My Possessive Jerk

My Possessive Jerk
A Whisper


__ADS_3

Mereka sudah sampai di mansion Dimian, Veronica langsung turun di ikuti Dimian tapi Dimian menarik lengan Veronica.


"Aku mau pergi dulu sebentar ya, kamu di rumah aja," ucap Dimian dengan lembut dan senyuman tipis ralat sangat tipis.


"Mau kemana?" Tanya Veronica dengan penasaran.


"Ada urusan kantor."


"Oh oke, bawain aku ice cream ya, aku lagi mau ice cream."


"Kau hamil? Padahal kita belum—"


"MESUM!" Potong Veronica lalu memukul tunangannya itu dengan kesal, Dimian hanya terkekeh.


"Bercanda sayang, nanti aku beliin, kamu di rumah aja jangan kemana-mana."


"Siap boss," ucap Veronica dengan tangan yang berhormat.


Dimian mengecup kening Veronica sebelum pergi, Veronica melambaikan tangannya ke arah mobil Dimian.


Setelah mobil Dimian hilang dari pandangannya, Veronica melangkah masuk kedalam mansion Dimian. Dimian memang terkadang mengajaknya ke penthouse lalu ke mansion-nya sesuai mood dia.


"Veronica!" Mendengar namanya di panggil dia menoleh ke sumber suara.


"Damian?!" Pekik Veronica kaget lalu menghampiri Damian yang berada di luar pagar.


"Bagaimana bisa kau tau aku disini?" Tanya Veronica bingung lalu membukakan pagar untuk Damian.


"Aku tidak lama, hanya saja aku ingin mengatakan Dimian tidak baik untukmu V!"


"Apa maksudmu?"


"Ku mohon jauhi dia, dia monster, dia iblis, jauhi dia kumohon."


"A-Aku tidak mengerti maksudmu Dami," ucap Veronica dengan gugup.


"Demi Shelin dan aku, mohon jauhi dia."


"A-Aku tidak bisa, aku tidak mengerti maksudmu! Beri aku alasan dan dimana Shelin?"


"Shelin ada bersamaku di tempat yang aman, dan aku akan membawamu ketempat aman juga, ayo," ucap Damian lalu menarik tangan Veronica tapi Veronica memberontak dan cengkalannya terlepas


"Aku tidak mengerti maksudmu! Ka-Kau aneh! Apa kau mabuk?"


Damian memegang tangan Veronica, "Dia adalah seorang pe—"


"Nona," suara dari Jack membuat Veronica tersentak kaget.


"Ada apa Jack?" Tanya Veronica sambil mengelus dadanya karna kaget.


"Mohon lepaskan tangan nona Veronica," ucap Jack dengan tajam, Damian pun melepaskannya pasrah.


"Anda harus istirahat nona, anda baru saja keluar dari Rumah Sakit."


"Tapi, apa Damian apa boleh masuk?"


"Maaf nona kami dilarang membawa orang asing, nona."


"Tapi dia temanku bukan orang asing."


"Apa tuan Dimian sudah pernah bertemu dengannya?" Veronica menggeleng lalu menghela nafas.


"Baiklah, aku masuk, Damian pulanglah mungkin kau mabuk, kau butuh istirahat."


"Tidak V, dengarkan aku dulu V!" Tapi percuma para pengawal melarangnya mengejar Veronica yang sudah berjalan jauh.


"Sialan kau Althaf!" Maki Damian sambil menendang pagar yang sudah tertutup.


Veronica sudah berada di dalam mansion Dimian sambil memikirkan perkataan Damian.


"Pe... hmm... pelacur? Hahaha kau bodoh V tidak mungkin Dimian seperti itu."


"Pe... Pelayan? Dia kaya tidak mungkin pelayan atau mungkin iya? Apa ini rumah tuannya? Ck tidak mungkin bodoh!"


"Pe... Pengacara? Bukankah itu bagus? Aih bikin sakit aja kepalaku," ucap Veronica sambil mengacak-acak rambutnya.


"Kau kenapa babe?" Suara yang sangat dia hafal membuatnya terkejut.


"Astaga Dimian! Kau membuatku kaget tau!"


"Kau asik dengan pikiranmu, sampai tidak sadar aku sudah pulang."


"Maaf, tadi ada temanku kesini, aku tidak tau kenapa dia bisa disini dan tau aku disini," Dimian memincingkan matanya dan menatapnya tajam.


"Siapa?"


"Damian, sekilah wajahnya mirip denganmu, apa dia saudaramu? Dan saat kulihat di sosial media, nama belakangnya Althaf."


"Bukan, dia mengatakan apa saja?"

__ADS_1


"A-Aku di suruh meninggalkanmu."


"Kau melakukannya?" Mendengar pertanyaan itu membuat Veronica menatapanya malas.


"Jika aku meninggalkanmu, aku sudah tidak disini!"


Dimian langsung memeluk Veronica erat, Veronica yang kaget langsung mematung.


"Jangan pernah meninggalkanku V, aku tidak bisa tanpa dirimu, kau jiwaku, kau Ratuku, kau segalanya," Veronica yang mendengar itu merona dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dimian.


Veronica membalas pelukan Dimian tak kalah erat.


"Cih dasar tukang rayu! Aku tidak akan meninggalkanmu jika bukan kau yang menyuruhku."


"Percayalah padaku, jangan mendengarkan kata orang tentangku, karna itu tidak benar, mereka hanya ingin mengambilmu dariku."


Veronica mengangguk pelan, "Aku percaya padamu."


Dimian melepaskan pelukannya lalu mencium bibir ranum Veronica, Veronica hanya terpejam. Mereka pun melepaskan ciumannya.


Veronica menatapnya dengan tajam, "Ih kau cium sembarangan!" Ucap Veronica kesal.


"Tapi kau menikmatinya juga kan?" Goda Dimian yang membut Veronica merona.


"Mesum!" Ucap Veronica dengan kesal.


"Maaf."


"Tidak mau!"


"Aku akan membelikan apa saja jika kau memaafkanku."


"Baiklah aku ingin peliharaan."


Dimian menaikan sebelah alisnya, "Pelihara apa?"


"Menurutmu anjing atau kucing?"


"Aku tidak suka keduanya, mereka berisik."


"Kau jahat!"


"Yes am I."


"Aku ingin anjing, belikan aku ya."


"Kenapa kau tiba-tiba ingin peliharaan?"


"Baiklah aku akan membelikannya," Veronica yang senang langsung memeluknya.


"Thank You Dimian."


"As you wish princess," ucap Dimian lalu membalas pelukan Veronica.


"Lebih baik kau istirahat, kau baru keluar dari Rumah Sakit, jika kau sakit lagi, aku tidak akan membiarkanmu keluar lagi."


"What the ****?!" Pekik Veronica tidak sadar.


Dimian memincingkan matanya mendengar kata-kata yang keluar dari bibir tunangannya itu.


"Kau mengucapkan apa?" Veronica yang mendengar nada dingin Dimian langsung meringis takut.


"Sorry, aku kelepasan," ucap Veronica menunduk, ya Dimian memang tidak suka mendengar ucapan kasar dari bibir tunangannya.


"Aku maafkan kali ini, tapi tidak di waktu lain."


Veronica hanya mengangguk, "Dim aku bosan dan aku tidak mau istirahat berdiam di kasur," rengek Veronica dengan manja.


"Kau mau apa?"


"Hmm... wait!! Dimana ice cream-ku?" Tanya Veronica dengan tidak sabar.


"Ada di kulkas."


"Yasudah kita movie marathon sambil memakan ice cream."


"Terserah padamu," ucap Dimian dengan malas, Veronica tidak peduli lalu berlari kearah kulkas dan mengambil ice cream-nya.


"Jangan banyak-banyak Jill, kau bisa sakit," peringat Dimian dengan nada tajam.


"Ya ya ya," mendengar nada menjengkel dari bibir Veronica membuatnya gemas.


"Ayo!"


+++


Mereka sudah menghabiskan waktu selama kuranh lebih 3 jam hanya untuk menonton film. Dimian sebenarnya sudah bosan tapi gadisnya ini akan merengek jika dia tidak ikut menonton dengan sangat terpaksa Dimian menonton film yang di pilih gadisnya.


"Film macam apa ini? Bagaimana bisa rambutnya sepanjang itu? Dia pasti kutuan."

__ADS_1


"Diam Dimian! Kau merusak suasana," Dimian memutar bola matanya malas.


Ponsel Dimian tiba-tiba getar menandakan ada pesan masuk.


Jack


Semua sudah di bereskan tuan, tapi kita masih belum menemukan William


Cari dia sampai dapat! Dia sudah melihat senjata kesayanganku!


Baik tuan, kami sedang mencarinya.


Read


Tiba-tiba ponsel Veronica lah yang sekarang bergetar menandakan pesan masuk. Veronica langsung melihatnya, sesekali Dimian juga melirik ke arah ponsel Veronica.


Melissa Shelter


Hey! Kau sibuk?


Tidak, kenapa?


Besok bisa kita bertemu?


Okay, dimana?


Terserah padamu.


Di Starbucks saja gimana?


Baiklah, boleh aku mengajak kekasihku?


Tentu, aku akan membawa Dimian.


Baiklah.


See you tomorrow.


"Dimian besok boleh aku pergi dengan Melissa lagi?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Karna tidak boleh."


"Oh ayolah! Dan kau juga harus ikut, karna kekasih Melissa ikut dengannya, kau tidak mau kan aku menggoda kekasihnya?"


Dimian menaikan sebelah alisnya, "Berani?"


"Tentu saja!"


"Fine aku ikut."


"Tuan, nyonya permisi, saya hanya ingin mengatakan makan malam sudah siap," ucap seorang maid yang datang.


"Terimakasih kami akan kesana," ucap Veronica ramah, lalu maid itu pergi.


"Ayo makan," ucap Dimian lalu menarik tangan Veronica agar berdiri.


"Aku malas makan Dimian, boleh aku tidak makan?"


"Tidak."


"Ck kau menyebalkan! Gendong aku, aku malas berjalan," ucap Veronica dengan kesal sambil merentangkan tangannya.


Tanpa sepatah katapun, Dimian langsung menggendong Veronica ala bridal style, reflex Veronica mengalungkan tangannya di pundak Dimian.


Setelah sampai di tempat duduk Dimian menurunkan Veronica hati-hati.


"Wah pasta!" Ucap Veronica terbinar-binar lalu mulai menyantap makanan di depan matanya dengan semangat.


"Pelan-pelan V kau bisa terse—"


"Uhuk... uhuk..." belum selesai Dimian berbicara Veronica sudah tersedak, Dimian buru-buru mengambil air minum untuk Veronica.


"Apa ku bilang! Pelan-pelan!" Ucap Dimian dengan nada yang meninggi.


"Maaf..." ucap Veronica menunduk takut.


Dimian yang menyadari itu langsung memeluk Veronica erat, "Maaf aku hanya takut kamu kenapa-kenapa V."


"Tidak Dim, aku yang seharusnya minta maaf," cicit Veronica dengan pelan.


"Sudah lanjutkan makananya dan pelan-pelan, oke?" Veronica mengangguk cepat dan melanjutkan makannya dengan semangat, Dimian hanya tersenyum tipis ralat sangat tipis.


Jika di luar sana perempuan akan menjaga image mereka di depan Dimian, agar Dimian tertarik padahal itu membuat Dimian muak, berbeda dengan gadisnya, gadisnya tidak pernah menjaga image-nya di depan dia, itu membuat dirinya tertarik pada gadisnya sejak kecil.


"Kau dan aku tidak akan ada yang memisahkan! Kau hanya tercipta untuku, siapa yang berani merebutmu, sama saja mengantar nyawa padaku! 'Cause you're mine! Only mine! Remember that!" Batin Dimian dengan smirk di bibirnya.

__ADS_1


+++++++++++++++++++++++++++++


-To Be Continue-


__ADS_2