My Kinyis-kinyis Wife

My Kinyis-kinyis Wife
14. Kesialan


__ADS_3

"Males banget pelajaran Ekonomi, pelajaran ngitung uang tapi kagak ada uangnya. Coba aja ada uang aslinya pasti semangat aku walau yang ngajar udah tua, tinggal tulang-tulangnya dan jelek pula kaya pak Bagus. Namanya aja Bagus tapi tampangnya jauh di bawah KKM nilai Ekonomiku." ucap Kinanthi dengan lemas rasanya ia ingin sekali pergi ke toilet agar terhindar dari pelajaran membosankan Ekonomi yang akan segera di mulai.


"Ehh Kunthi, sembarangan kalo bicara walaupun begitu pak Bagus itu guru kita, tidak boleh kamu menghinanya seperti itu." nasehat Kania pada Kinanthi meskipun ia juga tidak menyukai pelajaran pak Bagus tapi ia tidak pernah menghinanya, palingan cuma mengerjainya dan nyontek jawaban pas dapat tugas dari pelajarannya saja.


"Bener tu kata Kania. Pantes aja kamu be*o, gurumu kamu hina jadi gak masuk deh tuh ilmu." kata Kirana.


"Enak aja bilang aku be*o, emang kalian paham apa kalo pak Bagus menjelaskan materinya?" ucap Kinanthi dengan nada ngegas karena di katai be*o.


"Gak juga sih hehe, habisnya pak Bagus kalo menjelaskan materi menjalar kemana-mana." ucap Kania, memang pak Bagus jika menerangkan materi tidak pernah jelas, seperti di dongengkan bukan di ajari menghitung uang gaib, pak Bagus selalu menjelaskan tentang dirinya, keluarganya dan cerita masa mudanya dulu yang sering di tolak cewek karena tampangnya.


"Tumben pak Bagus belum masuk padahal tadikan sudah ada bel masuk?" tanya Kania pada kedua sahabatnya.


"Yaelah segitu kangennya kamu sama tu guru sampai kamu mengharapkan kehadirannya, atau jangan-jangan sekarang tipe cowokmu sekarang yang matang kaya pak Bagus gitu ya?" ejek Kinanthi.


"Enak saja! masih banyak cowok yang mau sama aku termasuk gebetanmu Raka itu yang selalu ngejar-ngejar aku, untuk apa aku suka yang tua dan sudah beranak serta beristri seperti pak Bagus." balasnya dengan sinis.


Di saat Kania bertanya, di saat itu juga Kirana membuka ponselnya dan melihat pesan dari pak Bagus jika ia tidak bisa mengampu pelajaran hari ini karena sedang tidak enak badan.


"Eh lihat aku dapat pesan dari pak Bagus, dia bilang gak bisa ngajar karena sakit dan dia ngasih tugas di buku paket halaman 35" ucap Kirana yang memberitahukan isi pesan pak Bagus.


Kinanthi senang bukan main, ia langsung teriak histeris dan bergerak kesana kemari seperti ulat bulu, "Yeah pak Bagus tidak berangkat." katanya sambil bergoyang-goyang.


Kirana bermain ponselnya, mengupload foto dirinya yang baru saja ia lakukan saat jam kosongnya pak Bagus.


"Danang, nanti kalo kamu sudah menjawab semua soal dari pak Bagus, aku pinjam bukumu ya?"


"Iya Kan" jawab Danang pada Kania, Danang adalah siswa sekelas Kania, dia pendiam tapi memiliki otak yang pintar, dia selalu di bully temannya dan Kania yang selalu menolongnya dari teman kurang ajarnya. Danang menyukai Kania tapi ia tidak berani mengungkapkan perasaannya, ia lebih memilih menuruti semua perintah Kania kepadanya sebagai tanda terima kasihnya atau mungkin tanda cintanya.


"Makasih nang," balasnya sambil menepuk pundaknya, Kania memilih tidur di meja yang di atasnya tepat ada ACnya daripada seperti temannya yang bermain-main tidak jelas.


***


"Ciee... pengantin baru, di tekuk aja ni muka. Gak dapat jatah ya tadi malam sama istri kecilnya?" tanya Boy yang menggoda bosnya sekaligus sahabatnya Kevin.

__ADS_1


Boy adalah teman Kevin sejak masa kuliah dulu, Boy bekerja di perusahaan Anggara Company sebagai asisten Kevin. Kevin sudah menganggap Boy sebagi orang kepercayaannya.


"Diam kamu!" balasnya dengan raut wajah yang kesal.


Ini sih valid semalam gak dapat jatah makanya paginya berontak.


"Woii santai dong bos. Sekarang ceritain apa yang sebenarnya terjadi, aku sebagai sahabat baikmu pasti akan mendengarkannya dengan baik dan kalo bisa aku bakal mencarikan solusi untuk masalahmu itu." ucap Boy yang menenangkan Kevin.


Kevin menceritakan semua kejadian tadi pagi yang membuatnya merasa kesal dari mulai dirinya yang di permalukan masalah 'jatah' di hadapan orang tuanya sampai dirinya di katai pengemis dan yang paling parah ia harus mengantarkan sekolah sang biang keroknya, akar masalahnya yang tidak lain adalah Kania.


Boy bukanya memberikan solusi untuk masalahnya dan menenangkannya, malah terus menertawakan Kevin tanpa henti.


"Kau seorang CEO di permalukan seorang gadis kecil yang tak lain istrimu sendiri di hadapan orang tuamu dan kau hanya bisa diam dan menurutinya saja hahaha"


"Diam kamu! kalau kamu tidak berhenti tertawa aku pecat kamu" ancam Kevin yang ampuh membuat Boy terdiam tak lagi tertawa, "Kalo bukan karena mama sudah aku buang gadis pembawa masalah itu." kata Kevin yang berapi-api membayangkan semua perlakuan Kania terhadapnya.


"Benar bos, beri pelajaran saja istri muda bos, biar kapok dan tidak berani macam-macam lagi tapi pelajaran yang bikin nagih saja bos" saran Boy yang masih tetap mengejek Kevin secara halus.


"Kamu sudah bangun Kan?" tanya Kinanthi yang melihat Kania terbangun.


"Menurut ngana? udah tau mataku udah melek gini pake nanya!" sinis Kania.


"Ke kantin yuk, bentar lagi bel istirahat sebelum kantinnya penuh kita kesana duluan." ajak Kirana dan di setujui oleh kedua sahabatnya.


"Kuy lah."


Geng KIRANTHI menuju ke kantin untuk makan lebih dulu, sebelum ada banyak siswa yang jajan dan jadinya rame seperti orang demo yang minta naik gaji. Tapi di tengah perjalanan menuju kantin secara tidak sengaja mereka bertemu dengan pak Sugi.


"Ehh tunggu!" ucap Kiranthi yang menghentikan kedua sahabatnya.


"Ada apa?" balas Kania dan Kirana.


"Nohh ada bapak kalian yang nongkrong di kantin mana ngapelin ibu Imah lagi" ucap Kiranthi yang menunjuk ke arah pak Sugi yang sedang ngapelin bu Imah.

__ADS_1


"Wahh kalo gini kita gak jadi mbadog dong"


ucap Kania, mereka memutuskan kembali ke kelas karena takut pak Sugi akan memarahinya. Tapi langkah mereka terhenti karena pak Sugi meneriaki memanggil nama mereka.


"Hei kalian bertiga kemari!"


"Kita ketahuan nih, gimana ini?" tanya Kirana yang bingung harus bagaimana.


"Tenang, ada Kania disini" kata Kiranthi dengan santainya yang mengandalkan Kania.


"Enak saja kamu ngandelin aku, kita kesana bareng dan hadapi bersama-sama."


Mereka bertiga datang menuju pak Sugi yang sudah siap memarahi dan memberi ceramah pada mereka, "Kalian darimana, pasti mau jajan ya!" ucap pak Sugi yang bertanya namun menggunakan nada bentakan.


"Enggak kok pak, kami tadi mau ke kamar mandi." jelas Kiranthi yang memberi alasan.


"Kunthi... kalo cari alasan yang masuk akal dikit, arah kamar mandi itu berlawanan dengan arah kantin." bisik Kirana yang memarahi Kiranthi.


"Kalian pikir saya bod*h, jelas-jelas kalian menuju kesini, pakai ngeles segala, sana kalian menghadap Kepala Sekolah biar dapat hukuman dan tidak jajan di jam pelajaran lagi" suruhnya yang mendorong ketiganya ke ruang Kepala Sekolah.


"Bukannya bapak hari ini ada jam di kelas 12 IPS 3 ya, kok bapak malah di kantin. Udah gitu ngapelin bu Imah lagi." kata Kania yang tiba-tiba mengatakan hal tersebut karena lewat begitu saja di otaknya.


"Karena kita murid yang baik, gimana kalo nanti kita aduin pak Sugi sekalian saja, gimana guys?" ucap Kinanthi yang ikut melancarkan rencana sahabatnya.


Pak Sugi langsung melepaskan tangannya yang memegang punggung ketiga muridnya dan mulai merasa gugup, "Baik_lah kalian kembalilah ke kelas dan kembali ke kantin saat jam istirahat."


"Tapi kurang 5 menit pak belnya, gimana kalo sekalian kita ke kantin" tawar Kania.


"Kembali ke kelas!" sentaknya, bukanya kembali mereka malah ngumpet.


"Enak juga ya punya guru yang belum punya istri di usianya yang udah tua, bisa di akalin haha" bisik Kinanthi yang berada di tempat persembunyiannya, menunggu bel istirahat berbunyi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2