
"Ini kesempatan buat saya untuk mendekati danton Yogi." ucap batin Viona sambil menatap lelaki tampan di hadapannya yang berbaring di tempat tidur pasien.
Yogi yang risih melihat suster Viona yang terus menatap dirinya berniat menyuruh Viona buat beristirahat, agar perempuan yang berada di hadapan nya tersebut segera keluar dari ruang perawatan.
"Suster Vio sebaiknya suster Vio kembali saja ke mes buat beristirahat, nanti akan ada perwakilan anggota yang akan menjaga saya di sini."
Viona yang masih enggan untuk pergi dari ruangan tersebut memegangi tangan Yogi.
"Danton Yogi sebaiknya danton Yogi saja yang beristirahat dan saya akan menjaga danton Yogi di sini."
Yogi yang tak suka di sentuh oleh seorang wanita langsung menarik pergelangan tangannya dari genggaman suster Viona.
"Maaf suster kalo suster Viona masih mau di sini silahkan tapi saya ingin beristirahat sust." ucap Yogi lalu memunggungi suster Vio.
********
Di mes khusus para dokter, Andin baru saja selesai membersihkan tubuh nya.
" Seger banget akhirnya bisa mandi juga setelah penuh banyak drama hari ini, baru juga sehari di sini sudah di sambut dengan drama menegangkan."
Andin duduk di hadapan meja rias yang sederhana, iya mulai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer dan sedikit memoles wajah nya dengan makeup tipis. setelah sekian banyak ritual sehabis mandi yang di lakukan oleh Andin iya segera memakai baju santai dengan atasan kaos polos berwarna biru mudah dan bawahan jeans pendek.
Stella yang sudah dari tadi terjaga menatap ke arah Andin.
"Andin."
panggil stella sambil duduk di salah satu sisi tempat tidur.
"Eh Stell kamu sudah bangun?"
"Hmmm" jawab Stella singkat.
"Gimana Stell, apa badan kamu sudah enakan?"
"Iya Ndin, aku sudah baik baik saja kok, Oh iya Ndin gi mana keadaan bang Yogi? tanya Stella yang langsung mengingat Yogi.
"Bang Yogi sudah sadar Stell, keadaannya juga sudah mulai membaik, tadi aku sudah memeriksa keadaanya."
Stella beranjak dari duduknya dan hendak berjalan ke arah pintu mes.
"Kamu mau ke mana Stell?" ucap Andin seraya mendekat ke arah Stella.
"Aku ingin ke ruangan bang Yogi Ndin, aku ingin melihatnya langsung."
"Stell sebaiknya kamu bersihin badan kamu dulu lalu aku akan siapin kamu makanan, setelah kamu makan aku akan menemanimu ke ruang rawat bang Yogi."
Stella mengikuti apa yang di katakan oleh Andin, Stella berlalu mengambil kimono mandi nya dan berlalu masuk ke kamar mandi.
kurang lebih dua puluh menit Stella membersihkan dirinya iya keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang sangat fresh, Stella mengambil baju kaos santai berwarna merah muda dan juga celana traning berwarna senada yang tampak sangat kontras dengan warna kulit Stella yang putih.
Stella yang tak melihat sosok Andin berada di dalam kamar berusaha mencari sosok Andin, tapi Andin tetap tak terlihat.
"Kemana si Andin ya?" ucap batin Stella.
Stella berjalan menghampiri salah satu kursi dan ada meja kecil di hadapannya yang berisi makanan, Stella mulai memakan makanan yang berada di atas meja sampai habis tak tersisa dan meminum air putih sampai nampak tersisa stengah gelas saja.
Andin yang baru saja selesai telponan dengan Ayyub kembali masuk ke dalam kamar dan melihat Stella telah menghabiskan makan yang telah iya siapkan tadi buat Stella.
"Stell udah makannya?" tanya Andin sambil berjalan menghampiri Stella.
__ADS_1
"Iya Ndin, aku sudah selesai, ayo kita ke ruang rawat bang Yogi Ndin" ajak Stella sambil menarik pergelangan tangan Andin.
"Stell pelan pelan dong, nggak usah pakai acara narik narik segala kali, emang kamu segitu kangennya ya sama bang Yogi, sampai sampai aku di tarik tarik kaya kebo aja." protes Andin.
"Iya maaf maaf ndin, aku hanya tidak sabar ingin melihat keadaan bang Yogi, kan kamu tau sendiri Ndin, aku dan bang Yogi ada hubungan saudara, nanti kalo mama nya bang Yogi tau, Yogi celaka terus aku juga ada di sini tapi tak memperdulikan keadaan bang Yogi bisa bisa mama nya bang Yogi marah sama aku Ndin."
Andin yang mendengar perkataan Stella hanya menganggukkan kepala sambil terus mengikuti langkah kaki sahabatnya.
****
Sedangkan di pos terlihat Ayyub sedang mengambil apel dan mengumpulkan parah rekan prajuritnya. Iya memberi arahan agar para anggotanya yang berada di pos tersebut tetap berhati hati dan selalu siap siaga.
"Karna kejadian yang telah di alami oleh Letda Yogi, saya harap kalian semua mulai memperkuat pengawasan serta memperketat lagi titik tempat pergerakan musuh, kita harus tetap waspada jangan sampai ada yang lengah dan kejadian yang sama terulang kembali, jelas kalian semua?" ucap Ayyub dengan tegas memberi arahan.
"Siap jelas danpos" jawab para prajurit serentak.
"Baik kalian bisa kembali ketempat masing masing" seru Ayyub membubarkan barisan.
Ayyub yang melihat Ray,Fahmi, dan Semi hendak mendekati ke tiga junior nya tersebut untuk membicarakan tindakan apa yang akan mereka berikan kepada pelaku yang menembak Yogi. Belum sempat Ayyub sampai ke tempat ke tiga junior nya berada, iya merasakan getaran dari dalam saku celananya.
Dert dert dert ...
"Iya halo sayang" seru Ayyub sambil mengangkat telfon dari Andin.
"Sayang kamu di mana? aku dan Stella akan ke ruangan bang Yogi" ucap Andin.
"Aku baru saja selesai apel malam sayang, ya sudah sayang kamu keruangan Yogi deluan ya, nanti aku nyusul, soalnya masih ada yang ingin aku bicarakan dengan Ray,Semi dan Fahmi."
"Terus kalo kalian semua sekarang berada di pos, lantas siapa yang menjaga bang Yogi?"
"Tadi aku meninggalkan Yogi bersama dengan suster Vio, entah sekarang suster Vio masih berada di sana atau sudah kembali ke mes buat beristirahat aku juga nggak tau sayang, tapi sekarang aku akan menyuruh salah satu anggota prajurit untuk menemani Yogi di sana.
Panggilan telfon terputus.
"Ray" panggil Ayyub sambil terus berjalan mendekat ke arah ke tiga juniornya.
"Iya bang ada apa?" Ray berbalik ke sumber suara yang memanggil nya tak lupa dengan Fahmi dan juga Semi berbalik ke arah yang sama.
"Kalian bertiga apa sudah membereskan bedeba yang telah menembak Yogi? tanya Ayyub sambil menatap tajam ke arah ke tiga juniornya tersebut.
"Ijin siap sudah bang, kami sudah memasukannya kedalam sel tahanan, kami menunggu perintah selanjutnya dari abang." ucap Fahmi menjawab pertanyaan Ayyub."
"Sebaiknya kita serahkan saja bedeba itu ke yang lebih berwenang, kita serahkan ke Dansatgas, sebaiknya besok pagi Kamu dan Semi serta beberapa prajurit yang lain akan membawa bedaba itu ke pos Dansatgas." ucap Ayyub memberi perintah kepada Fahmi dan Semi.
"Ijin siap bang laksanakan."
Ke empat perwira muda tersebut nampak serius berbicara, Ayyub yang melihat prada Purnomo yang berjalan di hadapannya memanggil pria berkulit sawo matang tersebut.
"Purnomo" panggil Ayyub dengan suara Khasnya sebagai seorang komandan.
Purnomo yang mendengar panggilan Ayyub menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di hadapan Ayyub.
"Ijin siap Danpos perintah."
"Purnomo sebaiknya sekarang kamu ke ruangan letda Yogi dan menemaninya di sana" ucap Ayyub memberi perintah purnomo agat menemani Yogi di ruang perawatan.
"Ijin siap di laksanakan Danpos." purnomo berlalu meninggalkan ke empat atasannya dan berjalan menuju pustu.
*****
__ADS_1
Di ruang perawatan Yogi masih tertidur pulas, sedangkan suster Viona duduk sambil menundukkan kepalanya di sisi tempat tidur pasien dan terus menggenggam tangan Yogi.
Purnomo yang baru saja tiba di depan ruang perawatan Yogi melihat Yogi dan Viona sedang tertidur akhirnya Purnomo berjalan sangat pelan dan mulai memasuki ruangan tersebut agar tidak membangunkan ke dua orang yang berada di hadapannya dan mengambil salah satu kursi yang berada di sudut ruangan lalu mendudukinya sambil memainkan ponsel miliknya.
kurang lebih sepuluh menit purnomo tiba di ruangan perawatan Yogi, Andin dan juga Stella muncul di ambang pintu perawatan yang sengaja tidak di tutup oleh Purnomo.
Stella berdiri mematung di ambang pintu, ada sesak yang iya rasakan di sudut dadanya yang melihat Yogi dan Viona tertidur dengan posisi saling menggenggam, bukan saling menggenggam lebih tepatnya Viona yang menggenggam tangan Yogi.
Andin yang sadar melihat Stella menghentikan langkahnya menepuk punggung sahabatnya tersebut.
"Ada apa Stell?"
"Ng-ngg-nggak ada apa apa Ndin, sebaiknya kita keluar saja kelihatannya bang Yogi lagi istirahat."
"Loh kok keluar Stell, kita saja belum masuk melihat keadaan bang Yogi, kenapa kita harus keluar?"
"Apa kamu nggak lihat Ndin, bang Yogi lagi istirahat sama pacarnya?" spontan kata kata pacar keluar dari mulut Stella.
Andin yang mulai mengerti maksud dari sahabatnya tersebut tetap masuk ke ruangan Yogi dan menarik tangan Stella.
"Nggak apa apa Stell kita masuk saja biar nanti kit akan membangunkan bang Yogi, karna sekarang sudah waktunya bang Yogi minum obat."
Purnomo yang melihat Andin dan Stella datang dengan sigap berdiri dan menghampiri ke dua dokter cantik itu.
"Selamat malam dokter" sapa Purnomo pada Andin dan juga Stella dengan suara yang sangat pelan purnomo takut nanti mendengar suara berisik Yogi akan terbangun.
"Iya selamat malam pak tentara." ucap Andi sambil melebarkan senyumnya, berbeda dengan Stella yang memasang muka datar sambil menahan rasa sesak yang ada di dalam dadanya.
"Maaf dokter Danton Yogi lagi beristirahat, apa perlu saya membangunkannya?"
"Tidak perlu pak, biar nanti saya yang akan membangunkan bang Yogi." ucap Andi yang sudah berdiri tepat di samping ranjang pasien.
"Suster Viona" panggil Andin berusaha membangunkan suster Vio terlebih dahulu.
Viona yang sudah terjaga dari tadi sebelum Andi dan Stella datang sengaja berpura pura tidur agar iya terus bisa menggenggam tangan Yogi.
"Suster Vio" panggil Andin sekali lagi dengan nada yang sedikit di tekan.
Viona bangun dengan suara yang di buat khas orang bangun tidur.
"I-iya dok."
"Kenapa suster Vio masih di sini? bukannya tadi saya sudah menyuruh suster Vio buat beristirahat?"
"Ah itu maaf kan saya dok, saya tidak tega meninggalkan danton Yogi sendiri." ucap Viona sambil menatap ke arah Andin dan juga Stella tanpa berniat melepaskan genggaman tangannya dari tangan Yogi.
Yogi terbangun dari tidurnya saat mendengar ada ribut ribut di sekitarnya. Yogi membuka matanya dan melihat ke arah suster Vio yang terus menggenggam tangannya.
Viona yang melihat tatapan dingin dari Yogi segera melepas genggaman tangan Yogi.
"Maafkan saya danton Yogi, tadi danton Yogi yang mengigau dan memegang tangan saya terlebih dahulu." dusta Viona karna takut Yogi akan ilfil dengannya.
"Oh kalo begitu maaf kan atas tindakan saya yang sudah memegang tangan kamu."
Viona hanya tersenyum penuh kemenangan karna bisa membuat Yogi merasa bersalah.
"Bang Yogi, apa bang Yogi sudah meminum obat yang tadi saya berikan?" tanya Andin.
Yogi yang baru sepenuhnya sadar baru menyadari keberadaan dua wanita cantik di sampingnya.
__ADS_1
Yogi berbalik ke arah Andin dan juga Stella. Yogi yang melihat Stella berdiri di seblah Andin di buat sangat terkejut, melihat sosok wanita yang berstatus istrinya berada tepat di hadapannya.