My Possessive Jerk

My Possessive Jerk
25. Only mine.


__ADS_3

Veronica tersenyum lebar saat Axwell menceritakan cerita konyol kepadanya.


"Itu sangat menjijikan Ax hahaha..." ucap Veronica dengan tawanya.


"Aku suka senyummu hadir lagi, teruslah tersenyum," ucap Axwell sambil mencubit pipi Veronica.


Veronica mengangguk ragu, karna dia terus saja kepikiran oleh laki-laki brengsek itu, laki-laki yang memakinya, memang hanya sebuah perkataan seperti itu, tapi itu menyakiti hatinya. Dia seorang gadis yang mempunyai kehormatan, tentu saja dia kecewa saat orang yang ia cintai berkata seperti itu.


"V ayo kita pergi ketempat lain," ucap Axwell dengan lembut, Veronica mengangguk.


Mereka pun pergi kesalah satu Cafe untuk meminum coklat panas, karna cuaca diluar mulai dingin.


"V aku menyayangimu," ucap Axwell dengan sungguh-sungguh.


Veronica menatap Axwell lalu tersenyum, "Aku juga menyayangimu, kau sahabatku yang aku sayangi."


Raut wajah Axwell terlihat kecewa, lalu tersenyum lagi, "Ayo kita kembali ke hotel."


"Tapi kita baru sampai," ucap Veronica dengan raut sedih.


"Besok kita kesini lagi, sekarang kita pulang dulu," dengan sangat terpaksa Veronica mengangguk.


Mereka pun keluar dari Cafe tersebut, dan menuju hotel.


"Tidurlah yang nyenyak, besok aku akan mengajakmu ke sesuatu tempat," ucap Axwell sambil mengusap pucuk kepala Veronica lembut.


"Kemana?" Tanya Veronica dengan penasaran.


"Rahasia, pastinya kau akan suka."


Veronica cemberut, "Kau menyebalkan, baiklah, kau pasti tidak akan memberitahuku, walaupun aku memaksa."


"That's ma gurl," ucap Axwell sedikit terkekeh.


"Yasudah, kembalilah ke kamarmu, aku ingin beres-beres," Axwell mengangguk dengan senyum manisnya.


"Baiklah, good night," ucap Axwell dengan senyumnya, Veronica membalas senyuman Axwell, Axwell pun masuk ke kamarnya, begitupun Veronica.


"Kapan pesawat ini mendarat Jack?" Tanya Dimian sambil melihat arlojinya.


"Tuan, anda baru saja bertanya hal yang sama lima menit yang lalu," ucap Jack dengan sopan.1


"Arghh... shit! Ini sangat lama!" Umpat Dimian dengan kesal.


Dimian pun kekamarnya yang berada di Jet Pribadinya, mungkin tidur adalah pilihan terbaik.


"Tuan, bangun tuan," ucap Jack sambil sedikit menepuk pelan Dimian.


Dimian pun terbangun, "Apa kita sudah sampai?"


"Iya tuan, kita sudah sampai," Dimian pun langsung berdiri dan membenarkan tuxedo nya lalu berjalan keluar.


Saat di luar bandara sudah ada mobil yang terparkir, Dimian langsung memasuki mobil tersebut.


"Tujuan kita akan kemana dulu Tuan?"


"Tentu saja, gadisku," supir Dimian langsung mengangguk dan menjalankan mobilnya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Dimian sudah sampai, saat dia ingin turun dari mobilnya, dia melihat seorang perempuan dan laki-laki sedang bercanda ria, rambutnya sangat familiar dia kenal senyum itu, dia kenal rambut itu, dia kenal mata itu.

__ADS_1


"Jill!" Gumam Dimian dengan pelan.


Dimian masih memperhatikan mereka, lalu tak lama mereka memasuki mobil dengan laki-laki itu membuka mobil untuk gadisnya.


"Ikuti mobil itu, dan jangan sampai kehilangan jejak."


"Baik tuan."


Dimian masih memperhatikan mobil yang berjalan di depannya, Veronica hanya miliknya! Tidak ada yang bisa memilikinga selain dirinya!


"Kita akan kemana Ax?" Tanya Veronica dengan penasaran.


"Berhentilah bertanya V, aku akan membawamu ketempat yang indah, kuharap kau menyukainya," Veronica memanyunkan bibirnya, selalu berkata itu setiap kali dirinya bertanya.


"Nah sampai, ayo turun," Veronica mengangguk lalu turun.


Saat Veronica menyapu pandangannya, ada yang menutupu matanya, sebuah kain yang menutup matanya.


"Ax kenapa kau menutup mataku?" Tanya Veronica dengan kesal.


"Sebentar saja, aku akan menuntunmu, kau percaya padaku kan?" Veronica mengangguk, Axwell pun menuntun Veronica pelan-pelan.


"Apakah masih lama?" Tanya Veronica dengan penasaran.


"Sebentar lagi," ucap Axwell dengan tersenyum manis.


"Sampai, biar aku yang membuka penutup matamu, tapi kau jangan membuka matamu dulu, sampai hitungan ketiga, mengerti?" Veronica mengangguk, lalu Axwell membuka penutup matanya.


"1... 2... 3... open your eyes," Veronica pun langsung membuka matanya, dan sesekali mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya.


"WAHHHH!!! Indah," pekik Veronica dengan kagum.


"Kau suka?"


"SANGAT AX! TERIMAKASIH," pekik Veronica lalu memeluk Axwell erat.


"V aku ingin mengatakan sesuatu."


Veronica menatap bingung, "Apa?"


"Aku menyukaimu lebih dari sekedar sahabat, will you be my girlfriend?" Tanya Axwell dengan lutut yang dijadikan penahan badannya dan menatap Veronica lekat.


"Axwell..."


"Just say yes or no V," Veronica mengigit bibir bawahnya, bayangan saat dirinya bersama Dimian tiba-tiba muncul, bagaimanapun dia masih belum bisa melupakan laki-laki itu.


"I'm sorry Ax, aku tidak tau, kau tau aku masih sangat mencintai dia, aku tidak ingin kau menjadi sekedar pelampiasan," ucap Veronica dengan wajah menunduk.


"Aku sudah tau jawabanmu pasti itu, dan karna itu pun aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu," ucap Axwell dengan senyum menyeringai dan tangan kanannya yang dia taruh kebelakang.


Syat...


"Arghhh..." ringis Veronica saat perutnya seperti tersayat dengan tangan Axwell.+


"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain pun tidak bisa, termasuk lelaki brengsek itu! Mengerti?!" Bentak Axwell dengan keras.


Jleb...


"ARGHHH..." teriak Veronica dengan kencang.

__ADS_1


"JANGAN SENTUH GADISKU SIALAN!" Teriak seorang laki-laki dengan kesal.


Jleb...


Laki-laki itu menancapkan pisau ke perut Axwell dengan mata yang membara.


"Argh..." ringis Axwell dengan kencang.


Karna belum puas, laki-laki itu memutar pisaunya dan mengaduk perut Axwell.


"Arghh.... sialan!" Umpat Axwell saat merasakan perutnya seakan di obrak-abrik.


"Sudah kuperingatkan dan kau malah menantangku, sekarang pilihanmu hanyalah neraka!" Ucap laki-laki itu lalu tangannya mengambil pistol.


DOR...


Seketika tubuh Axwell seketika amburk karna laki-laki itu menembak tepat di jantung Axwell, laki-laki itu mendorong Axwell lalu tersenyum menang.


Laki-laki itu beralih ke Veronica, "V are you okay?" Tanya laki-laki sambil mengangkat kepala Veronica.


"Di... Dimian..." ucap Veronica terbata-bata lalu Veronica memejamkan mata.


"TELFON AMBULANCE CEPAT!" Teriak Dimian dengan keras, para pengawalnya pun langsung menelfon ambulance tanpa pikir panjang.


"Dimian tenanglah," ucap seorang laki-laki sambil mencoba membuat Dimian tenang.


"Thank You Gilbert, karna memberitahuku gadisku dimana."


"Chill bro," ucap Gilbert sambil menepuk pundak Dimian.


Tak lama ambulance datang dan membawa Veronica, Dimian tentu saja ikut masuk kedalam ambulance dia tidak ingin gadisnya tersentuh oleh laki-laki lain.


Dimian sedang menunggu Veronica sadar, lukanya tidak terlalu parah karna itu Veronica langsung dibawa ke kamar inap.


"Euggh..."


"Jill kau sudah sadar?" Tanya Dimian saat mendengar erangan yang keluar dari bibirĀ  Veronica.


Veronica mengerjapkan matanya, "Dimian?"


"Iya, ini aku, maafkan aku Jill, jangan tinggalkan aku, ma-" ucapan Dimian terpotong saat jari telunjuk Veronica berada di bibir Dimian.


"Nanti saja, sekarang aku ingin bersamamu," ucap Veronica dengan purau, Dimian tersenyum manis.


"Maaf," gumam Dimian sambil mendekap Veronica dengan erat.


"Dimian, dimana Axwell?" Tanya Veronica sambil menatap mata biru Dimian.


"Dia pergi," ucap Dimian dengan datar.


"Kenapa kau bertanya padanya? Kau belum menyukainya kan?" Tanya Dimian dengan menyipitkan matanya.


"Tidak Dimian, aku hanya bertanya, aku tidak menyangka dia seperti itu," gumam Veronica dengan nada sedih.


"Maka lupakan dia, dia sudah pergi jauh," Veronica mengangguk mengiyakan.


"Maaf bukannya aku ingin berbohong padamu V, aku hanya tak ingin kau pergi dari sisiku karna takut denganku, kau milikku dan hanya milikku, tidak ada yang bisa memilikimu," gumam Dimian lalu mngerarkan pelukannya pada Veronica.


+++++++++++++++++++++++++++++

__ADS_1


-To Be Continue-


__ADS_2