
Salman dan Sinta berkunjung ke rumah Lina untuk membahas masalah pernikahan kedua anaknya.
"Bagaimana dengan putri kalian, apakah dia mau di nikahkan dengan putraku?" tanya Lina dengan sangat antusias.
"Iya, anak kami mau menikah dengan putramu." jawab Sinta.
"Benarkah itu?" tutur Lina yang masih belum percaya, Salman dan Sinta menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Tapi nanti tolong kamu jaga dan sayangi anakku seperti kamu menyanyangi anak kandungmu sendiri" pinta Sinta pada Lina sambil memegang tangan Lina.
"Tentu saja, aku akan menyayangi menantuku seperti anakku sendiri, apalagi menantuku itu putri sahabat baikku" jelas Lina yang membuat hati Sinta lega.
"Terima kasih" ucap Sinta kepada Lina dan di balas senyuman hangat oleh Lina.
Lina begitu sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan melihat putranya yang sudah tua itu akan segera menikah dan juga akan memiliki menantu yang bisa menjadi temannya saat berada di rumahnya.
"Bagaimana kalau dua hari lagi kita adakan acara pernikahannya." ucap Lina yang sangking senangnya ingin segera melihat putranya menikah, membuat Salman dan Sinta terkejut di buatnya.
"Tapi Lin, apa itu tidak terlalu cepat, kami tidak akan bisa menyiapkan persiapannya hanya dalam waktu dua hari, apalagi melihat kondisi keuangan kelurga kami" kata Salman yang mengutarakan isi hatinya.
"Kalian tidak perlu cemas dan merasa khawatir, aku akan mengurus semuanya.
Yang terpenting kedua anak kita sudah setuju dan menerima pernikahan ini, bukankah itu yang lebih penting sekarang" jelasnya yang menyakinkan Salman dan Sinta agar tidak perlu merasa cemas.
***
Dita menceritakan semuanya kepada Kania adiknya, bahwa ia di paksa oleh papanya untuk menikah dengan anaknya tante Lina.
"Papa menyuruhku untuk menikah dengan anaknya tante Lina, hiks." katanya yang masih menangis.
"What... mengapa papa memaksa kakak menikah dengan anaknya tante Lina, kakak kan tidak mengenalnya, bagaimana bisa menikah."
"Tante Lina mau membantu perusahaan papa tapi dengan syarat aku harus menikah dengan anaknya" jelas Dita.
"Lantas kakak menerimanya atau tidak?"
"Tentu saja menerimanya, aku tidak ingin perusahaan papa bangkrut dan kita semua tinggal di jalanan"
"Tapi bagaimana dengan hubungan kakak dan kak Dito, kakak juga berhak bahagia bersama pria pilihan kakak, bukan?"
"Mau bagaimana lagi, kakak akan menjelaskan semuanya pada Dito, agar ia bisa mengikhlaskan kakak menikah dengan pria lain dan aku juga berharap Dito bisa mencari wanita yang lebih baik dari aku" ucap Dita yang berharap supaya Dito bisa menerima jika hubungannya akan putus, Kania hanya bisa memeluk dan menenangkan kakaknya.
__ADS_1
***
"Kevin" ucap Lina yang memanggil Kevin yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Ada apa ma" jawab Kevin yang menghentikan aktivitasnya bermain ponsel.
"Kemarilah, duduk di sebelah mama" katanya sambil memukul sofa di sebelahnya.
Kevin pun menuruti keinginan Lina untuk duduk di sebelahnya tapi saat Kevin hendak duduk di sisi mamanya, papanya dengan gesit mendudukinya terlebih dulu.
"Minggirlah pa, mama ingin bicara dengan Kevin" katanya sambil mendorong suaminya agar pindah ke sofa yang lain.
"Bicara tidak harus duduk dekat-dekatan seperti itu, mama cukup bicara di sini dan Kevin pasti akan mendengarnya, memangnya dia itu tuli hingga saat mama ingin bicara dengannya harus bersebelahan" ucap Anggara dengan sinis.
"Baiklah kemari Kevin" ucap Lina yang pindah di sofa lain dan meyuruh Kevin untuk segera duduk di sebelahnya.
Kevin langsung duduk di sisi ibunya, "Mama mau ngomong apa sama Kevin."
"Minggir kamu anak tua, itu tempatku" tutur Salman yang mengusir Kevin duduk di samping Lina.
"Tidak bisa, aku yang duduk terlebih dulu disini"
"Tidak mau" jawab Anggara dengan tegas.
"Kalau papa tidak mau duduk, jangan harap nanti malam papa bisa tidur bersama mama" kata Lina yang mengancam Anggara, Anggara langsung duduk tanpa membalas perkataan Lina.
"Kevin, pernikahanmu akan di lakukan dua hari lagi" ucap Lina yang membuat anak dan suaminya kaget.
"Haaa, bagaimana bisa secepat itu, mama bilang kita harus bertemu dan berbicara terlebih dulu baru kami akan menikah, mengapa jadi dua hari lagi pernikahannya" kata Kevin.
"Iya ma, bagaimana kita bisa menyiapkan semuanya dalam waktu dua hari" ucap Anggara yang juga merasa kaget dengan penuturan istrinya.
"Untuk Kevin, mama ingin kamu segera menikah dan hidup bahagia.
Dan papa, kita ini 0rang kaya, banyak uang jadi kita sewa orang saja untuk mengurus semuanya, lagipula nanti kita mengundang kerabat dekat saja, jadi persiapannya akan lebih sedikit juga cepat" jelas Lina dengan mudahnya.
"Ah iya benar juga, kita kan kaya raya bahkan sampai 17 turunan harta kita tidak akan habis" kata Anggara yang menyetujui perkataan istrinya.
"Tapi ma, ini terlalu__"
"Tidak ada tapi-tapian pokoknya dua hari lagi kamu akan menikah dan mama akan memiliki menantu"
__ADS_1
"Sekarang waktunya istirahat sudah malam" ucap Lina yang melenggang pergi di ikuti Anggara di belakangnya.
"Selamat, sebentar lagi kau akan melepas status jomblo tuamu dan segera tidurlah calon pengantin baru" bisik Anggara yang mengejek anaknya.
***
Di rumah, Sinta dan Salman bingung bagaimana mereka menjelaskan pada Dita tentang rencana pernikahannya yang akan di laksanakan dua hari dari sekarang.
"Pah, bagaimana caranya kita mengatakan pada Dita bahwa pernikahannya akan di laksanakan dua hari lagi" kata Lina yang bingung.
"Kita jelaskan pada Dita dengan tenang dan berdoalah semoga Dita menyetujuinya" kata Salman yang berharap nanti Dita mau menerima pernikahannya.
Salman dan Sinta masuk ke dalam kamar Dita, mereka mendapati kedua putrinya sedang tidur bersama dan saling berpelukan.
Kania terbangun karena mendengar suara pintu kamar terbuka, dan saat membuka mata ia melihat orang tuanya sedang memandanginya.
"Ehh mama papa sudah baru pulang, kalian tadi habis dari mana, mengapa baru pulang?" tanya Kania bertubi-tubi, membuat kakaknya terbangun karena terganggu dengan suaranya.
"Kami tadi habis dari rumah tante Lina" jelas Sinta menjawab pertanyaan Kania.
"Untuk apa?" tanyanya lagi.
"Untuk membahas tentang acara pernikahan kakakmu" jawab Sinta pada Kania.
"Sayang, tante Lina meminta acara pernikahan di laksanakan dua hari dari sekarang, bagaimana?" tanya Sinta pada Dita yang baru bangun.
Kania langsung menjawab pertanyaan mamanya yang tidak di peruntukkan untuknya, "Tidak bisa, bagimana kakak menikah dengan pria yang tidak ia kenal dalam waktu dua hari, setidaknya berikan waktu agak lama agar mereka bisa saling mengenal."
"Tapi ini semua kemauan tante Lina Sayang" ucap Sinta.
"Mama papa bisa menolaknya kan?"
"Kami sudah berusaha Kania" jelas Salman pada Kania.
"Aku mau ma pa." ucap Dita yang menghentikan ocehan Kania yang dari tadi berbicara.
"Tapi kak___" ucap Kania terhenti karena Dita memberi isyarat untuk tidak berbicara lagi.
"Terima kasih Sayang, kamu sudah mau menerimanya" kata Sinta sambil menampilkan senyum manis pada anaknya itu.
Bersambung
__ADS_1