My Kinyis-kinyis Wife

My Kinyis-kinyis Wife
Perjalanan Bulan Madu


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, tak terasa sudah satu minggu.


Hari yang tidak Kevin inginkan dan harapkan sama sekali. Namun, sangat di elu-elukan dan di nanti-nantikan oleh Kania. Kania sudah tidak sabar menunggu hari ini, hari yang mungkin akan sangat berarti baginya atau mungkin paling buruk bahkan menyedihkan?


Kevin terlihat begitu tampan dan menggoda mengenakan kemeja dan celana berwarna hitam dengan setelan jas berwarna abu yang terbuka. Meski usianya sudah kepala tiga tapi Kevin masih terlihat sangat muda dari usianya, mungkin itu karena Kevin sering berolahraga dan makan-makanan sehat atau mungkin Kevin menggunakan susuk di wajahnya agar terlihat awet muda? Gak mungkin dong.


Sedangkan Kania terlihat cantik dan sedikit dewasa dengan setelan pakaian berwarna putih bergaris hitam miliknya.



"Ya ampun, cantik sekali anak mama" puji Lina kepada Kania. Padahal Kevin juga ada di sebelah Kania tapi Lina hanya memuji Kania.


"Makasih ma," balas Kania dengan malu-malu, "Mas Kevin juga tampan banget kok. Jadi pengen nyium.


Boleh gak ma Kania nyium mas Kevin?" ijinnya sambil tersenyum konyol, mendekat dan menggandeng lengan Kevin. Tanpa rasa malu Kania mengatakan itu dengan gamblang di hadapan Lina dan Anggara.


Anggara dan Lina hanya tertawa, seakan menertawakan kesengsaraan Kevin.


"Menjauh kamu dariku, jangan dekat-dekat!" ucapnya sambil berusaha menyingkirkan tangan Kania dari lengannya.


"Hei anak tua! Jangan kamu apa-apakan mantuku!" kata Anggara, ia melihat Kevin yang sedikit keras dan kasar pada Kania.


"Tidak akan Kevin apa-apakan mantu kesayangan papa ini! Apalagi sampai berbuat macam-macam kepadanya" balas Kevin seolah tidak ingin menyentuh Kania.


"Tapi Kania mau pake banget kok di apa-apakan mas Kevin. Insya Allah Kania ikhlas brojol sampe batin kok" ucap Kania, ia semakin mengencangkan pelukan lengannya sambil tersenyum ke arah Kevin.


Kevin menatap Kania kesal karena Kania selalu menjawab semua perkataan pedasnya dengan omong kosongnya. Akhirnya mereka berdua pamit kepada kedua orang tua mereka untuk memulai perjalanan bulan madunya. Kania masih terus menggandeng lengan Kevin dengan erat sampai akhirnya Kevin melepaskan secara paksa pegangannya.

__ADS_1


"Lepaskan! Dan menjauhlah dariku!" sentaknya yang menyingkirkan tangan Kania.


Kania menggandeng dan menarik kembali lengan Kevin, "Mana bisa kita berjauhan. Kita 'kan sudah di takdirkan untuk selalu bersama seperti halnya utang. Sekeras apapun tukang utang melarikan diri pasti penagihnya akan datang untuk menagih utangnya. Begitu juga hubungan kita, mau sekeras apapun Om menjauh dari Kania, Kania akan selalu mendekati Om, meskipun Om menolaknya" ucapnya dengan gaya ala pembawa puisi terkenal.


"Bulshit!" balas Kevin acuh dan masuk ke dalam mobilnya.


"Kok bulshit sih, Kania bicara yang sebenarnya kok. Seperti cinta Kania ke Om nyata dan benar adanya" balasnya yang ikut masuk bersama ke dalam mobil.


Kevin melamun memikirkan dan mencerna semua perkataan Kania terhadapnya. Apakah semua yang dikatakan Kania benar adanya atau hanya omong kosong (bulshit) belaka.


Tapi pikirannya menyakinkan dirinya bahwa Kania hanya bicara omong kosong tetapi di dalam hatinya berkata jika Kania bicara yang sebenarnya. Pikiran Kevin mendominasi daripada hatinya sehingga membuat Kevin segera menyingkirkan perkataan Kania tentang dirinya yang benar menyukai Kevin.


"Om kok ngelamun, ada apa? Pasti lagi mikirin rencana mau punya anak berapa ya, nantinya?" tanya Kania yang membuyarkan lamunan Kevin.


Kevin hanya melirik Kania sinis dan tak menanggapi Kania. Kania yang tidak mendapat respon dari Kevin tak menyerah begitu saja.


"Memangnya kamu kucing, sekali melahirkan bisa langsung keluar banyak anak, haa?!"


"Ya sama, kalo di lihat dari segi keimutan dan menggemaskannya," jawab Kania yang di luar dugaan Kevin. Biasanya orang tidak akan terima di samakan dengan hewan, tapi mungkin tidak berlaku bagi Kania, "Nanti kita buat anaknya setiap hari aja Om, terus kalo udah jadi dan udah keluar 'ceprot, oek oek oek' kita buat lagi. Gitu terus sampe anak kita ada sebelas" ucapnya dengan mudahnya. Ia belum merasakan bagaimana rasanya mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan dengan nyawa taruhannya.


"Lalu anak yang sudah lahir mau kamu buang?!" Tanyanya yang heran dengan pemikiran Kania yang berkata seenaknya mau buat anak terus buat lagi, "Seenaknya buat anak, memangnya ngurus anak kecil gampang, apa!"


"Iya juga ya" ucap Kania yang memikirkan perkataan Kevin yang benar adanya.


Kania akhirnya terdiam karena perkataannya yang di skakmat oleh Kevin, sambil memandang pemandangan sekitar di luar jendela mobil. Mobil dan motor yang berlalu lalang melewati jalanan, membuat mata Kania mulai merasa kantuk.


Hoaammm... Kania menguap dengan volume yang di keraskan. Ia sengaja melakukannya agar Kevin peka dan secara sukarela meminjamkan bahunya untuk di pinjamkan.

__ADS_1


Kania melirik Kevin, ia kecewa karena Kevin tak merespon kodenya, "Om kok gitu sih!" protes Kania yang mengutarakan keinginannya secara langsung. Sebab Kevin tak mengerti kode darinya.


"Apa?" jawab Kevin yang tak tahu apa sebenarnya maksud Kania.


"Kenapa Om diam aja, saat melihat dan mendengar Kania menguap. Seharusnya Om itu peka dan meminjamkan bahu Om kepada Kania supaya Kania bisa tidur dengan nyenyak! Tapi Om malah cuek dan gak peduli" jelasnya dengan kesal sambil melipatkan kedua tangannya di dadanya.


"Suruh siapa ngasih kode segala, kamu pikir aku bakalan paham dan menuruti sesuai keinginanmu seperti di sinetron itu?!"


Kania mengangguk sekali pertanda mengiyakan perkataan Kevin. Kevin tertawa garing melihat jawaban Kania. Kania bingung dengan tawa Kevin, tawanya itu pertanda persetujuan atau penolakan.


Kania menganggap tawa Kevin adalah tanda persetujuan, tanpa aba-aba Kania langsung tiduran di bahu Kevin.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kevin yang syok tiba-tiba Kania tiduran di bahunya.


"Tentu saja mau tidur dengan nyenyak sambil ngimpiin Om" jawabnya dengan keadaan mata masih tertutup sambil terus berada di bahu Kevin.


"Minggir-minggir, aku tidak mau bahuku terkena ilermu!" ucapnya sambil berusaha menyingkirkan kepala Kania.


Kania langsung sadar dan terbangun, "Kania gak pernah ileran tau kalo tidur!"


"Kamu mana nyadar! Orang tidurmu ngebo udah gitu ngorok lagi!" kata Kevin yang berbohong.


"Masa sih aku kalo tidur suka ngorok sama ileran?" gumam Kania yang tidak menyangka jika tidurnya sejorok itu.


Kevin tersenyum mendengar gumaman Kania, sepertinya Kania percaya akan semua perkataannya.


Kania memilih tidur dengan menyender pada jendela mobil, ia tidak mau membuat Kevin menambah level ketidaksukaannya karena iler dan suara nyaring ngoroknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2