
Setelah selesai menghabiskan makan malam mereka, mereka pun langsung tertidur di kamar masing-masing. Sebenarnya Dimian tidak rela pisah kamar, tapi ini kemauan gadisnya.
Jadi disinilah Dimian di kamar dan sendiri, rasanya aneh jika ia tidur sendiri, Veronica bagai candu untuknya. Sepertinya dia harus siap-siap tidak bisa tidur malam ini.
Tok... Tok... Tok...
Mendengar suara ketukan itu membuat Dimian bangkit dari kasurnya menuju pintu kamarnya, karna tadi dia sempat mengunci kamarnya.
Ceklek...
Hap...
Dimian kaget menerima pelukan dari gadisnya sepertinya dia menangis karna tubuhnya bergetar.
"Hey kau kenapa?" Tanya Dimian dengan lembut.
"Da-Damian... Damian masuk rumah sakit hiks..." isak Veronica sambil memeluk erat Dimian.
Dimian yang mendengarnya hanya mengusap pucuk kepala Veronica agar tenang.
"Tenanglah, habis kita bertemu Melissa kita akan melihat keadaan Damian," Veronica hanya mengangguk dan masih dengan isakannya.
"Sudah sana kau tidur," ucap Dimian dengan lembut.
"Aku takut."
"Takut apa sayang?"
"Karna baru tadi aku bertemu dengannya dan sekarang dia di rumah sakit karna tabrak lari," lirih Veronica dengan wajah yang masih di tenggelamkan.
"Kau tau dari mana?"
"Dari orang yang menolong Damian tadi, tapi saat plat nomor nya di cari, para polisi tidak menemukannya."
"Mereka pasti akan menemukannya, kau tenang ya?" Veronica mengangguk lagi.
"Aku tidur denganmu ya?" Tanya Veronica dengan wajah memohon.
"Dengan senang hati," Veronica pun masuk ke kamar Dimian, Dimian menyuruhnya tidur.
Karna Veronica takut jadi dia memeluk Dimian dengan erat, Dimian dengan senang hati membalas pelukannya.
+++
Veronica membuka matanya saat dia merasa sinar matahari menerobos retinanya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan, dia melihat kesebelahnya, masih ada Dimian yang memeluknya.
Veronica melihat Dimian dari jarak detak membuat degup jantungnya cepat, Veronica memberanikan diri memegang wajah Dimian.
Dia mengusapnya lembut dari mulai mata, hidung, bibir dan rahang. Tiba-tiba Veronica terkejut karna tangan yang sedang mengusap wajah Dimian di pegang oleh Dimian.
"Morning babe," ucap Dimian dengan suara serak yang sangat sexy, Dimian mencium telapak tangan Veronica lembut.
"Morning, Dimian aku ingin mandi dulu, lepaskan tanganmu," bukannya melepaskan, Dimian malah memeluk Veronica dan menaruh kakinya di badan mungil Veronica, membuat Veronica terkunci.
"Nanti saja, aku masih ingin bersama-mu," Veronica hanya memutar bola matanya.
"Oh ayolah, kita kan akan pergi dengan Melissa dan akan menjenguk Damian."
"Kenapa kau sangat ingin menjenguk Damian? Kau baru bertemu saat di club kan?" Tanya Dimian dengan nada tak suka.
"Iya, tapi aku menyayanginya dan bagaimana bisa kau tau?"
"Jangan kau berani menyayanginya V! Aku tidak suka dan aku tau semua tentang dirimu," elak Dimian dengan mata tajamnya.
__ADS_1
"Ya ya ya, sekarang lepaskan aku! Aku ingin mandi dan bersiap-siap."
"Memang jam berapa kita pergi?"
"Jam satu dan sekarang sudah jam setengah sebelas!"
"Baiklah tapi Morning kiss," ucap Dimian dengan manja.
"Ck tidak ada!"
"Harus ada atau aku tidak akan melepaskannya," ancam Dimian dengan wajah tenang, Veronica hanya memaki Dimian dalam hati.
"Baiklah," Veronica pun mulai mendekat sampai jaraknya tinggal dekat dan...
Cup.
Veronica mencium pipi Dimian membuat Dimian menatap gadisnya kesal.
"Jangan di pipi V!"
"Aku tidak peduli," ucap Veronica lalu langsung mengigit lengan Dimian, Dimian mengaduh kesakitan dan itu kesempatannya untuk kabur.
"KAU HARUS MEMBALASNYA SAYANG," teriak Dimian tapi di hiraukan oleh Veronica.
+++
"AAAAA....!!!!!" Teriak Veronica dengan sangat kencang membuat beberapa pengawal dan maid menuju ketempat Veronica.
Dimian yang mendengarnya langsung datang ketempat Veronica, "Ada apa sayang?"
"A-Apa i-itu?" Tanya Veronica dengan gemetar dan menunjuk kotak merah darah.
"Itu hanya sebuah kotak babe."
Dimian pun membuka kotak itu, seketika dia melemparnya, karna tak tahan dengan baunya, Dimian juga langsung menutup kedua mata Veronica sehingga Veronica tak melihat isinya.
"Kenapa kau menutup mataku?" Tanya Veronica dengan bingung.
"Kau ingin aku membuka matamu?" Veronica hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Pergilah ke kamar," sambung Dimian lalu memutar tubuh Veronica.
"Tapi aku mau melihatnya."
"Tidak usah, itu tidak penting dan cuci tanganmu," Veronica hanya menurut lalu melangkah keatas tanpa melihat kebelakang, dia juga sebenarnya takut jadi dia hanya menurut.
Setelah Veronica pergi, Dimian kembali melihat isi dari kotak itu, isinya adalah bangkai kucing yang sudah di potong 9 bagian dan terdapat tulisan dengan darah.
YOU WILL DIE MRS ALTHAF(?) OR MS VERISYKA?
"Jack! Bereskan ini semua dan saya mau ini terakhir kalinya ada kejadian seperti ini! Mengerti?!"
"Baik pak," ucap Jack lalu menyuruh para maid untuk membereskannya."
+++
"Melissa!!!" Panggil Veronica sambil menganyunkam tangannya.
Gadis yang di panggil langsung menoleh, "Lia!!!"
"Maaf menunggu lama ya?"
"Ah tidak juga kok, ayo duduk," Veronica dan Dimian pun duduk di depan Melissa dan kekasihnya.
__ADS_1
Kekasih Melissa cukup tampan wajahnya sangat mirip dengan seseorang yang cukup familiar, tapi dia lupa siapa.
"V perkenalkan ini James, James perkenalkan ini Veronica dan ini tunangannya, Dimian," ucap Melissa memperkenalkan dengan senyuman paksa, tapi jauh di lubuk hati Melissa dia meminta maaf sebanyak-banyaknya.
"Hi, aku Veronica Verisyka, just call me V," ucap Veronica sambil mengulurkan tangannya.
"James Hylton," ucap William dengan senyuman manisnya.
Veronica mendengar nama belakang laki-laki ini langsung menegang, tidak-tidak nama Hylton banyak V chill batin Veronica sekuat tenaga.
"Ekhem, bisa kau lepaskan tangan gadisku?" Tanya Dimian dengan datar, Veronica yang mendengar itu langsung melepaskan tangan William.
"Chill bro," ucap James dengan sedikit kekehan.
James mengulurkan tangannya, "James Hylton."
Dimian membalas jabatannya, "Dimian Althaf."
Mereka pun melanjutkan dengan obrolan dan makan siang dengan santai. Tak kerasa sudah jam 3, waktu Dimian dan Veronica menjenguk Damian.
"Sepertinya sudah sore, kami harus pulang," ucap Veronica dengan sopan.
"Kenapa cepat sekali?" Tanya Melissa dengan wajah sedih.
"Besok-besok kita bertemu lagi Lisa, hari ini aku harus ke Rumah Sakit."
"Siapa yang sakit?"
"Temanku, korban tabrak lari," Melissa hanya mengangguk mengerti.
Mereka pun berjabat tangan, tapi saat Veronica menjabat tangan James, James menariknya sehingga Veronica dekat dengan James.
"I will got you baby," bisik James tepat di telinganya membuat dirinya merinding.
Dimian yang melihatnya langsung menarik lengan Veronica lagi dan langsung membawanya pulang. Dimian membawa Veronica kedalam mobil dengan perasaan kesal.
"Apa yang dia katakan padamu?!" Tanya Dimian dengan mata yang menajam.
"I-I will got you ba-baby."
BUGH...
Dimian memukul stir di depannya, "Sial! Sudah kuduga!"
"A-Apa yang ka-kau duga Dim?"
"Dia melirikmu terus menerus, kuduga dia menyukaimu dan benar terbukti! Sial!"
"Hey calm down babe, I'm yours, okay?" Ucap Veronica agar membuatnya tenang.
"Kau tau? Sepertinya em... Melissa juga menyukaimu, dia melihat kearahmu terus, mangkannya aku mau cepat-cepat pulang."
"Sudahlah, ayo kita ke rumah sakit," Veronica mengangguk menyetujuinya.
Dimian pun menjalankan mobil sprot-nya dengan gagah menuju rumah sakit. Tapi, saat sedang di jalan, ada yang mencegatnya, mau tak mau Dimian harus rem mendadak, sekilas Dimian melihat pistol yang siap di tarik pelatuknya.
"V AWAS! MENUNDUK!" Ucap Dimian tegas dan mendorong kepala Veronica agar menunduk, Veronica menurut.
DOR...
DOR...
++++++++++++++++++++++++++++
__ADS_1
-To Be Continue-