My Possessive Jerk

My Possessive Jerk
Problem (2)


__ADS_3

Veronica kembali masuk ke mansion Dimian dengan mata yang berkaca-kaca, Veronica memang menahan air matanya karna tak ingin dilihat oleh para maid yang berada mansion Dimian.


Saat sampai kamar dia langsung mengunci diri dan melempar tubuhnya, menggelam wajahnya ke bantal.


Seharusnya dia tau dan mengerti, Dimian yang dulu dan sekarang berbeda, jika dulu dia adalah laki-laki sebagai penyelamatnya maka jika sekarang dia berubah menjadi sosok seperti ayahnya, jerk.


Tok... Tok... Tok...


"V? Kau di dalam?" Tanya seseorang di balik pintu, ya dia lupa jika dia masuk ke kamar Dimian, bukan kamarnya.


Akhirnya Veronica bangkit dan membawa cutter, Veronica membuka pintu kamar Dimian dengan wajah menunduk.


"Maaf, aku mengunci pintunya, aku salah masuk kamar tadi," ucap Veronica dengan purau.


"Kau bisa menggunakan kamarku kapanpun V," ucap Dimian sambil menarik dagu Veronica tapi buru-buru Veronica tepis.


"Aku ingin istirahat," ucap Veronica lalu melangkah pergi tapi baru satu langkah tangan Dimian mencengkal lengan Veronica dan menariknya.


"Ada apa?" Tanya Veronica dengan malas.


"Kau kenapa? Dan luka apa ini?" Tanya Dimian sambil memperlihatkan lengan Veronica yang di perban.


"Tidak apa-apa, sudahlah aku lelah."


Dimian langsung mendorong Veronica masuk kekamarnya, Dimian mengunci pintu kamarnya, dia memasukan kedua telapak tangannya ke saku celana dan menatap Veronica mendalam.


"Kau kenapa?"


"Aku tidak apa-apa."


"Mencoba berbohong?" Tanya Dimian dengan nada yang mengerikan menurut Veronica.


"Ti-Tidak."


Dimian menarik paksa dagu Veronica sehingga mendongak, dia bisa melihat jika mata indah tunangannya itu bengkak. Veronica tenggelam dalam mata biru Dimian yang sungguh menghipnotis.


Tiba-tiba air mata meneres dari mata indah Veronica, Veronica yang sudah tidak tahan langsung memeluk Dimian erat, Dimian tentu saja membalas pelukan gadisnya.


"Kau kenapa sweetheart? Apa ada yang menyakitimu?" Veronica mengangguk cepat.


"Di-Dia menyakitiku, sangat dalam," ucap Veronica sambil memegang dadanya.


"Tapi, aku tidak bisa membencinya, jika aku melihat matanya, aku seakan terhipnotis," Dimian yang mendengar itu langsung menyeringit tidak suka.

__ADS_1


"Dia laki-laki?" Veronica mengangguk membuat Dimian menggeram.


"Kau mencintainya?" Veronica menggeleng cepat.


"Aku tak mencintainya, aku menyayanginya, sangat sayang, dad bilang, jika cinta akan hilang tapi jika sayang tidak akan hilang, jadi aku menyayanginya bukan mencintainya."


Dimian melepas pelukannya kasar, "Kau sungguh memalukan *****! Kau mempunyai tunangan tapi kau menyayangi laki-laki lain, cih! Ternyata semua perempuan sama saja ya!"


Veronica yang mendengar itu hanya menunduk dan tak melawan pembicaraan Dimian, kata-kata Dimian sangat teriang-iang... ! Dia seorang ? Hahaha.


Veronica tersenyum miring, dia tidak boleh terlihat lemah.


"Kau baru sadar jika aku ?" Tanya Veronica dengan senyum miring, tapi jauh di lubuk hatinya dia sangat sakit.


"Jika aku kau apa? Jerk? Bastard? Bukankah kau sama saja denganku?" Sambung Veronica dengan tangan yang di lipat di depan dada.


Dimian menaikan sebelah alisnya tak mengerti, sedangkan Veronica tertawa melihat raut wajah Dimian yang bingung.


"Sudahlah, aku muak denganmu! Kau mengingatkanku kepada the real jerk, kau tau? Kau sama saja dengannya," ucap Veronica lalu pergi dari kamar Dimian menuju kamarnya dan membereskan baju-bajunya dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya.


Dia harus pergi untuk menenangkan dirinya, dia melepaskan cincin yang berada di jari manisnya, sebenarnya sangat disayangkan cincin itu, tapi mau bagaimana lagi?


Setelah semuanya siap Veronica menggeret kopernya keluar.


"Tidak ada, tapi kata-katamu tadi seperti menyuruhku pergi, karna aku sudah tidak dibutuhkan."


"Kau pikir mudah keluar dari sini? Jangan bercanda! Kau hanya milikku, aku tidak peduli jika kau mencintai atau menyayangi orang lain," ucap laki-laki masih dengan nada datar, Veronica sama sekali tidak menoleh kearah lawan bicaranya.


"Jangan egois Dimian! Bagaimana bisa di saat kau menyayangi orang lain di waktu bersamaan."


"Apa kau pernah di ajarkan jika sedang berbicara tatap wajahnya?" Tanya Dimian dengan wajah dinginnya tanpa mengindahkan kata-kata Veronica.


"Aku terlalu muak melihat wajahmu," Dimian yang mendengar itu langsung berjalan dan berdiri di hadapan Veronica, Veronica hanya menunduk.


"Sebenarnya ada apa dengan dirimu?!" Tanya Dimian dengan wajah frustasi.


"Aku tidak apa Dimian! Lebih baik sekarang kau minggir! Kau menghalangi jalanku," baru satu langkah, tapi Dimian sudah mencengkal lengan Veronica.


"Katakan!" Veronica hanya diam enggan memberitahu.


"KATAKAN!" Bentak Dimian dengan keras membuat Veronica mengigit bibir bawahnya takut, beberapa bodyguard dan maid melihati mereka.


"APA KALIAN DI GAJI UNTUK MENGUPING?!" Bentak Dimian lagi membuat Veronica semakin takut, bodyguard dan maid langsung pergi dengan ketakutan.

__ADS_1


"Katakan!" Suara Dimian mengecil tapi sangat dingin.


"A-Aku... tidak bisa... hiks... sangat sulit untuk aku mengatakannya Dimian..." isak Veronica dengan keras, Dimian langsung membawa Veronica menghambur kepelukannya.


"Apa ini tentang laki-laki itu? Seberapa menyayanginya kau?" Tanya Dimian masih dengan dingin.


"Aku sangat menyayanginya, saat bertemu dengannya aku bisa mengerti jika laki-laki itu berbeda tidak seperti dad ku, tapi dia sudah membohongiku! Dia mengkhianatiku," ucap Veronica dengan purau, sedangkan Dimian sedang menahan amarahnya sekuat tenaga, dia tidak ingin kehilangan gadisnya untuk kedua kalinya, tidak lagi.


"Istirahatlah, biarkan saja kopermu, nanti akan ada yang membereskan, sekarang istirahatlah," Veronica hanya mengangguk lalu pergi keatas dengan pelan.


Dimian mengusap wajahnya kasar, siapa yang kau maksud V? Batin Dimian dengan kesal.


"Apa itu aku? Tapi aku tidak membohonginya bahkan mengkhianatinya, arghh... kenapa wanita susah sekali dimengerti?!" Ucap Dimian dengan kesal dan menendang meja di dekatnya.


Dimian pun akhirnya pergi keruang kerjanya dan memanggil Jack.


"Tuan memanggil saya?" Tanya Jack saat sudah di depan tuannya.


"Cari seorang laki-laki yang dekat dengan gadisku," Jack hanya mengangguk mengerti dan langsung keluar.


Dimian akhirnya membuka laptopnya mencoba membaca E-Mail yang masuk, tapi ada yang aneh, kenapa isinya olshop dan lainnya?


"Sial! Ternyata punya Veronica," umpat Dimian tapi saat ingin me-log out ada yang menarik perhatiannya.


Ada E-mail masuk ke akun Veronica, baru saja terkirim dan sudah dibaca. Tapi ada yang aneh dengan nama akun yang mengirim Veronica pesan.


Vanillachoco.


Itulah nama akunnya yang tertera disitu, karna rasa penasaran yang besar, akhirnya Dimian membukanya, saat ingin mengkliknya tiba-tiba ada suara orang melangkah membuatnya menoleh ke pintu dan berfikir mungkin para pengawalnya. Dia pun beralih ke laptopnya dan saat ingin meng klik...


DOR...


"AAAAA....." mendengar itu Dimian langsung berdiri dan menghampiri sumber suara tanpa pikir panjang.


"V? Kau dimana?" Tanya Dimian dengan panik, ya pikirannya hanya satu, Veronica.


"JILL! JILLIA!!! WHERE ARE YOU SWEETHEART?" Dimian masih berteriak ke penjuru ruangan.


Para pengawal dan maid ikut mencari keberadaan nona nya.


"**** it!"—


+++++++++++++++++++++++++++++

__ADS_1


-To Be Continue-


__ADS_2