
Veronica memutuskan keluar dari kamar untuk menyusul Dimian, "Kau..—" ucapan Dimian terpotong saat mendengar namanya di panggil oleh Veronica.
"Dimian?" Dimian menoleh ke sumber suara itu.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Dimian dengan dingin dan datar, Veronica terdiam.
"Ahm... maaf, ah hallo," ucap Veronica ramah ke wanita itu.
"Kau gadis yang waktu itu?" Veronica mengangguk, sedangkan Dimian menaikan sebelah alisnya.
"Kau mengenal dia?" Tanya Dimian dengan nada datar.
"Ya, dia menyelamatkanku waktu itu, saat itu aku pulang berkerja dan pulang malam lalu ada sekelompok perampok, mereka menggodaku, kalau saja wanita ini tidak membantuku, mungkin aku sudah habis," ucap Veronica dengan lemah mengingat itu.
"Ah kenapa kau tidak membiarkannya masuk?" Tanya Veronica dengan bingung.
"Dia tidak pantas menginjakan kaki di rumah ini," Veronica bingung, ada apa dengan Dimian?
"Kau keluar," ucap Dimian dengan kesal dan sedikit mendorong wanita tadi, lalu menarik Veronica menuju kamarnya.
"Hey! Kau tidak sopan! Kenapa kau kasar dengannya?" Tanya Veronica tidak terima karna wanita tadi di dorong Dimian.
"Kau. Tidak. Perlu. Tau."
"Kenapa?"
"Itu tidak penting," Veronica mendengus kesal, kenapa laki-laki di depannya penuh dengan misteri?
"Aku tidak akan bertanya jika kau menerima syaratku!" Tiba-tiba muncul ide hebat di kepala Veronica.
"Apa syaratmu?" Apa dia sangat membenci wanita itu? Padahal wanita itu sangat baik.
"Lepaskan aku," Dimian diam, ah Veronica sangat yakin pria di depannya tidak mengizinkannya.
"Of Course not, aku tidak akan melepasmu lagi!"
"Cih! Serah, aku mau berkerja," ucap Veronica sambil menghembuskan nafasnya.
"Siapa yang meng-izinkanmu?" Tanya Dimian dengan alis terangkat sebelah.
"Aku tak butuh izin mu," ucap Veronica dengan nada menantang.
Dimian mendorong Veronica ke dinding lalu mencengkram bahu Veronica, "Jangan menantangku!"
Air mata Veronica mengalir lalu menunduk menahan nangis, Dimian pun sadar lalu melepas cengkramannya.
"Baiklah kau boleh berkerja," mata Veronica bersinar.
"Tetapi....," ah sial selalu saja penuh dengan syarat.
"Apa?" Jawab Veronica kesal sambil menyilangkan tanganku di perut.
"Berkerja di perusahaanku," Veronica menatap horror pria di depannya.
"Tidak-tidak, aku tidak ingin, aku bisa jadi pegawai toko, atau apapun itu, tapi urusan kantoran jangan," ucap Veronica dengan tangan di angkat.
"Baiklah, kau akan menjadi pegawai toko di Mall ku," Veronica mengangguk senang, ya setidaknya dia tidak bermain dengan komputer sialan.
"Ah iya, kau pura-pura tidak kenal aku ya," ucapku dengan nada memohon.
"Tapi—."
"Pleaseeee....," ucapku dengan tatapan memohon.
__ADS_1
"TUNGGU! KENAPA AKU JADI DEKAT DENGANNYA?!" Batin Veronica berteriak bingung.
"Tak apalah, lagipula aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi," batin Veronica lagi.
"Ya ya ya ya," ucap Dimian akhirnya, Veronica langsung memeluk Dimian dengan erat.
Veronica yang tersadar langsung melepaskan pelukannya, "Maaf, aku hanya terlalu senang," ucap Veronica dengan menunduk.
"Aku senang kau memeluku," ucap Dimian dengan senyuman tipisnya, tapi tentu saja itu membuat hati Veronica berdebar-debar, c'mon Veronica perempuan normal oke.
"Jadi? Kapan aku bisa mulai berkerja?" Tanya Veronica dengan semangat.
"Hari ini dan juga sekarang masih jam tujuh, Mall di buka jam sembilan, kau masih ada waktu, tapi sayangnya aku tidak bisa menemanimu kesana, aku ada rapat."
"Tak apa, ah iya aku kan belum daftar, dan pakaian kerjaku?" Tanya Veronica dengan wajah bingung, Dimian pun mengeluarkan ponselnya.
"Cepat daftarkan seorang perempuan bernama Veronica Jillia Verisyka, dan aku mau dia berkerja hari ini, antarkan pakaian kerjanya ke penthouse-ku, dalam hitungan lima menit, lebih dari itu, kau akan ku pecat," ucap Dimian dengan tegas, dingin dan datar, kenapa dia galak sekali? Seram.
"Lebih baik kau bersiap-siap," Veronica mengangguk dan berjalan menuju meja rias, untuk memoleskan beberapa make-up di wajahnya.
"V aku akan berangkat sekarang, kau di antar oleh Bobby oke, jika bukan dia yang antar, jangan mau."
"Iya-iya, kau menasehatiku seperti aku anak kecil saja," ucap Veronica sebal lalu mengerucutkan bibirnya.
"Kau memang masih kecil anak nakal," Dimian menyentil dahi Veronica membuat gadis itu meringis.
"Bahkan umurku sudah dua puluh tahun," ucap Veronica dengan kesal, lalu melanjutkan acara make-up nya.
"Ingat pesanku, bye," ucap Dimian lalu mengecup pipi Veronica sebelum pergi.
"Dasar pria mesum, menyebalkan," gumam Veronica jengkel.
Tok... Tok... Tok...
"Nona, ini pakaian kerja anda," Veronica menoleh ke sumber arah, ternyata Mady, kepala maid di penthouse ini.
"Ah terimakasih Mady, taruh saja di kasur," Mady pun menaruh pakaian kerja Veronica, dan pamit keluar.
Veronica langsung memakai pakaian kerjanya, setelah semuanya beres, dia memasukan ponsel dan juga dompet yang di beri Dimian ke dalam tasnya. Setelah dia merasa dirinya siap dia pun kebawah.
"Nona, anda sudah siap?" Veronica mengangguk lalu mereka pun masuk kedalam limosin Dimian.
"Tunggu!" Ucap Veronica tiba-tiba.
"Ada apa nona?" Tanya Bobby dengan wajah bingung.
"Kenapa Jack ikut?"
"Karna suruhan tuan, nona," Veronica mendengus kesal, Jack adalah tangan kanan Dimian, tentu dia aneh dengan kehadiran Jack. Veronica memutuskan menelfon Dimian.
Tut... tut...
"Halo V, ada apa?"
"Kenapa kau tidak membawa Jack bersamamu?"
"Tak apa, dia tidak akan mengganggu karna dia akan ada di ruangan manager."
"Sial! Aku membencimu."
"I love you too."
Pip...
__ADS_1
Veronica memutuskan hubungan telfonnya secara sepihak, menyebalkan. Itu lah kata-kata yang menggambarkan laki-laki itu.
"Nona, kita sudah sampai," ucap Bobby, Veronica langsung keluar dari mobil, tanpa menunggu Jack ataupun Bobby, Veronica langsung pergi memasuki Mall.
Sedangkan Jack dan Bobby panik melihat Veronica sudah pergi, tanpa ba-bi-bu Jack menyusul Veronica. Sedangkan di sisi lain, Veronica sedang memperkenalkan diri.
"Namaku Veronica Jillia Verisyka, panggil aku Veronica," ucap Veronica dengan senyum manisnya.
"Veronica Verisyka, kau anak haram itu kan? Kau masih hidup? Kukira kau sudah mati, karna rumahmu itu sudah di jual," ucapan wanita itu langsung mengena di hatinya, Veronica lelah di pandang rendah, dia harus kuat.
"Aku anak haram, bukan atas permintaanku, dan walaupun aku anak haram, setidaknya aku punya etika dan sopan santun, tidak sepertimu," ucap Veronica tetap dengan senyuman manis yang terukir disana.
"Berani sekali kau!" Ucap wanita itu sambil ingin menjambak Veronica tapi di tahan oleh kedua perempuan di sampingnya.
"Sudah! Lebih baik kita berkerja, Mall sebentar lagi akan buka," mereka semua mengangguk, dan para Staff membagi para perkerja untuk toko-tokonya, karna di dalam Mall ini, ada 3-4 toko tempat Veronica berkerja.
Veronica bertugas di lantai 2, dan dia bertiga. Dirinya, satu temannya dan satu Staff untuk memantau kerja para pekerja baru seperti Veronica. Dan disinah dia, dengan Veryl atau biasa di sebut Very, dengan nenek lampir tadi yang bernama Fillary atau biasa disebut Lary.
"Hei anak haram! Cepat bereskan tas-tas itu," Veronica harus sabar, dia tidak ingin merepotkan Dimian, lagipula dia sudah nyaman dengan Very, teman barunya.
Pintu kaca dibuka, menandakan ada pengunjung, Veronica, Very dan juga Lary langsung menunduk hormat. Veronica yakin yang masuk ke toko ini tidak sembarangan orang, karna melihat harga tas, baju dan segala macam yang di jual sini seharga $300.000.000 dolar ke atas, tentu kalangan tengah memikir dua kali untuk sekedar masuk ke toko ini.
"Tas terbaru dan termahal disini yang mana?" Tanya perempuan itu dengan nada sombong.
Veronica menunjukan beberapa tas yang sedang trend pada masanya, "Aku seperti pernah melihatmu, ah iya! Kau anak haram itu kan? Kau satu TK denganku, sehingga aku harus pindah sekolah, ah maksudku pindah negara."
"Kau sudah selesai berbelanja? Jika sudah anda bisa membayar di kasir," ucap Veronica datar menahan amarah.
"Ucapan anda tidak pantas nona, rupamu cantik tapi tak secantik hatimu," ucap Very tiba-tiba yang berada di belakang Veronica.
"Berani sekali kau *****," ucap teman dari perempuan itu sambil mendorong Very hingga terjatuh.
"Apa yang kau lakukan dengan temanku hah?!" Veronica sudah mulai naik pitam.
"Temanmu saja yang lemah, dasar *****! Ah sial aku jadi tidak mood berbelanja."
"Ah maafkan kedua karyawan bodoh itu, dia memang anak haram, biar aku layani kalian," ucap Lary sambil menatap tajam dan sinis ke arah Veronica dan Very.
"Ingat ya! Grace bisa saja memecatmu, kau tau ayah Grace adalah General Manager disini! Dan dia tunangannya pemilik Mall ini, yang tak lain Dimian Edward Althaf," bagaikan tersambar petir di siang bolong, hati Veronica se akan ditusuk beribu jarum.
Plak...
Tamparan mulus terkena tepat di pipi mulus Veronica, Veronica yang sudah tidak tahan, menjambak perempuan itu.
"Akhhh.... jangan kau sentuh rambutku anak haram, sial!" Terjadilah aksi jambak-jambakan, tiba-tiba sebuah suara menghentikan aksi jambak-jambakan.
"Berhenti!" Veronica hafal suara itu, itu suara Jack.
"Nona, apa anda tidak apa-apa?" Tanya Jack sambil menghampiri Veronica yang menggeram kesal.
"Hey! Kau salah orang, yang kau tanya harusnya aku, bukan anak haram itu!" Ucap gadis yang menjambak Veronica tadi.
"Maaf Ms Palevin, tapi saya tidak salah orang."
"Aku ini tunangan boss kamu!"
"Ms Verisyka anda tidak apa-apa?" Veronica hanya mengangguk dan mengumpat kesal karna dia takut kalau yang lain tau dia dekat dengan Dimian.
"Aku tidak akan mau belanja disini lagi!" Ucap Grace lalu menarik kedua temannya keluar dari toko.
"Tuan Dimian akan kesini, kalian semua harus berkumpul tutup toko ini sementara," perintah Jack, ah sial, awas saja kalau dia berani macam-macam akan ku jambak rambutnya itu.
"V ayo kita kebawah," aku langsung mengangguk saat Very mengajaku.
__ADS_1