
Cintai dirimu
sebelum mencintai orang lain
Bahagaiakan dirimu
sebelum membuat orang lain bahagia.
Karena tidak ada orang yang akan membuatmu merasa istimewa kecuali
dirimu sendiri.
Bukannya egois, hanya sekedar menyadarkan
jika kamu berharga dan berhak bahagia.
🍃🍃🍃🍃🍃
"Om Kevin cemburu ya, Kania di antar balik sama mas Boy. Hayo ngaku?" Tanya Kania sambil menunjuk wajah Kevin yang salah tingkah. Kania sengaja menyebut Boy dengan embel-embel 'mas' untuk melihat reaksi Kevin.
"Si-apa yang cemburu!" balasnya terbata dan sedikit meninggi untuk menutupi salah tingkahnya, "Karena kamu tidak pulang-pulang, papa dan mama memarahiku karena di anggap aku tidak bisa menjagamu!" Sambungnya yang mengalihkan topik.
"Jadi Om berdiri di sini karena tadi niatnya mau nyariin Kania terus karena Kania udah pulang bareng mas Boy, Om nungguin di sini, gitu?"
"Iya!" Jawab Kevin judes.
__ADS_1
"Uluh-uluh jadi tambah cintrong Kania sama Om, masuk yuk Om terus nanti kita buat anak bareng" ucap Kania sambil mencubit pipi Keano dengan gemas. Kania menarik tangan Kevin masuk ke dalam, sampai di ruang tamu keduanya sudah di nanti oleh Anggara dan Lina.
"Aduhh Kania kamu dari mana saja, mama khawatir tahu," Lina datang menghambur dan memeluk Kania, "besok di antar sopir saja ya, biar kamu gak perlu lagi naik angkot dan pulang malem-malem begini" ucap Lina yang memberi saran pada menantunya.
"Tidak usah ma, Kania naik angkot aja. Lebih rame dan menantang gitu, sekalian cuci mata ma. Kalo di antar sopir lihatnya wajah sopir itu mulu, tapi kalo naik angkot Kania bisa lihat beraneka ragam makhluk ciptaan Tuhan" Kania melepaskan pelukannya dan menjelaskan pada ibu mertuanya.
"Halah alasan, bilang saja supaya pulang bisa di anter sama pria lain! Sampai malam begini lagi, inget kamu sudah punya suami." Sinis Kevin, ia tiba-tiba ikut nimbrung menjawab perkataan Kania. Kania yang awalnya bersikap biasa saja, jadi kesal setelah mendengar ucapan Kevin yang di rasa menyindir Kania seperti wanita murahan.
Lina dan Anggara yang tidak mengerti apa masalah yang sedang di hadapi kedua anaknya karena tadi mereka terlihat baik-baik saja, layaknya pasangan pasangan pada umumnya yang bergandengan tangan. Mendengar ucapan Kevin, Lina dan Anggara menjadi kaget.
Kania langsung mendekati Kevin dan mengahadap padanya, Kania harus mendongak untuk menatap wajah Kevin karena tingginya yang hanya sebatas pundak Kevin, "Kania pulang malam karena Kania ikut eskul Basket bukannya tadi pagi Kania udah jelasin sama Om. Tapi saat Kania mau pulang teman Kania yang mau Kania tumpangi ada urusan, jadi Kania mutusin untuk jalan kaki. Kania mau nelpon Om tapi Kania inget kalo Om sibuk, mau nelpon mama juga hp Kania ketinggalan. Untung tadi ada Uncle Boy, Kania numpang pulang sekalian. Di tengah jalan Kania merasa lapar, Kania minta Uncle Boy berhenti untuk beli bakso sebentar. Nih sekalian Kania bungkusin bakso buat Om! Makan pake mulut karena emang itu gunanya mulut buat MAKAN bukan buat ngomong pedes dan nyakitin hati orang!" Kania menyerahkan kresek berisikan bakso yang ia beli tadi di dada Kevin. Kania berusaha tegar, menahan air matanya agar tidak keluar di hadapan semua orang, Kania langsung berlari menuju kamarnya meninggalkan Kevin yang diam seribu bahasa.
"Kevin mama benar-benar kecewa sama kamu. Kamu tahu ucapanmu tadi, seolah mengatakan jika Kania itu wanita murahan yang sedang bermain dengan pria lain di belakang suaminya. Lagian Boy itu kan sahabatmu, gak mungkinlah dia sampai ngambil istri sahabatnya. Sana susul dan bujuk Kania!" Perintah Lina.
"Kania mengatakan itu mungkin karena dia ingin melihat bagaimana reaksimu. Ia ingin tahu apa kamu cemburu atau tidak dan hasilnya kamu cemburu buta sampai menuduhnya yang tidak benar. Dasar pria tua tidak peka!" Anggara ikut mengutarakan pendapatnya sekaligus memberi pencerahan pada Kevin.
"Jadi tunggu apa lagi, cepat bujuk Kania" ucap Lina sambil mendorong Kevin untuk mengejar Kania. Kevin yang tadinya ragu, memaksakan diri untuk berani dengan kegugupan yang menyelimutinya.
"Tunggu" teriak Anggara pada Kevin. Kevin yang sudah setengah perjalanan menuju ke kamarnya pun kembali lagi di hadapan papanya. Kevin mengira papanya akan menambah saran untuk dirinya agar tidak merasa gugup dan takut.
"Iya pah, gimana?" balas Kevin.
"Gimana apanya, sini baksonya. Biar papa saja yang makan, masa kamu mau bujuk Kania sambil bawa bakso di tanganmu. Gak bisa pegang pipinya nanti." Anggara mengambil bakso yang ada di tangan Kevin secara paksa.
"Ya ampun, papa membuat kegugupan Kevin bertambah!" Tuturnya dengan emosi, Kevin langsung kembali menuju kamarnya.
__ADS_1
"Yuk ma, kita makan bakso semangkuk berdua" ajak Anggara dengan senyum nakalnya.
"Gak ah. Mama ngantuk mau tidur udah malem" Lina membalas dengan cuek lalu berjalan ke arah kamarnya.
Anggara hanya bisa gigit jari menyaksikan istrinya yang pergi meninggalkannya sendiri. Padahal ia berencana ingin makan bakso di suapi oleh Lina menggunakan bibir merah merona miliknya.
Di luar Kevin tengah berdiri di depan pintu kamarnya, ingin mengetuk pintu tapi ragu dan takut. Akhirnya Kevin mengumpulkan semua keberaniannya dengan menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu kamarnya.
Jika ia mengetuk pintu Kania pasti tidak akan membukanya makanya ia langsung membuka pintu. Toh ini juga kamarnya.
Lampu kamarnya di matikan, untung ada cahaya dari luar, remang-remang Kevin melihat Kania tengah duduk di dekat ranjangnya dalam keadaan memeluk kedua
kakinya, Kevin mendengar suara isakan Kania yang tidak terlalu keras.
Kevin menghidupkan lampu kamarnya dan menghampiri Kania, "Kania..." panggilnya, Kania tidak menjawabnya. Karena merasa di abaikan, Kevin memegang kedua bahu Kania dan menatapnya.
Sungguh wajah Kania terlihat begitu menghawatirkan mata indahnya berubah menjadi sipit, sembab dan merah karena terlalu lama menangis. Kevin langsung memeluk hangat Kania yang masih saja terus menangis.
Kania melepaskan pelukan Kevin meski sejenak ia tadi terbawa suasana dalam pelukan hangatnya Kevin, "Lepasin! Om kenapa selalu memberi harapan palsu pada Kania. Om janji akan berusaha menjadi suami yang baik, Kania percaya itu. Tapi kenapa saat Kania sudah percaya pada Om, Om mematahkan semuanya harapan Kania. Kenapa Om jahat sekali hiks hiks..." ucapnya sambil menangis sesegukan sesekali mengusap ingusnya yang hampir sampai di mulutnya dengan lengan bajunya.
Kevin rasanya ingin tertawa saat Kania mengelap ingusnya yang masih berantakan memenuhi pipinya. Tapi sebisa mungkin Kevin menahannya, ia tidak mau akibat tawanya nanti Kania bertambah marah padanya.
"Maafkan aku, aku hanya tidak suka kamu di antar pria lain, meskipun pria itu sahabatku sendiri" Kania menatap lekat Kevin saat Kevin mengatakan isi hatinya, terlihat berbagai pertanyaan dari tatapan matanya, "Ya, aku cemburu melihatmu bersama pria lain, apalagi kamu memanggil Boy dengan embel-embel 'Mas'." Tuturnya, seakan ia menjawab semua pertanyaan yang timbul dari tatapan mata Kania.
Bersambung....
__ADS_1