
"Siapa yang menjegat kita?" Tanya Dimian dengan bingung tetapi dengan wajah datar.
"Akan saya periksa tuan," Dimian mengangguk.
"Perasaanku tidak enak," ucap Veronica sambil mengelus tengkuknya.
"Mungkin hanya perasaanmu," Veronica hanya mengangguk dan berdoa semoga yang dikatan Dimian benar.
Tok... Tok... Tok...
Mendengar kaca yang di ketuk dari luar membuat Dimian menoleh, dan terlihatlah Josh, Dimian menurunkan kacanya.
"Maaf tuan, dia berkata kalau dia menginginkan putrinya," Dimian menaikan sebelah alisnya, sedangkan Veronica yang mendengarnya menegang.
"Siapa dia?"
"Aku? Aku calon mertuamu," ucap seorang pria yang tiba-tiba berada di samping Josh.
"Siapa anda?" Tanya Dimian sedangkan Veronica yang mendengar suara tak asing di telinganya hanya bisa menunduk, dia jelas sangat tau siapa dia.
"Aku? Calon Menantu macam apa kau tidak tau calon mertuamu sendiri," ucap pria itu sambil terkekeh, Dimian memandang pria di depannya dengan datar.
"Katakan kau siapa atau aku akan menabrak motor sialanmu yang menghalangi jalanku."
"Dimian sebaiknya kita pergi," tutur Veronica dengan pelan tapi masih dapat di dengar oleh Dimian dan juga pria di luar itu.
"Kau tidak sopan sekali dengan ayahmu," ucap pria itu, Dimian menaikan alisnya bingung.
"Ka-Kau bukan ayahku!" Ucap Veronica gemetar, Veronica menolehkan wajahnya dan bertatap muka dengan pria di depannya.
"Dimian kumohon bawa aku pergi atau aku akan keluar dari mobilmu," ancam Veronica, Dimian hanya menghela nafas dan mengangguk, saat kaca ingin di tutup, pria tadi menjabak rambut Veronica.
"KAU! ANAK TAK TAU DI UNTUNG?! INIKAH SIKAPMU TERHADAP AYAHMU SENDIRI?!" Veronica hanya bisa meringis kesakitan, Dimian yng melihatnya langsung membulatkan mata dan berusaha melepaskan tangan pria itu dari tangan gadisnya.
"Lepaskan tanganmu, atau kau akan tau akibatnya!" Ancam Dimian dengan datar dan dingin.
"Kau selamat kali ini jalang! Tapi tidak di lain waktu," ucap pria itu lalu mendorong kepala Veronica, pria itu langsung pergi menuju motornya.
__ADS_1
Veronica hanya bisa menangis, Dimian yang bingung hanya bisa memeluk gadisnya, berharap itu membuat gadisnya nyaman, sungguh Dimian ingin mengejar pria itu, tapi Veronica memeluknya terlalu erat.
"Siapapun dia, dia sudah bermain api denganku, dan dia akan menanggung akibatnya," batin Dimian geram karna melihat Veronica sampai bergetar.
"It's okay V," Veronica mengangguk.
"Kau mau cerita?" Veroncia diam, dia sedang berfikir tapi rasanya dia harus terbuka dengan Dimian.
Veronica pun melepaskan pelukannya dan melihat Dimian, "Aku akan ceritakan tapi bisa kita lanjutkan perjalanannya? Kenapa kita malah berhenti disini?" Dimian mengangguk lalu menyuruh Josh, dan mobil pun berjalan.
"Aku akan cerita," Dimian mengangguk dan mulai mendengarkan Veronica.
Flashback On
Agram Hylton, Rania yang tak lain mom dari Veronica sudah berhubungan selama tiga tahun dengan Agram, selama itu Rania tidak tau kalau sebenarnya Agam mempunyai banyak simpanan, ah tidak, mungkin lebih tepatnya jalang, sebelum mereka menikah mereka pernah berhubungan intim dan hadirlah Veronica, Rania awalnya tak masalah toh dirinya dan Agram akan menikah pada akhirnya. Tapi Rania salah, Agram tidak mau bertanggung jawab dan saat itulah Rania menyalahkan atas kehadiran Veronica, bahkan sebelum Veronica hadir merasakan dunia. Rania menangis dan meminta pertanggung jawab dan mengancam Agram, akhirnya dia mau tanggung jawab, dan menikah dengannya, tapi saat Veronica lahir, Veronica tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang, Rania selalu menitipkan Veronica di rumah paman dan bibinya, tapi mereka sama saja, tidak mau menampung Veronica yang tak tau apa-apa, Agram yang sekarang suka mabuk-mabukan dan membawa jalang yang berbeda setiap harinya, saat itu Agram mabuk berat Agram menjambak, menampar, memukul, menendang bahkan Veronica hampir di lecehkan kalau saja Rania tidak datang.
Veronica bingung kenapa Rania membela dirinya? Di satu sisi dia senang tapi di satu sisi dia menyesal, karna saat itulah terakhir kalinya dia melihat Rania bernafas, karna tiba-tiba saja Agram mengeluarkan pisau dari kantungnya dan menggoreskannya ke tangan tepat di nadi Rania, Veronica menghampiri Rania yang sudah tergeletak tak berdaya, ternyata Rania masih bernafas, Rania membuka matanya dan mengasih selembar kertas dan uang untuk Veronica lalu menyuruh Veronica pergi, Veroncia hanya mengangguk patuh.
Flashback Off
"Apa surat itu ada?" Veronica mengangguk dan memberikan selembar kertas dan memberikannya kepada Dimian.
V aku tau kau pasti membenci mom-mu ini kan? Maaf aku belum bisa menjadi ibu yang baik, dulu aku memang sangat membencimu , karna dirimu, hubunganku dengan Agram hancur, tapi lama-lama aku menyayangimu, walau tidak kutunjukan secara langsung, aku bangga mempunyai putri yang pintar, lomba dan mendapat rangking 1 se-amerika? Kau pasti bertanya bagaimana aku tau, aku tau dari laci mejamu, jika kau melihat dengan jernih, aku datang saat kau menerima penghargaan, maafkan ibumu ini V, pergilah yang jauh dari Agram, dan ubah nama belakangmu menjadi nama belakangku. Veronica Jillia Hylton menjadi Veronica Jillia Verisyka. Aku mencintaimu V.
~Rania Lily Verisyka
"V percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu," Veronica hanya mengangguk dan langsung berhambur kepelukan Dimian.
"Thank you Dim," lirih Veronica dengan sedikit isakan.
Dimian berjanji pada dirinya bahwa dirinya akan selalu melindungi gadisnya dan tak akan melepaskannya.
"Maaf tuan, kita sudah sampai," ucap Josh mengejutkan keduanya, Veronica langsung buru-buru melepaskan pelukannya.
"Yatuhan aku berantakan sekali Dim."
"Kau tetap terlihat cantik," ucapan Dimian langsung membuat Veronica tersipu.
__ADS_1
"Jangan menggodaku tuan! Aku harus memoles wajahku dulu," ucap Veronica sambil mengeluarkan lip balm and powder.
"Bahkan kau sudah cantik tanpa kedua benda itu."
"Powder hanya untuk menghilangkan mata pandaku," Dimian hanya mengangguk dan melihat Veronica yang sedang berias.
"Sudah."
"Yasudah ayo," ucap Dimian lalu keluar dari mobilnya, Dimian mengulurkan tangannya saat Veronica keluar, Veronica menerima uluran tangan Dimian.
"Dimian aku deg-degan."
"Keep calm babe," mereka pun melangkahkan kakinya kedalam mansion besar.
"Dimian! Ah akhirnya kau datang," ucap seorang pria baruh baya yang mirip dengan Dimian, dan dapat dipastikan dia adalah Mr Althaf yang tak lain papa Dimian.
Dimian hanya menyugingkan senyumannya kecil, Veronica yang melihat kejanggalan terhadap keluarga ini hanya diam.
"Ah kau siapa gadis manis? Apa kau tunangannya Dimian? Aku Daniel Althaf, kau sebut saja aku papa seperti Dimian," Veronica hanya mengangguk ragu.
"Ba-Baik papa, namaku Veronica Jillia Verisyka," mata Daniel langsung membulat.
"Kau Jill? Kau sudah besar ternyata."
"Anda mengiatku tuan?"
"Sudah kubilang panggil aku papa, jangan terlalu formal aku sudah lelah dengan formal," Veronica terkekeh mendengarnya.
"Jadi, papa masih ingat aku?"
"Tentu saja, kau bagai putriku sendiri," ucap Daniel lalu memeluk Veronica.
"Dimian? Itukah kau?" Tanya seorang wanita paruh baya, Veronica menoleh ke sumber arah, dan melepaskan pelukan Daniel.
"V ayo kita keatas," ucap Dimian lalu langsung menarik tangan Veronica, Veronica menunduk sopan saat melewati Daniel dan wanita paruh baya tadi.
"Ada yang aneh," batin Veronica curiga.
__ADS_1
TBC