
Hari pernikahan yang tidak di tunggu-tunggu oleh kedua calon mempelai namun sangat di tunggu oleh Lina akhirnya tiba, semua persiapan sudah di siapkan oleh Lina, keluarga Salman tinggal terima beres.
Di kamar Dita sudah di rias oleh tukang rias profesional, Dita terlihat sangat cantik bak princess yang ada di dongeng.
"Wow kak kau keliatan begitu sangat cantik, pantas saja aku keliatan cantik ternyata itu gen dari kakak." kata Kania yang mendekat dan memeluk Dita yang sedang di rias.
"Kamu ini pintar sekali menggombal, belajar dari mana kamu?"
"Entalah, itu semua muncul sendiri dari dalam diriku, mungkin di jiwaku ini sudah ditakdirkan menjadi seorang playgirls."
"Dasar, jangan pernah mempermainkan perasaan pria lain nanti kamu bisa terkena karma, bisa saja nanti kamu yang bakal di permainkan oleh pria" ucap Dita yang menanggapi perkataan Kania dengan serius.
"Ahh kakak, aku kan hanya bercanda, mengapa kau menganggapnya serius. Aku saja tidak pernah pacaran bagaimana bisa aku menyakiti hati pria." ucapnya sambil cemberut.
"Kania... kemari bantu mama" teriak Sinta memanggil Kania yang sedang berada di kamar Dita.
"Iya maa, sebentar, kak aku turun dulu ya daaa" ucap Kania pergi dari kamar Dita dan datang menemui mamanya.
"Mbak berapa lama lagi riasannya akan selesai?" tanya Dita pada tukang rias.
"15 menit lagi akan segera selesai" jelasnya.
***
"Pah, mama sudah keliatan cantik tidak memakai gaun ini?" tanya Lina yang pada suaminya.
"Mama terlihat cantik mengenakan pakaian apapun itu."
"Makasih pa" ucapnya yang tersipu malu.
"Apalagi saat mama tidak mengenakan pakaian, kecantikan mama bertambah 1000 persen" sambung Anggara dengan berbisik di telinga Lina.
" Ehemm... Ma ayo turun bersamaku, semuanya sudah siap. Jangan terus-terusan berduaan bersama papa nanti mama bisa terkena pandangan buruk" ucap Kevin yang tiba-tiba ada di depan pintu dan mengganggu papanya yang sedang menggoda Lina.
__ADS_1
"Ayo kalau begitu kita turun dan datang ke rumah calon menantu" ajak Lina sembari menggandeng Kevin untuk turun.
"Dasar jomblo tua, mengganggu kegiatanku saja" gumam Anggara yang merasa kesal.
Keluarga Anggara ahirnya berjalan menuju ke rumah Salman untuk melaksanakan pernikahan Kevin dengan Dita.
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini Kev?" tanya Lina di dalam mobil.
"Apa jika aku bilang tidak bahagia pernikahan ini akan batal?" ucap Kevin yang malah memberi pertanyaan pada mamanya.
"Kev, mama hanya ingin yang terbaik untukmu, mama tidak ingin kamu menjadi jomblo tua seperti kata papamu, mama ingin kamu bahagia dengan istri serta anakmu kelak.
Jika nanti papa dan mama sudah tidak ada, ada yang mengurusi dan mendampingimu dengan tulus." tutur Lina yang malah menumbuhkan perasaan sedih dalam diri Kevin.
"Iya ma, Kevin mengerti kok. Kevin tahu mama melakukan ini semua untuk kebaikan dan kebahagiaan hidup Kevin jadi mama tidak usah bersedih lagi" ucapnya sambil menghapus air mata Lina dan akhirnya memeluknya.
"Sudah cukup berpelukannya, sebentar lagi kita akan sampai" ucap Anggara yang duduk di depan sendiri bersama supir.
"Hilih, Iri Bilang Bos!" ucap Kevin dengan ngegas.
***
"Sudah cukup, sekarang panggilkan kakakmu, sepertinya keluarga sang pria sebentar lagi akan datang" kata Sinta yang menyuruh Kania memanggil Dita.
"Baiklah"
Ceklek... Kania membuka pintu kamar Dita, dan di kamar Kania tidak mendapati tanda-tanda keberadaan kakaknya bahkan Kania mendapati gaun pernikahan kakaknya di atas ranjang.
"Kenapa kak Dita belum memakai gaunnya, padahap sebentar lagi acaranya akan segera di mulai" gumam Kania sambil memegang gaun pernikahan kakaknya.
"Kak Dita, kak kakak dimana. Apa kakak sedang di kamar mandi?" ucapnya yang mengecek kamar mandi namun di kamar mandi juga tidak ada.
"Di kamar mandi tidak ada, di teras juga tidak ada, kemana sih sebenarnya kak Dita berada?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil duduk di kursi rias karena bingung mencari keberadaan kakaknya.
__ADS_1
"Apa ini?" Kania menemukan kertas di atas meja rias kakaknya dan membukanya, saat sudah membukanya dan mengetahui isi suratnya Kania langsung turun mencari keberadaan papa dan mamanya.
Di bawah papa dan mamanya sedang menyambut keluarga pengantin pria yang sudah datang.
"Selamat datang, tuan Anggara, Lina dan calon menantuku Kevin" sapa Anggara sambil bersalaman dan terrsenyum.
"Terima kasih, tapi kau tidak perlu seformal itu kepadaku, panggil saja namaku tanpa embel-embel tuan, karena sebentar lagi kita akan menjadi besan bukan?" tutur Anggara dengan sangat sopan.
Di tempatnya Kania bingung mesti mengatakan bagaimana kepada orang tuanya jika kakaknya kabur dan meninggalkan surat, "Ma mama kemarilah" panggil Kania dari kejauhan, awalnya Sinta ingin menolak sebab para tamu sudah datang tapi Sinta terpaksa meninggalkan para tamu dan datang ke arah Kania.
"Ada apa?"
"Kak Dita kabur, dia menulisnya di dalam surat ini" katanya sambil memberikan suratnya.
"Ma, pa maaf Dita tidak bisa membantu mama dan papa untuk menolong perusahaan papa yang sedang bangkrut karena Dita tidak bisa menikah dengan pria yang tidak Dita kenal, Dita sudah memiliki pacaf dan Dita menyukainya, Dita hanya akan menikah dengan pacar Dita, sekali lagi maaf ma, pa." Sinta membaca surat yang di tulis oleh Dita dan Sinta begitu terkejut.
"Bagaimana ini, semua persiapam sudah di siapkan, para tamu undangan juga sudah datang bahkan keluarga mempelai pria sudah datang" ucap Sinta yang bingung mesti berbuat apa.
Akhirnya Sinta memberitahukan tentang kaburnya Dita dan surat yang di tulis oleh Dita kepada suaminya, "Anak kurang ajar, mengapa dia mesti kabur, mengapa tidak bilang dari awal jika ia tidak ingin menikah dengan anaknya Lina, mengapa saat semuanya sudah siap dia malah kabur" teriak Salman yang emosi setelah membaca surat yang di tulis Dita.
"Sekarang bagaimana pa, keluarga mempelai pria sudah datang, apa kita bicara sejujurnya saja jika Dita kabur?" tutur Sinta yang mencoba memberikan solusi untuk masalah.
"Jangan ma, kalau kita memberitahukan kepada mereka, keluarga kita juga keluarga Lina bisa malu karena pernikahannya batal dan mereka pasti akan sangat membenci keluarga kita" ucap Salman yang menolak saran dari Sinta.
"Lantas kita harus bagaimana pa?" ucap Sinta yang merasa bingung.
"Tuan, nyonya penghulu sudah datang dan katanya pernikahan siap untuk di mulai" ucap pelayan.
"Pah bagaimana ini?" Sinta terus saja bertanya pada suaminya padahal Salman juga tidak memiliki jawabannya.
"Kania" panggil Salman.
"Iya pa,"
__ADS_1
"Maukah kamu menggantikan posisi kakakmu untuk menikahi anaknya Lina?" ucap Salman yang membuat Sinta terutama Kania syok.
Bersambung......