
"V ayo bangun, kau harus sarapan," ucap Dimian sambil terus menggoyangkan badan Veronica.
"Aku tidak mau makan Dim, kau saja."
"Makan!"
"Tidak mau ih!"
"MA.KAN!" Perintah Dimian dengan menekan ucapannya yang berarti tidak bisa di bantah lagi.
"Ck fine!" Ucap Veronica malas lalu mulai memakan makanannya walaupun rasanya tidak enak, dia paling benci makanan Rumah Sakit.
"Sudah," ucap Veronica saat makanannya sudah habis.
"Ini, minum susunya," ucap Dimian sambil menyondorkan segelas susu, yang langsung di tepis oleh Veronica, untung saja tidak tumpah.
"Aku tidak suka susu," ucap Veronica sambil menutup hidungnya, ya dia benci dengan susu.
"Kenapa? Ini sehat, ayo minum."
"Tidak, jauhkan susu dariku, aku tidak suka baunya."
"Baiklah, aku akan membuatkanmu teh," ucqp Dimian nyerah karna tak tega melihat Veronica yang ingin muntah.
Dimian pun membikinkan teh, "Ini minumlah," ucap Dimian sambil menyondorkan minumannya.
Veronica pun meneguknha sampai habis, "Dimian aku ingin pulang," ucap Veronica dengan pelan tapi masih bisa di dengar oleh Dimian.
"Tunggu sampai di perbolehkan."
"Huh! Aku benci dirimu!" Tapi itu tidak bisa membuat Dimian merubah keputusannya, dia hanya diam sambil mengelus pucuk kepala Veronica.
Tok.... Tok... Tok...
"Masuk," ucap Veronica dengan lembut, lalu munculah seorang wanita cantik.
"Momma!" Pekik Veronica dengan senang, sedangkan Dimian sudah menatap tajam ke arah wanita itu.
"Sini ma," ucap Veronica dengan lembut sambil menepuk samping kirinya.
Wanita itu tersenyum lembut, lalu menghampiri Veronica dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Untuk apa anda kesini nyonya? Bisa anda keluar? Kau mengganggu tunanganku yang ingin beristirahat," ucap Dimian dengan tajam ke arah wanita itu.
"Dimian! Biarkan momma-mu disini, kau saja sana yang keluar," usir Veronica dengan kesal.
"Kau mengusirku demi wanita ini?" Tanya Dimian dengan tajam, Veronica menggigit bibir bawahnya.
"Aku hanya ingin mengobrol dengannya," ucap Veronica dengan pelan.
"Baiklah aku ingin membeli minum dulu, nanti aku kembali lagi," ucap Dimian tidak tega melihat tunangannya ketakutan karna dirinya.
Sebelum benar-benar pergi, Dimian mengecup kening Veronica terlebih dahulu membuat Veronica langsung terpaku, pasalnya ada mamanya Dimian disini dia sedikit malu.
"Saat aku kembali, pembicaraan berhenti, okey?" Veronica hanya mengangguk, lalu Dimian akhirnya keluar.
__ADS_1
"Maaf aunty aku kelepasan memanggilmu momma, aku hanya sedikit rindu dengan momma-ku," ucap Veronica merasa bersalah karna tanpa izin memanggil mama Dimian dengan sebutan momma, ya itu panggilan dari Veronica untuk mamanya.
"Tak apa, aku senang karna sudah lama aku tidak mendengar seseorang menyebutkan itu kepadaku."
"Aku akan memanggil momma setiap hari agar momma senang," ucap Veronica dengan senyum senang.
"Kau gadis baik, tidak salah Dimian memilihmu," ucap Veronica sambil mengelus puncak kepala Veronica dengan lembut.
"Momma, boleh aku bertanya?"
"Silahkan."
"Momma masih sayang dengan Dimiankan?" Tanya Veronica hati-hati, Sherlina tersenyum mendengarnya.
"Tidak ada yang namanya seorang ibu yang sudah tidak sayang lagi dengan anaknya."
"Aku mau membantu momma dengan Dimian agar kembali akur, seperti dulu," ucap Veronica dengan senyum semangat.
"Momma harap kau berhasil, momma sangat menunggu hari itu datang."
"Aku janji! Momma percayakan?"
"Tentu saja."
Mereka pun larut dalam percakapan mereka, sesekali Veronica merampalkan doa semoga Dimian lama datangnya, agar ia bisa terus bersama Sherlina, melihat Sherlina membuat dirinya teringat sosok yang sangat ia rindukan, Rania. Wanita kuat dan tegar, dia adalah malaikat yang tuhan berikan untuknya, sayang sekali tuhan mengambil malaikatnya dengan cepat bahkan sebelum dirinya mengucapkan terimakasih dan maaf.
+++
Di lain tempat seorang laki-laki dengan tatapan datar dan menyeramkan, tentu saja orang-orang tidak akan ada yang berani menyapanya karna aura yang dikeluarkan begitu memyeramkan.
"Dimian!" Dimian tidak memperdulikan panggilan itu karna dia merasa sangat tidak mengenali suaranya.
"Hosh... kau lari cepat sekali, sayang, kau lupa dengan ku?" Tanya seorang perempuan dengan pakaian minim.
Dimian mengangkat sebelah alisnya dan menjawab, "Ya," perempuan itu berdecih sebal.
"Aku Kayla."
"Oh."
"Kau tidak merindukanku?"
"Apa kita pernah bertemu?"
"Kau melupakan permaian panas kita malam itu? Ah aku sakit hati kau melupanya, tapi tak apa aku akan membuatmu mengingat itu lagi," bisik perempuan bernama Kayla di samping telinganya, Dimian menarik ujung bibir sebelahnya membentuk seringai.
"Kau tidak usah membuatku mengingatnya, karna aku sudah ingat kalau kau hanya ***** atau bahkan slut. Aku tidak perlu megingatmu karna kau tak lebih dari sampah," bisik Dimian kembali lalu mendorong tubuh Kayla sedikit keras.
"Jika tidak ada yang di katakan, saya permisi," ucap Dimian mulai melangkahkan kakinya, sedangkan Kayla harus menerima malunya karna di tolak dan juga di lihat beberap orang yang berlalu lalang di sekitar lobby rumah sakit.
Jika kalian bertanya kenapa Kayla bisa disini, jawabannya karna dia yang sakit, sakit apa? Hanya tuhan dan dirinya lah yang tau.
+++
Dimian melangkahkan kakinya menuju restaurant yang berada di Rumah Sakit, dia membeli beberapa minum dan setelah tidak ada yang di inginkan dia langsung menuju ke atas, dia tidak ingin tunangannya nanti di racuni wanita itu.
__ADS_1
Dimian berjalan dengan cepat dan tak sampai 5 menit pun dia sudah sampai di kamar inap Veronica, Dimian langsung membuka pintunya tanpa mengetuk, dan ternyata disana terdapat 1 dokter dan 1 perawat yang sedang memeriksa tunangannya. Veronica menoleh ke Dimian lalu tersenyum kecil dan langsung membuang mukanya. Dimian mengangkat alisnya karna merasa ada yang aneh, gapi dia berfikir positif mungkin tunangannya sedang datang tamu.
"Mr Althaf, tunangan anda sudah boleh pulang hari ini, karna kondisinya juga sudah baik, tapi harus lebih banyak istirahat, saya akan berikan vitamin."
"Terimakasih."
"Kalau begitu saya permisi," Dimian hanya mengangguk, sedangkan Veronica tersenyum sopan dan mengangguk.
"Emmm... V momma harus pergi, maaf tidak bisa mengatarkan kamu pulang, sepertinya Dimian juga mau menjelaskan sesuatu, cepat sehat total ya," ucap Sherlina dengan lembut.
"Iya ma terimakasih, tidak apa-apa, kalo momma nganterin nanti malah repot."
"Baiklah momma pergi dulu," Veronica mengangguk.
Sherlina pun mengambil tasnya dan pergi dari ruang rawat inap. Tinggalah mereka berdua tidak ada yang ingin membuka suara duluan, kedunya terdiam dan memilihi bermain dengan pikirannya. Dimian yang aneh karna sikap Veronica yang biasanya cerewet sekarang jadi pendiam.
"V."
"I-Iya?" Tanya Veronica gugup sambil menunduk.
"Kenapa?"
"Siapa? Aku? Aku tidak apa-apa."
"Apa yang wanita itu katakan padamu?" Tanya Dimian sambil menatap tajam ke arah Veronica, Veronica mengigit bibir bawahnya karna gugup.
"Momma ti-tidak mengatakan apa-apa," ucapnya jujur, Dimian yang mendengar jawaban tak memuaskan dari tunangannya itu semakin menatap Veronica dengan dalam.
"Lalu kenapa kau diam?"
"Aku tidak diam! Aku dari tadi bicara, bicara menjawab pertanyaamu itu," ucap Veronica masih dengan kepala tertunduk.
"Tapi kau menjadi pendiam!"
"Aku tak apa, aku hanya lelah, bisa kita pulang sekarang? Ahm... maksudku aku pulang ke apartement-ku yang dulu."
"Aku sudah menjualnya."
"Kau punya uang untuk membelinya lagi bukan?"
"Aku tak mau," ucap Dimian dengan santai, membuat Veronica mendengus kesal.
"Dimian jika aku pergi bagaimana?"
"Tentu saja aku akan mencarimu!"
"Jika aku tidak ingin kembali padamu?"
"Kau akan ku kurung di kamar, sampai kau ingin kembali denganku."
"Terserah! Aku capek," ucap Veronica sambil tertidur lagi di bangkar.
Dimian menggendong Veronica ala bridal style, dengan tatapan datar dia keluar dari kamar inap Veronica.
"Aku tidak akan membiarkanmu lepas lagi sayang, karna selamanya kau miliku, walau takdir menentang kita bersama."
__ADS_1
+++++++++++++++++++++++++++++
-To Be Continue-