My Possessive Jerk

My Possessive Jerk
Meet Erick Again


__ADS_3

"**** it!" Umpat Dimian dengan kesal dan masih mencari keberadaan gadisnya mulai dari  kamarnya dan kamar gadisnya, tapi tidak ada akhirnya dia memilih duduk di kasur.


"Hiksss..." terdengar isakan kecil di kamar Veronica, apa mungkin hantu? Tapi tidak mungkin!


"Hiks..." isakan itu lagi, akhirnya dia mencari tau isakan kecil itu dari mana dan ternyata dari lemari.


Buru-buru Dimian membukanya dan gotcha dia adalah gadisnya yang sedang memegang kedua lututnya.


"Astaga! Jill!" Pekik Dimian lalu merengkuh tubuh gadisnya.


"Ta-Takut... Dimian... a-aku... takut... te-tembakan..." ucap Veronica dengan terbata-bata.


"Sssttt ada aku disini," ucap Dimian dengan memegang kedua pipi gadisnya.


DOR...


"DIMIAN!" Pekik Veronica saat ternyata penjahat yang tadi mengejarnya menembak Dimian.


Dimian menutup mulut gadisnya, menyuruhnya untuk diam, Dimian pun mengeluarkan pistol dari sakunya, dan tanpa pikir panjang langsung menembaknya.


DOR...


DOR...


DOR...


Tiga orang dengan dua tembakan tepat di jantung kecuali satu karna memang dia membiarkan hidup untuk di introgasi.


Saat sudah selesai, tubuh Dimian terhuyung kebelakang dengan sigap Veronica menahan Dimian dengan sekuat tenaga.


"Aku... tidak... apa-apa V," ucap Dimian dengan darah yang masih mengalir.


Dimian menelfon orang suruhannya untuk membereskan mayat dan meng-introgasi laki-laki yang masih bernyawa itu.


Tak lama Jack datang dengan anak buahnya, Veronica yang melihat Jack langsung menyuruh Jack untuk menelfon ambulan.


"Jack cepat panggil ambulan."


"Baik nona," ucap Jack dan langsung menelfon ambulan.


"V?"


"Iya? Apa? Apa ada yang sakit?" Tanya Veronica bertubi-tubi.


Dimian menggeleng, "Aku suka saat melihatmu khawatir."


"Tentu aku khawatir denganmu," ucap Veronica dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi kenapa?" Tanya Dimian masih dengan sisa kekuatannya, tapi lama-lama pandangannya buram, mungkin karna darah yang terus saja mengalir.


"Karna aku mencintaimu Dimi," ucap Veronica tapi dia tidak tau apa Dimian mendengarnya atau tidak karna Dimian menutup matanya sebelum dia menyelasaikan kalimatnya.


"DIMIAN! JACK! DIMANA AMBULAN NYA?!"


"Sudah di depan nona," tak lama ada dua perawat yang masuk kedalam kamarnya sambil membawa bangkar, langsung saja Dimian di angkat ke bangkar.


+++


Veronica masih setia menunggu di depan ruang operasi, ya Dimian harus di operasi untuk mengambil peluru yang berada dk tubuhnya dan menghentikan pendarahan.


Veronica tidak sendiri karna ada Daniel dan Sherlina disana, tentu saja mereka disana karna Veronica memberitahunya.


"Maafin aku papa, ini semua salahku," ucap Veronica tersedu-sedu.


Sherlina masih terus menenangkan 'calon menantunya' itu.


"Ini bukan salahmu sayang ini semua kecelakaan, sudah lebih baik kita berdoa saja agar Dimian kuat, oke?" Veronica mengangguk mendengar ucapa wanita yang di sebelahnya ini, sungguh Sherlina adalah perempuan kuat, disaat anak laki-lakinya membencinya, tetap menyayanginya.

__ADS_1


+++


Sudah 3 jam operasi berjalan, mereka semua masih setia menunggu dokter ataupun perawat datang.


Srekk...


Pintu bergeser terbuka dan munculah seorang dokter membuat Sherlina, Daniel dan Veronica menghampiri dokter itu dengan cepat.


"Dok bagaimana keadaan Dimian?" Tanya Veronica dengan mata berkaca-kaca.


"Operasinya...."


"Apa dok? Operasinya kenapa?" Tanya Sherlina dengan raut wajah tidak sabar.


"Operasinya berhasil," Veronica langsung meneteskan air mata bahagia, sungguh lebih baik dia yang celaka daripada melihat orang yang di sayanginya terbaring lemah.


"Apa aku boleh melihatnya?" Tanya Veronica dengan nada memohon.


"Tentu," Veronica pun langsung memasuki ruang ICU.


"Dimian, bangunlah, kau tidak ingin aku menggoda laki-laki lain kan? Bagaimana jika Eric dan Axwell dateng bagaimana? Bangunlah," ucap Veronica dengan air mata yang sudah membanjiri di kedua pipinya.


"Eugh..."


"Dimian! Kau sadar? Apa ada yang sakit? Mana yang sakit?" Tanya Veronica bertubi-tubi saat melihat kedua mata Dimian terbuka.


"V? Aku tidak apa."


"Aku panggil dokter dulu ya," ucap Veronica sambil mengelus lembut kepala Dimian.


Dimian memegang tangan Veronica, "Jangan... aku hanya butuh kamu," Veronica mengangguk lalu kembali duduk.


"Aku masih marah denganmu," ucap Veronica dengan nada kesal.


"Bisa kau nemberitahuku apa salahku? Jangan mendiamkan aku," ucap Dimian dengan nada memohon.


"Nanti saja, kau masih sakit, aku akan menunda kemarahan," ucap Veronica dengan terkekeh.


"Untung aku mencintaimu," ucapan Dimian membuat Veronica terdiam.


"Kau mencintaiku?"


"Ya, tapi aku lebih menyayangimu daripada mencintaimu," ucap Dimian dengan senyuman.


"Kenapa?"


"Karna cinta akan hilang sedangkan sayang tidak akan hilang sampai kapanpun," ucapan Dimian membuat hati Veronica berbunga-bunga.


Tapi dia masih merasakan sakit karna Dimian berbohong padanya, kenapa Dimian harus berbohong? Kenapa dia tidak jujur saja?


"Aku keluar dulu ya," izin Veronica dengan senyum paksa.


Dimian hanya mengangguk sambil tersenyum tulus, Veronica pun keluar, saat Veronica ingin membuka pintu, pintu sudah terbuka lalu menampakan seorang gadis cantik, Kayla.


"Minggir!" Ucap Kayla sambil mendorong tubuh Veronica kesamping, Veronica yang tidak siap hampir saja jatuh.


"KAYLA! APA YANG KAU LAKUKAN?" Bentak Dimian dengan keras.


"Baby, jangan marah-marah, kau belum sehat, memang dia perempuan tidak berguna! Bisa-bisanya membuat kau sakit," ucap Kayla sambil menghampiri Dimian.


"Mungkin kalian butuh waktu berdua," ucap Veronica yang sudah muak dengan ucapan Kayla.


Tanpa mendengar kata-kata Dimian yng memanggilnya dia keluar dengan menutup pintu dengan kencang.


"Cih! Apa bagusnya Kayla itu? Jika saja membunuh tidak dosa, sudah kupenggal kepalanya itu," gerutu Veronica dengan ke, tanpa sadar dia sudah berada di taman Rumah Sakit.


Akhirnya Veronica memilih duduk di taman sebagai penghilang rasa kesal.

__ADS_1


"Veronica?" Panggil seseorang membuat Veronica menoleh.


"Eric? Hi," ucap Veronica dengan sopan.


Eric pun duduk di sebelah Veronica dengan senyum mengembang.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Eric masih dengan senyumannya.


"Ada seseorang yang sakit, kalau kau kenapa disini?"


"Momma ku sakit."


"Aunty Verina sakit? Sakit apa?" Tanya Veronica dengan sedikit penasaran.


"Sakit merindukanmu."


"Hais! Aku serius Eric!"


Eric sedikit terkekeh, "Aku serius, dia selalu bertanya dimana Veronica? Kapan aku bertemu lagi dengan anak perempuanku?"


"Benarkah? Kau tidak mencoba menipuku kan?"


"Tidak sama sekali."


"Boleh aku menjenguknya?" Tanya Veronica dengan ragu.


"Tentu saja boleh, ayo," tanpa persetujuan Veronica, Eric sudah menarik tangan Veronica, Veronica hanya menurut.


Tak lama mereka sudah di depan kamar inap Verina, Eric langsung membukanya, dan masuk di ikuti oleh Veronica dari belakang.


"Mama lihat, siapa yang aku bawa," ucap Eric dengan senyuman manis.


Verina menoleh dan melihat kearah Veronica, seketika senyumnya mengembang.


"Veronica?! Astaga kemari sayang," ucap Verina sambil melambaikan tangannya, Veroncica menurut saja.


"Aunty sakit apa?"


"Kau lupa untuk tidak memanggilku aunty?"


"Ah iya, maaf mama," ucap Veronica dengan kikuk.


"Eric, kau bertemu Veronica dimana?" Tanya Verina dengan mata yang masih tertuju ke Veronica, membuat Veronica sedikit salting.


"Di taman Rumah Sakit ini momma."


"Apa yang kau lakukan di Rumah Sakit sayang?" Tanya Verina sambil mengelus pucuk kepala Veronica dengan lembut.


"Ada seseorang yang sakit."


"Siapa?"


"Dimian," Seketika wajah Verina murung.


"Tunanganmu sakit apa?"


"Dia tertembak, seharusnya aku yang di bangkar dan terbaring lemah, tapi dia melindungiku jadi dia yang tertembak."


"Sepertinya Dimian sangat mencintaimu," ucap Verina dengan senyum sedih.


"Ya, mungkin."


"Kau tau? Mama berharap kau yang menjadi menantuku, tapi sepertinya tidak mungkin ya?"


"Ya! Itu tidak mungkin,"—


+++++++++++++++++++++++++++++

__ADS_1


-To Be Continue-


__ADS_2