
Di sebuah Club malam yang ramai ada salah satu gadis cantik berbalut dress hitam sedang duduk di sofa dengan sedikit risih karena setiap laki-laki hidung belang yang lewat ada saja yang menggodanya, padahal dia sudah memakai baju tertutup. Gadis itu sejak tadi menunggu temannya tapi sampai sekarang temannya belum juga menunjukan batang hidungnya sama sekali.
"Sial! Aku seperti orang bodoh disini," umpat gadis itu dengan kesal, pasalnya dia baru pertama kali ke Club kalau saja bukan karna temannya yang meminta dia tidak akan mau disini.
"Veronica!" Gadis itu menoleh saat namanya di panggil. Yups, nama gadis cantik tadi adalah Veronica lebih tepatnya Veronica Jillia Verisyka.
"Shelin kau dari mana saja huh? Lama sekali," ucap Veronica dengan kesal sambil menyilangkan tangannya.
"Maafkan aku, tadi saat di perjalan ada sedikit kendala," Veronica hanya memutar bola matanya sebal.
"Ekhem," deheman seseorang membuat Veronica dan Shelin menoleh, Shelin menepuk jidatnya karna mengabaikan laki-laki di sampingnya.
"Ah iya hampir lupa, V kenalkan ini Damian James Verlando dia temanku," Veronica melihat ke arah laki-laki bernama Damian.
Tampan, itu lah satu kata yang menunjukan Damian dengan balutan tuxedo yang melekat sempurna di tubuh berototnya.
"Emm... salam kenal, aku Veronica," ucap Veronica sambil tersenyum manis dan mengulurkan tangannya
"Aku Damian," Damian menjabat tangan Veronica dengan senyuman juga.
"Yasudah ayo kita minum," ucap Shelin lalu menarik keduanya.
"Shelin kau tau aku tidak minum," ucap Veronica dengan hati-hati.
"Baiklah nanti akan ku pesankan orange juice sebaiknya kita cari ruang teman-teman kita yang lain," Veronica hanya mengangguk, mereka pun mencari ruangan itu, setelah menemukannya mereka pun segera masuk.
Saat memasuki ruangan tersebut, suara tawa menggema. Dilihatnya ada seorang wanita menari di tiang dengan lihai, Veronica hanya menatapnya risih. Dia pun meminum asal apa yang dia gapai di meja dan yang dia ambil adalah vodka.
Dia merasakan tenggorokannya hangat lalu pusing menyerang, dia pun rasanya ingin memuntahkan sesuatu, buru-buru dia berdiri sambil memegangi bibirnya.
"Aku ingin ke toilet," ucap Veronica ke Shelin, tapi Shelin sepertinya sudah mabuk, akhirnya dengan keberanian sebesar biji kacang dia keluar dari ruang VIP tadi untuk menuju kamar mandi.
"Ah sial, kenapa banyak sekali manusia disini?" Gerutu Veronica dengan suara kecil, akhirnya dia pun sampai di kamar mandi setelah melewati lautan manusia. Veronica membuka pintu kamar mandi dan...
Deg...
Veronica mematung begitu melihat ada seorang perempuan dan laki-laki sedang berciuman panas, sampai akhirnya ada yang berdehem.
"Ekhem," Veronica pun berkedip, dia pun melihat laki-laki itu, tunggu, dimana perempuan tadi?
"Kau menggangguku," Veronica menyeringit bingung, dia mengganggu apa?
"Aku?"
"Ya kau, siapa lagi selain kau disini?"
"Tapi aku mengganggu apa?" Tanya Veronica dengan wajah bingung, dia hanya sedang membuka kamar mandi dan melihat kejadian tadi.
"Dengan kau membuka pintu itu, kau sudah menggangguku."
"Tapi ini kan kamar mandi umum, siapapun bisa masuk sini," ucapnya tidak terima, laki-laki tadi tersenyum smirk, membuat Veronica merinding.
__ADS_1
"Kau harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab apa?"
"Karna kau telah mengangguku dengan jalang tadi dan kau harus menggantikannya," Veronica sontak membulatkan matanya.
Mendengar itu rasa mual yang di perutnya tiba-tiba hilang tergantikan dengan ia ingin Buang air kecil dan itu sudah di ujung.
"Kau gila?! Aku tidak mau cari saja yang lain," ucap Veronica dengan nada tinggi, sial dia sudah tidak tahan untuk buang air kecil.
"Aku maunya kau!"
"Ti-Tidak, sana jauh-jauh, aku sudah kebelet," ucap Veronica karna laki-laki tadi menghalanginya untuk masuk ke salah satu bilik kamar mandi ini.
"Aku tidak mau sebelum kau tanggung jawab," Veronica pun diam, dia mengeluarkan keringat dingin, sial dia sudah tidak tahan.
"Apa yang kau mau?" Tanya Veronica akhirnya, karna sudah tidak bisa menahan lagi.
"Aku mau kau menciumku, di dance floor," laki-laki itu berbisik sensual di telinga Veronica, Veronica membulatkan matanya lagi.
"Kau gila?! Aku malu!"
"No I'm not and I don't fucking care, so? You want? Atau kau tetap menahan buang air kecil mu?" Tanya laki-laki itu dengan senyuman mesumnya.
"Shit! Okay, tapi sekarang kau minggir, aku sudah tidak tahan."
Laki-laki tadi tersenyum menang dan menggeser tubuhnya memberi jalan untuk Veronica, "As you wish princess."
"Tunggu," pinta Veronica, laki-laki tadi berhenti melangkah.
"Ahmm... setidaknya sebutkan namamu."
"Aku? Aku Dimian Edward Althaf," Veronica mengangguk, laki-lami bernama Dimian tadi pun kembali menariknya.
"Namaku...." saat Veronica ingin menyebutkan namanya tapi sudah terlebih dulu di potong oleh Dimian.
"Veronica Jillia Verisyka, right?"
"How did you know?"
"I know everything about you V," Veronica hanya terdiam, mereka pun sampai di dance floor, Dimian diam dan menunggu Veronica.
"Ayo cepat cium aku," Veronica hanya diam, dia sedang berusaha agar jangung tidak melompat.
Veronica memajukan wajahnya, pelan, pelan, pelan tapi pasti, Veronica menutup matanya, jantungnya tentu sudah melompat-lomoat, Dimian yang menunggu lama, akhirnya memajukan bibirnya dan...
CUP
Saat Veronica ingn melepaskannya, Dimian menahan tengkuk leher Veronica dan memperdalam ciuman mereka, tapi Veronica yang memang baru pertama kali hanya diam kaku.
"Balas aku V," bisik Dimian karna Veronica tidak membalas Dimian.
__ADS_1
"Aku ti-tidak tau caranya."
"Just follow me," Veronica hanya mengsngguk dan mulai mengikuti Dimian, mereka pun terbuai, paparazzi memotret mereka dengan blitz dan membuat mereka langsung sadar.
"Ah sangat tepat waktu paparazzi itu, tapi kita harus pergi," ucap Dimian lalu menggenggam tangan Veronica lalu sedikit berlari untuk menjauh dari paparazzi.
"Mereka paparazzi? Kenapa mereka mengambil foto kita? Apa nanti kita akan ada di televisi?" Tanya Veronica dengan wajah panik, tentu saja dia panik bagaimana jika wajahnya benar di televisi
"Mungkin," ucap Dimian dengan santai, itu membuat Veronica curiga.
"Kau sengaja?!"
"Bisa di bilang begitu, aku memang sengaja menjebakmu, dan aku yakin di stasiun televisi manapun akan ada kau dan aku, ah iya, kau sekarang tunanganku, jadi jangan berdekatan dengan laki-laki lain, aku tidak suka milikku di sentuh atau bahkan di lirik siapapun, mengerti?" Ucap Dimian seraya mengelus pipi mulus Veronica yang membuat Veronica seketika merinding.
"Ka-kau gila, tunangan? Aku tidak mau."
"Aku tidak menerima penolakan sayang," ucapnya dengan senyuman miring.
"Kau tidak bisa memaksaku."
"Tentu aku bisa sayang, lebih baik kau tidur di kamar sini,?sebelum aku menyeret ke dance floor lagi," ucap Dimian dengan tatapan mematikan membuat siapa saja yang melihat bergidik ngeri.
"Tidak, aku tidak mau tidur disini, bisa kau antar aku pulang?" Pinta Veronica dengan wajah memohon.
"Tidak usah pakai tatapan itu, ayo," Dimian menarik lengan Veronica lembut lalu pergi menuju parkiran.
Saat melewati lautan manusia sungguh Dimian ingin mencongkel mata pria hidung belang yang mereka lewati, jika saja Veronica sedang tidak bersama Dimian, mungkin Veronica sudah habis oleh lelaki hidung belang ini semua.
"Sial! Kenapa kau memakai pakaian terbuka?!" Ucap Dimiam dengan kesal lalu memberika jas nya untuk menutupi bahu Veronica yang terbuka tapi dia tetap kesal karena Veronica memakai dress pendek yang menampakan paha mulusnya, Veronica hanya diam. Mereka akhirnya sampai di mobil Lamborghini milik Dimian.
Veronica terpukau dengan mobil milik Dimian, Dimian yang sadar hanya diam dan tersenyum miring, tipikal Dimian, selalu tersenyum miring. Dimian sebenarnya tidak membawa Veronica kerumahnya, melainkan ke penthouse miliknya.
"Tunggu, rumahku ke kiri bukan ke kanan, ayo kita putar arah," ucap Veronica sedikit mengguncang bahu Dimian.
"Kita memang tidak mau kerumahmu."
Veronica mulai takut, apa dia akan di bunuh? Atau di jual? Oh tidak, pikirannya mulai melayang, "Lalu? Kau tidak akan berbuat macam-macam kan? Awas kau! Aku akan membunuhmu jika kau berani macam-macam padaku," ucap Veronica sambil menunjukan kepalan tangan kecilnya, Dimian terkekeh kecil, dia tidak takut tentu saja.
"Lebih baik kau tidur jika tidak mau di apa-apakan," Veronica sontak langsung memejamkan mata.
"Dasar orang asing gila," batin Veronica kesal, dan sedikit takut.
Dia tetap berusaha tidur, dan akhirnya pun semua gelap, dengkuran halus terdengar oleh Dimian, Dimian tersenyum kecil.
"I got you again baby," batin Dimian tersenyum senang dan penuh kemenangan.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi, jika ada yang berani merebutmu, menyakitimu, atau melecehkanmu, kupastikan orang itu hilang di muka bumi ini, because i love you."
++++++++++++++++++++++++++++++++
-To Be Continue-
__ADS_1