My Kinyis-kinyis Wife

My Kinyis-kinyis Wife
9. Foto


__ADS_3

Lina memanggil Kevin dan Kania untuk mengikuti sesi poto di saat yang tepat, saat Kevin ingin memberikan pelajaran pada Kania saat itulah Lina datang, membuat Kania merasa lega karena berhasil selamat dari amarah om tua.


"Hei dimana fotografernya, yang merasa sebagai tukang memfoto cepat datang kemari, kedua anakku ada di sini!" teriak Lina mencari fotografernya.


"Ehhm ma, bukanya harusnya kita yang datang ke arah fotografernya ya ma karena fotografernya pasti sudah menyiapkan tempat yang bagus untuk di jadikan backgroud fotonya." kata Kania dengan ragu karena yang ia tahu begitu.


"Ehh beda dong Sayang, mama membayarnya dengan mahal jadi dia yang harus menuruti kita bukan kita yang menurutinya, orang kaya mah beda peraturannya Sayang." Kania hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Tapi kalo hasilnya tidak bagus karena kita kan tidak mengerti masalah background dan lainnya ma?" tanya Kania.


"Ya itu urusannya, pokoknya hasilnya harus bagus karena mama membayarnya dengan mahal"


Sang Fotografer datang dengan berlari ke arah Kevin dan Kania sesuai keinginan Lina, semua sesi foto dilakukan dengan gaya dan model terserah keinginan sang pengantin dan hasilnya juga pasti bagus, secara nyewanya mahal.


"Hei, ambilkan kursi dan bawa kemari!" perintah Kevin pada sang Fotografer.


Fotografer pergi untuk mengambil dua kursi sesuai keinginan Kevin, "Ini tuan kursinya."


"Memangnya saya menyuruhmu mengambil dua, ini yang satu kamu kembalikan!"


"Hei om, kita kan berdua, mengapa kursinya hanya satu. Aku tidak mau ya berbagi kursi dengan om" sahut Kania yang sudah memegang kursi dan siap untuk ia duduki.


"Siapa yang ingin berbagi kursi denganmu, ini kursi untukku, kamu berdiri!" ucap Kevin dengan santai tanpa merasa bersalah sambil mengambil kursi yang Kania pegang.


"Apa!" ucap Kania sambil menahan emosinya.


"Sekarang kamu di belakangku berdiri dan aku di depanmu duduk, dan kau, cepat foto kami!"


"Baik tuan" kata sang fotografer yang melaksanakan perintah sesuai keinginan Kevin.


Kania terus menggerutu di dalam hatinya, ia tak bisa menolak karena ada banyak orang yang memperhatikannya, Kania berjanji akan membalas perlakuan Kevin terhadapnya.


Sial, awas saja kamu om tua, tunggu pembalasanku.

__ADS_1




"Sudah tuan, saya sudah mengambil beberapa gambar" kata sang Fotografer.


"Apa hasilnya bagus?"


"Bagus tuan, sesuai dengan yang tuan harapkan." kata sang Fotografer dengan yakin.


"Bagus, kalau sampai hasilnya jelek seperti wajahmu, saya tidak akan membayarmu sepeserpun." ucap Kevin dengan tegas, membuat sang Fotografer sedikit ketakutan.


"Mending hasilnya kayak muka pak Fotografernya tampan masihmuda pula dari pada kayak muka om, bisa-bisa hasilnya keliatan tua kayak foto jaman dahulu." bisik Kania di telinga Kevin yang membuat Kevin emosi.


"Kau bocah tengikkk" katanya sambil menggegam tangannya yang berusaha menahan emosinya.


Kania yang melihat Kevin emosi, merasa senang dan puas dan sekarang gilirannya untuk membalas perbuatan Kevin kepadanya.


"Ma, jang___" ucap Kevin yang ingin agar mamanya tidak mengijinkan Kania memilih gaya foto sesuai keinginannya namun semua itu sia-sia.


"Tentu saja boleh, apa saja untuk mantu mama." balas Lina, Kania yang mendengar jawaban Lina bersorak gembira sambil melirik Kevin.


Kania sedari tadi memikirkan apa yang cocok untuk membalaskan dendamnya kepada Kevin, tanpa sengaja Kania melihat ke bawah dan ia melihat pengait high heelsnya lepas dari situlah idenya muncul.


"Emmh bagaimana kalau mas Kevin membenarkan pengait high heelsku ma, terlihat begitu romantis tidak ma?" tanya Kania yang meminta pendapat pada Lina, Kevin yang mendengar perkataan Kania langsung membelalakkan matanya ke arah Kania, ingin rasanya Kevin menyentilnya hingga ke luar angkasa agar ia tidak bertemu dengan Kania lagi.


"Tentu saja boleh Sayang, itu akan terlihat beda dari pengantin pada umumnya, kamu hebat Sayang." puji Lina pada Kania, Kania yang mendapat persetujuan dari ibu mertuanya gembira sedangkan Kevin yang mendengar jawaban mamanya, hanya bisa merenungkan nasib sialnya ini.


Bagimana ibuku sendiri bisa bersekongkol dengan bocak tengik ini untuk menyiksaku, pelet apa yang bocah ini gunakan sampai mama bersikap manis padanya.


"Baik. Pak Fotografer bersiaplah. Dan kamu mas Kevin sayang jongkoklah dan satukan tali high heelsku yang terlepas agar kembali bersatu seperti kita yang di satukan oleh ikatan pernikahan, ingaaat yang niat ya, biar hasilnya nanti menakjubkan." ucapnya sambil tersenyum penuh kemenangan ke arah Kevin.


Kevin dengan berat hati berjongkok dan menyatukan pengait high heels Kania yang terlepas dan pak Fotografer mengambil pose foto yang pas.

__ADS_1




Setelah sesi fotonya selesai, Kania bahagia bukan main, ia selalu menampakkan senyum manisnya kepada semua orang sampai ia lupa jika pernikahannya ini bukanlah pernikahan yang Kania inginkan.


Sedangkan Kevin terus menekuk wajahnya karena dirinya masih merasa sangat kesal di suruh Kania membenarkan pengait high heels Kania dan ibunya pun menyetujui itu.


Anggara, Lina, Salman dan Sinta mendekat ke arah Kevin dan Kania yang telah menyelesaikan sesi fotonya, "Wahh, Kania kamu tadi terlihat sangat cantik saat melakukan foto tadi, aku sebagai papa mertuamu bangga memiliki mantu sepertimu." kata Anggara yang bukannya memuji anaknya malah memuji gayanya Kania yang baru saja menjadi mantunya.


"Ahh papa mertua bisa saja, biasa aja kok semua itu tidak akan terlihat indah tanpa adanya mas Kevin, benarkan mas?." kata Kania sambil mencolek dagu Kevin yang sedari tadi wajahnya di tekuk sejak kejadian high heels tadi.



Kevin tidak menjawab perkataan Kania, ia masih tetap dengan wajah dingin yang ditekuknya, "Tidak Kania, kamu menjadi penyegar di dalam fotonya, coba saja jika saat foto tidak ada kamu yang manis dan muda sepertimu pasti jadinya akan hampa dan terlihat usam juga tua seperti Kevin, hahaha." ucap Anggara yang menertawakan anaknya semua orang yang mendengar Anggara tertawa ikut tertawa apalagi Kania, dia yang paling keras suara gelak tawanya.


Lina menyenggol suaminya agar diam dan berhenti menggoda anaknya, "Pa!", Anggara akhirnya diam karena merasa takut dengan istri tercintanya tapi Kania masih terus tertawa sampai ia tidak sadar jika semua orang sudah berhenti tertawa dan sekarang semua orang melihatnya.


"Hehehe maaf, kelewatan ketawanya ya." ucapnya yang merasa kikuk.


"Kamu ini Kan, suami sendiri di tertawakam seperti itu nanti kualat lo." bisik Sinta kepada anaknya.


"Ya maaf ma, kan ketawaku gak ada remnya jadinya ya kelewat nabrak deh" balas Kania pada Sinta.


"Kamu ini selalu mencari-cari alasan." kata Sinta.


Bersambung....


**Hai kakak-kakak yang baik hati dan tidak sombong terima kasih sudah main ke novelku, aku harap kalian suka dengan novel ini.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang 5 yup.


Terima kasih dan jumpa lagii bayyy**.

__ADS_1


__ADS_2