My Possessive Jerk

My Possessive Jerk
Trauma


__ADS_3

Dimian naik ke kamarnya saat dia sudah menenangkan dirinya, tapi saat dia membuka kamarnya dia tidak menemukan siapa-siapa.


"V? Kamu dimana? Veronica where are you? I'm so sorry, aku tadi kehilangan kontrol," Dimian memeriksa semua tempat seperti walk in closet, kamar mandi tapi dia tidak menemukannya.


Dia melihat selembar kertas di mejanya, lalu membacanya dengan rahang mengeras, "SHIT!" Dimian langsung mengambil kunci mobil.


"Kau liat Veronica?" Tanya Dimian kepada salah satu pelayang yang berlalu lalang.


"Ta-Tadi nona Veronica pergi menaiki Taxi dengan mata sembab tuan," ucap pelayan itu dengan menunduk karna takut.


"Sial, Veronica jangan tinggalkan aku," gumam Dimian lalu pergi ke garasi untuk mengambil mobilnya.


"Veronica tadi pergi ke arah mana?" Tanya Dimian kepda penjaga gerbangnya.


"Ke arah sana tuan," ucap penjaga gerbang sambil menunjukan arah Veronica pergi.


Dimian langsung menancap gas, dia pun menelfon Jack untuk meminta bantuan, "Jack cepat cari Veronica, jangan menelfonku kalau kau belum menemukannya!" Ucap Dimian lalu langsung mematikan telfonnya.


Tak lama kemudian Dimian menerima pesan dari Jack, dia melihatnya, ternyata Jack melacak ponsel Veronica, Dimian pun menancap gas, untung saja jalanan sepi, tapi saat hampir dekat, sinyal Veronica hilang.


"Shit!" Ucap Dimian sambil memukur stir.


Dimian menghubungi Jack lagi, "Jack! Kenapa sinyal Veronica hilang?"


"Mungkin baterainya habis atau ponselnya di airplane, saya akan coba mencarinya tuan."


"Baik segera hubungi jika kau menemukannya," Dimian langsung mengakhiri hubungan telfonnya sepihak.


Dimian terus mencari sampai akhirnya ada yang menggangu pandangannya, seorang perempuan dengan pakaian basah di pemakaman sendiri, Dimian melihatnya dalam, dan memutuskan turun. Dimian berjalan menghampiri perempuan itu yang sudah basah kuyup karna hujan, tubuh perempuan itu bergetar bisa di pastikan dia kedinginan, setelah lebih dekat, dia bisa melihat wajah perempuan itu, itu Veronica. Dengan langkah besar Dimian menghapiri Veronica tapi tiba-tiba Veronica jatuh.


"Jill! Jill wake up, damn!" Maki Dimian lalu menggendong Veronica ala bridal style menuju mobilnya.


Bibir Veronica yang biasanya merah muda sekarang menjadi biru, seluruh tubuhnya dingin, Dimian tentu merasa bersalah karna tidak bisa menjaga gadisnya dengan baik. Dia membawa Veronica ke rumah sakit terdekat.


+++


Disinilah Veronica, di ranjang rumah sakit dengan Dimian duduk di samping ranjang Veronica dengan tangannya yang menggenggam tangan Veronica yang dingin.


"Eugh... papa... ja-jangan.. arghhh... papa ma-maafkan aku, a-aku janji ja-jadi anak baik... ja-jangan pukuli aku papa... mama tolong aku... arghhhh.... Dimian...." Dimian yang mendengar ringisan Veronica langsung mengusap kepala Veronica lembut.


"I'm here V, it's okay," ucap Dimian sambil memeluk Veronica agar tenang.


Sekiranya Veronica sudah tenang, Dimian melepaskan pelukannya, tak disangka Veronica membuka matanya, Dimian tersenyum melihat gadisnya akhirnya membuka matanya.


"Ja-Jangan... a-aku ta-takut, a-aku janji tidak melawanmu, jangan pukul aku, ja-jangan bentak aku, ma-mama ta-takut," ucap Veronica terbata-bata sambil menangis, Dimian yang melihatnya teriris.


"Veronica maafkan aku," ucap Dimian lalu ingin memeluk Veronica.

__ADS_1


Veronica memberontak agar tidak di peluk Dimian, "Ja-Jangan dekat-dekat aku, aku takut," ucap Veroncia dengan tangan yang di ibaskan di udara.


Tapi bukan Dimian jika tidak memaksa, Dimian tetap memeluk Veronica walau gadis itu memberontak.


"Sssttt... tenang ya? Maafkan aku," akhirnya Veronica tenang tapi terisak.


"Kau mau a-aku me-memaafkanmu?" Tanya Veronica dengan gemetar, Dimian mengangguk.


"Ambilkan cutter ataupun gunting, pokoknya benda tajam," ucap Veronica, Dimian melepaskan pelukannya dan menatap Veronica dalam.


"Untuk apa?"


"Ambilkan saja," Dimian mengangguk dan mencari sesuatu, dan dia mendapatkan pisau buah, Dimian langsung memberikannya ke Veronica, Veronica mengambil dengan senyumannya.


Veronica langsung mengarahkan pisaunya ke tangannya, Dimian membulatkan matanya, dan ingin mengambil pisaunya dari Veronica, tapi terlambat.


Syat....


Darah sudah mengalir mengenai selimut rumah sakit, saat Veronica ingin mensayat tangannya lagi, Dimian mengambil pisaunya dari tangan Veronica.


"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Tanya Veronica saat pisaunya di ambil Dimian.


"AKU YANG HARUSNYA BERTANYA! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Bentak Dimian sambil menjambak rambutnya frustasi.


"Aku sedang mencari kesenanganku," lirih Veronica tidak peduli dengan darah yang masih mengalir di tangannya.


"Itu bukan kesenangan! Tapi kesakitan!"


"Maafkan aku," lirih Dimian sambil mengusap kepala Veronica, Veronica memegang erat kemeja yang di pakai Dimian.


"Ayo bersihkan lukamu dan jangan lakukan hal tadi! Mengerti?" Sambung Dimian dengan tegas.


"Aku tidak bisa janji."


"Yasudah, jika kau melakukannya aku juga melakukannya dua kali lipat," Veronica menatap kaget ke arah Dimian.


"Jangan sakiti dirimu hanya karna aku," ucap Veronica sambil menatap Dimian dengan tatapan terluka.


"Maka jangan lakukan itu demi aku."


"Fine," lirih Veronica dengan sedikit tidak rela.


"Tapi, boleh aku pulang sekarang? Aku tidak suka yang namanya rumah sakit."


"Kau bisa pulang jika keadaanmu sudah sehat kembali," Veronica menghela nafasnya kasar.


"Pleaseee... aku maunya sekarang," ucap Veronica dengan tatapan puppy face-nya.

__ADS_1


"I said no," Veronica memutar bola matanya malas lalu berbaring di kasurnya yang sudah terkena bercak merah.


"Bersihkan dulu tanganmu Jill!"


"Aku tak mau."


"Jill... bersihkan dulu, nanti infeksi," tidak ada jawaban dari Veronica, Veronica hanya diam dan mencoba tidur.


"Jill!"


Karna menyerah Dimian keluar dan mencari perawat, sedangkan Veronica hanya diam dan memaki Dimian dalam benaknya. Tak lama kemudian Dimian datang dengan perban, betadine, dan gunting. Beruntung disitu Veronica sudah tertidur jadi Dimian tak perlu mengeluarkan tenaganya untuk memaksa Veronica. Dimian mulai mengobati luka Veronica dengan perlahan agar tidak membangunkan Veronica.


+++


Veronica membuka matanya perlahan karna merasakan sinar matahari yang memaksa masuk ke matanya. Veronica pun terpaksa membuka matanya, hal yang pertama dia lihat adalah Dimian yang berada di samping ranjang.


"Kenapa dia bodoh sekali tidur disitu, kenapa tidak di sofa?" Gumam Veronica dengan kesal, akhirnya dia membangunkan Dimian.


"Dim... Dimiannn... bangun, kau akan sakit badan nanti," ucap Veronica sambil menggoyangkan badan Dimian.


Tak sengaja dia melihat tangannya yang sudah di obati entah dengan siapa, tapi dalam benaknya muncul nama Dimian dan itu membuat hatinya berbunga-bunga.


"Euggh..."


"Akhirnya kau bangun! Kenapa kau tidur disitu hah?!" Tanya Veronica dengan kesal dan menatap tajam Dimian.


"Jangan melihatku seperti itu Jill, kau terlihat gemas," ucap Dimian sambil mencubit kedua pipi Veronica.


"Swakwit Dimwian."


"Kau bilang apa?"


Veronica mengerucutkan bibirnya, "Hahaha baiklah," kekeh Dimian sambil melepas kedua cubitannya.


"Sana kau tidur lagi."


"Okay," Dimian pun menaiki bangkar Veroncia, Veronica sontak menggeser tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Tidur."


"Maksudku tidur di sofa bukan disini," ucap Veronica sambil menunjuk sofa yang berada di kamar rumah sakitnya.


"Aku maunya disini, agar bisa memelukmu," ucap Dimian lalu memeluk Veroncia demgan erat, Veronica kali ini tidak memberontak hanya senyum.


Veronica mengusap lembut rambut Dimian dan mengulum senyum, senyum yang sangat manis, mungkin jika Dimian lihat, dia akan marah, karna dia tak suka berbagi dalam bentuk apapun terlebih lagi Veronica.

__ADS_1


"Apa ini kebahagianku? Jika iya, tolong jangan ambil kebahagian ini, biarkan aku bahagia," batin Veronica dengan senyum kesedihannya.


TBC


__ADS_2