
Kirana pulang terlebih dahulu meninggalkan kedua sahabatnya di depan gerbang sekolah. Kania sebenarnya malas berduaan dengan Kinanhti, pasti nanti akan berujung sebuah kejadian memalukan. Yang anehnya, Kinanhti yang melakukan tapi Kania yang menanggung semua ***********. Mau pulang dulu, tidak ada angkutan yang bisa Kania tumpangi jadi terpaksa menunggu abang angkot datang, daripada kaki pegel buat jalan.
"Buset, pak kalo berhenti kira-kira ngapa?! Gak lihat ada cewe cantik yang cantiknya paripurna sejagat raya Indonesia, apa?!" Kania memarahi pria yang mengenakan motor ninja dengan wajah yang menutupi wajahnya.
"Bang, culik adek dong" beda dari Kania yang marah, Kinanthi malah terpesona dengan pria yang baru datang tadi bahkan sampai sukarela di culik oleh pria asing yang tak di kenalnya.
Kania bergidik ngeri melihat sahabatnya yang langsung berubah menjadi siluman cacing kepanasan setelah melihat pria keren. Untung Kirana sudah pulang duluan, kalo belum, habis Kinanthi dimarahi.
"Di culik beneran baru nyahok kamu! Kita sebagai seorang cewe itu harus jual mahal bukannya mengobral!"
"Ihh apaan sih, orang aku aja rela kok di culik abangnya. Kok kamu yang sewot, jangan bilang kamu juga suka sama abang keren ini. Makanya kamu gituin aku biar aku mundur dan sainganmu berkurang, iya kan? Ngaku kamu"
Kania mengelus dada melihat tingkah sahabatnya, bagaimana mungkin Kania suka dengan pria lain kalau yang di rumah aja sudah paket komplit tiada tanding. "Dih gak sudi aku sama yang udah tua gitu, ambil aja kalo mau" balas Kania cuek.
Tanpa sadar pria yang sedari tadi berada di motor ninja terus memandangi Kania dari dalam helm tertutupnya, melihat mimik Kania yang terus mengoceh tanpa henti.
Di saat Kania masih terus memarahi Kinanthi, menyadarkan Kinanthi dari khayalan serta angan-angannya menikah dengan pria di hadapannya.
"Kan, lihat itu..." pinta Kinanthi sambil menunjuk ke arah pria tadi.
Kania akhirnya menengok ke belakang sesuai perintah Kinanhti, terkejut dengan mulut dan mata melotot. Ternyata pria yang Kania tidak minati tadi adalah Kevin, suaminya.
"Ayuk bang anterin neng, Kan kita tukeran supir ya?" Kinanthi sudah melangkah mendekat hendak naik di atas motor, tapi dengan sigap Kania menyingkirkan Kinanhti, mendorongnya hingga jatuh di atas jalan yang terdapat genangan air berwarna coklat.
Kania langsung naik di atas motor. "Ayo Mas, eh maksudnya, pak ayo jalan" Kania menepuk pundak kanan Kevin menyuruhnya menyalakan motor dan menjalankannya. Meninggalkan Kinanthi sendiri yang tengah berdiri dengan pakaian kotor karena terkena genangan air di jalan.
__ADS_1
"Awas ya kamu Kania, beraninya ambil jatahku!" Teriak Kinanthi layaknya orang gila dengan baju kotor air comberan. "Apa lihat-lihat?! Belum pernah lihat cewe cantik dalam keadaan buriq, APA?!" Sinis Kinanthi pada orang yang menatapnya dengan tatapan mencela.
🐥🐥🐥
Angin semilir menerpa rambut Kania membuat wajah Kania tertutup oleh beberapa rambutnya, dari kaca spion Kevin menatap Kania yang tampak lebih menggoda dengan wajah yang semakin siang semakin kinclong. Tak ada pembicaraan di antara keduanya, hanya keheningan dan suara mesin motor yang menyertai.
Kevin tak pandai merayu wanita, tak bisa mengawali pembicaraan biasanya Kania yang pertama membuka topik dari yang tidak penting sampai paling tidak penting. Namun, Kania sekarang hanya diam bak patung tak bernyawa sepertinya Kania sedang marah.
Jeduk...
"Auu... " polisi tidur membuat Kania mengeluarkan suara merdu bak radio rusak. Tubuh Kania condong ke depan, buah dadanya menempel tepat di punggung Kevin. Dahinya yang lebarnya sama dengan GBK menatap helm Kevin, Kania memegang dahinya terasa benjolan yang sakit saat di pegang.
Nyett... empuk dan nikmat, itu yang Kevin rasakan saat buah dada Kania menempel di punggungnya.
"Mas Kevin!" Kania memukul pundak Kevin dan berteriak tepat di telinga Kevin, rasanya seperti son orang kawinan menggema tepat di telinga.
"Mas Kevin bisa bawa motor gak sih?! Makanya kalau gak bisa bawa motor gak usah kebanyakan gaya bawa motor Ninja Warrior segala! Udah tua juga masih banyak gaya!" Sambungnya dengan emosi yang di tumpahkan semua, rasa kesalnya yang tadi terpendam Kania keluarkan.
Kevin menghentikan motornya saat mendengar Kania mengatainya. "Kamu kenapa? Lagi kedatangan tamu bulanan?" Tanyanya karena melihat istri kecilnya marah-marah tak jelas.
"Iya, tamu cicilan utang!" Ketusnya.
Kevin berdecak sebal mendengar jawaban Kania yang selalu marah saat menjawab pertanyaan darinya. Kevin memutar otak, mencari ide yang bisa membuat Kania kembali ke bentuk asalnya. Makanan.
"Makan bakso, yuk" ajak Kevin.
__ADS_1
Wajah marahnya seketika berubah, antara mau menerima tapi malu karena masih ingin marah. "Gak mau, emangnya Kania apaan di sogok pakai bakso" plengosnya.
"Tiga porsi bakso, paket data unlimited sama uang saku naik, deh." Hatinya mulai terombang-ambing, paket kenikmatan lengkap tidak akan datang berulang kali tapi bagaimana dengan marahannya dengan Kevin.
"Ya sudah kalau Kania gak..."
"Kania mau kok Mas" selanya dengan senyum cengengesan.
Kevin melanjutkan perjalanannya yang terhenti karena harus membujuk istri bocilnya, sekarang Kevin mencari tukang dagang bakso. Kevin menaiki motor pelan dengan mata yang terus menatap pinggir jalan, mencari pedagang bakso pinggiran.
"Mas Kevin mau tau tidak, alasan Kania marah sama Mas?"
"Udah gak usah di ceritain, kan udah baikan. Yang lalu biarkan berlalu, jangan di ungkit nanti bikin masalah baru"
"Kania marah sama Mas karena Mas jemput Kania pakai motor Ninja Warrior. Kenapa mesti pakai motor ini coba, kenapa gak motor yang butut aja atau pakai mobil yang biasanya Mas Kevin pakai?" Tuturnya dengan panjang lebar.
Kevin bingung juga heran dengan istri bocilnya, sepertinya tadi Kevin tak meminta Kania menceritakan alasannya. Lantas mengapa Kania menceritakannya? Sekarang tak ada pilihan selain menanggapi perkataan Kania daripada nanti marah lagi.
Entah mengapa hidup Kevin terasa hampa tanpa ocehan Kania, jika nanti Kania marah lagi, Kania akan diam tak bersuara dan itu yang Kevin takuti.
"Memangnya kenapa Kania marah kalau aku jemput Kania pakai motor ini? Bukankah aku terlihat sangat tampan dan keren saat mengenakan motor ini seperti Steven William di sinetron Anak Pinggiran, itu ya?" Dengan kepedean tingkat akut Kevin menyamakan dirinya dengan artis.
"Ya itu masalahnya, Mas Kevin terlihat sangat tampan hingga membuat teman-teman Kania terpesona. Kania gak suka suami Kania dipandang oleh wanita lain, hanya Kania yang boleh lihat Mas Kevin!" Tegasnya. Kevin ingin tertawa dengan perkataan Kania, tapi juga terharu, mendengar ucapan Kania begitu yang posesif juga cemburu, itu menandakan Kania begitu mencintainya, bukan?
Kevin berhenti karena mendapati abang tukang bakso. "Iya Kania sayang, istri bocilnya Kevin, aku gak akan jemput Kania pakai motornya Anak Pinggiran lagi deh." Ucapnya dengan senyum mematikan khas miliknya, lalu mencium kening Kania, cukup lama.
__ADS_1