My Possessive Jerk

My Possessive Jerk
Black Of Helmond


__ADS_3

"JILL!!!" Teriak Dimian panik karna tiba-tiba ada yang menembak ke arahnya, tapi karena posisi Veronica yang memeluknya jadi yang terkena peluru bukan dirinya melainkan Veronica.


"Di.. Dimian, sa-sakit," ucap Veronica dengan tertatih-tatih, Dimian yang mendengarnya sangat mengiris hatinya.


"CARI PELAKUNYA SAMPAI DAPAT!" Bentak Dimian dengan keras, para bawahannya pun langsung bergerak, sedangkan para tamu dan wartawan sudah mengelilingi Veronica dan Dimian.


"Jack telfon ambulan," ucap Dimian dengan datar, Jack langsung menelfonnya.


"Bertahanlah Jill."


"Sa-sakit," ucap Veronica lalu pandangannya gelap.


"Jill buka matamu, hey," ucap Dimian sambil menepuk pipi Veronica pelan.


"Tuan, ambulan sedang menuju kemari."


"Suruh mereka untuk cepat, jika mereka terlambat sudah kupastikan mereka semua kena imbasnya," ancam Dimian dengan kesal, Jack mengangguk dan menunduk hormat.


Tak lama ambulan pun datang, Dimian langsung mengangkat Veronica dan menidurkannya di bangkar, bangkar pun langsung di masukan ke Ambulan lagi, mereka memilih untuk ke rumah sakit terdekat, dan yang terdekat adalah Althaf Hospital, di sepanjang jalan Dimian terus memegang tangan Veronica. Mereka pun sampai di Althaf Hospital dan langsung di bawa ke ICU.


"Maaf tuan Althaf, kau bisa tunggu disini, biar kami yang menangani," ucap suster itu dengan sopan sedangkan Dimian mengacak-acak rambutkua frustasi, karna dia ingin di samping Veronica.


Pintu pun di tutup oleh suster tadi, Dimian duduk di kursi tunggu dan merampalkan doa semoga gadisnya itu baik-baik saja. Dokter keluar dari ruang ICU, buru-buru Dimian menghampiri sang dokter.


"Dok, bagaimana keadaan tunangan saya?"


"Pelurunya sudah saya ambil dan pelurunya tidak melukai organ tubuh pentinnya, hanya tinggal menunggu pasien sadar," penjelasan dari dokter membuat Dimian menghela nafas lega.


"Terimakasih dok."


"Sudah menjadi tugas saya, kalau begitu saya permisi, dan pasien akan di pindahkan keruang inap," Dimian mengangguk, dokter pun pergi dari hadapannya.


Dia melihat suster sedang mendorong bangkar yang berukuran besar dan dia tau yang di bawa suster itu adalah Veronica, Dimian memilih mengikuti Veronica dari belakang, pandangannya sungguh sangat sedih dan kosong. Setelah Veronica di pindahkan, Dimian menunggu Veronica siuman sampai akhirnya Dimian tertidur dengan terduduk di samping bangkar dan tangannya yang terus menggengam tangan Veronica.


+++


Veronica membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu, "Eugh..." ringisnya saat dia merasakan pusing di kepalanya, saat dia mau menggerakan tangannya dia tidak bisa karna ada suatu yang menindih tangannya, dia pun nelihat ke arah tangannya ternyata Dimian. Dimian lah yang menahan tangannya, dengan satu tangan yang tidak di tahan Dimian, Veronica mengelus puncak kepala Dimian.


"Ehm..." Dimian membuka matanya dan langsung melihat Veronica.

__ADS_1


"Veronica?! Kau sudah siuman? Syukurlah!!!" Ucap Dimian dengan senang, sedangkan Veronica menatap Dimian dengan pandangan bersalah.


"Maafkan aku Dimian, kau jadi terbangun."


"Hey, itu tidak masalah, maafkan aku karna aku tertidur ya?"


"Tidak! Aku yang salah, maafkan aku," ucap Veronica dengan tatapan mohon.


"Baiklah, tapi maafkan aku juga," Veronica mengangguk senang.


"Huft! Aku kembali lagi ke tempat ini! Aku ingin pulang Ed!" Ucap Veronica dengan kesal, karna dia kembali lagi ke Rumah Sakit.


"Tunggu sampai di perbolehkan," mendengar itu Veronica mengerucutkan bibirnya.


Tiba-tiba Dimian mendapat telfon dari Jack, dia pun meminta izin Veronica untuk keluar, Veronica hanya mengangguk walau dia nasih kesal.


"Hallo tuan?"


"Ya?"


"Kami belum menemukan pelakunya tuan, tapi yang pasti, dia sebenarnya ingin menembak anda tuan, tapi karna posisi anda dengan nona jadi yang tertembak adalah nona."


"Baik tuan."


Pip.


Dimian sudah emosi! Bagaimana bisa anak buahnya tidak bisa menemukan pelakunya? Siapapun yang sudah main api dengannya, sudah di pastikan hidupnya tidak akan tenang.


"AAAAA...!!!!! Lepaskan!" Dimian yang mendengar teriakan Veronica langsung kembali ke kamar tetapi pintunya terkunci.


"SIAL!" Umpatnya dengan kesal, dia pun berusaha mendobrak pintunya.


"Diam kau! Kau sekarang miliku gadis kecil," ucap seorang laki-laki dari dalam kamar Veronica, tentu Dimian sudah naik pitam.


BRAKKK....


Pintu terbuka dengan lebar, Dimian langsung melihat Veronica sedang di tondong pistol oleh seorang laki-laki yang Dimian tak mengenalinya karna laki-laki itu di tutupi masker.


"Diam! Atau dia kutembak," ancam laki-laki itu ketika Dimian mendobrak pintu.

__ADS_1


Dimian mengangkat tangannya, beberapa security sudah datang tapi Dimian menyuruh diam, karna dia tak ingin laki-laki itu melukai gadisnya. Sedangkan Veronica sudah menangis, dan Dimian melihat itu, dia benci ketika gadisnya menangis jadi dia harus bersikap tenang. Laki-laki itu membawa Veronica keluar dengan langkah perlahan, Veronica hanya di jadi tameng bagi laki-laki itu, setelah sekiranya dia bisa pergi, laki-laki itu mendorong Veronica, karna dia masih lemas, dia jadi tidak bisa menyeimbangkan dirinya hingga tersekukur di lantai. Laki-laki itu sudah pergi, Dimian menyuruh pengawalnya untuk mencari laki-laki itu.


"Jill maafkan aku karna meninggalkanmu, aku tak akan meninggalkanmu lagi sayang," ucap Dimian sambil menggendong Veronica ala bridal style sedangkan Veronica hanya diam karna shock.


Dimian membaringkan Veronica ke bangkarnya lagi dan mengelus dahi Veronica dengan lembut, "Tidurlah."


"A-Aku takut Dimian," ucap Veronica dengan gemetar.


Dimian yang melihat gadisnya ketakutan membuat sesuatu dalam dirinya keluar, dia berjanji akan membunuh siapa pelakunya!


"It's okay baby, aku akan menunggumu disini," ucap Dimian berusaha menenangkan tunangannya.


Veronica mengangguk sambil menarik tangan Dimian, ia tidak mau di tinggal Dimian lagi karna takut, apalagi saat pistol yang berada di pelipisnya. Dimian hanya tersenyum melihat Veronica mencari ketenangan dengan lengannya, dengan menggunakan tangan yang satunya Dimian mengecupnya dan mengelus dahi Veronica dengan lembut sampai gadis itu tertidur.


"Maaf V aku harus pergi dulu, karna ada yang ingin bermain dengan seorang Althaf," ucap Dimian sambil mengecup dahi Veronica dan dia pun keluar dari kamar inap Veronica.


"Kau jaga Veronica, kalau sampai Veronica tergores sedikit pun aku tak segan-segan membunuh kau dan juga keluargamu," ancam Dimian dengan tatapan elangnya, membuat pengawalnya bergidik ngeri.


"Dan kau jaga Veronica di dalam," sambung Dimian sambil menunjuk beberapa pengawal wanita, ya tentu saja dia tidak ingin ada pria lain selain dirinya.


"Jack, ikut aku."


"Baik tuan," ucap Jack sambil menyusul Dimian karna memang langkah Dimian yang sangat lebar dan cepat.


"Apa pelakunya sudah di temukan?"


"Sudah tuan, dia salah satu mafia anggota baru dari Black of Helmond, nama samarannya adalah William, dia disuruh oleh ketua dari Black of Helmond untuk membunuh nona dan anda tuan, agar William bisa menjadi anggota sesungguhnya," Dimian mengangguk mengerti, dia sudah tau kalau laki-laki bernama William tadi adalah anggota dari Black of Helmond karna terlihat dari perisai yang ada di bajunya.


"Siapkan semuanya, sudah lama rasanya kita tidak bermain, betul begitu Jack?" Tanya Dimian dengan seringai yang menakutkan.


"Iya tuan, sudah sangat lama."


"Kau ingin bermain?"


"Tentu tuan," Dimian yang mendengar jawaban dari Jack langsung menyeringai tajam, sungguh dia tak sabar, karna dia sudah lama tidak bermain, mungkin sudah sekitar 2 minggu.


"Karna bagiku jika ada yang menyentuh gadisku sama saja kau membangunkan sisi iblis dalam diriku," Jack sudah hafal dengan tuannya tapi dia tak pernah melihat Dimian semarah ini, mungkin efek dari seorang Veronica.


TBC

__ADS_1


__ADS_2