
Veronica terbangun dia pun menyadari tidak ada Dimian di sampingnya tapi dia menemukan wanita di dalam ruangannya, membuat dia panik seketika.
"Ja-Jangan.... Ja-Jangan sakiti a-aku."
"Saya tidak akan menyakiti anda nona, saya pengawal anda yang bertugas menjaga anda," ucap pengawal itu dengan mengelus Veronica.
Veronica pun tenang, "Dimana Dimian?"
"Tuan sedang pergi sebentar nona."
"Kemana?"
"Saya kurang tau, saya hanya disuruh menjaga nona selagi tuan pergi," Veronica mengangguk mengerti.
"Siapa namamu?"
"Nama saya Feli, nona."
"Baiklah Feli jangan memanggilku nona cukup Veronica, oke?"
"Tapi nona—,"
"Tidak ada tapi-tapian," ucap Veronica dengan tajam.
"Baiklah V," senyum Veronica pun mengembang sedangkan Feli sudah pasrah.
"Itu lebih baik," ucap Veronica masih dengan senyumannya.
Veronica akhirnya memutuskan untuk menelfon Dimian untuk menanyakan keberadaannya saat ini.
"Hallo V?"
"Kau dimana? Kau berjanji untuk tidak meninggalkanku."
"Maafkan aku sayang, ada hal penting yang harus aku jalani."
"Apa itu sangat penting?"
"Ya, sangat penting untuk diriku dan dirimu."
"Kapan kau pulang?"
"Mungkin besok pagi."
"APA?! Malem ini kau pulang! Atau aku akan menelfon Eric untuk menemaniku."
"Kau mengancamku?"
"IYA, BYE!"
Pip.
__ADS_1
Sambungan telfon di putus oleh Veronica sepihak, sedangkan Dimian sudah mengacak rambutnya, dia harus cepat, jika tidak ingin melihat gadisnya bersama pria lain.
"Jalankan mobil dengan cepat Jack," perintah Dimian yang di angguki oleh Jack.
Mereka akhirnya sampai di gedung yang sudah tidak terpakai, Dimian sengaja meminta Jack untuk berhenti agak jauh dari gedung itu. Mereka pun turun dengan membawa senjata SABR (Sniper Assaulter Batle Rifle) senjata yang terkenal mematikan dan modern, karna sniper satu ini tidak hanya di gunakan dari jarak jauh melainkan bisa dari jarak dekat dan dia membawa senjata yang bisa dia panggil kapanpun. Sedangkan Jack membawa sniper AWSM (Arctic Warfare Super Magnum).
Dimian masuk ke gedung itu, sebelumnya dia membunuh penjaga di depan pintu terlebih dahulu, jika kalian mengira mereka hanya berdua, kalian benar. Mereka hanya berdua sedangkan anggota Black Of Helmond entah ada berapa. Tapi dengan mudah mereka membunuhnya, Dimian hanya menggunakan pistol karna sniper itu hanya untuk membunuh ketua dari Black Of Helmond.
"Well ternyata kau berani juga datang ke markasku dengan hanya membawa satu anggota," ucap seseorang membuat Dimian menoleh ke arahnya.
Dimian langsung mengambil sniper-nya yang di belakang punggungnya, laki-laku itu tercengang kaget karna Dimian memilik sniper mematikan.
"Dimana kau dapat itu?!"
"Terkejut?" Tanya Dimian dengan smirk di wajahnya.
"Orang yang mempunyai sniper itu adalah Demian! Ketua mafia dari God Of The Lord."
"Dan kau bermain dengan orang yang salah!" Ucap Dimian dengan mata yang menajam.
"Ti-Tidak mungkin kau Demian!" Sargah ketua mafia yang di kenal bernama Gaston itu.
"Tidak ada yang tidak mungkin Gaston!" Ucap Dimian dengan kekehan kecil.
"Ketua mafia God Of The Lord mempunyai senjata yang hanya satu di muka bumi ini, sedangkan kau? Kau hanya punya SABR semua pun juga bisa memilikinya jika mereka memiliki uang."
"Kau ingin melihat senjata kesayanganku?" Tanya Dimian dengan smirk yang tercetak di bibirnya, Jack yang di sebelahnya sudah merasakan hawa tidak enak, dia sangat tahu kalau tuannya itu tidak suka di tantang.
Mendengar itu Dimian langsung menaruh SABR kesayangannya di belakang punggungnya, tangannya mengulur ke depan dia mengucapkan beberapa kata dan tak lama ada senjata berada di tangannya, tentu itu membuat Gaston langsung ketakutan dan terkejut.
"Karna kalian sudah melihat senjata kesayanganku, maka kalian akan mati," ucap Dimian dengan tatapan elangnya dan langsung mengarah kan snipper kesayangannya ke Gaston.
"Ma-Maafkan saya tuan."
"Hmm... kau tau kesalahan kau apa?!" Tanya Dimian dengan kesal, tapi Gaston tidak berani menjawab.
"Pertama! Kau berusaha membunuh gadisku, kedua! Kau telah membangunkan sisi gelapku, ketiga! Kau telah melihat senjata yang seharusnya tidak kau lihat!"
Dor...
Suara nyaring tembakan keluar dari snipper yang di pegang oleh Dimian, ya Dimian menarik pelatuknya dan pelurunya sudah bersarang di kepala Gaston. Gaston pun tumbang membuat Dimian tersenyum.
"Stupid," ejek Dimian dengan senyum miringnya.
"Tembak!" Teriak William, pasukannya pun langsung memutari Dimian dan Jack.
"Kau siap Jack?"
"Saya tidak pernah sesiap ini tuan."
"Bagus! Bunuh mereka untukku, kecuali William," ucap Dimian masih dengan senyum miring dan tatapan tajamny.
__ADS_1
"Dengan senang hati tuan."
"Serang!" Teriak Dimian, Jack pun langsung menembaki anak buah Black Of Helmond itu tepat di kepala, Dimian membantu Jack jika memang ada yang ingin menembak Jack dari belakang ataupun ingin menembak dirinya.
"Well, gimana William? Kau ingin mati sendiri atau perlu aku membantumu?" Tanya Dimian saat anak buahnya sudah tumbang.
"Tidak semudah itu Mr Althaf," ucap William lalu melompat ke arah jendela yang ternyata sudah ada helikopter yang menunggu laki-laki sial itu.
"Brengsek! Jack cepat suruh orang untuk mengejarnya!"
"Sudah tuan,"
"Cari tau dia siapa yang sebenarnya," Jack hanya mengangguk patuh, lalu Dimian mengayunkan snipper kesayangannya dan tak lama senjata itu.
Jack sudah mengetahui itu semua, jadi tak masalah jika Dimian memperlihatkan senjata itu. Dimian melangkah keluar, karna ini juga sudah malam, ia takut ancaman dari Veronica itu benar, ia sangat tau kalau Veronica itu gadis yang nekat, dan akhirnya dia memilih kembali ke rumah sakit. Tadinya dia ingin pergi mengejar lelaki brengsek itu.
"Jack, aku akan kembali ke rumah sakit, kau bereskan mayat-mayat ini dan cari keberadaan William dan semua informasi yang menyangkut dirinya," ucap Dimian panjang, membuat Jack sedikit linglung karna tuannya dulu sangat irit bicara, seorang Veronica memang mengubahnya.
Dimian menjalankan mobilnya menuju rumah sakit, setelah sampai dia langsung memberi kuncinya ke penjaganya dan langsung naik menuju kamar Veronica.
"Jill?" Ucap Dimian saat membuka pintu ruangan Veronica.
Veronica menoleh, "Dimian!" Pekiknya senang, Dimian pun langsung menghampiri Veronica dan memeluknya.
"Lepaskan aku Dimian, kau bau amis," ucap Veronica sambil mendorongnya, ah Dimian melupakan itu.
"Aku tidak bau, salahkan ikan-ikan itu yang tidak bisa diam, tadi aku memancing," alibi Dimian dengan datar.
"Kau memancing malam-malam?"
"Ya, memang salah?" Tanya Dimian dengan alis yang mengangkat satu.
"Tidak, Dimian aku ingin bertanya."
"Apa?"
"Jika aku meninggalkanmu bagimana?" Alis Dimian mengangkat sebelah alisnya.
"Tentu saja aku akan mengikatmu agar tak lepas," ucap Dimian santai membuat Veroncia mendengus.
"Jika aku meninggalkanmu karna laki-laki lain bagaimana?"
"Aku akan membunuh laki-laki itu tentu saja," ucapnya lagi dengan santai, sedangkan Veronica menatap horror.
"Kenapa kau bertanya itu?"
"Tidak, hanya bertanya, kukira jawabanmu romantis, ternyata malah horror sudahlah aku ingin tidur," ucap Veronica lalu mulai memejamkan matanya, tangan Dimian mengusap dahi Veronica lembut tak lama Veronica sudah terlelap.
"Ya, siapapun yang berani mengambil atau menyentuh milikku maka aku tak segan-degan mengirimnya ke neraka, aku tidak percaya jika cinta tak harus memiliki karna bagiku aku harus mendapatkan apa yang aku mau," batin Dimian dengan senyuman yang mengerikan.
+++++++++++++++++++++++++++++
__ADS_1
TBC