My Kinyis-kinyis Wife

My Kinyis-kinyis Wife
12. Meminta Jatah


__ADS_3

Kania terbangun dari tidurnya dan saat dirinya terbangun, ia menyadari jika ia sudah berada di atas ranjang dengan selimut dan juga bantal yang lengkap.


Mengapa aku bisa tidur disini? apa semalam aku di pindahkan oleh Genderuwo, ahhh tidak!


Saat Kania melihat sekelilingnya, ia melihat Kevin yang tengah tidur di atas sofa hanya dengan menggunakan bantal di kepalanya.


Kania mendekat ke arah Kevin yang masih tertidur pulas, memperhatikannya dari kaki sampai ujung kepalanya.


"Apa Om Kevin ya, yang sudah memindahkanku tapi mana mungkin Om Kevin sebaik itu padaku dia kan gedek sekali denganku. Tapi bisa saja Om pura-pura gedek itu untuk menutupi rasa sukanya kepadaku, oohh sweet jadi kaya drakor yang sering aku tonton itu" gumamnya sambil terus menatap wajah Kevin yang terlihat tenang dan tampan.


"Apa yang kamu lakukan haa!" ucap Kevin yang terbangun dan melihat wajah Kania yang tersenyum ke arahnya.


"Melihat perpaduan wajah Om yang keriput dan tampan" katanya yang masih tersenyum menatap Kevin.


"Apa kamu bilang, wajah ku keriput?" Kania mengangguk mengiyakan.


"Hei wajahku ini masih kencang-kenca__"


Shutt... Kania menempelkan jari telunjuknya ke mulut Kevin menandakan agar Kevin berhenti berbicara, "Om, biarpun wajah Om ada kerutannya, Om tetap terlihat tampan kok, malahan Om terlihat lebih Hot." ucapnya yang membuat Kevin terdiam seperti terhipnotis oleh perkataan Kania.


Kevin tersadar dari lamunannya dan beranjak pergi menuju kamar mandi.


"Makasih Om" teriak Kania pada Kevin yang


telah beranjak pergi dari sofa.


Kevin berbalik ke arah Kania, "Untuk apa?" tanya Kevin yang pura-pura tidak mengerti apapun.


Kania mendekati Kevin, "Halah Om pura-pura tidak mengerti jujur saja Om, jika Om itu sebenarnya perhatian kan padaku" ucapnya sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya seperti boneka mampang ke arah Kevin.


"Apa maksudmu, aku benar-benar tidak mengerti." katanya yang berpura-pura bodoh tidak paham maksud Kania.


"Jadi benar Om tidak mengerti maksudku, lalu siapa yang memindahkanku ke ranjang dan Om di sofa jika itu bukan Om yang melakukannya?" ucapnya yang bertanya pada Kevin, ia terus berpikir siapa yang sudah memindahkannya.


Kevin menggerakkan kedua pundaknya pertanda dirinya juga tidak mengerti jawaban dari pertanyaan Kania, badan Kania terasa merinding setelah melihat jawaban dari Kevin.

__ADS_1


"Jadi benar di kamar ini terdapat Genderuwo, ihhh menyeramkan sekali" gumam Kania yang memegang kulitnya yang terasa merinding.


Kevin yang melihat Kania seperti bingung dan juga ketakutan tersenyum bahagia karena bisa mengerjai gadis yang selalu membuatnya kesal.


Ya, sebenarnya tadi malam saat Kevin terbangun tengah malam karena merasa haus, ia melihat Kania tengah tertidur dengan posisi yang kurang nyaman, Kania selalu bergerak kesana kemari melihat itu Kevin jadi merasa kasihan dan memindahkannya di ranjangnya sedangkan Kevin berganti tidur di sofa.


***


Kania bersiap-siap memakai seragam sekolahnya untuk berangkat sekolah karena kemarin ia tidak berangkat karena acara pernikahannya, Kania memakai bedak tipis-tipis di wajahnya dan juga pelembab di bibirnya yang berwarna merah pink dan juga mungil.


"Cantik juga ya aku, sudah cantik, baik, imut, tidak sombong, pintar, sholehah, sopan___" katanya yang memuji dirinya sendiri sambil bergaya-gaya di depan cermin.


"Hentikan ocehanmu yang memuji dirimu sendiri, karena semua pujian yang terucap dari bibirmu itu sama sekali tidak ada yang cocok bersanding denganmu!" sela Kevin pada pembicaraan Kania.


"Karena yang paling cocok bersanding denganku hanyalah Om seorang, baik itu hanya sebuah kata atau seorang pria semuanya tidak ada yang cocok." Kevin kembali terhanyut oleh perkataan Kania namun ia segera menyadarkan dirinya.


"'Saya tidak mau bersanding denganmu!" jawabnya acuh.


"Iiihh Om baperan, orang aku mengatakannya cuma hanya mempraktekan dialog drakor yang sering aku tonton.


"Tidak sudi!" balasnya dengan dinginnya.


"Kania sayang yuhuu, ayo turun mama sudah menyiapkan sarapan untuk kamu." teriak Lina yang berada di meja makan.


"Iya ma, Kania akan turun" balas Kania yang juga berteriak dengan suara kencangnya.


Kania turun terlebih dulu meninggalkan Kevin sendirian di kamar, Kania berlari menuju meja makan dan langsung duduk bersama papa dan mama mertuanya di meja makan.


"Sayang pelan-pelan, nanti kamu bisa merasa kesakitan.


Mengapa kamu sendirian datang kemari, Kevin dimana?" tanya Lina yang melihat Kania turun sendirian tanpa Kevin di sampingnya.


"Mas Kevin masih bersiap mah." balas Kania sambil memakan sarapannya.


"Kamu sudah minta jatah sama Kevin?" tanya Lina pada Kania sebab melihat Kania seperti tidak ada yang terjadi padanya.

__ADS_1


"Belum ma" balasnya dengan singkat dan melanjutkan sarapannya.


"Pantas saja kamu masih bisa berlari dengan sangat lincah seperti tadi." ucap Lina tanpa ada semangat dalam nada bicaranya.


Kania sempat berpikir apa hubungannya jatah dengan berlari? namun Kania menepis pikirannya itu dan memilih tidak peduli dan melanjutkan sarapannya.


Kevin datang menemui seluruh keluarganya yang ada di meja makan semua, "Pagi ma, pa." sapa Kevin saat sampai di meja makan pada orang tuanya.


"Aku kok gak di sapa sih." protes Kania pada Kevin.


"Tidak penting." jawabnya cuek dan langsung duduk untuk memakan sarapannya.


Kania hanya mengrucutkan bibirnya mendengar jawaban Kevin yang cuek.


Kania telah menyelesaikan sarapannya dan ia bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, ia mengambil dan memakai tas sekolahnya lalu ia berjalan ke arah Lina dan Anggara untuk pamit dan mencium punggung tangan keduanya.


"Pa, ma Kania berangkat ke sekolah ya" katanya sambil mencium punggung tangan keduanya.


"Iya, sekolah yang benar jangan kebanyakan main." kata Anggara yang memberi nasehat pada putrinya.


"Siap papaku yang tampan" ucapnya yang membuat Anggara bergaya sok cool dengan tidak berusaha membalas pujian Kania.


Setelah menyalami kedua orang tuanya, Kania menuju ke arah Kevin dan langsung menarik tangan Kevin dengan paksa yang sedang sarapan lalu mencium punggung tangannya sama seperti tadi saat Kania melakukannya pada Lina dan Anggara.


Kevin terkejut melihat sikap yang dilakukannya kepadanya, "Apa yang kau lakukan?"


"Tentu saja mencium tangan suamiku bukankah itu kewajiban seorang istri kepada suaminya, benarkan ma?" ucap Kania yang bertanya tentang pernyataanya yang benar atau tidak pada Lina.


"Tentu saja tindakanmu itu benar, mama juga melakukannya pada papamu" jawabnya yang membenarkan pernyataan Kania.


Kevin hanya mendengus kesal mendengar semua perkataan ibu dan istrinya.


"Sekarang berikan aku jatah" ucapnya sambil menodongkan tangannya ke arah Kevin.


Bagaimana bisa Kania bisa meminta jatah secara terang-terangan seperti ini. batin Lina dengan mata mendelik menatap Kania.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2