
Yogi masih tidak percaya dengan apa yang iya lihat di hadapannya.
"Stella"
Stella hanya menarik ke dua sudut bibir nya dan menampakan senyuman yang samar.
"Iya bang Yogi ini Stella."
"Kok ka-kamu bisa ada di sini Stell?" ucap Yogi terbata bata.
"Ngapain lagi coba bang, kalo bukan buat membantu memberi pertolongan kepada masyarakat masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis dari kami." potong Andin menjawab pertanyaan dari Yogi.
"Maksud kamu Ndin?" ucap Yogi masih penuh dengan tanda tanya.
"Iya bang Yogi, Stella juga ikut dalam rombongan tim medis sukarelawan yang di tugaskan ke daerah ini bersama aku dan juga rekan rekan kami yang lain."
Yogi yang masih belum memahami situasinya sekarang hanya terus menatap ke arah Andin dan sesekali menatap ke arah Stella.
Stella yang berusaha membuang rasa sesak yang sedari tadi iya rasakan di sudut dada sebelah kirinya, menarik nafas dalam dalam dan membuang nya secara perlahan berusaha menguasai dirinya dan membuat semuanya nampak baik baik saja.
"Bang Yogi, Stella izin memeriksa keadaan bang Yogi ya?
"Hmmm" jawab Yogi singkat.
"Kalo boleh Stella tau apa yang bang Yogi rasakan saat ini?"
"Tidak ada" ucap Yogi cuek.
"Apa abang merasakan pusing, sakit atau saja abang masih merasa lemas?" tanya Stella sekali lagi memastikan keadaan pria yang sangat iya rindukan.
"Dokter Stella saya baik baik saja, saya tidak merasakan pusing,sakit atau lemas sedikitpun."
Stella sangat sedih mendengar perkataan Yogi yang masih tetap saja dingin.
"Apa selama beberapa bulan ini bang Yogi sama sekali nggak kangen sama Stella? ahaha ngomong apa kamu Stell, emang dari dulu kan bang Yogi nggak pernah suka sama kamu." ucap batin Stella berdebat dengan dirinya sendiri.
Andin yang melihat Stella diam dan terus menatap kosong ke arah Yogi seketika menarik lengan baju Stella.
__ADS_1
"Stell kamu kenapa, kamu baik baik saja kan?"
"Ah mmm i-iya Ndin ada apa?" tanya Stella yang baru sadar dari lamunan nya.
"Kamu kenapa sih Stell, kalo kamu masih nggak enak badan ya udah kamu balik saja ke mes, biar bang Yogi nanti aku yang akan memeriksa keadaan nya."
"Mmm aku nggak apa apa Ndin." ucap Stella dan lanjut membalas jawaban dari Yogi yang tadi belum iya jawab.
"Ya sudah bang kalo begitu semuanya baik baik saja, abang hanya sisah menunggu luka bekas oprasi abang mengering agar abang bisa beraktifitas seperti sedia kala lagi, dan jangan lupa minum obat yang telah di berikan oleh Andin."
Setelah memeriksa keadaan Yogi Stella menatap ke arah Andin.
"Ndin sebaiknya bekas luka bang Yogi masih harus kita observasi , dan jangan lupa tetap pantau tekanan darah,detak jantung dan juga denyut nadinya, sepertinya dia masih lemah."
Mendengar ucapan Stella, Andin hanya menganggukkan kepalanya.
"Baik Stell."
Viona yang mendengar percakapan Stella dan Andin langsung saja menyambung percakapan ke dua dokter cantik yang berada di hadapannya.
"Dokter Stella dan dokter Andin tidak perlu khawatir, soal keadaan danton Yogi biar saya saja dok yang merawatnya dan memberikan laporan perkembangan kesehatan danton Yogi kepada dokter Andin dan dokter Stella, saya janji akan merawat danton Yogi agar bisa kembali sehat dan pulih seperti sedia kalah."
"Tidak usah suster Vio, bukanya suster Vio harusnya beristirahat saja, saya kan sudah beberapa kali menyuruh suster Vio buat beristirahat?" ucap Andin dengan nada penuh penekanan, karna tak suka melihat Viona terus terusan berusaha mendekati Yogi.
"Tidak apa apa dok, saya bisa beristirahat di sini dan biar sekalian saya juga bisa terus memantau keadaan danton Yogi."
Pada saat suasana tegang mulai terasa di dalam ruang rawat Yogi, tiba tiba muncul suara langkah kaki dari luar
tap
tap
tap
"Ada apa ini, kenapa suasana ruangan ini penuh dengan ketegangan?" ucap Ayyub yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Yogi bersama Ray,Fahmi dan juga Semi.
"Eh Sayang, nggak ada apa apa kok, aku hanya nyuruh suster Vio buat beristirahat tapi suster Vio nggak mau, dia tetap bersih kekeh buat merawat bang Yogi." ucap Andin dan beralih mendekat ke arah Ayyub.
__ADS_1
Ayyub menatap ke arah Viona.
"Suster Vio, kenapa suster Vio nggak balik ke mes untuk beristirahat saja, kan tadi saya sudah menyuruh Purnomo buat menemani Yogi?"
"Iya danpos, tadi saya ketiduran pas menjaga danton Yogi." ucap Viona sambil terus memasang senyum manis di wajah nya, seolah olah iya sedang menebar pesona ke pada para perwira TNI yang ada di hadapannya.
"Oh iya Gi, gi mana keadaan Lo?" tanya Ray sambil memotong percakapan antara abang seniornya dan suster Viona.
"Gue udah nggak apa apa kok Ray."
"Sumpah ya Gi lo tu kalo mau nge prank orang nggak gini dong cara nya, sumpah kita semua hampir di buat jantungan sama lo gi." Canda Fahmi dengan wajah yang di buat sangar.
Yogi yang mendengar candaan dari sahabatnya itu, melemparkan sebuah bantal yang berada di sampingnya.
Buk sebuah bantal kecil mendarat tepat di wajah manis Fahmi.
"Gila lo tukimin, emang siapa yang nge prank elo, lo nggak liat apa gue udah hampir mati apa?"
ahahahha terdengar suara tawa orang orang yang berada di dalam ruang perawatan Yogi.
"Aduh sudah dong bercanda nya, bang Yogi, bang Yogi jangan asal gerak seperti tadi, luka bang Yogi belum sembuh, bang Yogi belum boleh mengangkat tangan bang Yogi seperti tadi." Tegur Stella karna sangat khawatir melihat Yogi melempar bantal ke arah Fahmi menggunakan tangan nya yang habis di oprasi.
Yogi hanya menatap sekilas ke arah Stella.
"Nah denger tu Gi, apa yang di katakan dek Stella." ucap Fahmi sambil memamerkan gigi rapinya ke pada Stella
seketika Semi mendorong kepala cepak milik letting nya tersebut.
'' Dek Stella dek Stella, dek Stella pala lu peyang?"
"ih apa apaan sih lo sem sakit tau."
Semi hanya mengangkat kedua bahu nya dan berjalan menuju kursi yang berada di samping Purnomo.
"ih dasar jomblo akut, kalo lo cemburu bilang dong, kalo lo juga naksir sama dek Stella bilang biar kita bersaing secara sehat, gi mana lo mau nggak?" ucap Fahmi sekenanya.
Ayyub hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ke dua juniornya tersebut. Ayyub sudah tak heran lagi dengan kelakuan Fahmi dan Semi, karna bukan Fahmi dan Semi namanya kalo mereka sedetikpun tak berdebat.
__ADS_1
"Hai kalian berdua kenapa kalian sibuk memperebutkan dokter Stella, sedangkan dokter Stella sebentar lagi menjadi milik Ray." celoteh Ayyub sambil menyenggol lengan Ray.
Ray yang merasa malu dengan apa yang di ucapkan abang senior nya hanya tersenyum dengan wajahnya yang memerah.