My Little Girl Frind

My Little Girl Frind
Hubungan 2 Orang


__ADS_3

"Masak apa?"


Umika berjengit kaget saat menoleh ke arah suara. Ia menoleh ke sumber suara sambil mengelus dadanya.


"Kaget"ucap Umika polos.


Kairi---orang yang mengejutkan Umika hanya terkekeh geli melihat ekspresi Umika.


'Imut banget'batin Kairi.


Kairi langsung mengeleng pelan saat pikiran itu ada di otaknya.


"Masak apa?"ulang Kairi.


"Umika bikin pancake coklat. Kairi suka gak?"


"Suka"ucap Kairi sambil meletakkan ranselnya di kursi makan. Ia terlihat sangat tampan dengan hoodie yang dipakai olehnya.


"Kairi makan dulu aja, Umika mau ganti baju dulu"ucap Umika sambil meletakan pancake buatannya di depan Kairi.


Saat ingin meninggalkan meja makan, tangan Kairi menahan pergelangan tanga Umika.


"Makan dulu"ucap Kairi.


"Em tapi Umika harus siap siap dulu, biar nanti Kairi gak lama nunggunya. Nanti pancake nya bisa dibawa ke kampus kaya biasa kok"


"Makan dulu"ucap Kairi lagi


"Tapi..."


"Lo gak denger gw ngomong apa? Gw bilang lo makan dulu aja! Tenang aja gw bakal nunggu lo sampe selesai"


Umika tidak membalas lagi. Ia langsung duduk di sebelah Kairi. Dalam hati, Umika sangat senang dapat sarapan bersama Kairi. Biasanya Kairi selalu sarapan sendiri karena setelah memasak Umika langsung pergi untuk bersiap siap. Ia tidak mau Kairi menunggu lama dan berakhir dengan bentakan Kairi seperti saat itu.


"Besok buat lagi gw suka"ucap Kairi tanpa melihat Umika.


"Siap kapten!"balas Umika semangat. Rasa senangnya bertambah.


"Biar gw yang beresin, lo ganti baju sana"ucap Kairi saat mereka selesai makan.


"Gak papa?"tanya Umika ragu. Kairi hanya bergumam pelan sebagai jawaban. Umika menurut, ia berlalu menuju kamarnya. Ah sungguh, baginya ini adalah pagi yang terbaik.


Umika menganti baju santainya dengan baju yang akan dipakai ke kampus.


Setelah selesai ia langsung keluar kamar agar Kairi tidak lama menunggu.


"Udah siap?"tanya Kairi.


"Udah yuk!"ajak Umika bersemangat.


Mereka berjalan bersama menuju basement untuk mengambil mobil Kairi.


"Lo selesai jam berapa?"tanya Kairi saat mereka sudah di dalam mobil.


"Kuliahnya?"tanya Umika memastikan.


Kairi hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Sekitar jam 3 udah selesai kok, emang kenapa?"


"Ikut gw"balas Kairi singkat.


"Kemana?"


"Mall. Ada sesuatu yang harus gw beli, gw butuh bantuan lo"


Umika menoleh menghadap Kairi. Pertama kalinya Kairi berucap memerlukan bantuannya. Memang biasanya Kairi selalu menyuruh nyuruh Umika, tapi tidak pernah berkata ia memerlukan bantuan, ia hanya akan langsung menolong tanpa menggunakan kata 'Minta tolong'.


"Kenapa Kairi gak minta bantuan Tsukasa?"tanya Umika heran, jika memang ada barang yang harus ia beli kenapa ia tidak meminta bantuan Tsukasa selaku pacarnya?


"Intinya lo bisa gak bantuin gw? Kalau lo gak bisa ya gak usah!"ketus Kairi.


"Eh iya bisa kok"jawab Umika cepat. Ia tidak ingin menghancurkan mood Kairi. Umika sudah sangat senang mendapat perilakuan Kairi hari ini, jadi ia tidak ingin menghancurkannya hanya karena pertanyaan sepele.


"Gw selesai jam 4, lo tunggu di kantin atau di mana. Terserah pokoknya jangan ngilang!"


"Oke kapten"


*****


Jam sudah menunjukan pukul 4 lebih 15 menit tapi lelaki yang sedari tadi di tunggu olehnya belum menunjukan batang hidungnya sama sekali.


Umika berada di taman belakang falkultas seni, tempat biasa yang dia datangi untuk menunggu mata kuliah selanjutnya. Tempat yang lebih ia suka daripada kantin. Umika juga sudah mengirim pesan ke Kairi bahwa ia sedang berada di taman belakang falkultas, ia tidak ingin kejadian di awal masuk kuliah terjadi lagi. Saat ia belum menukar nomor ponselnya dan membuat Kairi mencari sekeliling kampus dan berakhir dengan kemarahan.


"Sorry lama. Dosennya ngaret"Umika mendongak, ia langsung tersenyum kepada Kairi. Ia memang menunggu Kairi tapi melihat kedatangan Kairi saja sudah membuat hatinya tenang. Sekiranya, Kairi tidak membohonginya dan Umika tidak sia sia menunggu Kairi.


"Gak papa"Kairi tidak mengucapkan kalimat lagi. Ia mengangguk dan langsung berlalu. Umika juga langsung mengikutinya dengan sebuah novel yang ada di genggamannya yang tadi sempat ia baca ketika menunggun kedatangan Kairi.


Kairi sangat cepat berjalan, jadi jalannya Kairi sama dengan larinya Umika.


"Lelet"ejek Kairi. Ia menoleh ke belakang dan melihat Umika. Tangannya terulur mengandeng tangan Umika, mengandengnya untuk berjalan bersisihan denganya. Tubuh Umika menegang karena dapat merasakan tangannya di gandeng oleh seorang Yano Kairi.


"Biasa aja! Gak usah tegang gitu"Umika masih saja diam tidak menjawab. Ia tidak menyangka bahwa Kairi akan mengandeng tangannya. Bahkan saat di dalam mobil pun Umika masih tetap diam. Ia menghembuskan nafas pelan. Menetralkan kegugupannya, pipinya merah saat mengingat hal tadi.


Diam diam Kairi melirik Umika, ia terkekeh geli saat melihat pipi Umika yang merah bak tomat.


*****


"Kairi mau beli apa?"tanya Umika.


Sekarang mereka sudah berada di mall. Kairi tidak ingin membuang waktu makannya ia langsung ke mall tanpa pulang terlebih dahulu ke apartement.


"Gak tau"


Umika mengeryitkan dahinya binggung.


"Terus kita ke sini buat keliling aja?"


"Ck makannya gw kesini bawa lo! Gq gak tau apa apa, bantuin gw nyari kado!"


"Kado? Buat siapa?"tanya Umika.


"Tsukasa. Bentar lagi dia ulang tahun, tapi gw gak tau harus beliin apa"


Umika menganggukan kepalanya tanda mengerti. Ia berfikir kalau Tsukasa adalah gadis yang beruntung dapat memilikki kekasih seperti Kairi.

__ADS_1


"Menurut lo gw harus beli apa?"tanya Kairi meminta saran.


"Taun kemaren Kairi ngasih hadiah apa?"


"Tas kalau gak salah. Taun kemaren gw nyuruh Noel buat nyari hadiahnya. Gw langsung ngasih kadonya tanpa repot repot membukanya terlebih dahulu. Besoknya dia bilang kalau dia suka sama tas yang gw kasih, berarti kado yang dipilih sama Noel tas kan?"jelas Kairi.


Umika tak habis fikir dengan lelaki yang meminta bantuannya ini. Sampai sampai ia meminta bantuan temannya untuk membelikan sebuah kado, padahal kado tersebut untuk kekasihnya sendiri. Dan sialnya, sekarang ia yang akan memilih kado untuk pacar sahabatnya itu.


"Kasih baju atau jam tangan aja gimana?"saran Umika.


"Baju ada deh, banyak pilihannya"


Mereka pun pergi ke salah satu toko baju yang terkenal di dalam mall tersebut. Kairi hanya mengikuti kemana Umika pergi. Ia setia dibelakang gadis itu dan membiarkan Umika memilih baju sendiri.


"Yang ini gimana?"tanya Umika sambil menunjukan salah satu flare dress yang ada di tangannya.


"Oke"ucap Kairi setuju. Ia tidak salah jika meminta pertolongan Umika. Selain mengerti barang yang di sukai oleh wanita, seleranya juga sangat tinggi.


"Pilih baju yang lo suka, anggap aja sebagai hadiah dari gw"


"Gak usah Umika ikhlas kok bantuin Kairi"


"Sok lo ah! Udah gak usah khawatir gw janji bakal bayarin, sumpah gak boong"


"Umika gak mau Kairi"ucap Umika sambil menggelengkan kepala kuat.


"Yaudah ikut gw bayar baju ini"


Karena pengunjung toko sekarang sangat ramai, jadi tidak heran jika kasir ikut ramai. Mereka jadi harus ikut mengantri.


Sambil menunggu antrian, Umika mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru toko untuk menghilangkan rasa bosan. Pandangannya berhenti pada salah satu pengunjung. Tidak bukan slaah satu pengunjung, tapi 2 orang yang berlawan jenis.


Umika memicingkan matanya guna memperkuat penglihatannya. Gadis itu. Umika mengenalnya.


Tsukasa!


Ya gadis itu adalah Tsukasa, pacar dari lelaki yang ada di sampingnya ini. Ia yakin, ia tidak salah, gadis itu benar benar Tsukasa.


Lalu apa yang dilakukan gadis itu di sini? Ah, pertanyaan bodoh! Jelas saja ia sedang berbelanja. Tapi, yang harus ditanyakan adalah siapa lelaki yang bersamanya itu? Mereka tidak terlihat seperti kakak beradik.


"Lo ngeliatin apa?"tanya Kairi tiba tiba membuyarkan lamunan Umika.


"Ah gak liat apa apa kok"jawab Umika cepat sambil melihat ke depan.


"Kairi ayo!"ajak Umika saat melihat Kairi menoleh ke belakang. Mungkin laki laki itu penasaran dengan apa yang Umika lihat. Sebuah keberuntungan memang, orang yang mengantri di depannya sudah selesai membayar jadi ia bisa mengalihkan pandangan Kairi dengan mengajaknya maju dan tidak melihat ke arah Tsukasa.


Selesai dengan urusan pembayaran, mereka langsung pergi ke parkiran. Sebelumnya Kairi mengajaknya untuk makan malam di luar, tapi Umika menolaknya dengan alasan ingin memaaak di rumah.


Selama perjalanan pulang Umika masih saja memikirkan kejadian di toko baju tadi. Ia tidak ada keinginan sama sekali untuk menceritakan apa yang ia lihat kepada Kairi, ia takut jika ia bercerita maka Kairi akan menuduhnya hanya ingin menjelek jelekan Tsukasa saja.


Mungkin karena terlalu banyak pikiran dan faktor lelah, ia tidak sadar matanya menjadi sayu, rasa kantuk mulai menyerang dan akhirnya ia tidur di dalam mobil.


'Capek banget kayanya'batin Kairi sambil menoleh ke arah Umika.


*****


Setelah sampai di apartement Kairi yang melihat Umika masih terlelap di dalam mobil tidak ingin membangunkannya. Ia mengendong Umika ala bridal style ke kamarnya dengan hati hati.

__ADS_1


Sampai di kamar Umika ia segera merebahkan tubuh mungil Umika di kasur king size miliknya dan langsung membersihkam diri.


__ADS_2