My Little Girl Frind

My Little Girl Frind
Darah


__ADS_3

Jangan teriak pas baca_-


Kiki aja yang nulisnya langsung guling guling :v


Bagi kalian yang suka like and komen, Kiki suka:)


#MyLittleGirlFriend


#MLGF


Episode 19





"Capek?"tanya Kairi pada Umika, saat mereka sudah keluar kelas.


"Capek banget"


"Capek, tapi senyumnya lebar banget"ucap Kairi.


"Biar tetep cantik"Kairi terkekeh geli, lalu mencubit pipi Umika.


"Mau eskrim?"tawar Kairi.


"Mau! beliin yang banyak ya"


"Emang siapa yang mau beliin? orang gw cuma nawarin. Sana beli sendiri"canda Kairi.


Umika mengercutkan bibirnya kesa "Dasar PHP"


"PHP apaan sih? dikira jamannya anak SMP pas PDKT? di PHPin mulu"


"Kairi curhat?"tanya Umika.


"Lah? Siapa yang curhat pinter?! itu cuma perumpamaan"


"Enggak peduli. Pokoknya traktir eskrim, gak mau tau! tadi Kairi nawarin, jadi Umika anggap itu sebagai janji yang belum ditepati"


Kairi tertawa "Kalau dibeliin mau dikasih apa?"


"Kok minta imbalan? sama aja Umika beli sendiri donk"


Kairi mengedikan bahunya acuh lalu menunjuk pipinya, Umika mengeryit binggung "Apa?"


"Cium"


"Gak mau! malu tau"


"Malu kenapa coba?" orang di mobil cuma ada kita berdua"memang sedari tadi mereka sudah ada di mobil, mungkin efek dari obrolan yang panjang.


"Sama aja"


"Katanya mau eskrim yang banyak"


Umika menghembuskan nafasnya "Tutup matanya"titahnya.


Kairi menutup matanya, ia terkekeh geli. Lucu juga gadis ini, masa hanya mencium pipi ia harus tutup mata??


"Jangan buka matanya loh"peringat Umika.


"Iya iya"balas Kairi.


Umika mencium pipi Kairi, saar hendak melepaskan ciumannya tangan Kairi menahan kepala Umika. Kairi menoleh ke arah Umika dan mempertemukan bibir mereka. Ia mencium Umika tak lama memang, tapi cukup untuk membuat Umiia malu.


"Kairi kok curang sih?!"teriak Umika spontan, Kairi tertawa geli saat melihat ekspresi Umika.


"Enak. Mau lago donk"goda Kairi.


"Pukul nih?!"ancam Umika sambil mengangkat kepalan tangannya.


"


"Pake malu malu segala. Waktu ulang tahun kamu, kita juga ciuman bukan?? lebih lama malah"


"Kairi jangan diingetin! Umika malu"


Kairi tertawa ngakak, ia sangat senang melihat ekspresi Umika.


"Lagi ya?"


"KAIRIIIII!!!!"


*****


"Kairi"panggil Umika, Kairi hanya berdehem sebagai jawaban.


"Liat sini"titah Umika, Kairi menurut dan melihat ke arah Umika.


"Ngapain sih?"tanya Kairi terkekeh geli.


"Lucu gak?"Umika mengangguk namun bibirnya tetap tersenyum.


"Gak. Jelek malah"


Umika mengercutkan bibirnya "Bisa banget boonnya" Dengus Umika "bosen Kairii"lanjutnya.


"Terus?"


"Gak peka banget sih. Ajak jalan kek atau apa gitu"sungut Umika.


Kairi tertawa "Jadi pengen diajak jalan nih?"


"Tau ah"


"Jangan ngambek gitu ah. Udah siap siap sana! kita jalan"

__ADS_1


"Bener?"mata Umika berbinar senang.


Kairi mengangguk "Iya. Jalan doank kan? deket apart aja jalan jalannya, sekalian olahraga"


"Kalau gitu doank, Umika bisa sendiri Kairi!"protes Umika.


Kairi tertawa karena bisa menjahili Umika "Iya iya tau, udah sana siap siap! katanya mau jalan jalan"kekeh Kairi.


"Ntar Kairi bohongin Umika lagi"


"Enggak sayang, beneran kok"


"Bener?"Kairi mengangguk meyakinkan. Akhirnya, Umika pergi ke kamarnya dengan perasaan yang sangat senang. Ia menganti bajunya dengan outfit santai yang cocok untuk keluar.


"Yukk!"ajak Umika bersemangat saat ia sudah siap.


"Cantik"ujar Kairi sambil mengusap pucuk kepala Umika.


"Ciee blushingg"goda Kairi saat melihat pipi Umika yang memerah.


*****


"Kemana dulu?"tanya Kairi saat mereka sudah berada di loby mall.


"Timezone yuk? pengen main main"


"Bocah dasar"


"Ngatain itu mulu"sebal Umika.


"Eh iya? Bukan bocah ya? lagian mana ada bocah berani ciuman"goda Kairi.


"Ih Kairiii"Umika memukul lengan Kairi, sedangkan Kairi tertawa puas.


"Iya deh iya. Jangan marah marah terus, ntar cepet tua"Kairi merangkul bahu Umika, ia menuntunya menuju timezone.


"Gak sadar diri. Orang Kairi yang bikin Umika kesel"gerutu Umika.


"Main apa dulu?"tanya Kairi saat mereka sampai dan sudah membeli kartu timezone.


"Basket dulu deh"Umika menarik tangan Kairi dengan semangat.


Umika terus memasukan bola basket pada ring yang sudah disediakan. Dari sekian banyaknya lemparan, ia hanya memasukan dua. Miris.


"Cupu ah, cuma masuk beberapa doank. Sini aku ajarin"Kairi berdiri dibelakang Umika, memegang tangan Umika, menuntunnya agar tidak salah lemparan. Dan, memang Kairi handal bermain basket bolanya masuk terus.


"Gitu aja gak bisa"ejek Kairi sombong.


"Sombong amat"cibir Umika.


Mereka mencoba banyak game. Untuk yang terakhir, Umika menantang Kairi untuk mengambil bola dengan penjepit.


"Kalau Kairi bisa, Umika bakal traktir Kairi"tawar Umika.


"Apaan? traktir doank, aku bisa beli sendiri. Yang lain deh hadiahnya"


Kairi menunjukan smirknya. Umika memutar bola matanya malas, pasalnya ia sudah tau apa yang akan Kairi minta.


"Gak mau ya! pokoknya Umika gak mau!"tolak Umika sebelum Kairi berucap.


"Emang kamu tau, aku mau apa?"


"Ck, pikiran Kairi pasti gak jauh jauh dari hal yang dewasa"


Kairi tertawa keras mendengar ucapan Umika "Denger kamu ngomong hal dewasa, kesannya aku kaya penjahat kelamin banget"


"Emang"


"Cium doank bukan hal dewasa kali ah"


"Dan bukan hal bocah"balas Umika.


Kairi tertawa dan mengacak gemas rambut Umika "Pinternya"kekeh Kairi.


"Udah ah, gak jadi main ini. Cari makan aja yuk! laper nih"ucap Umika.


"Bener gak jadi?"Kairi menaik turunkan alisnya mengoda.


"Kairi udah ih, jangan gitu. Umika geli tau"Umika menarik tangan Kairi masuk kedalam salah satu toko yang berada di dalam mall tersebut.


Mereka masuk kedalam toko pizza yang ada di dalam mall tersebut, Umika sangat menginginkannya.


"Kairi"


"Hm"


"Lucu ya"


"Apaan?"binggung Kairi.


Umika terkekeh geli "Lucu aja. Dulu Kairi manggilnya Lo-gue, bukan Aku-kamu kaya sekarang. Sebenernya Umika pengen ketawa, tapi sayang moment nya sweet banget. Gak tega mau ngancurin hehe"kekeh Umika.


Kairi ikut terkekeh.


S


K


I


p


*****


Peringatan ⚠️


Terdapat beberapa adegan dan perkataan kasar, jadi harap bijak dalam memilih bacaan.


"Kenapa berhenti?"tanya Umika. Mobil yang mereka tumpangi tiba tiba berhenti. Padahal jarak mereka untuk ke apartement masih jauh.

__ADS_1


Kairi mencoba menyalakan mesin mobil, lalu melihat ke bensi. Habis ternyata "Bensinnya kok habis ya? perasaan tadi pas berangkat full. Yakali bensinnya bocor"


"Kairi lupa kali"


"Enggak Mik, aku yakin banget tadi sebelum berangkat aku liat dulu dan masih full"balas Kairi. Kairi membuka jendela kaca mobil, memperhatikan jalan sekitar siapa tau ada penjual bensin. Tapi, ternyata jalan ini sangat sepi. Mungkin karena malam yang semakin larut.


"Ck, mana sepi lagi. Aku telfon Noel atau Banjou dulu ya"Kairi mengambil ponselnya. Orang yang pertama ia hubungi adalag Noel, lama memang menunggu anak itu untuk mengangkatnya namun akhirnya panggilan tersebut diangkat oleh Noel.


#ViaTelfon_On


[Kenapa?]


[Lo dimana?]


[Cafe, sama Banjou juga. Kenapa?]


[Gw minta tolong donk. Bensin gw habis, jalan juga sepi banget]


[Bego dipelihara. Cek dulu bensin kek. Lo dijalan mana?]


[Ck, nanti gw jelasin. Pokoknya sekarang lo kesini, gw ada dijalan xxx. Jangan lama lama! Kasian Umika udah ngantuk]


[Iya iya. Otw langsung]


#ViaTelfon_Off


"Gimana?"tanya Umika langsung saat Kaiei sudah selesai menelfon.


"Noel udah otw. Kamu tidur aja, kasian mata kamu udah ngantuk gitu. Nanti kalau udah sampe aku bangunin"Kairi mengelus pucuk kepala Umika.


Umika menggeleng "Umika mau nunggu Kairi aja, kasian kalau Kairi nunggu sendiri"Kairi tersenyum, senang karena Umika sangat perhatian kepada dirinya.


Kairi menoleh kedepan saat terdapat sorot silau sepeda motor, dari kejauhan Kairi mengira bahwa itu Noel dan Banjou. Tapi, jika dipikir Noel dan Banjou tidak akan secepat itu. Pemilik motor itu berhenti di hadapan mobil Kairi, Kairi baru sadar. Tidak hanya satu motor, melainkan empat orang dengan dua motor.


Kairi terus memperhatikan mereka, perasaanya tidak enak. Mereka mulai berjalan mendekat ke arah mobil Kairi.


"Keluar lo!"suruh salah satu orang itu sambil mengedor kaca mobil Kairi.


"Keluar gak?!"ucapnya lagi.


"Kairi, mereka siapa?"tanya Umika takut.


"Kamu disini aja, jangan keluar oke? pokoknya jangan keluar"ucap Kairi menenangkan.


"Kairi juga gak usah keluar, disini aja. Biarin aja mereka"tahan Umika sambil memegang tangan Kairi yang hendak keluar.


"Kamu tenang aja. Aku cuma bakal nanya ada apa sama mereka. Gak bakal terjadi apa apa. Jangan takut"Kairi mengusap kepala Umika, lalu perlahan membuka pintu mobil.


"Ada apa?"tanya Kairi saat sudah berhadapan dengan empat orang tersebut. 'Mereka adalah preman'pikir Kairi saat melihat penampilan mereka.


Tanpa adanya balasan dari mereka tiba tiba satu pukulan hampir mengenai Kairi. Untungnya, Kairi sadar akan hal itu, cepat cepat ia menghindar.


"Lo semua mau apa?!! jangan maen keroyokan gini!!"


"Halah bacot!"


Kairi tidak bisa menghindar lagi, ia hanya bisa melawan para preman tersebut yang terus melayangkan pukulan kepadanya. Satu lawan empat, bukankan tidak sepadan? Kairi sempat tersungkur saat satu bogeman mendarat di rahangnya. Darah segar mengalir di ujung bibirnya.


Kairi sibuk dengan tiga preman yang ia lawan. Ia melupakan satu preman lagi, satu preman ini berniat memukul Kairi dari belakang. Umika yang melihat itu, reflek keluar mobil. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong preman itu sampai tersungkur ke tanah.


Mendengar ada yang terjatuh, langsung menoleh ke belakang. Sialnya itu, membuatnya menjadi lengah. Preman lain memanfaatkan kondisi tersebut dengan terus memukul Kairi. Sedangkan preman yang didorong oleh Umika tadi, menghampiri Umika lalu mencengkram leher Umika dengan keras. Umika ingin berteriak, namun suaranya seolah menghilang. Cengkraman preman tersebut sangat kuat, membuat nafas Umika menjadi sesak.


Saat Kairi hendak menolong Umika, kedua tangannya dicengkal oleh dua preman lainnya.


‌"AMBIL APAPUN ASAL JANGAN CEWEK GW BANGSAT!"


‌"LEPASIN DIA! LO SEMUA URUSANNYA SAMA GW! LEPASIN DIA DASAR BANCI"murka Kairi.


Prema yang sedang mencengkram leher Umika, tersenyum sinis. Ia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam sakunya. Mata Kairi terbelalak, sedangkan Umika?? jangan tanya lagi, wajahnya sudah penuh dengan air mata, ia sangat takut. Sungguh.


‌"BANGSAT LEPASIN DIA SIALAN!"


"Lo mau ucapin dia selamat tinggal?"tawar preman yang sedang mencengkram leher Umika.


‌"BRENGSEK LO SEMUA! LEPASIN DIA SIALAN!"


"Sayangnya gw gak mau"ucap preman itu santai. Ia memainkan pisaunya, menempelkannya di pipi Umika bergerak seolah sedang melukis abstrak. Umika memejamkan matanya, ia tidak berani melihat hal sangat tidak diinginkannya. Ia terus saja menangis.


"Jangan nangis donk cantik. Mending lo ucapin selamat tinggal sama cowok lo yang ada di sana"ucap prema itu.


"Sialan"desis prema itu saat melihat cahaya mobil yang sangat cepat menuju ke arah mereka. Tanpa membuang waktu, ia langsung menancapkan pisau itu ke perut Umika. Mata Umika terbelalak, tubuhnya menegang. Darah segar langsung mengalir deras, ia tidak bisa merasakan apa apa selain rasa sakit yang ada diperutnya.


"BRENGSEK LO SEMUA!"dengan penuh tenaga, Kairi menghempas tangan preman yang mencengkalnya. Ia menghajarnya dengan membabi buta, tenaganya yang sangat terkuras, tentu sangat mudah untuknya mendapat pukulan lagi.


Noel dan Banjou yanh baru keluar dari mobil, terbelalak kaget. Pasalnya mereka sedang melihat Kairi yang sedang memukul para preman tanpa ampun.


Kairi segera berlari ke arah Umika, preman yang tadi mencengkram Umika sudah di habisi oleh Banjou.


"Umika sayang. Sadar Mik, jangan tutup mata ya sayang. Kamu tahan ya sayang"ucap Kairi panik. Ia meletakan tangannya di perut Umika, berharap agar darahnya tidak mengalir lagi.


"Kai, cepet bawa Umika ke mobil gw. Biar Banjou yang nyetir, lo lagi kalabg kabut. Biar gw disini ngurusin nih preman sambil nelfon polisi"ucap Noel.


Kairi mengangguk, ia mengangkat Umika masuk ke mobil Noel. Ia meletakan Umika dan kursi belakang dengan pahanya sebagai bantalan kepala Umika.


"Jou, cepetan Jou. Ngebut"sentak Kairi.


"Iya ini udah ngebut. Lo jangan bikin panik"


Kairi mengenggam tangan Umika yang sudah lemas "Tahan sayang, jangan tutup mata. Bentar lagi kita sampai di rumah sakit, please hold on"ia menunduk, mencium kening Umika lembut. Tanpa izin, air matanya mengalir deras.


Ia gagal menjaga Umika.


•Author Kiki•


Gimana nih hadiah dari Kiki??


Bagus kan:)


Komen loh ya! kalau enggak Umika gak bakalan sadar (Tersenyum jahat :v)

__ADS_1


__ADS_2