
Semua orang menatap Kania dengan tatapan aneh, bagaimana tidak Kania meminta jatah kepada Kevin di hadapan mertuanya padahal yang Kania maksud adalah jatah uang jajan bukan jatah yang lain-lain.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin yang bingung dengan permintaan Kania.
"Jatah uang jajanku, aku kan mesti sekolah dan di sekolah ada kantin jika aku ingin makan maka aku harus punya uang, maka dari itu aku minta sama mas Kevin kan tidak mungkin aku minta sama papa dan mamaku di rumah." jelas Kania yang membuat Lina dan Anggara tertawa pecah mendengarnya.
Dengan perasaan yang kesal karena di tertawakan orang tuanya Kevin mengambil dompet di saku celananya dan mengambil selembar uang dan memberikannya pada Kania.
"Apa ini, mengapa hanya 2 ribu saja. Ini sih cuma buat beli gorengan 2 butir saja, belum lagi esnya, jajannya saat di sekolah terus kalo pulang aku juga selalu jajan siomay, cilok dan penthol di depan gerbang sekolah, tambahin dong mas, " kata Kania dengan wajah melasnya agar suaminya iba dan menambahkan uang jajannya.
"Iya Kev, tambahin JATAH uang jajannya Kania, 2 ribu mah cuma dapet gorengan, gimana mau di kasih jatah beneran kalo ngasih jatah uang jajan saja cuma 2 ribu" kata Anggara yang mengejek Kevin melalui sindiran dengan memperjelas kata jatah.
"Iya Sayang, Kania sekarang itukan istrimu jadi sudah kewajibanmu memenuhi semua kebutuhannya termasuk uang sakunya." kata Lina yang ikut membela Kania.
Kevin mencoba menahan amarahnya yang sudah memuncak agar tidak meledak, ia mengambil dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang dan memberikannya pada Kania.
Dengan girang Kania menerima uang tersebut tapi saat uang tersebut sudah mendarat di telapak tangannya wajahnya menjadi lecek, "Mengapa uangnya 2 ribuan semua, masa dompet seorang pengusaha isi uangnya dua ribuan seharusnya itu uang merah yang gambarnya bapak Soekarno dan Moh. Hatta, mas." kata Kania sambil menghitung jumlah uangnya.
Kevin rasanya ingin mencincang tubuh Kania yang bukanya berterima kasih tapi malah menghinanya di depan orang tuanya seperti kata pepatah, Diberi jantung malah minta hati.
"Eh Kania, kamu salah. Kevin menyimpan uang dua ribuan banyak di dompetnya itu karena Kevin senang sekali membagi-bagikannya pada para pengemis dan pengamen saat di jalan raya, maka dari itu banyak uang dua ribu agar semua pengemis dan pengamen mendapatkan semuanya. Baik kan suami kamu?"
Kania memasukkan uangnya ke dalam saku seragamnya setelah selesai menghitung semua jumlah uangnya.
Lumayanlah walau cuma dua rebuan tapi ada 15 lembar hihihi.
"Iya ma, gak nyangka Kania bisa memiliki suami yang berhati bak seorang malaikat seperti mas Kevin" puji Kania.
"Jadi itu semua uang mas ya. Kania kira mas mendapatkannya dari tempat Ziarah hehe" sambungnya.
"Kamu pikir aku mengemis ha!"
"Hehehe iya" jawabnya dengan sangat jujur tanpa di filter terlebih dulu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan jatah uang sakunya, Kania langsung bergegas berangkat ke sekolah, "Kania berangkat ya ma, pa" pamitnya yang berjalan ke arah pintu.
"Kania!" panggil Lina, Kania berbalik, "Iya ma?"
"Kamu berangkat bareng Kevin saja kebetulan sekolah sama kantornya Kevin satu arah" saran Lina, membuat Kania senang kegirangan dan Kevin bertambah sengsara.
"Tapi ma, Kevin hari ini ada meeting pagi bersama klien."
"Iya ma, Kasian mas Kevin harus bertemu dengan kliennya. Lagian Kania bisa berangkat sendiri naik angkot kok ma, ya walaupun ini sudah agak siang pasti akan jarang ada angkot lagi tapi tidak apa ma, nanti Kania bisa minta tumpangan sama orang yang lewat." ucap Kania yang memasang wajah melasnya membuat Lina merasa iba dan membuat Kevin muak.
"Kevin, tolong ya ajak Kania bersamamu ya, memangnya kamu rela istrimu berjalan kaki saat berangkat ke sekolahnya?"
"Ya baiklah Kevin akan mengajaknya bersama Kevin." jawabnya dengan pasrah karena Lina yang terus memaksanya.
Yeahh selamat juga uang jajanku.
Sepanjang perjalanan menuju ke sekolahnya, Kania terus tersenyum seperti orang yang kurang waras.
"Kenapa kau tersenyum terus seperti itu?"
"Jadi semuanya tadi hanya pura-pura?" tanya Kevin dengan menohok, Kania membalas dengan anggukan sambil tersenyum ke arah Kevin tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Om nanti Kania jemput ya" pinta Kania setelah perlakuannya pada Kevin tadi.
"Tidak mau, memangnya kamu pikir aku supir pribadimu!"
"Ish Om gak ada rasa cemburunya sama sekali, Om mau Kania naik angkot terus wajah Kania yang cantik ini di lihat oleh mata lelaki jelalatan!"
"Tidak peduli." balasnya dengan cuek dan tetap fokus menyetir membuat Kania yang tadinya tersenyum cerah layaknya pelangi yang baru muncul setelah hujan reda menjadi seperti mendung dengan awan gelap yang siap menurunkan hujan petirnya.
"Om, salim." ucap Kania yang meminta tangan Kevin untuk ia cium lagi.
"Tadi kan sudah, jadi tidak perlu lagi!" bukan Kania namanya jika ia diam saja tanpa melakukan hal lain yang ia inginkan.
__ADS_1
Kania menarik secara paksa tangan Kevin yang sedang memegang setir dan menciumnya, "Kania berangkat dulu ya Om, kalau kangen sebut nama Kania tiga kali nanti kangennya Om pasti terobati kok." katanya yang berbicara di luar jendela mobil sambil menampilkan senyumannya.
Aneh, tadi ngambek mengapa tiba-tiba jadi bahagia seperti itu dia, sepertinya ada yang akan dia rencanakan. Ah sudahlah persetan dengan rencana gadis itu.
Dari kejauhan sudah ada Kinanthi dan Kirana yang melihat Kania senyum-senyum sendiri setelah keluar dari mobil bagus yang di dalamnya ada seorang pria dewasa, tanpa pikir panjang keduanya langsung mendekati Kania.
"Kamu masih prawan kan?" tanya Kinanthi sambil memegang-megang tubuh Kania.
"Apaan sih kamu, memangnya kamu pikir aku jual diri apa!" sentak Kania yang menyingkirkan tangan Kinanthi dari tubuhnya setelah mendengar perkataan Kinanthi.
"Terus tadi om-om yang mengantar kamu pake mobil bagus itu siapa?" tanya Kirana.
"Kamu juga senyum-senyum sendiri waktu keluar dari mobil pasti kamu habis di beri uang kan sama om-om itu?" tanya Kiranthi yang yang ceplas-ceplos tanpa di saring terlebih dahulu.
Kania menyontoloyo kening Kinanthi karena bicara sembarangan, "Udah aku bilang aku itu tidak jual diri! itu tadi om ku, kebetulan sekolah sama kantornya satu arah jadi mama menyuruhku untuk berangkat bareng." jelas Kania dengan sedikit kesal karena Kinanthi yang terus menuduhnya sembarangan.
"Oohh om nya toh." jawab kedua sahabatnya.
Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju ke kelas mereka untuk mengikuti pelajaran, "Oh ya kamu kemarin tidak berangkat sekolah kenapa?" tanya kedua sahabatnya secara bersamaan.
"Ada urusan keluarga." jawabnya cuek.
"Kok aku tida di ajak sih Kan." kata Kinanthi.
"Dih memangnya kamu siapa? keluarga bukan, kerabat juga bukan minta di ajak. Lagian jika nanti aku mengajak kamu di acara keluargaku namanya bukan perkumpulan keluarga lagi tapi perkumpulan orang gi*a!." jawab Kania membuat Kirana tertawa.
"Kok bisa?" tanya Kinanthi yang sama sekali tidak mengerti maksud Kania.
"Sudahlah, ayo Kir kita ke kelas berdua saja" ucap Kania yang meninggalkan Kinanthi di belakang yang terus memikirkan perkataan Kania tentang perubahan perkumpulan acara keluarga menjadi perkumpulan orang gila.
"Hei apa maksudnya kau mengira aku ini gi*a! awas kamu Kan gak akan aku kasih kunci jawabanku saat ulangan nanti." teriak Kinanthi pada Kania yang berada jauh di depannya.
Bersambung....
__ADS_1
Maaf baru update😔