
Ma-maaf dokter Andin, saya mengganggu waktu istirahat dokter, saya cuman mau menyampaikan dok, kalo pasien yang tadi Dokter Stella dan Dokter Andin oprasi sudah siuman dok."
Andin berbalik melihat ke arah Stella, dan kembali berbalik menatap ke arah suster Erika.
"Sebaik nya kita bicara di luar saja sust, saya takut nanti Stella terbangun mendengar percakapan kita."
Suster Erika mengikuti langkah Andin dan menyamakan langkah nya tepat di samping tubuh Andin.
"Suter Erika, bagai mana keadaan bang Yogi?" tanya Andin sambil terus berjalan menuju ke ruang rawat Yogi.
"Danton Yogi sudah siuman dok, saya belum melihat secara langsung keadaan danton Yogi awal siuman dok."
"Lalu kenapa kamu tidak memeriksa keadaan bang Yogi terlebih dahulu sust?" tanya Andin.
"Maaf dok, tadi saya sudah ingin memeriksa keadaan awal danton Yogi, tapi belum sempat saya masuk ke ruang rawat danton Yogi suster Vio menyuruh saya untuk memberitahukan kepada dokter Andin, bahwa danton Yogi telah sadar dok."
ke dua alis Andin bertautan mendengar suster Vio berada di ruang rawat Yogi.
"Suster Erika bukan nya tadi saya menyuruh suster Vio buat beristirahat saja, dan tidak usah mengambil pekerjaan dulu?"
"Maaf kan saya dok, tadi saya juga sudah berkata demikian ke pada suster Vio, agar sebaiknya dia beristirahat saja, tapi suster Vio tetep kekeh dok buat memeriksa keadaan danton Yogi."
******
Di ruang rawat Yogi, Ayyub dan Ray lebih memilih duduk di salah satu bangku panjang yang berada di sudut ruangan.
"Bang Ayyub" panggil Ray yang memulai pembicaraan.
"Hmm ada apa Ray? tanya Ayyub tanpa menoleh ke arah Ray dan tetap sibuk memainkan ponsel nya.
"Bang sepertinya suster Vio suka sama Yogi."
Ayyub melirik sekilas ke arah Yogi dan Viona dan kembali menatap layar benda pipih yang berada di genggamannya.
"Lah emangnya kenapa Ray kalo suster Vio naksir sama Yogi, toh kan si Yogi juga belum ada yang punya."
"Tapi bang, rasanya saya nggak setuju kalo si suster Vio deket deket sama Yogi, kan abang tau sendiri suster Vio tu orangnya seperti apa? hampir setiap tentara yang bataliyon nya dapat pos daerah ini pasti salah satu dari mereka ada yang jadi kekasih suster Vio bang" ucap Ray dengan raut wajah tak suka.
"Ray Ray wong yang di deketin si Vio itu Yogi, tapi kok malah kamu yang nggak setuju, jangan jangan kamu naksir lagi sama si Yogi." canda Ayyub sambil tertawa.
"idih amit amit deh bang, saya naksir sama si Yogi, yang ada tu bang saya peduli sama di Yogi saya tu cuman nggak suka aja bang, sahabat saya di deketin sama tu si wanita tentara holik."
__ADS_1
Di saat Ayyub dan Ray sibuk berdebat dengan pendapat mereka masing masing, tiba tiba pintu ruang rawat Yogi terbuka.
Ceklek
Ayyub,Ray,Yogi dan suster Viona serentak menatap ke arah pintu ruang rawat Yogi.
terlihat seorang wanita cantik berbalut jas dokter dan seorang wanita memakai pakaian perawat berjalan menuju ke tempat Yogi.
"Sayang" panggil Ayyub sambil berjalan menghampiri Andin yang sudah berdiri tepat di samping tempat tidur pasien.
Andin hanya menatap ke arah Ayyub dan menarik ke dua sudut bibir nya yang menampakan senyuman manis dari wajahnya dan kembali menatap ke arah Yogi.
"Bang Yogi, gi mana keadaan abang sekarang?" tanya Andin sambil melihat ke arah wajah Yogi.
Yogi yang tak tau menahu tentang mengapa Andin bisa berdiri di hadapannya nampak bingung.
"Andin, kok kamu ada di sini?" tanya Yogi dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.
Andin tak merespon tentang pertanyaan yang di lontarkan oleh Yogi, Andin malah mengalihkan pertanyaan Yogi lalu bertanya kepada suster Viona perkembangan kondisi Yogi.
"Oh iya suster Vio, apa suster sudah memeriksa semua organ vital bang Yogi?" tanya Andin sambil menatap ke arah suster Viona.
"Sudah dok, Detak jantung pasien, denyut nadi pasien dan Tekanan darah pasien Yogi semuanya baik dok."
"Bang Yogi, apa abang sekarang merasa pusing?" tanya Andin sambil memeriksa keadaan luka bekas operasi Yogi.
"Ti-tidak, saya tidak merasakan pusing Ndin, saya hanya merasa badan saya masih terasa lemas."
"Ya sudah kalo begitu abang perbanyak istirahat saja, nanti saya akan meresepkan obat dan juga vitamin buat abang, agar abang tidak merasa lemas lagi, dan luka abang juga segera mengering."
Pada saat Andin sibuk menuliskan resep buat Yogi, tak sengaja Andin melihat tatapan sinis suster Vio menatap dirinya.
"Suster Vio, apa ada yang ingin suster Vio sampaikan ke saya? sepertinya sejak tadi suster Vio terus menatap saya dengan wajah yang tak bisa di artikan."
"Ti-tidak ada dok, saya hanya merasa sedikit lemas dan kelelahan" sangkal Viona.
"Ya sudah suster Vio boleh beristirahat saja sekarang, bang Yogi biar nanti saya dan suster Erika yang akan merawatnya, saya takut terjadi apa apa dengan suster Vio karna tadi suster Vio sudah mendonorkan banyak darah buat bang Yogi." ucap Andin lembut sambil menatap ke arah wajah Viona yang nampak sedikit pucat.
"Terimakasih dokter, saya tidak apa apa, biar saya tetap di sini saja dan menjaga danton Yogi."
"Ya sudah kalo itu mau suster Vio saya tidak bisa melarang, tapi ingat sebaiknya juga suster Vio juga banyak beristirahat, dan kalo ada apa apa segera hubungi saya."
__ADS_1
"Baik dokter terimakasih." ucap suster Viona.
Andin dan suster Erika berniat kembali ke mes mereka masing masing, Andin menghampiri Ayyub dan Ray.
"Sayang, aku kembali ke mes ya, aku mau lihat keadaan Stella, tadi sebelum aku ke sini dia masih tertidur."
Ayyub menganggukkan kepalanya.
"Iya sayang hati hati nya, kalo kamu butuh sesuatu kamu bisa langsung hubungi aku."
"Bang Yogi, Andin pamit kembali ke mes ya."
Yogi yang masih nampak bingung hanya menganggukkan kepalanya.
Yogi yang tak mendapat jawaban akan pertanyaannya tadi mengapa andin bisa berada di hadapan nya, melirik ke arah Ray dan juga Ayyub.
Ray yang seolah mengerti akan maksud dari tatapan Yogi mulai bersuara.
"Gi pasti kamu masih kebingungan kenapa Andin berada di sini?"
Yogi hanya menganggukkan kepala dan menunggu kelanjutan ucapan Ray.
"Andin berada di sini karna mendapatkan tugas dari rumah sakit untu menjadi tim medis sukarelawan bersama tim medis lainnya."
Ayyub yang merasa Yogi butuh istirahat memilih untuk keluar dari ruangan perawatan Yogi.
"Gi sebaiknya kamu banyak istirahat saja dulu, saya dan Ray akan kembali ke pos dan mengecek keadaan anggota yang lain, kalo ada apa apa atau kamu butuh sesuatu kamu boleh bilang sama aku atau sama si Ray."
"iya bang, terimakasih ya bang, maaf sudah merepotkan abang." ucap Yogi sambil menatap ke arah Ayyub dan seolah memberi isyarat kepada Ayyub agar sebaiknya Viona juga keluar dari ruang rawat Yogi.
Ayyub yang seolah mengerti akan isyarat yang diberikan Yogi langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya Gi sama sama."
sebelum Ayyub benar benar beranjak keluar dari ruang rawat Yogi Ayyub berpamitan kepada suster Viona.
"suster Vio saya kembali ke pos dulu, sebentar akan ada anggota saya yang akan menggantikan suster Vio di sini untuk menjaga Yogi. seperti yang di katakan kekasih saya tadi, sebaiknya suster Vio juga banyak beristirahat."
Suster Vio yang mendengar perkataan Ayyub seolah tidak suka, iya merasa seakan akan Ayyub mengusirnya keluar dari ruangan tersebut, dan iya hanya menganggukkan kepala dan melebarkan senyumnya.
"Iya Danpos, terimakasih atas perhatiannya."
__ADS_1
Ayyub dan Ray keluar dari ruang rawat Yogi, tersisa suster Vio dan Yogi dalam ruangan tersebut.
"Ini kesempatan buat saya untuk mendekati danton Yogi." ucap batin Viona sambil menatap lelaki tampan di hadapannya yang berbaring di tempat tidur pasien.