My Kinyis-kinyis Wife

My Kinyis-kinyis Wife
33. Hadiah


__ADS_3

Karena kemenangannya, Kania pulang di sambut hangat oleh Lina dan Anggara. Kania senang mertuanya menyayanginya, bahkan menyayanginya melebihi anak mereka sendiri.


"Selamat ya Kania sayang. Anak mama memang hebat, mama bangga sama kamu" ucap Lina pada Kania yang baru saja sampai di rumah. Lina menemui Kania lalu memeluknya.


"Makasih ma. Ini semua berkat semangat dari Mas Kevin, coba aja kalau Mas Kevin gak datang, pasti Kania udah kalah" puji Kania, Kevin jadi salah tingkah saat Kania memuji dirinya dihadapan orang tuanya.


"Tapi itu juga karena skill Kania di bola basket, ya kali, tidak punya skill basket, terus cuma gara-gara di semangatin bisa menang. Menang dari Hongkong!" Tutur Anggara seperti tidak terima jika anaknya di bangga-banggakan oleh menantunya.


"Dihh IRI BILANG BOS! Yuk, kita ke kamar saja, aku ada kejutan untuk kamu" setelah mengatai papanya, Kevin mengajak Kania ke kamar. Kevin meninggalkan papanya, dalam kekesalan. Kevin yang biasanya membalas ejekan Anggara sekarang jadi cuek bebek. Kevin ingin memberikan hadiah pada Kania atas kemenangannya. Apakah hadiahnya berupa malam pertama yang akan terkenang dalam hidup Kania? Atau apa, hanya Tuhan dan Kevin yang tahu.


Kania tentu girang, saat Kevin mengatakan akan memberinya hadiah. Pikiran mesumnya sudah menjalar hingga Sabang sampai ujung Merauke. Mulai dari ciuman panas seperti di drakor yang ia tonton sampai malam pertama yang bikin ranjangnya basah kuyup.


Di dalam kamar Kania sudah duduk manis sambil tersenyum kegirangan, menanti hadiah yang akan Kevin berikan padanya.


"Mas, sekarang aja ngasih hadiahnya. Mau Kania bukain bajunya sekarang?"


Kevin menonyor dahi Kania yang selalu berpikiran mesum, "Siapa yang bilang mau ngasih hadiah seperti itu. Dasar, makanya nonton film sesuai umur, usiamu itu cocoknya nonton Upin & Ipin. Bukan malah nonton drama yang banyak adegan po*nonya!"


Kania kecewa berat karena hadiah yang ia harapkan ternyata bukan yang akan Kevin berikan padanya. Tapi tidak apa, Kania tetap menginginkan hadiah yang akan Kevin berikan padanya. Mau itu rumah tiga tingkat, mobil sport atau perjakaannya.


"Terus apa dong hadiahnya?"


"Mandi dulu sana, badan kamu bau comberan!" Kevin mengendus-endus aroma badan Kania setelah itu menutup hidungnya dengan ekpresi yang terlihat seperti benar jika aroma tubuh Kania sangat bau.


Kania melepas satu persatu pakaian yang menutupi tubuhnya, di hadapan Kevin. Kevin awalnya biasa saja karena mengira Kania hanya melepas pakaian luarnya saja. Tapi bukan Kania namanya jika tidak membuat Kevin was-was.

__ADS_1


"Hei bocah gemblung, buka celana kolor sama pakaian dalam mu di kamar mandi! Kamu mau bikin aku khilaf ya?!" Tutur Kevin, Kevin menghentikan Kania yang ingin membuka semua pakaiannya.


"Mas Kevin pernah bilang kalau tubuh Kania gak menggoda karena rata kaya jalan tol. Jadi ngapain Mas pake khilaf segala. Atau jangan-jangan sekarang tubuh Kania udah aduhai, seperti Maria Ozawa atau Lady Gaga, Mas?" Kania bertanya sambil tersenyum bahkan sampai mengedipkan mata genitnya.


"Sapu lidi! Gak menggoda dan kecil semua!" Kania emosi tubuh moleknya di katai seperti sapu lidi oleh Kevin. Kania langsung masuk ke kamar mandi, menutup pintu dengan keras. Hingga membuat kaget tapi juga senyum-senyum sendiri.


"Duuhh istri bocilku, gemes banget. Bisa aja bikin hatiku goyang dumang" gumamnya sambil menatap pintu kamar mandi.


Kevin duduk di atas ranjang menunggu Kania yang sedari tadi mandi tapi tak kunjung keluar. Kevin sudah menyiapkan hadiah untuk Kania atas kemenangannya lomba basket tadi. Sebenarnya Kevin ingin memberikan hadiah untuk Kania, bukan sebagai hadiah menang lombanya. Tapi karena Kania menang lomba, jadi Kevin bilang aja jika itu hadiahnya menang lomba haha.


"Mas... Mas Kevin!" Teriak Kania didalam kamar mandi. Membuyarkan lamunan Kevin. Kevin langsung masuk ke kamar mandi saat Kania meneriaki namanya. Kevin takut terjadi sesuatu pada Kania.


"Ada apa?" Tanyanya khawatir.


"Tolong kaitkan tali BH Kania dong" pintanya membelakangi Kevin sambil berusaha mengaitkan tali branya. Kevin membuang nafas kasar, tenaganya berlari karena khawatir terbuang sia-sia.


"Kalau Kania bisa sendiri, ngapain Kania minta tolong sama Mas Kevin! Cepetan Kania udah kedinginan nih. Memangnya Mas Kevin mau tanggung jawab peluk Kania, kalau Kania kedinginan?" Kevin akhirnya mengalah, mendekat dan mengaitkan tali bra Kania. Daripada ia harus bertarung dengan nafsunya karena memeluk Kania?


Ini punggung atau ubin masjid? Mulus bener, gak ada panunya lagi.


"Cepetan Mas, malah ngalamun. Iya Kania tahu punggung Kania mulus, ini juga milik Mas kok." Kevin tersadar dari lamunannya dan melepaskan bra Kania yang sudah selesai Kevin kaitkan.


Setelah selesai mengenakan pakaian Kania di minta Kevin duduk di ranjang sambil memejamkan mata. Ala-ala ftv yang ada di televisi begitu. Sedangkan Kevin mengambil hadiahnya.


"Sekarang udah boleh buka baju belum?" Kevin bingung dengan pertanyaan Kania, buka baju? Apa hubungannya woy.

__ADS_1


"Buka mata maksud Kania hehe" sambungnya. Kevin hanya bergumam sambil menggeleng.


"Udah, buka mata kamu" ucap Kevin. Kania melihat Kevin sudah berada di hadapannya sambil membawa cincin berlian yang indah.


Kania hanya bengong menatap haru dengan mata yang berkaca-kaca. Kevin memakaikan cincinnya di jari manis Kania. Adegan tersebut hanya di film-film. Nyatanya, Kania langsung menyomot cincin yang ada di tangan Kevin dan memakainya sendiri. Kevin melihat cincinnya yang dah terpasang di jari manis Kania. Apakah pas atau tidak.



Kevin memberikan cincin pada Kania sebagai ganti dari cincin nikahnya yang jatuh hilang di laut saat mereka bulan madu.


"Waah bagus banget Mas, makasih ya" Kania memeluk Kevin dengan perasaan bahagia. Kevin menerima pelukan Kania dengan lapang dada.


"Iya sama-sama"


"Tapi nanggung Mas, masa beliinnya cincin doang. Gelang, kalung sama antingnya juga dong" ucap Kania sambil menatap cincinnya, setelah melepas pelukannya. Seketika senyum sumringah Kevin berganti dengan wajah masam dan kesal. Kevin mengambil nafas dalam-dalam untuk meredam rasa kesalnya.


Ini bocah tengik dikasih malah ngelunjak, untung istri kalo orang lain udah aku blesepin biar tambah kecil!


"Ya sudah, kapan-kapan kita pergi bersama mencari pelengkap cincinnya. Dan kamu bisa milih sesukamu" Kevin memilih menanggapi permintaan Kania dengan santai. Daripada merusak momen indah dan bahagianya dengan pertengkaran. Walau pertengkaran bagi keduanya hal biasa, tetap saja merusak kebahagian meski hanya sebentar.


Cup... sekilas Kania mencium bibir Kevin dengan wajah kegirangan sedangkan Kevin diam mematung antara senang dan kaget menjadi satu sampai akhirnya jadi seperti stroke.


"Mas! Diem bae. Mau nambah lagi?" Kevin mengangguk tapi tidak lama menggeleng. Hati serta anggota tubuh nya tidak sinkron. Hati mengatakan mau tapi anggota tubuhnya tidak.


"Tidak!" Bantah Kevin, tapi dengan kepala mengangguk. Kania tertawa melihat tingkah suaminya yang menggemaskan itu. Tidak mau tapi mengangguk. Benar-benar aneh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2