
Kania menjalani harinya dengan hati yang berbunga-bunga, karena mendapat hadiah cincin baru dari suaminya. Apalagi sekarang sifat Kevin makin hari, makin romantis. Mulai dari mengantar sekolah, memberi hadiah dan yang utama uang sakunya bertambah. Membuat Kania jadi makin sayang.
Kevin berhenti didepan pintu gerbang sekolah Kania. Mengambil dompetnya. "Ini buat kamu, untuk seminggu ini" Kevin menyodorkan uang lima puluh ribu pada Kania.
"Buset, yang bener aja uang selembar gini buat seminggu. Kania makan apa nanti di kantin, air putih sama gorengan?" Kania mengajukan protes sambil mengibas-kibaskan uang tadi di hadapan Kevin.
Kevin mengambil uang yang tadi Kania kibaskan di hadapannya dan memasukkannya lagi kedalam dompetnya. "Kalau tidak mau, ya sudah. Gak ada uang jajan!"
"Jangan gitu dong Mas, kejam bener sama istri sendiri. Entar kalo Kania tambah mungil karena kurang asupan, gimana? Nanti Kania gak bisa nahan Mas Kevin waktu 'hak ee hak ee' loo? Emangnya Mas mau?"
"Memangnya sejak kapan aku ikut grup dangdut?" Tanya Kevin yang begitu polos, tak mengerti bahasa samaran Kania yang selalu terdengar aneh.
__ADS_1
"Iihh bukan dangdutan Mas, tapi buat anak. Posisinya kan Kania dibawah, Mas Kevin atas, kalo Kania makin mungil otomatis Kania gal bisa nah--"
"Sudah-sudah, ini uang jajanmu, untuk hari ini. Sana masuk kelas!" Kevin menyela omongan Kania dan menutup mulut Kania menggunakan uang lima puluh ribu tadi, agar Kania berhenti bicara tentang hal yang vulgar.
"Wahh makasih Mas. Ini baru suami Kania yang kaya dan gantengnya gak nanggung. Mau minta kecupan, ciuman biasa atau ciuman panas perpisahan dari Kania, gak?" Kevin menolak tawaran Kania yang menggiaurkan dengan sebuah gelengan kepala.
"Bener? Kania gak ngasih tawaran kedua lohh" Kania berusaha menggoyahkan hati Kevin tapi Kevin tetap tidak mau.
"Dasar sok jual mahal!" Kania keluar dari mobil dan membanting pintu dengan keras, meluapkan segala emosinya.
Kania terus menerus mengoceh, merutuki suaminya yang selalu menolak ditawari ciuman darinya. Kalau di pikir-pikir Kevin hebat karena bisa menahan hasratnya untuk tidak menikam Kania. Padahal sudah jelas Kania selalu berusaha untuk membangunkan jiwa kelelakian Kevin. "Kenapa Mas Kevin selalu saja menolak tubuh Kania, apa tubuh Kania kurang seksi? Kurang bahenol? Ahh gak, orang tubuhku udah kaya potokopiannya Lady Gaga. Kania tahu Mas tidak mau menyetubuhi Kania sekarang karena tidak ingin Kania hamil saat masih SMA tapi minimal cium kek tiap hari. Masa cium juga di batasi sebulan dapat ciuman sekali. Itu ciuman atau bayar cicilan!" Aura kekesalan menutupi tubuhnya, Kania menendang botol yang tergeletak di jalan dan tanpa sengaja terkena salah satu siswa.
__ADS_1
Adaww... teriak siswi yang terkena tendangan Kania. Siswi tersebut menghampiri Kania sedangkan Kania merasa tak asing dengan siswi tersebut.
"Ehh cewek jadi-jadian, berani banget kamu nendang botol ke arahku!" Siswi itu mendorong Kania. Kania terkejut bukan karena dorongan siswi tersebut tapi karena siswi yang mendorongnya adalah ketua tim basket SMA N 3 Cikeduk yang waktu itu bertanding basket dengannya. Dan yang menambah keterkejutannya adalah siswi itu mengenakan seragam sekolah Kania.
"Kamu ngapain disini pakai seragam sekolahku lagi! Sana pergi, hus hus" Kania mengusir Jesika, ketua tim basket putri yang kalah dalam bertanding dengan timnya. Kania mengusir Jesika layaknya mengusir ayam tetangga yang nangkring di teras rumah.
Jesika sontak menyingkirkan tangan Kania dengan kasar. "Aku sekolah disini, memangnya kenapa?" Tegasnya. Kania membelalakkan mata, kaget. Bagaimana bisa siswi sekolah lain bisa pindah begitu saja di sekolahnya secepat ini? Dan apa alasan dari Jesika pindah ke sekolahnya. Pikir Kania. Berbagai anggapan serta pertanyaan timbul dan mengambang dalam kepala Kania.
"Ak--" baru juga Kania ingin membalas pertanyaan yang terlontar dari Jesika sianida, bel masuk berbunyi dan mengharuskan Kania untuk meninggalkan Jesika dengan rasa kekesalannya. "Tunggu ya Jesika sianida, urusan kita belum kelar!" Kania berlari menuju ruang kelasnya, kebetulan jam pertama adalah pelajarannya pak Botak, guru yang mentoleransi murid yang terlambat masuk kelas. Apapun alasannya.
Bersambung...
__ADS_1