
Libur satu minggu akhirnya selesai juga, Kania dan Kevin sudah kembali di kediaman Anggara. Kania bahagia karena setelah kembali dari pulau hubungannya dengan Kevin naik level, meski belum sampe cium bibir sama yoi-yoi, tapi sudah membuat Kania bahagia. Tidak apa, sedikit demi sedikit lama-lama juga bakalan jadi duit.
Kania kembali ke rutinitas awalnya yakni bersekolah, dengan senyum terus terpancar di bibirnya. Ia senang karena selain hubungannya dengan Kevin membaik, pagi ini juga Kania di antar Kevin dan bonusnya, uang jajannya di tambahin Kevin yang awalnya tiga puluh ribu jadi lima puluh rebu coy, mantep gram tuh.
"Om, nanti Kania gak usah di jemput ya? Soalnya Kania nanti ada eskul Basket, pulangnya gak pasti kaya hubungan kita. Kasian Om Kevin nanti nunggu Kania kelamaan, sampe ubanan. Jadi nanti Kania pulang sama teman Kania aja" ucapnya saat hendak keluar dari mobil.
Padahal Kevin juga gak ada niatan ingin menjemput Kania, karena dirinya sendiri juga akan sibuk nantinya. Setelah liburan berkedok bulan madunya bersama Kania, banyak berkas menumpuk yang mesti ia selesaikan.
"Lagian siapa juga yang mau jemput kamu?! Aku ada banyak pekerjaan menumpuk yang mesti aku kerjakan!"
"Jadi Om gak ada rencana jemput Kania? Kalo gitu tambah lagi uang jajannya!" Kania menyodongkan tangan kanan nya minta tambahan uang mirip seperti preman pasar.
"Tadi kan udah aku kasih lima puluh ribu? Kamu kecil jadi gak perlu banyak uang! Nanti kalo kamu punya banyak uang kamu jadi anak gak bener" Balas Kevin menasehati Kania, ia tidak mau Kania terkena pergaulan bebas karena uang saku yang berlebihan. Tapi juga karena uang di dompetnya gak ada yang receh, tinggal Bapak Soekarno dan Moh. Hatta.
"Itu buat jajan. Buat naik ojeknya?"
"Tadi katanya pulang bareng temen?"
"Gak jadi! Salah siapa Om gak ada rencana buat jemput Kania" Kevin jengah sendiri, karena tidak mau terlambat ke kantor, Kevin mengambil uang seratus ribu dari dompetnya dan memberikannya pada Kania.
Kania senang karena dapat uang jajan seratus lima puluh ribu dari Kevin, perasaan semalam Kania gak ngepet dah, dapat uang banyak bener.
__ADS_1
Cup... Karena terlalu girang Kania mencium pipi Kevin secara tiba-tiba, Kania langsung masuk ke gerbang sekolahnya meninggalkan Kevin yang diam membeku dengan detak jantung yang dag dig dug.
"Makasih Om, sering-sering gak jemput Kania ya" teriaknya yang sudah sampai di depan gerbang sekolahnya.
"Kok jantungku pada goyang Dumang kaya gini, saat bocah tengik itu nyium aku? Apa aku udah suka beneran sama dia? Hah sial, aku kesiangan!" Kevin melihat arlojinya dan ternyata ia sudah terlambat, ia melajukan mobilnya cepat, Kevin merutuki dirinya karena sudah terlalu banyak melamun dan memikirkan Kania sampai terlambat.
🐥🐥🐥
Kania latihan basket hingga sore hari karena sebentar lagi ia akan mewakili sekolahnya untuk lomba basket putri antar sekolah lain, meski Kania kecil dan imut tapi ia jadi ketua dalam tim basketnya dan di beri kepercayaan Kepala Sekolah untuk bisa memenangkannya dan membawa nama baik sekolahan. Fisik emang penting tapi lebih penting lagi Skillnya dong? Makanya ia di pilih jadi ketua karena Skillnya dalam bola basket TOP pisan euy.
"Kan, aku mau ngomong sama kamu" Raka menghampiri Kania yang sedang mendrible bola basket. Raka juga ikut dalam eskul Basket, itulah yang membuat Raka di sukai para siswi di sekolahnya. Karena Raka tampan, pintar dalam pelajaran, kaya, orang tuanya tapi, dan plusnya Raka juga ketua tim Basket putra. Cewek mana yang gak bakal suka sama Raka, udah paket komplit kaya gitu. Tapi Raka slalu cuek pada semua siswi yang mencoba mendekatinya. Karena dalam hatinya sudah terukir nama wanita yang ia inginkan dan impikan untuk menjadi kekasihnya.
"Emzzs... Aku suka sama kamu, kamu mau tidak jadi pacarku?" Ucap Raka, Kania langsung berhenti memainkan bolanya dan menatap Raka serius.
"Kamu beneran nembak aku? Atau mau ngasih kejutan ke aku perihal kemenangan lomba basketku nanti?" Belum juga mulai lombanya, udah yakin bakalan menang aja.
"Bener. Kamu mau kan?" Tanya Raka lagi.
__ADS_1
Terima gak ya? Gak di terima, kasian anak orang. Kalo nanti bunuh diri gimana? Terus aku di santet karena nolak cintanya, kek mana?
Di terima, tapi aku udah punya suami yang ganteng dan kaya nya gak abis tuju turunan. Tolak aja deh. Tapi, alasannya apa? Masak bilang kalo aku udah bersuami? Apa kata mbah Marijan nantinya?
"Rak, aku sebenernya suka juga sama kamu tapi suka sebagai seorang sahabat gak lebih dan gak kurang, pokoknya pas deh takarannya. Jadi maaf aku gak bisa terima cinta kamu. Tapi, kita bisa tetep deket kok. Kamu boleh terus jajanin aku makanan, aku rela kok, gak nolak malahan hehe"
"Tapi Kan, aku mau hubungan kita lebih dari sahabat? Dan aku janji bakal penuhi semua keinginan kamu, kamu mau jajan apa aja, aku bakal beliin kok. Mau ya jadi pacarku?" Raka memegang tangan Kania dan mulai memaksa Kania agar mau menjadi kekasihnya.
Dihh, di kira aku gak kuat jajan pake duit sendiri apa?! Orang suamiku aja tajir sampe keplintir, mau beli aja juga bisa, gak perlu minta ke kamu!
"Ya kan emang hubungan kita udah lebih dari sahabat," Kania mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Raka, "Kita ini sahabat, teman baik, teman latihan dan teman bank ku yang selalu jajanin aku" Kania memilih menjawab Raka dengan sedikit senyum dan candaan, walau tangannya rasanya ingin menimpuk kepala Raka dengan bola Basket, karena sudah memaksanya menjadi kekasihnya pake iming-iming bakal ngejajanin lagi. Ia tidak mau persahabatan yang sudah bertahun-tahun hancur karena masalah cinta tertolak.
"Tapi Kania..."
"Aku pulang dulu ya, udah mau maghrib nih. Takut bokap sama nyokap khawatir anak imutnya gak pulang-pulang, babay Raka" Kania melambaikan tangannya, meninggalkan Raka yang diam mematung, memandangi Kania yang semakin jauh dari pandangannya.
"Duhh gak jadi naik ojek gratis deh, ngapa Raka pake nembak segala sih, udah tau aku cuma anggap dia sahabat. Udah sore begini mana ada angkot yang lewat. Mana lupa bawa hp lagi, mau pesen ojek online pake cara apa coba? Mata batin?
Mata buatku mengatakan aku bakalan pulang jalan kaki nih, aahh" Gerutunya sambil menendang botol untuk meluapkan emosinya.
"Awww" sahut seseorang.
__ADS_1
"Sial!" Sepertinya tendangan Kania mengenai kepala seseorang.
Bersambung...