mengenali suara yang muncul dari arah belakang seketika berbalik ke pemiliki suara tersebut. betapa kaget nya stella setelah melihat ternyata pemilik suara tersebut adalah orang yang iya kenal.
"Bang ayyub" ucap stella kaget, saat melihat ayyub,semi,fahmi juga ray berada di hadapan nya.
sama kagetnya dengan stella, ayyub,semi,ray dan fahmi pun juga ikut terkejut melihat keberadaan stella di sana.
"stella" ucap ayyub,
"nah loh ray itu kan dek stella sambung semmi." dan ray hanya menatap stella tanpa bersuara.
perasaan stella sudah tak menentu ketika melihat ayyub dan kawan kawan nya berada di hadapan nya. jantung nya berdetak tak karuan seakan akan jiwanya sudag tak lagi berada di dalam raganya.
"stella kamu ngapain di sini?" tanya ayyub pada stella.
"Bang saya dokter sukarelawan yang di kirim ke kota ini bersama tim medis lain nya."
"Berarti kamu dokter yang menangani yogi? terus gi mana keadaan yogi sekarang stell?"
stella merasakan sekujur tubuhnya bergetar iya sudah tak mampu lagi menahan tubuh nya yang seketika terjatuh ke lantai.
"Bang ayyub jawab stella, apa benner pasien yang di dalem stella tangani pasien yang lagi kritis yang bernama yogi, apa itu abang yogi?" tanya stella penuh selidik ke arah ayyub.
"Iya stell dia yogi, Yogi abi permana, apa kamu tak mengenalinya?" tanya ayyub lebih lanjut.
stella sudah tak memperdulikan siapa yang tengah berada di hadapan nya iya langsung saja berlari menuju ruangan di mana yogi di rawat
Ray ayyub semi dan fahmi mengejar stella yang sudah seperti orang depresi.
"stella panggil ray, stella ada apa dengan kamu?" ray terus saja memanggil manggil stella yang seakan akan lepas kendali.
stella seketika berhenti dan berbalik ke arah ray. "Bang, bang ray harus nolongin stella bang ray harus bantu stella buat cariin bang yogi pendonor darah yang sama dengan golongan darah bang yogi. bang yogi sekarang sedang keritis bang, ucap stella dengan air mata yang sudah banjir membasahi pipi cantiknya.
"Goongan darah yogi sangat langkah stell."
"Iya bang stella tau, makanya stella minta tolong ke abang ray dan kawan kawan tolong bantu stella selamatin bang yogi bang, stella nggak mau bang yogi kenapa kenapa. stella takut bang,"
stella masih saja terus mengeluarkan air matanya iya rasanya sudah tak tau harus berbuat apa. tiba tiba suster viona muncul dari arah belakang.
__ADS_1
"ambil darah saya saja dokter ucap viona, dokter golongan darah saya sama dengan golongan darah mas yogi, A rhesus negatif."
stella merasa tuhan begitu baik pada nya. tuhan menjawab semua doa doa nya melalui suster viona.