
Kevin memutar balik mobilnya kembali ke kantornya karena ada urusan yang harus ia selesaikan.
Dalam perjalanan Kania terus mengoceh, bertanya tentang alasan mengapa Kevin memutar balik arah mobilnya dan tidak jadi pulang ke rumah.
Tapi Kevin tidak menanggapi tingkah dan ocehan Kania, menurutnya meladeni wanita seperti Kania itu tidak ada gunanya dan membuang waktu serta tenaganya.
"Wahh besar sekali perusahaan papa"ucap Kania yang turun dari mobil dan memandang takjub bangunan yang menjulang tinggi, berdiri di hadapannya.
Dengan langkah kakinya yang lebar, Kevin langsung berjalan masuk menuju perusahaannya, Kania mengikuti suaminya dengan berlari karena ia sudah tertinggal lumayan jauh.
"Om tunggu!" teriak Kania dengan nafas yang tidak teratur. Kevin berhenti karena Kania memanggilnya dengan keras membuat Karyawan yang bekerja lembur di kantornya memandangi mereka.
"Mengapa kamu berteriak memanggilku Om, kau sudah membuat harga diriku sebagai seorang Bos menurun, di hadapan Karyawanku." bisik Kevin dengan kesal.
"Salah siapa main pergi gitu aja. Kania itu butuh seseorang untuk menuntun Kania menuju jalan yang benar, tapi Om malah ninggalin Kania gitu aja. Kalau Kania tersesat, gimana?" katanya yang mulai mengeluarkan kata puitisnya.
Kevin memilih melanjutkan perjalanannya dan tak menggubris bualan Kania.
"Tumben ya pak Kevin membawa keponakannya ke kantor, malah sore begini lagi. Gak takut di cariin emaknya ya?" bisik karyawan kepada temannya.
"Mungkin aja pak Kevin tadi abis jemput keponakannya pulang sekolah, terus ada rapat dadakan jadi terpaksa deh, pak Kevin bawa sekalian tuh keponakannya." balas karyawan lainnya yang berusaha berprasangka baik pada Bosnya karena ia juga melihat gadis itu masih mengenakan seragam.
"Dimana kliennya?" tanya Kevin pada Boy, "Di dalam." jawabnya.
"Kamu bawa dia ke ruanganku dan temani dia sampai aku selesai rapat dengan klien!" perintah Kevin dan di jawab anggukan sekali oleh Boy.
Kevin masuk ke ruangan meeting sedangkan Boy mendekat ke arah Kania untuk mengajaknya ke ruangan Bosnya.
"Hai" sapa Boy.
"Hai juga," balas Kania ramah sambil memperlihatkan seutas senyuman manisnya.
Enak banget si Kevin, dapet yang bening, masih SMA pula. batin Boy setelah melihat senyuman manis Kania.
"Perkenalkan aku asisten sekaligus sahabat Kevin, namaku Boy. Kamu pasti Kania istrinya Kevin 'kan?" katanya sambil menyodorkan tangan kanannya.
Kania membalas uluran tangan Boy, "Iya Om."
__ADS_1
Apa aku sudah terlihat begitu tua hingga dia memanggilku dengan sebutan Om?
"Ayo kita ke ruangan Kevin, nanti jika Kevin sudah selesai dengan urusannya, pasti Kevin akan menemuimu." ajak Boy.
"Baiklah, ayo" dengan semangat Kania menyetujuinya dan berjalan mendahului Boy.
"Kania" panggil Boy, Kania menoleh dan menjawab, "Iya Om?"
"Memangnya kamu tahu letak ruangan Kevin?" tanya Boy dengan kikuk.
"Ehehe iya, aku baru pertama kali kemari ya. Kalau begitu, silahkan Om" ucap Kania yang mempersilahkan Boy berjalan terlebih dahulu dengan gaya layaknya pengawal kepada Rajanya.
"Kamu sudah kelas berapa?" tanya Boy yang berbasa-basi.
"Kelas 3 Om, bentar lagi lulus" jawabnya yang di balas anggukan oleh Boy, "Oh iya, Om sudah berapa lama bekerja sebagai asistennya Om Kevin?" tanya Kania, seperti berbicara kepada temannya, bukan seperti kepada seorang yang lebih dewasa darinya dengan akrab tanpa rasa sungkan.
"Sejak kami lulus Kuliah dan Om Anggara meminta aku untuk bekerja sebagai asisten pribadinya Kevin." jelas Kevin.
"Dekat juga ya hubungan Om sama mama dan papa."
"Bukan hanya akrab tapi sangat akrab.
"Terus aku panggil apa dong? Kalo Boy saja tidak sopan karena usia Om sama seperti Om Kevin."
"Kamu salah, aku dan Kevin itu lebih tua an Kevin. Jadi jangan panggil aku Om, oke." pinta Boy pada Kania.
"Memangnya kalian beda berapa tahun?"
"Sebulan hehe" jawabnya dengan cengengesan.
"Itu sih sama aja. Bagimana kalau aku panggil Om Boy dengan sebutan Uncle Boy. Terdengar lebih keren bukan?" godanya sambil menggerak-gerakan kedua alisnya.
"Itu lebih buruk Kan. Kalo dalam artian bahasa indonesianya, masa aku di panggil paman," balasnya dengan malas, "Bagimana kalo Kak Boy." saran Boy.
"Memangnya aku adik Om! Gak mau ahh." tolak Kania, yang pura-pura menolak dengan tegas saran Boy.
Boy akhirnya pasrah Kania akan memanggilnya dengan sebutan apa, "Terserah kamu sajalah, kalau begitu."
__ADS_1
Kevin sudah selesai rapat dengan kliennya, ia berjalan menuju ruangannya untuk menemui Kania dan mengajaknya pulang bersama. Saat Kevin membuka pintu ruangannya, ia melihat Kania dan Boy yang sedang mengobrol dengan tawa keduanya yang mengisi ruangannya.
Ehem.... Kevin berdehem dan menghentikan tawa keduanya, "Ayo pulang" ajak Kevin dengan ekspresi dinginnya.
"Ayo Om" Kania mendekat ke arah Kevin dan menggandeng lengannya.
Boy tersenyum melihat kepergian Kania dengan sahabatnya, "Kania Kania" gumamnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Om kapan-kapan ajak Kania ke kantor papa lagi ya" pinta Kania pada Kevin yang dari tadi hanya diam.
"Mengapa kamu ingin pergi ke kantor lagi?" tanya Kevin.
"Kania ingin berbicara lebih banyak lagi dengan Kak Boy" jawabnya, Kevin yang mendengar jawaban Kania langsung menolaknya.
"Tidak!" jawabnya, "Apa maksudnya Om tidak akan mengajakku ke kantor lagi?" tanya Kania.
"Iya!"
"Om cemburu ya, kalo Kania dekat dengan Kak Boy" goda Kania, Kevin salah tingkah di buatnya. Namun, Kevin berusaha menyembunyikannya.
"Jangan terlalu pede dan jangan terlalu tinggi bermimpi. Agar jika terjatuh kau tidak terlalu sakit." balas Kevin yang masih dengan ekspresi dinginnya.
"Gak papa kok Om Kania jatuh. Asalkan jatuhnya bareng Om, mau jatuh dari gedung tinggi pun kalo jatuhnya sama Om sambil mandang perpaduan wajah tampan dan keriput Om mah gak kerasa sakit.
Btw Om perhatian banget sama Kania, padahal cuman dalam mimpi. Gimana kalo dalam dunia nyata, duhh jadi makin tampan." balas Kania dengan santainya, ia tidak marah ataupun kesal dengan jawaban ketus Kevin.
Kevin hanya menatap heran, gadis aneh yang berada di sebelahnya dan sekarang sudah menjadi istrinya.
"Assamualaikum ma, pah. Kania pulang nih" teriak Kania saat masuk ke dalam rumah.
Lina langsung berlari ke arah Kania dan memeluknya, "Kamu dari mana? mengapa malam begini baru pulang?" tanya Lina yang khawatir.
"Kania tadi di ajak mas Kevin ke kantor karena ada urusan yang harus mas Kevin selesaikan." jelasnya pada Lina.
"Lain kali kabari mama terlebih dulu. Di telpon gak di angkat dan gak ngasih kabar juga!"
"Maaf ma, hp Kania baterainya habis tadi. Jadi gak bisa ngabarin mama"
__ADS_1
"Ma! Kevin juga pulang terlambat, kenapa mama hanya menghawatirkannya saja" protes Kevin yang tak di tanggapi oleh ibunya, melihat itu Anggara dengan bahagia mendekat ke arah anaknya, " Kasihan deh lo!"
Lina akhirnya menyuruh kedua anaknya untuk makan malam bersama, Kania yang mendengar perintah sang mama langsung berjalan ke arah meja makan dan duduk manis di kursi.