My Possessive Jerk

My Possessive Jerk
The Return Of Kayla.


__ADS_3

Untung saja mereka menunduk tepat waktu sehingga pelatuknya tak mengenai mereka, Dimian yang sedang mood tidak baik ingin membuka pintu untuk menghajar mereka semua.


"Aku turun dulu, kau diam saja di mobil," perintah Dimian dengan nada datar.


Veronica menggeleng cepat, "Tidak! Sudah abaikan saja dia, aku tidak mau kau kenapa-kenapa, please," ucap Veronica dengan mata yang berkaca-kaca.


"I'm sorry V but I must!" Ucap Dimian lalu turun dari mobil, Veronica mengigit bibir bawahnya sambil merampalkan doa semoga tunangannya itu baik-baik saja.


Veronica melihat kaca yang retak karna pelatuk tadi, melihatnya langsung membuat Veronica merinding.


Veronica hanya bisa melihat Dimian dan para pengawal sedang mencondongkan pistol, tetapi para penjahat itu juga sedang mencondongkan pistol di pelipis Dimian.


"Apa aku harus turun?" Gumam Veronica dengan takut-takut.


"Tapi kalau aku turun, nanti malah merepoti Dimian, aku harus gimana?" Tanya Veronica dengan panik.


Veronica semakin gugup melihatnya dan memilih menutup mata dengan kedua telapak tangannya dengan sesekali dia mengintip.


Penjahat yang tadi mencondongkan pistol kearah pelipis Dimian sudah tersekukur di aspal, tidak tau apa yang di lakukan Dimian padanya karna tadi ia menutup mata.


Ceklek...


Mendengar suara pintu terbuka Veronica membuka matanya yang sudah di banjiri air mata.


"Dimian! Are you okay?" Tanya Veronica saat dia tahu Dimian lah yang masuk.


"I'm okay."


"Mereka siapa?"


"Tidak penting," mendengar jawaban dengan nada datar membuat Veronica kesal dan memilih diam.


Dimian melanjutkan perjalanannya, para penjahat itu sudah di urus dengan Jack jadi dia tidak repot-repot.


Mereka pun sampai di rumah sakit, Veronica keluar dari mobil duluan dan menutup pintu mobil dengan kencang mempertanda ia sedang marah.


"Jill, kenapa kau meninggalkanku?!" Tanya Dimian dengan kesal dan menatap Veronica tajam.


Veronica tak menjawab dan langsung memasuki lift, Dimian mengikuti Veronica dengan jengkel.


"Jill aku tidak tau masalahmu, akh tidak tau kesalahanku, apa ada yang salah?" Tanya Dimian dengan lembut.


Lagi-lagi Veronica enggan membuka suaranya bahkan untuk melihat saja dia malas.


Dimian yang kesal langsung mendorong Veronica kedinding lift, untung saja di lift hanya ada mereka berdua.


"Jawab aku Jill, aku tidak suka kau diamkan," bisik Dimian dengan nada geram.


"Lepaskan aku Dimian! Ini di lift," ucap Veronica dengan dingin dan datar.


"Aku tidak peduli."


Veronica meronta-ronta agar di lepaskan tapi tetap saja tenaga Dimian lebih besar darinya.


"Lepaskan Dimian!" Masih dengan meronta-meronta, tapi Dimian tidak melepaskannya juga.


"Tidak sebelum kau jawab pertanyaanku."


"Apa pertanyaanmu?!" Tanya Veronica dengan malas.


"Kau kenapa?"


"Aku? Tidak apa-apa dan sekarang lepaskan aku!" Ucap Veronica dan menghentakan tangan Dimian dan berhasil.


Ting...


Pintu lift terbuka, Veronica pun langsung melangkah keluar, Dimian yang melihatnya langsung mengejar tunangannya itu dan menggandeng tangannya, awalnya Veronica tidak mau tapi siapa yang bisa melawan seorang Dimian?


Veronica sudah sampai di kamar Damian, sekilas dia membaca nama yang tertera di pintu.


DAMIAN's ALTHAF


VIP ROOM


Althaf? Apa nama nya tidak berhubungan dengan Dimian? Sungguh Veronica sangat penasaran tapi dia menunggu Dimian untuk bercerita dengan sendirinya.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


"Masuk," Veronica yang mendengar ia di izinkan langsung membuka pintu kamar inap Damian dengan senyuman.


"Damian," ucap Veronica dengan senang membuat Dimain jengkel.


"V?! Kau tau dari mana aku dirawat?" Tanya Damian dengan sedikit terkejut.


"Rahasia, kenapa kau bisa seperti ini Dami?" Tanya Veronica dengan nada prihatin.


"Dia tabrak lari, kau tidak tau?" Tanya seorang gadis cantik, Veronica melihat kearah gadis itu seketika matanya melebar.


"Shelin?! Argh... aku rindu sekali denganmu," ucap Veronica lalu memeluk Shelin dengan erat.


"Hai V long time no see huh?"


"I think so, very long time, jangan salahkan aku, salahkan dia," ucap Veronica sambil menunjuk kearah Dimian.


Dimian menaikan sebelah alisnya, "Apa salahku?"


"Kau selalu salah Dim!" Dimian menatap Veronica malas.


"Jadi? Bagaimana bisa polisi tidak menemukan itu Dami?" Tanya Veronica beralih menatap Damian.


"Aku sebenarnya tau siapa pelakunya tapi aku harus mengumpulkan bukti yang kuat dulu, karna orang ini sangat berbaya," ucap Damian dengan smirk di bibirnya.


"Aku harap kau mengumpulkan bukti secepatnya Dami."


"Ya, pasti!"


"Kau jangan mencari penjahatnya dulu, lebih baik kau fokus ke kesehatanmu dulu," Damian yang mendengar nada khawatir Veronica membuatnya tersenyum.


Damian menarik tangan Veronica dan memeluknya, "I never let you go," bisik Damian yang membuat Veronica bingung.


Tiba-tiba ada yang menarik lengannya, "Jangan sentuh gadisku!"


"Stúlkan þín? Hann passar ekki við þig!" Ucap Damian dengan tajam.


"Þá? Ertu samhæft við Veronica?" Tanya Dimian dengan raut wajah datarnya.


"Kannski."


"Sudah-sudah! Aku tidak mengerti kalian bicara apa! Bicaralah dengan bahasa normal! Dimian kau bicara apa?" Tanya Veronica dengan kesal.


"Shelin kau mengerti apa yang mereka bicarakan?"


"Ya, sedikit."


"Apa yang mereka bicarakan?"


"Bukan hal penting," ucapan Shelin membuat Veronica mengerucutkan bibirnya kesal.


"Dimian ayo kita pulang, aku lelah," ucap Veronica sambil bergelayut manja di lengan Dimian, sungguh menggemaskan.


Veronica seperti anak kecil jika sedang manja, Dimian yang melihat itu langsung mengecup kening Veronica dengan cepat.


"Baiklah, ayo," ucap Dimian sambil tersenyum tipis.


Damian yang melihat Veronica manja dengan Dimian langsung membuang wajah kearah lain.


"Damian, aku pulang dulu ya, besok jika ada waktu aku akan menjengukmu lagi," ucap Veronica dengan senyum yang sangat manis.


"Iya, tapi jika bisa tidak usah membawa tunanganmu itu."


"Kenapa? Apa Dimian menyebalkan? Ah dia memang menyebalkan, lain kali aku tidak membawanya," ucap Veronica dengan wajah polos yang menggemaskan.


"Jill..." peringat Dimian, Veronica hanya tersenyum lebar dengan polos.


"Just kidding, ayo kita pulang, Shelin aku pulang dulu ya," ucap Veronica kepada Shelin dan langsung memeluk Shelin.


"Hati-hati," Veronica hanya mengangguk.


Veronica dan Dimian pun pulang ke mansion Dimian, Veronica yang sudah merasakan kantuk langsung saja memejamkan matanya karna dia sangat lelah.


Dimian yang melihatnya langsung tersenyum, senyum yang tak pernah di lihat oleh siapapun kecuali Veronica. Mereka sampai di mansion Dimian, Dimian yang tak tega membangunkan gadisnya memilih untuk menggendong Veronica.


"Dimian... i must leave," ucap Veronica masih dengan mata terpenjam, sepertinya dia mengigau.


"You can't leave baby," ucap Dimian membalas.

__ADS_1


Mereka sudah sampai di kamar Dimian, Dimian menaruh badan mungil Veronica dengan hati-hati kemudian membuka high heels Veronica, setelah itu menyelimuti tubuh Veronica dengan selimut sebatas pundak.


+++


"Hoam..."


Veronica terbangun karena sinar matahari pagi yang mengganggu tidurnya. Veronica melihat kesekitar ruangan, kamar Dimian. Ya dia sangat tahu jika ini adalah kamar Dimian karna cat berwarna abu-abu putih yang mendominasi kamarnya.


"Dimian?" Panggil Veronica sambil melihat kanan-kiri, tapi dia tak menemukan sosok tunangannya itu.


Dia melihat ke arah nakas dan menemukan secarik kertas, Veronica pun mengambilnya dan membacanya.


Dear My Fiance, Veronica.


Mungkin saat kau terbangun aku sudah tidak di mansion, aku sudah berada di kantor, jadi jangan mencariku. Aku akan pulang malam karna lembur, jangan menungguku, jika kau ingin kerja, silahkan tapi kau harus bersama Jack.


-Dimian Althaf.


"Cih! Tidak ada kata-kata romantis! Kukira dia akan mengucapkan kata-kata romantis seperti di novel yang aku baca," gumam Veronica lalu melempar kertas itu.


"Sadarlah V, Dimian tetap Dimian! Lebih baik aku siap-siap kerja."


+++


"V kau kemana saja?" Tanya Very dengan nada lesu.


"Aku mempunyai urusan, jadi aku jarang berkerja, ah iya dimana Axwell?"


"Urusan apa? Axwell dibawah."


"Temanku korban tabrak lari, jadi aku harus mejenguknya," Very hanya mengangguk mengerti.


"Heh anak haram, itu ada pelanggan datang, kau urusi dulu," Veronica yang mendengar itu langsung menjalankan tugasnya, dia sudah biasa di panggil dengan sebutan 'anak haram'


+++


-Althaf's Corporation-


Kring...


Dimian yang mendengar telfon berbunyi dari telfon kantornya langsung mengangkatnya.


"Ada apa?"


"Maaf tuan saya mengganggu, tapi ada perempuan yang mengaku tunangan anda, ingin bertemu dengan anda."


"Siapa namanya?"


"Kayla Dominique."


"Suruh dia masuk."


"Baik tuan."


Pip.


Dimian memijat pelipisnya, apa lagi ini? Batin Dimian dengan kesal. Masalahnya terlalu banyak, dari mulai Eric, William, Axwell, Damian, Agram, James dan sekarang di tambah Kayla.


"Hi baby, I miss you so much," ucap seorang gadis yang langsung membuka pintu ruangan Dimian dan duduk di pangkuannya.


"Apa maumu *****?!" Bentak Dimian dengan keras tapi tidak membuat goyah Kayla.


"Aku ingin kau menikahiku dan memilikimu," ucap Kayla lalu memegang rahang Dimian dan mendekatkan bibirnya.


Terlihat dari belakang mereka seperti berciuman tapi sebenarnya tidak. Dimian yang sedang dalam mood tidak baik langsung menepis kasar dan berdiri membuat Kayla terjatuh di ubin.


"PERGI SENDIRI ATAU DENGAN CARA KEKERASAN!"


"Aku akan pergi dengan satu syarat."


"Apa?"


"Pergi ke club sesuai janjimu kemarin malam untuk menemuiku, SEN-DI-RI," ucap Kayla dengan smirk-nya membuat Dimian muak.


"Baiklah."


+++++++++++++++++++++++++++++

__ADS_1


-To Be Continue-


__ADS_2