My Kinyis-kinyis Wife

My Kinyis-kinyis Wife
15. Di Jemput


__ADS_3

"Awas saja nanti kalo bertemu, akan aku beri pelajaran gadis itu" ucap Kevin dengan emosi yang berjalan keluar dari kantor menuju mobilnya.


Kevin menaiki mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi karena itu merupakan salah satu aktivitas yang dapat meredakan sedikit emosinya, Kevin menyetir mobilnya menuju ke arah sekolah Kania. Entah apa yang membawa Kevin ke sekolah Kania.


Bel yang ditunggu semua siswa, yakni bel pulang sekolah telah berbunyi menandakan jika seluruh pelajaran telah selesai dan waktunya semua siswa pulang ke rumah masing-masing.


"Kan, kamu setiap hari melakukannya?" tanya Kinanthi dengan penuh tanda tanya membuat Kania mengeryitkan dahi tidak mengerti.


"Maksudnya?" tanyanya.


"Apa saat kamu berangkat menuju sekolah kamu selalu mengamen terlebih dulu?" Kinanthi bertanya dengan jelas pada Kania.


"Mana sempat aku, Orang bangunku saja tidak pernah pagi.


Mengapa kamu bertanya seperti itu? Kamu pikir papa dan mamaku sudah tidak mampu membiayaiku lagi hingga aku harus mengamen!"


"Hehehe kali aja gitu. Habisnya uangmu 2 ribu banyak banget jadi aku pikir kamu habis ngamen." jelasnya dengan gamblang tanpa merasa bersalah.


"Memangnya kalo duit 2 ribuannya ada banyak pertanda dari hasil mengamen apa! Terus kalo duitnya seratus ribuan kaya kamu dari hasil apa dong? Gula Ayah haa!" balas Kirana dengan ngegas tepat di telinga Kiranthi.


"Woyy santai dong! Kania aja biasa aja, situ kok ngegas." balas Kiranthi yang tidak kalah ngegasnya.


"Diam! Kalian ini selalu saja bertengkar tidak jelas dan sialnya telingaku yang jadi korban dari suara cempreng kalian." bentak Kania kepada kedua sahabatnya. Kiranti dan Kirana akhirnya diam dan kembali melanjutkan perjalanannya.


Apa ini karma dariMu karena aku sudah menghina Om Kevin suamiku dan sekarang aku di hina oleh sahabatku sebagai pengamen.


Mereka bertiga sudah sampai di depan gerbang sekolah mereka, tapi saat Kirana dan Kiranthi menunggu jemputan sopir, mereka melihat pria tampan mengenakan jas yang sama dengan warna mobil mewahnya sehingga menambah aura ketampanannya. Kevin sedang berdiri dan memperhatikan Kania yang tengah sibuk dengan ponselnya.



"Kania, lihatlah calon suamiku datang untuk menjemputku" ucap Kirana sambil menyenggol lengan Kania, dengan kekagumannya ia memperhatikan Kevin tanpa berkedip.


"Enak saja! Dia itu mau menculikku dan membawaku ke KUA" khayal Kinanthi yang tidak terima Kirana mengakui Kevin sebagai calon suaminya.

__ADS_1


Kania yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya dengan wajah yang kusut, setelah lengannya di senggol Kirana dan akhirnya ia ikut melihat ke arah mata sahabatnya.


Seketika wajah kusutnya berubah menjadi senyuman cerah terukir di wajah Kania.


Berhasil, yes.


Flashback


Setelah selesai jajan di kantin dan sudah berada di dalam kelas. Kania menulis pesan via WhatApp kepada seseorang menggunakan ponselnya.


[Ma, uang Kania habis karena tiba-tiba bendahara kelas menagih uang kas Kania yang sudah berhari-hari belum Kania bayar. Jadi Kania akan pulang agak terlambat karena Kania harus berjalan kaki nantinya.]


Lina langsung menelpon Kania setelah melihat pesan darinya, Kania yang melihat mama mertuanya menelpon langsung keluar kelas dan mengangkat panggilan dari Lina, "Hallo, Kania sayang kamu jangan jalan kaki nanti mama akan menyuruh Kevin supaya menjemputmu jadi kamu tunggu di gerbang sekolahmu saja, oke!" ucap Lina yang langsung berbicara kepada Kania melalui ponsel.


Kania tersenyum penuh kemenangan mendengar perkataan ibu mertuanya, "Tidak ma, kasihan mas Kevinnya." jawab Kania yang pura-pura menolak.


"Tidak! Pokoknya kamu nanti tunggu Kevin di depan gerbang untuk menjemputmu." ucap Lina yang mengakhiri panggilannya.


Kania senang akhirnya rencananya agar Kevin menjemputnya terwujud, meski ia harus kehilangan uangnya untuk melunasi utang kasnya tapi tidak apa. Sebab karena kejadian penagihan uang kaslah ia mendapatkan ide supaya Kevin menjemputnya.


***


Di saat kedua temannya hanya bisa menatap Kevin dari kejauhan, Kania dengan berani mendekati Kevin. Kedua sahabatnya hanya saling melemparkan pandangannya, melihat Kania dengan mendekati Kevin.


Keduanya mengikuti Kania di belakangnya, "Kamu kenal sama Om tampan ini?" tanya Kirana pada Kania di hadapan Kevin.


"Tentu saja kenal. Dia itu su__" ucapnya terhenti.


"Su siapa?" tanya Kinanthi penasaran.


"Supir aku. Ah iya dia ini supir yang di kirim papa buat jemput aku." jelasnya, Kania langsung melihat wajah Kevin yang merah menahan amarah saat dirinya menyebutnya sebagai supirnya.


"Non ayo kita pulang." kata supir Kinanthi yang tiba-tiba datang menghampirinya.

__ADS_1


"Bapak antar Kania sahabat aku aja, biar aku pulang sama Om supir tampan ini" katanya sambil terus menatap Kevin penuh kekaguman.


"Gak bisa! Aku gak setuju, kita tukeran supir." tolak Kania dengan tegas.


"Ayo pak kita pergi sekarang aja, keburu bapak di curi sama mbak-mbak Kunthi ini" sambungnya sambil melotot ke arah Kinanthi dan masuk ke dalam mobil, tapi Kevin masih belum masuk juga ke dalam mobil hingga membuat Kania harus membunyikan klakson mobilnya.


Kevin melajukan mobilnya tapi di tengah jalan, ia tiba-tiba menepikan mobilnya di tepi jalan.


"Kok berhenti Om? Ada yang ketinggalan ya? Kan, Kania separuh raga dan nyawa Om sudah ada disini." tanya Kania dan ia jawab sendiri pula.


Kevin langsung mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Kania, "Berani sekali kamu memanggilku supirmu haa! Dan kamu juga yang sudah menyuruh mama agar aku mau menjemputmu 'kan!" katanya dengan nada yang menakutkan. Tapi bukanya merasa takut Kania malah terus menatap Kevin yang menurutnya terlihat lebih tampan saat sedang marah.


"Om makin mempesona deh, kalo sedang marah dengan posisi nerkam aku kaya gini" ucapnya sambil tersenyum, membuat Kevin seperti tidak memiliki rasa menakutkannya bagi Kania. Padahal ia adalah seorang CEO perusahaan yang di takuti semua karyawannya.


Kevin akhirnya kembali ke tempat duduknya dan kembali menyetir mobilnya karena merasa gagal membuat Kania takut kepadanya.


"Om, katanya gak sudi buat jemput aku, kok jadinya ngejemput sih. Pasti Om kangen ya sama aku? Tapi sayang aku gak bisa balas rasa kangen Om, soalnya nanti kalo udah kangen Kania takut jadi ketagihan." ucapnya yang memecah keheningan di mobil.


Kevin tak bergeming sedikitpun, ia tetap fokus menyetir memandang ke arah depan dengan wajah datar tanpa ekspresi seperti patung.


"Om besok Kania jemput lagi ya" pintanya dengan tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya sambil menatap Kevin.


Derttt... Ponsel Kevin berdering tapi Kevin tidak mengangkatnya karena terlalu fokus dengan pikirannya sendiri hingga tidak mendengar ponselnya yang berdering.


"Om, ada yang nelpon tuh" Kevin masih tidak mendengar omongan Kania, "Ommm ada telpon!" teriak Kania membuat Kevin kaget dan sadar.


"Iya hallo"


"Hallo Kev, kamu kesini sekarang. Ada klien penting yang ingin bertemu denganmu sekarang juga." jelas Boy.


"Tapi ini sudah sore, bilang pada kliennya untuk bertemu besok saja."


"Tidak bisa. Klien ini ingim bertemu sekarang juga dan jika kamu tidak mau, dia akan membatalkan kerja samanya dengan perusahaan kita." jelas Boy, Kevin langsung memutar balikkan arah mobilnya untuk menuju ke perusahaannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2