
Yogi telah sadar dari koma nya, hanya nama Stella yang pertama keluar dari mulut Yogi. Ayyub dan Ray saling menatap satu sama lain saat mendengar Yogi memanggil manggil nama Stella.
"Yogi" panggil Ayub sambil memegang bahu yogi.
"Gi, apa lo denger gue gi?" Ray pun ikut bersuara melihat Yogi sama sekali belum memberikan respon atas panggilan ke 2 rekan nya itu.
Yogi melirik ke arah Ray dan juga Ayyub yang berada di sebelah tempat tidur pasien. Dengan wajah yang masih bingung Yogi berusaha mengeluarkan suaranya yang masih agak serak.
"Gue di mana sekarang?" tanya yogi yang masih terus mengamati atap dan dinding ruangan yang berwarna putih.
"Gi lo tenang dulu ya, nggak usah banyak tanya dulu, sekarang lo dengerin gue, lo sekarang ada di pustu, lo baru saja sadar dari oprasi yang sudah lo laluin." ucap Ray sambil berusaha menjelaskan kepada Yogi.
"Ah, maksud lo Ray, gue nggak ngerti, setau gue terakhir gue kan lagi masuk ke tengah hutan buat patroli, terus sekarang kok gue bisa di pustu?" tanya Yogi yang belum sepenuh nya sadar akan kejadian yang menimpah nya tempo hari.
"Gi kamu habis di oprasi, kamu inget nggak terakhir kamu di hutan ada kontak senjata sama KKB KKB yang mencuri senjata milik Ruli?" tanya Ayyub berusaha membantu Yogi mengingat kejadian yang telah Yogi alami di hutan.
Yogi berusaha mengingat kejadian terakhir yang iya alami di hutan, iya mengingat Akbar melaporkan bahwa senjata milik Ruli telah di curi, Yogi juga mengingat kontak senjata antara pasukan nya dan juga KKB KKB yang menjadi biang onar yang telah mencuri senjata Ruli, dan Yogi ingat di mana iya terkena tembakan pada saat itu.
"I-iya bang aku ingat kejadian itu" ucap Yogi sambil menatap ke arah Ayyub.
"Ya allah Gi untung lo masih bisa selamat bray, coba nggak gue pasti orang paling pertama yang bakalan sakit hati bray kehilangan tentara ganteng kayak lo." ucap Ray sedikit bercanda dengan memasang muka sedih nya.
"Ih Najis banget gue dengerin omongan lo tukimin, lo kira gue laki laki apaan yang lo gombalin kata kata sedih kayak gitu." ucap yogi sambil menatap tajam ke arah sahabatnya itu.
"Sudah sudah kalian ini bawaannya berantem mulu kalo ketemu, kamu juga Ray, Yogi baru sadar malah kamu ajakin bercanda, nah kamu juga Gi baru juga sadar sudah termakan pancingan candaan ni manusia satu" tunjuk Ayyub pada wajah Ray.
__ADS_1
"Habis gi mana bang, tu si tukimin kata katanya ngeselin" Ucap Yogi sambil menatap ke arah Ray.
"Halah Gi gue kan cuman bercanda bray, oh iya Gi, gue boleh nanya sesuatu sama lo?"
" Lo mau nanya apaan?" tanya Yogi ke pada Ray.
"Gi tadi waktu lo baru sadar gue denger lo ngucapin manggil nama Stella, emang lo mimpi apa Gi, sampai sampai lo manggil manggil nama Stella?" tanya Ray pada Yogi.
"Ah masa sih gue manggil nama Stella? lo salah denger kali Ray." sangkal Yogi yang tak mau ketahuan kalo iya tadi memang memanggil nama Stella, karena melihat sosok Stella di dalam masa koma nya.
"Nggak Gi, si Ray bener tadi aku juga denger kamu sebutin nama Stella." ucap Ayyub menimpali.
belum sempat Yogi menjawab pertanyaan Ray dan Ayyub tiba tiba terdengar bunyi pintu ruang rawat Yogi terbuka. sosok wanita yang tinggi dan cantik berjalan anggun menuju ke arah di mana tempat tidur pasien.
"Danton Yogi sudah sadar?" tanya wanita itu dengan muka khawatir nya.
"i-iya suster viona saya sudah sadar"
"syukurlah danton Yogi sudah sadar, saya tadi sudah sangat takut kalo misalnya operasinya gagal dan danton Yogi sudah tak bisa bangun lagi, soalnya tadi para dokter baru itu mengoperasi danton secara darurat dan dengan alat seadanya, dan untung juga golongan darah danton Yogi dan golongan darah saya sama danton, makanya saya mendonorkan darah saya buat danton." ucap suster viona panjang lebar di hadapan Yogi suster viona berharap Yogi akan respek dan berterimakasih kepada dirinya karna telah mendonorkan darahnya buat Yogi.
Ayyub dan Ray mengerutkan kening mereka mendengar ucapan suster viona. Ayyub yang sebenarnya sudah dari dulu memperhatikan gerak gerik suster vioan seakan menyimpan perasaan pada Yogi. dan Ayyub yakin di balik semua perkataan suster viona, pasti suster cantik itu menginginkan Yogi berterimakasih atas dirinya yang telah menyumbangkan darah nya buat Yogi.
Tapi memang dasar Yogi orang yang paling cuek dan dingin akan kehadiran seorang wanita hanya mengucapkan kata terimakasih saja ke pada suster vioan.
"Maaf suster viona saya sudah menyusahkan anda, dan saya berterimakasih atas kebaikan hati suster yang telah mendonorkan darah suster buat saya, sekali lagi saya berterimakasih kepada suster viona." ucap yogi sembari melemparkan senyum manis dari bibir nya.
__ADS_1
Viona langsung bergerak ke samping Ray yang berada tepat di sebelah Yogi. dengan wajah yang di buat sedikit manja viona berusaha mendekat ke arah Yogi
"Permisi danton Ray apa bisa danton Ray mundur sedikit ke belakang biar saya mengecek ke adaan danton Yogi." ucap viona sambil menatap ke arah Ray.
Ray akhirnya menyingkir dari tempatnya semula dan berpindah ke samping Ayyub. Ray nampak nya tak suka dengan sikap viona yang berusaha merebut perhatian dari Yogi sahabatnya karna Ray tau bagai mana tabiat seorang viona yang notaben nya sering bergonta ganti dan berpacaran dengan anggota TNI. tapi Ray juga tak bisa berbuat apa apa karna iya tau tanpa viona entah bagai mana keadaan Yogi sekarang, bisa jadi yogi sudah tak berada di dunia ini lagi.
Viona memeriksa organ organ vital pada Yogi, mulai dari detak jantung, nadi dan juga tekanan darah Yogi.
"Bagai mana suster viona dengan keadaan Yogi?" tanya Ayyub.
"Detak jantung nya bagus, denyut nadi nya juga bagus, tensi nya pun juga normal Danpos, kita sisah menunggu danton Yogi pulih seperti sediakala." ucap Viona.
Ayyub menganggukkan kepala tanda mengerti.
******************
Sementara di Mes khusus dokter terlihat Andin masih terjaga menunggui Stella yang masih tertidur akibat pengaruh obat yang di berikan oleh Andin, sesekali Andin terlihat memeriksa keadaan Stella dan sesekali iya memainkan ponselnya.
Tetapi baru saja Andin berniat buat beristirahat tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok Tok Tok.
"Permisi dokter Andin" terdengar suara perempuan di sela sela ketukan pintu.
Andin berdiri lalu berjalan membuka pintu mess yang ada di hadapannya, Andin melihat suster Erika yang berdiri di hadapannya dengan nafas yang tersengal sengal, Andin mengerutkan ke dua alis nya.
__ADS_1
"Ada apa suster Erika?"
"Ma-maaf dokter Andin, saya mengganggu waktu istirahat dokter, saya cuman mau menyampaikan dokter, kalo pasien yang tadi Dokter Stella dan Dokter Andin oprasi sudah siuman dok."