My Possessive Jerk

My Possessive Jerk
Eric.?


__ADS_3

Hari ini Veronica sudah di perbolehkan pulang, tentu saja Veronica yang mendengar itu langsung senang, karna memang dia tak menyukai rumah sakit, rumah sakit hanya untuk orang-orang lemah. Dimian langsung membawa Veronica pulang ke penthouse karna agar dia istirahat.


"Jill, nanti sore aku pergi, kau istirahat saja disini."


"Kau mau kemana?"


"Ke acara pesta ulang tahun perusahaan temanku."


"Kau mempunyai teman?" Tanya Veronica dengan sedikit terkejut yang di buat-buat.


"Untung tunanganku, kalau bukan sudah pasti aku akan membekap mulutmu sampai ke habisan nafas," Veronica bergidik ngeri mendengar ucapan Dimian, sedangkan Dimian terkekeh kecil.


"Ah iya! Aku ikut," ucap Veronica dengan tatapan memelas.


"Tidak, kau harus istirahat," mata Dimian langsung berubah menjadi tajam.


"Ikut atau aku pergi!" Ancam Veronica dengan mata menyipit, bukannya terlihat seram itu malah terlihat lucu bagi Dimian.


"Tapi kan kau—"


"Ikut. Atau. Pergi."


"Baiklah kau boleh ikut, tapi selalu berada di sisiku oke," ucap Dimian dengan lembut, Veronica langsung memeluk Dimian.


"Oke boss."


"Kita ke pesta jam tujuh, bersiaplah," Veronica langsung lari ke kamar mandi. Dimian melihatnya hanya terkekeh kecil, lucu sekali gadinya itu.


+++


Mereka sudah sampai di hotel berbintng 5, tepatnya acara pesta ulang tahun perusahaan sahabat Dimian di selenggarakan. Veronica sedikit gugup karna banyak wartawan yang memotretnya, Veronica mengeratkan pegangannya pada lengan Dimian dan sedikit menunduk karna malu.


"It's okay, I'm here V," ucap Dimian berusaha menenangkan tunangannya itu, sedangkan Veronica hanya mengangguk.


Mereka pun sudah sampai di aula hotel, mereka langsung di hadiahi tatapan kagum, sinis, iri dan lain-lain. Ya mereka iri karna Veronica berada di samping salah satu billionaire yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis.


"Cih ***** pasti dia cuman mau harta Dimian," cibir salah satu gadis yang melihat Veronica dengan sinis.


"Benar! Dan lihat lah kampungan sekali dia, dia sepertinya juga tidak tau apa-apa."


"Benar-benar tidak cocok."


Veronica yang mendengar itu makin menundukan wajahnya dan mengeratkan tangannya di lengan Dimian, Dimian yang tau gadisnya takut langsung berhenti berjalan dan menoleh ke arah gadis yang mencibir Veronica.


"Maaf nona-nona," ucap Dimian dengan sopan, gadis-gadis yang tadi mencibir tersenyum girang, karna seorang Dimian Althaf bicara padanya.


"Iya?" Tanyanya dengan nada seperti seorang jalang, dan sedikit membenarkan pakainnya.


"Apa kau tau lima negara penghasil minyak terbesar?" Tanya Dimian dengan wajah tenang.


"Ahm... Spanyol, France, Italia, Singapore, dan Belanda," jawab gadis itu dengan yakin.


"Bodoh, jawabanmu bahkan tidak ada yang benar, V kau tau?"

__ADS_1


"Ehmm... yang pertama adalah Amerika Serikat dengan produksi 12,31 juta barel perhari, kedua Arab Saudi dengan produksi 11,59 juta barel perhari, ketiga Rusia dengan produksi 10,53 juta barel perhari, keempat China dengan produksi 4,46 juta barel perhari dan yang terakhir Kanada dengan produksi 4,07 juta barel perharinya," ucap Veronica dengan lancar, ya walaupun dia hidup kekurangan itu tidak mempengaruhi otak jeniusnya.


"Terimakasih, gadisku memang pintar," ucap Dimian dengan senyuman manis ke arah Veronica.


"Bohong!"


"Silahkan cek google untuk memastikan, atau kau ingin memberi pertanyaan juga pada gadisku?"


"Negara apa yang penghasil emas terbesar di dunia?" Tanya salah satu gadis itu sambil menatap sombong Veronica.


"China, dengan jumlah produksi 450 ton, dan mempunyai cadangan emas 1.900 ton," ucap Veronica dengan lancar.


Dimian melihat wajah gadis-gadis itu sudah salah tingkah, "Jadi? Veronicalah yang pantas denganku, kau memang mempunyai harta tapi otakmu seperti otak udang," ucap Dimian lalu menarik tangan Veronica.


Sedangkan gadis itu sudah memerah, "Kau jahat sekali," ucap Veronica dengan kesal.


"Sekali-sekali harus di kasih pelajaran," ucap Dimian berusaha menenangkan diri, Veronica tau kalau sedaritadi Dimian menahan emosinya, Veronica mengelus pundak Dimian, seketika amarah Dimian lenyap.


"Kita temui temanku dulu ya," Veronica mengangguk.


"Selamat untung ulang tahun perusahaanmu Ger," ucap Dimian sambil menjabat temannya, temannya pun membalasnya.


"Thank's, by the way who is she? She's so fucking sexy."


"Shut up your fucking mouth Ger!"


"Possessive, huh?" Dimian hanya memutar bola matanya.


"Hey girl, what's you name? By the way I'm Dimian's friend, Gerald James Andreas, just call me Gerald," ucap Gerald sambil mengulurkan tangannya ke araha Veronica.


"Beautiful name for beautiful girl."


"Thank's."


Tiba-tiba tangan Veronica terakir, "Sudah cukup untuk berkenalannya bukan?"


"Chill bro," ucap Gerald sambil tertawa melihat ekspresi cemburu Dimian.


"Dimian aku ingin ke kamar kecil," Dimian mengangguk lalu pamit ke Gerald.


"Aku antar."


"Tidak! Aku bukan anak kecil lagi tau! Udah kau sapa teman-temanmu saja oke," ucap Veronica sambil sedikit mendorong punggung Dimian, walaupun itu tidak berpengaruh sedikitpun.


"Baiklah, kalau ada apa-apa hubungi aku oke, kamar mandinya ada di sana nanti kau belok kanan dikit," jelas Dimian sambil menunjukan arah kama kecil.


"Oke, see you."


Veronica pun melangkahkan kalinya ke kamar kecil yang tadi sudah di beritahu Dimian sebelumnya, sebenarnya dia hanya risih terus berada di samping Dimian, karna itu membuatnya menjadi pusat perhatian. Saat Veronica jalan, dia tak sengaja menabrak seorang wanita.


"Ah maafkan aku nyonya, aku melamun," ucap Veronica sedikit merasa bersalah ke arah wanita paruh baya yang tadi ia tabrak.


"Ah tak apa, kau cantik sekali," ucap wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Veronica tersipu malu, "Siapa namamu gadis manis?"


"Aku Veronica."


"Baiklah Veronica namaku Verina, kau panggil aku dengan sebutan Mama saja oke?"


"Eh? Mama?" Tanya Veronica kaget.


"Iya, karna aku dari dulu sangat ingin anak perempuan."


"Baiklah mama(?)" ucap Veronica dengan ragu.


"Ah kau harus berkenalan dengan putraku," ucap Verina sambil mengeluarkan ponselnya dan menelfon putranya.


Tak lama ada seorang laki-laki dengan wajah tampan datang ke arah mereka, "Ada apa mom?"


"V?!"


"ERIC?!"


"Kalian saling kenal?" Tanya Verina dengan wajah bingung.


"Ah iya, dia temanku saat SHS," ucap Eric sambil merangkul Veronica.


Veronica tidak masalah jika Eric merangkulnya tapi dia hanya takut jika Dimian melihat ini, pasti dia akan marah besar, Veronica hanya tersenyum kaku.


"V apa kau sudah mempunyai kekasih?" Tanya Verina tiba-tiba, Veronica diam, apa dia memiliki kekasih? Tidak! Dia punyanya tunangan!


"Ahm..."


"Aku yakin kau tidak punya kan? Bagaimana jika kau dengan Eric? Eric tampan dan mapan, dan kurasa kalian cocok," ucap Verina dengan senyum mengembang, Veronica hanya tersenyum kecil, Veronica bingung harus menanggapinya bagaimana, karna Eric dulu pernah menyatakan perasaannya juga jadi dia takut.


"Dia tidak bisa dengan anakmu Mrs Clifford, because she's mine!" Ucap seorang laki-laki sambil menarik Veronica dari rengkulan Eric.


"Who are you?" Tanya Verina dengan wajah kesal dan bingung, sedangkan Veronica sudah tau siapa dia, Dimian.


Dimian tak menjawabnya, dia langsung menarik Veronica jauh dari Verina dan Eric. Dimian mernarik Veronica ke arah taman.


"Kau tau? Aku pergi ke kamar mandi mencarimu tapi kau tidak ada, aku kira kau pergi lagi dariku Jill! Jika saja Jack tak menemukanmu sudah ku pastikan semua yang ada di Hall pergi semua!"


"Kau possessive sekali! Bahkan aku tak kemana-mana."


"I'm possessive because you're my fiance! I just keep mine, if they touch you, they can choose, leave from our life or die?" Veronica bergidik ngeri.


"Kau mengerikan!"


"I don't care yang terpenting aku terus bersamamu," ucap Dimian sambil memeluk Veronica.


Tak lama gedung yang di pakai untuk pesta mati, otomatis lampu taman juga mati, Veronica reflex menutup mata, dia mempunyai pobia terhadap gelap, Dimian yang melihat Veronica berkeringat dingin langsung memeluknya.


DOR...


"JILL!!!"

__ADS_1


+++


To be Continue


__ADS_2