My Possessive Jerk

My Possessive Jerk
Finding You


__ADS_3

"Veronica kau ingin pergi? Kau sudah mendapatkan apartment?" Tanya Melissa saat melihat Veronica sedang membereskan barang-barangnya.


"Iya, aku sudah dapat," ucap Veronica tanpa mengalihkan tatapannya dari koper.


"Dimana?"


"Tidak jauh."


"Kau inginku antar?" Tanya Melissa dengan ragu, Melissa tau Veronica tidak dalam keadaan baik.


"Tidak perlu, aku diantar temanku."


"Who?"


"Axwell, nanti saat aku sudah sampai apartment baru, aku akan menelfonmu," Melissa hanya mengangguk dengan senyum lebarnya.


Melissa memeluk Veronica erat, "Jangan lupa kabari aku!"


"Iya Lisa," ucap Veronica sambil membalas pelukannya.


Tok... Tok... Tok...


Mereka pun terpaksa melepas pelukannya, "Biar kubuka," ucap Melissa lalu melangkah pergi.


Veronica memilih untuk melanjutkan rapi-rapinya, tapi anehnya Veronica tidak mendengar suara berbicara, jika itu James pasti Melissa dan James akan berbicara bukan? Dengan penasaran dia menyusul Melissa.


"Lisa siapa yang—" ucapannya menggantung saat melihat siapa yang di ambang pintu.


Dimian.


Seketika tubuh Veronica menegang, laki-laki itu, dan mata biru itu, yang sangat ia rindukan. Tiba-tiba Dimian menghampirinya dan memeluknya erat.


Veronica yang terkejut hanya terdiam, tapi sedetik kemudian dia langsung melepaskan secara paksa pelukan sialan itu.


"Lepas!"


"Tidak akan V," ucap Dimian masih dengan pelukan eratnya.


"Lepas atau aku akan memanggil satpam!" Ancam Veronica dengan tajam, Dimian pun terpaksa melepas pelukannya.


"V kau sudah si—" Veronica menoleh kearah luar apartment, tenyata Axwell sudah datang.


"Ya aku sudah siap, sebentar," ucap Veronica lalu berlari ke kamarnya mengambil koper saat sudah diambil dia langsung menuju keluar tapi tangannya di cengkal Dimian.


"Lepas!"


"V kau tidak boleh pergi!"


"Lepas!"


"Tidak akan."


"LEPAS!" Teriak Veronica lalu menghentakan lengannya sehingga cengkalan tangannya terlepas.


"V aku mohon, jangan."


"Jangan egois Dimian! Kau memiliki tunangan, urusi saja dia," ucap Veronica tanpa melihat kearah Dimian.


"Biarkan aku menjelaskan."


"Semua sudah jelas! Tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan, ayo Ax," ucap Veronica sambil meraih tangan Axwell.


"Melissa terimakasih telah membiarkan aku tinggal apartment-mu," sambung Veronica dengan senyuman tipisnya.


"Kau bisa tinggal kapan saja."


"V dengarkan aku dulu," ucap Dimian sambil memeluk Veronica.


"Lepas, aku tidak sudi denganmu! Kau bilang aku mencintai uangmu bukan? Aku sama saja dengan mom-mu dan kau sama saja seperti papaku! Jerk! Lepas!" Ucap Veronica dengan meronta-ronta.


"Lepaskan!" Ucap Axwell yang akhirnya membuka suara.


"Jangan mencampuri urusanku!" Ucap Dimian dengan kesal.


"Veronica temanku dude, tentu itu menjadi urusanku juga."


"Vero aku tau kau masih mencintaiku bukan?" Tanya Dimian membuat Veronica menegang.


Tanpa berniat membalas ucapan Dimian, Veronica hanya diam.


"Jawab V!"


"Tidak, aku tidak lagi mencintaimu atau apapun itu!" Ucap Veronica dengan nada bergetar dan menatap kearah lain, dia tidak sanggup melihat mata biru itu.


"Katakan itu sekali lagi tapi tatap mataku."


Deg.


Dengan terpaksa, Veronica menatap mata biru laki-laki itu, seakan terhipnotis dia hanya diam, ia mengigit bibir bawahnya menahan isakan.


"Katakan!"

__ADS_1


"A-Aku... Aku... Aku tidak...." sungguh Veronica tidak kuat, Veronica memutuskan kontak matanya.


"Kembalilah V."


"Aku bukan malaikat yang bisa memaafkan orang lain dengan mudah, kata-katamu waktu itu benar-benar menyakitkan," ucap Veronica dengan menunduk.


"Aku mengucapkan itu karna—"


"Cukup, aku tidak ingin tahu alasanmu, sudah waktunya aku pergi, selamat tinggal," ucap Veronica lalu melangkah pergi.


Axwell tersenyum miring, "Let's see apa yang akan anda lakukan saat melihat mantan tunangannya bersama laki-laki lain," ucap Axwell sambil menepuk pundak Dimian.


"AKU AKAN MENGAMBILNYA LAGI SIALAN!" Teriak Dimian dengan keras.


"Never!" Ucap Axwell dengan senyum kemenangan dan menyusul Veronica.


+++


Veronica melangkah turun dari pesawat dengan Axwell disampingnya.


"Are you ok?" Tanya Axwell saat melihat wajah Veronica yang pucat.


"I'm fine."


"Ayo kita ke hotel lalu jika kau sudah sembuh, aku akan mengajakmu jalan-jalan," Veronica mengangguk setuju.


Mereka pun menaiki mobil yang sudah di siapkan, Axwell memang orang yang termasuk mampu, tapi tidak semampu Dimian.


Axwell cukup terkenal di beberapa negara seperti Inggri, Amerika, Paris, dan Belanda. Sedangkan Dimian, hampir setiap negara mengenalnya jika memang mereka mempunyai Televisi.


+++


Veronica dan Axwell sudah sampai di hotel, dan di kamar masing-masing. Ya tentu saja Veronica memilih 2 kamar, dan Axwell tentu saja setuju, karna tidak mungkin mereka di dalam satu kamar yang sama bukan?


"Huft lelah juga ya?" Gumam Veronica sambil menaruh kopernya di kamarnya dan tiduran di kasurnya.


Veronica bangkit dari kasur menuju jendela kamarnya untuk melihat pemandangan kota Amerika, memang Veronica memutuskan untuk ke negara ini entah karna apa dia memilih negara ini.


Veronica memang darah campuran Inggris, Amerika, dan France.


Tiba-tiba Veronica merasa ponselnya bergetar, dia sangat berharap adalah laki-laki itu tapi saat dilihat ternyat yang menelfon adalah Axwell.


Axwell's Calling 📞


"Hallo?"


"V, kau sudah baikan?"


"Kau ingin jalan-jalan?"


"Ayo."


"Baiklah, aku akan menunggumu di lobby."


"Oke, aku akan bersiap."


"Oke, bye."


"Bye."


Veronica pun langsung bersiap, dia harus melupakan laki-laki itu, laki-laki yang memang mirip dengan papanya. Setelah siap, Veronica langsung ke Lobby dan mencari Axwell.


"Veronica!"


Veronica menoleh saat ada yang memanggil namanya, ternyata Axwell sedang tersenyum lebar, Veronica membalas senyumannya.


"Hi," ucap Veronica saat Axwell sudah di depannya.


"Jadi? Sekarang kita mau kemana?"


"Terserah, aku tidak tahu pasti negara ini," ucap Veronica dengan nada sedih.


"Okay, aku akan mengajakmu ketempat yang indah, ayo," ucap Axwell lalu menarik tangan Veronica lembut.


Di tempat yang tidak jauh, ada seseorang yang sedang mengamati kedua manusia itu, saat laki-laki itu meneriaki nama perempuan itu, sudah di pastikan dia tak salah orang, dia pun langsung menelfon seseorang.


+++


Dimian sedang di rumah orang tuanya, karna papanya yang minta.


"Dimana Veronica?" Tanya Daniel dengan kepala celingak-celinguk.


Dimian menghela nafas berat, "Aku bertengkar dengannya karna salah paham," ucap Dimian dengan lesu.


"Kesalah pahaman yang selalu di perlihatkan di TV?" Dimian mengangguk lesu.


"Bicarakanlah dengan baik-baik, jangan sampai dia pergi dari sisimu," saran Sherlina dengan lembut.


"Dia sudah pergi," ucap Dimian pelan tapi masih di dengar oleh Daniel dan Sherlina.


"APA?!" Pekik Daniel dengan kaget.

__ADS_1


"Dia pergi, karna aku menyakitinya dengan kata-kataku dan dia tidak mau mendengarkan penjelasanku."


"Kau tau, kata-kata lebih menyakitkan karna kata-kata akan masuk ke otak dan hati seorang wanita!" Ucap Daniel dengan kesal, sedangkan Sherlina hanya diam.


"Maaf, aku melakukannya terpaksa karna memang untuk menjauh, aku tidak mau dia terluka karna wanita itu," ucap Dimian dengan lemas.


"Apa yang kau katakan padanya?" Tanya Daniel dengan nafas memburu.


Dimian tidak langsung menjawab, dia hanya melihat Sherlina lalj melihat Daniel dan langsung menghela nafas berat.


"Aku tau apa yang kau bicarakan padanya," ucap Daniel saat melihat mata Dimian mengarah pada Sherlina.


"Lalu? Kau tidak mencarinya? Kau hanya diam dan duduk manis disini? Iya?" Tanya Daniel dengan wajah datarnya, dia sangat membenci orang yang hanya pasrah.


"Aku sudah menyuruh orang-orangku, tapi katanya mereka sudah pergi keluar negri, jadi mereka harus mengurus di Bandara, untuk melihat kemana mereka pergi," jelas Dimian dengan wajah serius.


"Mereka?"


"Ya, Veronica dan Axwell."


"Mereka memiliki hubungan?" Tanya Sherlina dengan penasaran, membuat raut wajah Dimian marah.


"TIDAK! TENTU SAJA TIDAK! VERONICA HANYA MILIKKU!" Ucap Dimian dengan nafas memburu.


"Aku harap begitu, ingat! Kau harus memilikinya lagi, aku tidak mau merestukanmu dengan wanita lain, selain Veronica!" Ucap Daniel dengan tegas.


"Tentu saja."


"Kau sudah membereskan wanita itu?" Tanya Daniel dengan serius.


"Sudah, sebentar lagi pasti sudah ada di berita."


"Bagus."


Dimian merasakan ponselnya bergetar, dia langsung melihatnya tapi namanya tidak tertera disitu, Dimian menyeringit bingung, pasalnya yang tau nomornya hanya orang tertentu yang sudah pasti dia sudah save nomor orang tertentu itu.


Tapi nalurinya berkata untuk mengangkatnya, dia pun mengangkatnya.


"Dimian!"


"Ya?"


"Kau sedang bertengkar


dengan Veronica?"


"Kau siapa?"


"Hell! Kau lupa dengan


suara temanmu sendiri?"


"..."


"Sudah, nanti saja berfikirnya,


aku bertanya kau sedang


bertengkar dengan Veronica?"


"Ya, sedikit."


"Aku melihatnya bersama


laki-laki, di cabang hotelmu."


"KAU DIMANA?!"


"Amerika."


"Baiklah."


"Aku akan memata-matainya,


jika ada informasi lagi, aku akan memberitahumu."


"Oke."


Pip.


Dimian langsung menyambar kunci mobilnya dan dompet yang terletak di meja.


"Kau ingin kemana?" Tanya Daniel saat melihat putranya akan pergi lagi.


"Menjemput menantumu," ucap Dimian dengan tersenyum, Daniel pun ikut tersenyum dan mengangguk.


Dimian langsung menelfon Jack untuk menyiapkan helikopternya, Dimian menampilkan smirk-nya.


"You just mine and only mine!"—


+++++++++++++++++++++++++++++

__ADS_1


-To Be Continue-


__ADS_2