
"Oh shit!" Pekik Dimian saat melihat wajah Veronica tidak ada di permukaan air.
Dimian langsung menghampiri tubuh Veronica dan mengangkat wajah Veronica terlebih dahulu.
"Jill, are you okay? Hey! Open your eyes please..." ucap Dimian sambil sesekeli menepuk pipi Veronica.
Dimian sedikit meringis saat melihat bibir Veronica membiru, tubuhnya yang sangat dingin.
Karna tidak ada respon dari Veronica, Dimian sedikit memberi napas tapi tetap tidak ada respon akhirnya Dimian menggendong tubuh Veronica sebelum menggendong, Dimian menutup tubuh Veronica dengan handuk terlebih dahulu.
Dimian menaruh tubuh Veronica di ranjangnya, "JACK!" Panggil Dimian dengan kencang.
"Iya tuan?"
"Panggil dokter Justin, cepat! Aku tidak peduli jika dia sedang menjalankan operasi besar! Aku ingin secapatnya, jika telat sedikit saja akan kubunuh kalian semua!" Ucap Dimian dengan tajam.
"Ba-Baik tuan," ucap Jack terbata-bata karna Jack baru pertama kali melihat tuannya seperti ini karna seorang gadis.
"Dan panggil Isabella sekarang," ucap Dimian yang di angguki oleh Jack lalu berjalan keluar.
Tak lama Isabella datang, Isabella adalah salah satu maid di mansion-nya.
"Cepat pakaikan Veronica baju, saya akan menunggu di luar," perintah Dimian dengan datar, Isabella hanya mengangguk patuh, Dimian pun berjalan keluar sedangkan Isabella memakaikan baju Veronica.
Setelah selesai memakaikan baju, Isabella keluar dari kamar, Dimian pun masuk kedalam kamarnya dan melihat gadisnya yang terbaring lemah, tak lama Dokter Justin datang.
"Cepat periksa gadisku," Dokter Justin hanya mengangguk karna sudah hafal sifat Dimian yang memang menyebalkan.
"Fisiknya lemah, harus banyak minum vitamin, jangan membuatnya terluka mau fisik atau pun batin, Mr Althaf... saya takutkan dia depresi, jadi mohon jangan membuatnya terluka," saran Justin membuat Dimian mengangguk.
"Iya."
"Kalau begitu saya permisi," Dimian hanya mengangguk dengan mata yang masih terpaku kearah Veronica.
Dimian memang sengaja tidak membawanya kerumah sakit, karna percuma, Veronica akan meminta pulang sambil merengek dan jika tidak dituruti maka dia akan di diamkan, Dimian tidak bisa di diamkan oleh gadisnya.
"Eughh..." mendengar ringisan itu Dimian langsung menghampiri Veronica.
"V? Kau tak apa?" Veronica membuka matanya perlahan dan melihat Dimian yang di depannya.
Veronica mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba memfokuskan pandangannya.
"V?" Panggil Dimian karna sedaritadi Veronica tidak menyahut.
Veronica mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi tiba-tiba dia teringat kejadian kemaren. Veronica langsung mendorong dada bidang Dimian tapi tenaganya tentu tidak berefek sama sekali.
"Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu!" Lirih Veronica dengan wajah kesal dan sedih bercampur.
"What's wrong V? Just tell me!" Veronica hanya diam dengan air mata yang mengalir.
"I'm fine, just go away!"
"If I don't wanna go?" Tanya Dimian dengan wajah datarnya.
"Just leave me alone Dimian," lirih Veronica dengan mata terpejam.
"Beritahu aku terlebih dahulu V!"
"Nanti saja, sekarang pergi!" Ucap Veronica dingin dan membuka matanya, menatap tajam Dimian.
"Baiklah, jangan melakukan hal aneh oke? Love you," ucap Dimian lalu mengecup kening Veronica dengan lembut.
Dimian pun meninggalkan Veronica di kamarnya dengan setengah hati, apa yang membuat gadisku seperti itu? Batin Dimian bertanya-tanya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada sebuah telfon masuk.
Kayla's Dominique Calling
Dimian menghela nafas malas dan mengangkatnya.
__ADS_1
"Dimian, aku rindu denganmu,
aku ingin bertemu."
"Tidak bisa."
"Kenapa sweetheart? Kau tidak ingin
gadismu kenapa-kenapa kan?
"Shit! Fine, where?"
"Aku ingin pergi ke Mall dan kau
jemput aku sekarang."
"Ya oke."
"Oke, love you babe."
Pip
Dimian menghela nafas dengan kasar, dia harus sabar sampai waktunya tiba, Dimian memang sengaja tidak memberitahu yang sebenarnya karna dia tidak ingin Veronica marah atau apapun itu.
Tapi sekarang gadis itu sudah marah dan dia sama sekali tidak tau apa penyebabnya, rumit sekali masalahnya. Dimian memilih kekamarnya untuk mengambil kunci mobil dan pamit.
Ceklek...
Dimian melihat seorang gadis sedang meringkuk seperti janin, wajahnya yang cantik, dia pun mengelus pipi Veronica sebentar.
"Aku pergi dulu ya sweetheart, maaf merahasiakan ini padamu, love you," ucap Dimian lalu mengecup kening Veronica.
Setelah selesai dia langsung menyambar kunci mobilnya dan segera pergi ke apartement Kayla dengan rahang yang mengeras.
Tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di apartemet Kayla. Dimian pun mengirim pesan ke Kayla.
Kayla Dominique
Oke.
Dimian tidak berniat membalasnya pun langsung beralih ke pesan Veronica.
My Lovely Fiance💍
Babe, aku pergi sebentar, tidurlah
dan jangan menungguku, satu lagi!
Jangan berbuat hal yang melukai
dirimu, love you XOXO.
Setelah mengetik itu, Dimian langsung menoleh kesamping saat mendengar pintu penumpang terbuka.
"Hi babe," sapa Kayla dengan senyumannya, Dimian hanya menaikan sebelah alisnya.
"Kemana?"
"Mall biasa," ucap Kayla dengan senang, Dimian tidak membalas sama sekali dan langsung melajukan mobilnya.
+++
Veronica terbangun dengan mata yang berat, ya dia menangis jadi saat membuka mata pasti terasa berat, bengkak dan pusing.
Veronica mencoba meraih ponselnya dan melihat apa ada telfon atau pesan yang penting, dia melihat sebuah notif dari Dimian, tanpa pikir panjang dia membukanya.
My Possessive Jerk🖕🏻❣️
Babe, aku pergi sebentar, tidurlah
__ADS_1
dan jangan menungguku, satu lagi!
Jangan berbuat hal yang melukai
dirimu, love you XOXO.
Ya.
Veronica menutup ponselnya dengan kesal! Dia akan mengira Dimian akan merawatnya dan menjelaskannya tapi percuma, Dimian tetap Dimian, Dimian yang tidak mengerti perempuan.
Veronica memutuskan mengambil gunting, sudah lama rasanya dia tak melakukan ini dan sekarang dia sangat ingin melakukannya.
Srettt....
Srettt....
Veronica tersenyum melihat karyanya, dia membuat karya dengan gunting adalah huruf, huruf D, indah bukan?
Setelah selesai dia pun mencuci tangannya dan memperban sendiri tanpa rasa sakit, tak lama ada pesan masuk dari ponselnya
Unknown
Hi babe... aku rindu padamu,
cepatlah keluar dari rumahmu.
Who are you?
Me? You forget me?
Just tell me who are you?!
Chill babe, aku tidak bisa memberitahumu sekarang yang pasti, aku mencintaimu, love you.
Wtf! Tell me!
P
P
P
P
Karna tidak dijawab akhirnya Veronica menggeram, dia tidak tau kenapa dia menjadi seperti ini, mudah terpancing emosi.
Dengan penasaran, Veronica pun keluar dari rumah Dimian untuk melihat apa yang ada di luar.
"Nona?"
"Sial! Kau membuatku terkejut Jack!" Ucap Veronica sambil memegang dadanya karna terkejut.
"Maafkan saya nona, nona mau kemana?"
"Aku hanya ingin melihat keluar saja," ucap Veronica dengan jujur, ya memang itu niatnya.
"Kalau begitu saya permisi," ucap Jack lalu menunduk hormat lalu melangkah pergi.
Veronica melanjutkan membuka pintu yang tadi masih setengah, saat dibuka dia melihat sebuah buket bunga, Bunga Mawar Putih kesukaannya dan ternyata ada sebuah notes kecil disana, Veronica pun membacanya.
Hi sweetheart,
I know, I'm a loser. Maaf tidak memberimu langsung karna ini belum waktunya, jika sudah waktunya aku akan menemuimu langsung, bukannya aku tidak berani melawan si Althaf sialan itu, hanya saja aku tidak ingin gegabah. Semoga kau suka Mawar Putih, love you xoxo.
Tidak ada clue sama sekali, di kertas itu bahkan tidak tertera namanya, benar-benar membingungkan.
Tiba-tiba mata Veronica terfokus dengan sebuah mobil, satu laki-laki dan satu perempuan, Veronica memfokuskan ke laki-laki yang menghadap kearahnya, tapi wajahnya tak terlihat karna tertutup oleh sang wanita.
Veronica merasa tidak asing dengan laki-laki itu, Veronica menajamkan penglihatannya tapi tiba-tiba wanita itu mengecup laki-laki itu, seketika mata Veronica melebar karna ternyata laki-laki itu adalah...
__ADS_1
+++++++++++++++++++++++++++++
-To Be Continue-