My Life To Be Boy

My Life To Be Boy
sekolah


__ADS_3

"Hey, emang ada anak baru ya?"


"Kayaknya engga de. Lagian dia kayak udah familiar gitu sama kelas kita"


"Tapi aku ga pernah liat tu"


"Anak baru kali"


Begitulah suara bisik bisik di dalam kelas. Sedangkan empunya cuek bebek tak peduli ibarat dunia sendiri. Yang lain debu.. ck mukanya rese kek minta di pukul. Untung ganteng..

__ADS_1


"Eh eh. Tapi mukanya aga mirip si pengecut itu ga si?" Kata seorang menjadikan hening berapa saat dan memandang intens wajah sang empu yang di bicarakan. Siapa lagi kalau bukan Kim Darel..


Tatapan tajam mereka bagaikan belati, sangat menganggu. Tapi apalah daya dianya gak peduli sama sekali. Hanya di anggap angin berhenbus membawa beberapa butir debu melayang mengikuti arah angin menghembus sampai angin tak dapat membawanya lagi. ck jadi kemana mana nih kek penggosip kebanyakan micin. awas lidah kesleo.


Lama lama Darel mulai risih. Coba saja. Kelas sekejap menjadi hening gegara 1 kalimat dari seseorang. Mereka berbincang dengan pikiran masing masing, tapi juga tetap memandang pusat perhatian mereka dengan intens yang sangat mengganggu. Tapi herannya sang empunya hanya sedikiy terusik. Itupun di tanggapi dengan deheman saja sambil membolak baik lembar demi lembar buku yang sangat tebal dan penuh dengan huruf yang lebih dari 1 trilyun kata di tangannya. Tampak jelas kalau itu sebuah kamus bahasa..


Merasa sang empu cuek cuek saja, membuat beberapa dari mereka sebal sendiri. Sungguh. Apalagi para kaum laki yang merasa tersaingi. Sudah cukup pengecut tampan itu yang jadi saingan berat. Jangan laki tampan. Keren pulak. Bagimana mereka bisa memenangkan hati sang pujaan hati. Kalau dari tampang saja kalah. Pasti bakalan sulit. Dan makin sulit saja..


Guru itu menerangkan pelajaran sambil berjalan mengelilingi kelas. Sampai tepat di depan bangku yang di duduki Darel. Yah Darel tak menyalahkan guru itu misalnya pangling padanya. Itu hal yang wajar saat tiba tiba orang berubah kan? Apalagi memang hampir semua dari kim Darel berubah. Kecuali beberapa hal..

__ADS_1


"Hey. Kamu murid baru?"


"Bukan pak. Saya Kim Darel"


"Owalah pecundang itu toh. Kamu beda banget."


"Huh.. pak. Saya memang pecundang, terus kalian pemberani gitu? Anda ini guru. Dan guru itu panutan pelajar. Kalo anda mengundang saya dengan tidak sopan. Jangan salahkan saya kalau mengundang nama bapak sesuka saya. Ini bisa saya tuntut loh. Walaupun hanya kalian anggap ini lelucon pun. Tak pantas seorang guru mengatakan hal seperti itu di depan muridnya. Jangan harap saya sopan pada anda. Kalaupun anda bersikap layaknya penindas besar" kata Darel penuh penekanan. sebenarnya Darel sudah cukup geram dengan perilaku guru itu sebelumnya. harusnya dia belajar tata krama lagi dong.


Darel pun bangkit seraya menatap tajam pada guru tersebut tanpa takut sedikit pun dan keluar kelas dengan rasa kesal merasa tak di hargai sebagai manusia. Memang sih itu tak salah. Tapi apa salahnya menjadi pecundang. Toh itu tak akan merugikan orang lain.. Tapi orang yang merasa pemberani itu justru makin merusak kepercayaan diri si pecundang dengan menindas. Sebenarnya mereka sendiri lebih rendah dari si pecundang.. sebenarnya disini siapa yang lebih buruk?

__ADS_1


Darel keluar kelas mencari tempat yang dapat menenangkan emosinya. Apalagi sebelumnya dia adalah seorang perempuan yang akan menjadi galak setiap bulannya. Dan sekarang pun sikap meledak ledaknya bisa saja terjadi. Eh tapi ngomong ngomong laki tidak dapet tamu tiap bulan deng ya?..


Sedangkan di kelas sedang ricuh akibat tindakan Darel yang tergolong berani. Di tambah guru yang diam mematung dalam masa mencerna kata kata Darel yang uwah.. menurutnya. Bahkan sampai tak menyadari kalau Darel sudah keluar dari kelas. Butuh waktu untuk mencerna, barulah ia sadar setelah selesai mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Darel. Guru itu hendak membalas kara kata Darel tapi orangnya sudah tak di hadapannya. Kelas pun tetap berlanjut tanpa darel di kelas.


__ADS_2