My Life To Be Boy

My Life To Be Boy
darel


__ADS_3

Pernahkah kalian berjalan di antara hujan gerimis yang turun namun tak satupun mengenaimu? Sama halnya seperti darel. Banyak petunjuk ingatan nya yang muncul lewat mimpinya. Namun setelah bangun dari mimpi, ingatan itu pun langsung hilang semua.


2 tahun darel koma di rumah sakit. Dan sesuai kata dokter. Darel bangun dengan keadaan buta dan hilang ingatan. Bahkan selama koma, darel tidak luput dari sentuhan maut.


Bukan hanya sekali dua kali darel tiba tiba drob. Bahkan tiba tiba terkena racun yang entah dari mana asalnya. Sampai membuat john harus mengerahkan para mafioso miliknya, barulah darel bisa mendapatkan kenyamanan dalam masa koma. Namun maut tetap menyentuh darel walaupun sudah di jaga dan di rawat dengan ketat.


3 kali darel hampir merenggang nyawa dan harus masuk ke ruang operasi. Pertama karena terlena racun, kedua dan ke tiga, darel mengalami jantung yang berhenti berdetak.


Untung john sudah membawa darel ke rs rekomendasi dari dokter sebelumnya. Jika ini semua terjadi di korea yang peralatannya masih minim, entahlah mungkin darel sudah akan pergi bersama maut. Dan sesuai kata dokter itu, mungkin john akan meminta pertanggung jawaban dengan dokter yang merawat darel. Atau mungkin lebih dari itu.

__ADS_1


Di sisi darel yang koma dan berulang kali mengalami maut. Di sisi dara, alias jiwa yang tinggal di tubuh darel selama ini sedang terdiam di alam bawah sadarnya yang seperti dalam kubangan kegelapan tak berujung.


Bukannya dara tidak mau bergerak. Hanya saja dia tidak bisa bergerak, tidak merasakan tubuhnya. Dan hanya bisa melihat kegelapan tiada ujung itu. Namun perlahan sebuah ingatan yang berwujud seperti layar serfer setipis kaca muncul di hadapannya. Menapakkan sebuah gambaran seperti partikel partikel kecil yang saling bertumpuk. Namun lama kelamaan mulai tampak lah sebuah gambar.


"Aku ingin bermain dengan mu." ujar gadis kecil bermata belok dan rambut yang di potong bross(ini bener kah tulisnya gitu?)


"Ta..tapi kata o..rang aku a..anak pembawa sial. Kamu tidak takut?" ujar pria kecil berusia 7 tahun itu. Mereka sedang bermain di taman rumah sakit.


"Ta..tapi mereka bilang aku anak pembawa sial. Ay..ah dan ibu bahkan tidak per..nah mau ma..in bersamaku. Ha..hanya ada bibi pembantu di rumah kami. Me..reka ja..hat." Ujar darel dengan merunduk takut dan cara bicara yang seperti orang cegukan.

__ADS_1


"Seberapa jahat mereka itu tetap orang tua kamu. Jika mereka jahat padamu. Kelak jadilah orang tua yang baik, agar anak anak mu tidak merasakan penderitaan mu ini"gadis kecil itu sudah begitu paham dan mudah mengerti apa yang di rasakan pria kecil di hadapannya. Tubuh mereka terlihat sama. Namun sebenarnya usia gadis kecil itu sudah menginjak 13 tahun. Ya dia memiliki kelainan di tubuhnya.


"Bo..bolehkah kita berteman?" tanya laki laki kecil itu dengan binar mata berharap.


"Tentu saja. Kau harus memanggil ku kak ... . Aku lebih besar dari mu tau. Dan suatu saat nanti, aku juga akan tumbuh lebih tinggi dan cantik dari kakak itu" ujar gadis kecil itu sambil menunjuk ke seorang suster muda yang sedang mengamati mereka dengan mata tajam dari kejauhan.


Singkat cerita...


"Tolong.. tolong lepaskan aku. Siapapun tolong aku" teriak gadis kecil itu sambil berontak di tangan suster muda yang memakai masker. Dia juga suster yang di tunjuk nya tadi.

__ADS_1


Lelaki kecil itu mengejar dan berusaha menolong teman baru nya. Namun dia kalah tubuh dan tenaga. Tubuhnya langsung mental dengan satu tendangan. Dan layar kembali menunjukkan partikel partikel kecil yang bertumpuk.


"Kumohon ja..jangan ba..wa..dia" dara berusaha berteriak namun tidak ada tenaga dan suara sekecil apapun yang keluar dari mulutnya. Dara sudah berderai air mata namun tak membasahi sedikitpun wajahnya. Dara seperti terikat dan terkunci semua indra nya kecuali mata dan hati nya. Lalu semuanya kembali menjadi gelap dan tenang.


__ADS_2