
"Mau bertemu siapa ya, tante?" tanya Kania pada seorang tamu wanita yang datang bersama dengan anak kecil di sampingnya.
"Dimana Kevin?"
"Di dalam tante" jawab Kania, sang wanita itu langsung nylonong masuk sambil menggandeng anaknya, "Kevin! Kevin!" teriaknya memanggil nama Kevin.
"Eh tante jangan asal masuk dong!" ucap Kania, ia berusaha menghentikan wanita itu, tapi sia-sia. Tenaganya tidak cukup kuat untuk menghalangi, ia terpental saat wanita itu mendorongnya.
Apa itu kekasih gelapnya Om Kevin dan anak yang ada di sampingnya itu anak dari hubungan mereka. Ohh tidak! Hentikan khayalanmu Kania.
"Ohh tidak Marimar datang" Kevin yang mendengar suara seorang wanita memanggilnya, ingin melarikan diri dan bersembunyi. Namun, Kevin terlambat, sang wanita sudah ada tepat di belakangnya.
"Berhenti!" perintahnya, Kevin langsung berhenti layaknya seorang patung.
"Kamu jaga anakku! hari ini aku akan pergi, jadi kamu jaga anakku dengan baik. Jangan kau buat anakku menangis, apalagi sampai terluka, paham!"
"Mengapa harus aku. Memangnya aku bapaknya, dia 'kan punya bapak suruh saja bapaknya untuk menjaganya" tolak Kevin dengan tegas.
"Bapaknya dan aku akan membuatkan adik baru untuk Dinda. Dan Dinda selalu mengganggu kami, jadi kau ajak Dinda bermain selama aku membuatkan adik baru untuknya, mengerti!" sentak Marlina pada Kevin.
"Ya baiklah" jawab Kevin, ia terpaksa menuruti permintaan paksa tetangganya. Marlina merupakan tetangga sekaligus teman bermain Kevin waktu dulu, mereka sering bermain bersama. Itu karena mereka bertetangga, Marlina sudah menikah dan memiliki satu orang putri bernama Dinda.
"Mama tinggal dulu ya sayang. Yang nakal ya, biar Om Kevin kewalahan jagain kamu, terus kalo kamu di apa-apakan Om Kevin kamu tonjok saja dia" Marlina berjongkok dan memberi nasehat pada putrinya.
Kania tertawa mendengar nasehat Marlina kepada putrinya, seumur-umur baru kali ini ada ibu yang menyuruh anaknya nakal.
Kevin terus menggerutu dengan raut wajah yang kesal, "Dia bersenang-senang bersama Ferguso sedangkan aku di suruh menjaga anaknya!" gerutu Kevin.
"Tolong jaga putriku ya, aku kurang percaya padanya" kata Marlina yang melirik Kevin. Kania mengangguk dan tersenyum mengiyakan perkataan Marlina.
"Kalau kau tidak percaya padaku titipkan saja anakmu di tempat penitipan anak!" saran Kevin karena kesal dengan Marlina yang mengatakan tidak percaya kepadanya.
Marlina pergi dari rumah Kevin meninggalkan anaknya, bersama dengan Kania dan Kevin.
__ADS_1
"Adek namanya siapa?" tanya Kania dengan manis dan lembut pada Dinda.
"Dinda, tante" balas Dinda dengan cuek.
"Cantik banget namanya sama kaya orangnya, imut dan cantik," ucapnya sambil mencubit kedua pipi Dinda dan menciumnya, "Jangan panggil tante dong, panggil kakak atau kak Nia saja, ya" pinta Kania.
"Tapi tante 'kan istlinya Om Kevin, dan yang Dinda tahu kalo panggilan Om itu pasangannya sama Tante" katanya yang masih belum jelas.
Ni anak kecil-kecil pinter juga. Kagak bisa di akalin.
"Tapi kakak masih muda, gak cocok di panggil tante sayang" Kania membujuk Dinda agar tak memanggilnya dengan sebutan tante.
"Tidak bisa, pokoknya tante ya tante titik!" jawab Dinda, Kevin tersenyum penuh kemenangan melihat kejadian itu sedangkan Kania, rasanya ia ingin menyumpal mulut Dinda dengan kaos kaki busuknya yang sudah berhari-hari tidak ia cuci, agar Dinda tak dapat lagi bicara.
"Sudahlah terima saja nasibmu yang sudah menjadi tante-tante," ucap Kevin dengan santainya, Kania hanya melengos dengan wajah yang kesal menanggapi perkataan Kevin, "Ayo sayang kita main" ajak Kevin pada Dinda sambil merentangkan kedua tangannya untuk menggendong Dinda, dengan semangat Dinda datang ke arah Kevin dan menerimanya.
Seketika amarah Kania mereda saat melihat Kevin yang begitu manis bersikap kepada Dinda, "Sungguh Tuhan memang tidak salah telah memberiku suami seperti Om Kevin. Udah sifatnya yang kebapakan, tampan, pengertian pokoknya paket lengkap dah" gumamnya menatap punggung Kevin yang mulai menjauh dari pandangannya.
"Om kita foto selfie yuk. Nanti, Dinda talo foto kita beldua di kamal Dinda" ajak Dinda, Kevin menyutujui ajakan Dinda.
Kevin mengelurkan ponselnya dan mulai berfoto selfie dengan Dinda.
Dinda mengambil topi yang ada di sebelahnya dan memakaikannya di kepala Kevin. Kevin menerimanya, keduanya akhirnya berfoto dengan gaya yang berbeda. Kevin mencondongkan bibirnya sedangkan Dinda menjulurkan lidahnya.
Kania yang awalnya hanya melihat dari kejauhan sambil sesekali tersenyum. Kania berlari mendekat ke arah suami dan anak tetangganya saat melihat mereka sedang berfoto selfie.
"Tunggu! aku ikut" teriaknya yang mendekat ke arah suaminya. Tapi Kevim segera mengambalikan ponselnya ke dalam sakunya saat Kania ingin ikut berfoto selfie dengan mereka.
"Kok udahan sih foto selfienya, aku 'kan juga mau ikut." ucapnya yang bersedih karena gagal ikut selfie.
"Ada tamu gak di undang tiba-tiba dateng jadi ya kita udahan." ucap Kevin asal.
__ADS_1
"Enak saja! tiba-tiba dateng, memangnya aku Jailangkung!" ucap Kania dengan kesal.
"Milip sih, tante sama Jailangkung" sahut Dinda, membuat Kevin tertawa terbahak-bahak dan Kania merasa kesal, "Lagian nanti kalo ada tante nanti fotonya jadi jelek. Lebih baik tante yang motlet kita aja, kayaknya itu lebih cocok deh untuk tante" sambung Dinda dengan polosnya, membuat Kevin kembali tertawa setelah bersusah payah Kevin menghetikannya tadi.
Kania menarik nafasnya untuk menahan emosinya agar tidak keluar, "Gak dong sayang, kalo ada kakak fotonya akan terlihat lebih indah. Dan foto kita nanti akan terlihat lengkap dan sempurna seperti keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warohmah" balas Kania sambil melihat Kevin dan tersenyum ke arahnya. Dan Kevin ingin muntah rasanya saat Kania mengatakan hal itu.
Hari berganti menjadi sore hari, Marlina datang menjemput putrinya yang ia titipkan di rumah Kevin.
"Dinda sayang, mama datang jemput kamu nih" teriak Marlina, Dinda yang sedang berada di kamar bermain bersama Kania dan Kevin langsung berlari menuju mamanya di ikuti Kania dan Kevin di belakangnya.
"Mama..." kata Dinda yang datang dan memeluk Marlina, "Dimana dedek bayinya Dinda, katanya mama sama papa sedang buat dedek bayi untuk Dinda?" tanya Dinda dengan polosnya sambil melepaskan pelukannya.
Marlina bingung mesti menjawab apa kepada anaknya sedangkan Kania dan Kevin tersenyum mendengarnya.
"Sayang adikmu masih dalam proses pembuatan jadi kamu harus sabar" jelas Kevin.
"Belalti adik Dinda masih di pablik ya Om?"
Kevin mencoba menahan tawanya saat mendengar jawaban polos Dinda, "Iya" jawabnya yang tidak ingin memperpanjang masalahnya.
Marlina pamit pulang bersama dengan Dinda. Sekarang di rumah tinggal Kevin dan Kania saja.
Ehemm... Kania berdehem untuk memulai pembicaraan "Om, kita berdua aja ni?"
"Menurut penglihatanmu?" katanya yang balik bertanya.
"Iya bener! Buat anak yuk Om. Mumpung kondisi rumah lagi sepi, pas banget 'kan." ucap Kania dengan gamblang tanpa di sensor.
Kevin langsung berjalan menuju kamarnya tak menangggapi pernyataan aneh Kania.
"Ehh Om buru-buru amat, tungguin Kania dong. Udah gak sabar ya?" ucapnya yang berlari mengejar Kevin.
Bersambung....
__ADS_1