
Dimian menaruh tubuh mungil Veronica ke kasur dengan perlahan, setelah selesai dia mencium kening Veronica sebelum pergi, lalu keluar dari kamarnya karna tak ingin mengganggu.
"Ada apa dengannya?" Gumam Dimian sambil memegang pelipisnya.
"Kenapa dia selalu bertanya bagaimana jika dia pergi? Tentu saja aku akan menjaganya bukan?" Sambungnya lalu mengacak rambutnya frustasi.
Dimian memilih untuk menyalakan televisi, seketika matanya membulat melihat apa yang di beritakan! Sekarang dia tau kenapa Veronica hanya diam.
"Shit!" Dia pun langsung menelfon seseorang.
Tuttt....
"Hallo tuan?"
"Hapus berita tentang diriku di televisi maupun di koran! Aku ingin besok sudah tidak ada."
Pip.
Dia langsung memutuskan sambungan telfonnya dan melihat ke arah televisi dengan senyum smirk-nya, "Sayang sekali dia perempuan, mungkin kalau dia lelaki mayatnya sudah ada di sini."
"Ya aku akan segera bertunangan dengannya, kami saling mencintai, dia tidak akan meninggalkanku," ucap perempuan itu dengan senang.
Suara perempuan yang berada di televisi sangat memuakan, Dimian langsung mematikannya dan memilih untuk pergi ke atas melihat keadaan Veronica. Saat dirinya sudah berada di kamarnya, dia melihat Veronica bergerak gelisah.
"Ja-Jangan... hiks... aku akan nurut ayah... momma tolong... sa-sakit hiks..." ternyata mimpi buruk buru-buru Dimian membangunkannya.
"Jill, sayang, bangun hey."
Veronica bangun dan langsung terduduk, nafasnya memburu, Dimian memegang bahu Veronica lembut.
"You okay sweetheart?" Veronica hanya mengangguk.
"Aku ingin membicarakan hal penting."
"Apa?"
"Gadis yang kau lihat di berita, aku tidak tau dia siapa, sepertinya dia jalang yang pernah kupakai, tapi sungguh aku tak mengingatnya apalagi namanya dan aku tidak berciuman dengannya dia hanya mendekatkan diri, lalu kudorong dia, maafkan aku," Veronica melihat manik mata Dimian yang berwarna coklat terang, berusaha melihat apakah Dimian berbohong? Tapi hanya sebuah kejujuran disana.
"Maafkan aku juga," ucap Veronica dengan tersenyum lembut, Dimian pun langsung merengkuh tubuh mungil Veronica.
"Aku suka saat kau cemburu," goda Dimian sedikit terkekeh.
"Aku tidak cemburu!"
"Oh ya? Bagaimana kalau aku kencan dengan perempuan lain?"
"High heels-ku akan bersarang di kepalamu," Dimian hanya terekekeh dan mengacak rambut Veronica.
"Besok aku akan berkerja," ucap Veronica dengan senyum manisnya.
"Tidak! Kau harus istirahat dulu!"
"Aku mau berkerja!"
"Tidak! Biar aku saja yang kerja," ucap Dimian dengan tajam, Veronica membalas tak kalah tajam.
"Yasudah kau berkerja saja sana, saat kau berkerja aku akan menelfon Eric, Damian dan juga Axwell," ucapan Veronica tentu membuat Dimian menatap tajam.
"Baiklah! Kau menang, kau boleh berkerja, tapi sekarang istirahat."
__ADS_1
"Baik boss," ucap Veronica senang lalu tertidur.
+++
Veronica sudah siap dengan pakaian kerjanya lagi, dia pun memilih untuk kebawah, "Jack dimana Dimian?"
"Tuan masih di dalam kamar nyonya," ucap Jack dengan hormat, Veronica mengangguk, tanpa berfikir lagi, Veronica melangkah ke atas lagi untuk ke kamar Dimian.
Tok... Tok...
"Dimian!!!" Tak ada jawaban apapun.
"Dimian! Apa aku boleh masuk?" Tetap tidak ada jawaban, Veronica memilih untuk membuka pintu kamar Dimian.
Ceklek...
"Dimian?" Panggil Veronica saat melihat Dimian masih di kasur.
Veronica melangkah mendekat, "Astaga Dimian! Hey Dimian bangun!" Pekik Veronica sambil menggoyangkan tubuh Dimian.
"A-Akuhh... bukan pe-pembunuh..." ucap Dimian terbata-bata.
"Dimian! Wake up!" Ucap Veronica sedikit lebih keras membuat Dimian langsung duduk teekejut, napasnya tersenggal-senggal.
Dimian melihat kearah Veronica dan dengan tiba-tiba dia memeluknya, "Don't leave me again, don't you dare leave me again!" Veronica diam dan mengusap lembut punggung Dimian memberikan kekuatan untuk laki-laki di depannya.
"I never leave you," ucap Veronica lembut.
"Kau sudah siap? Aku ingin bersiap dulu," ucap Dimian lalu mengecup kening Veronica sebelum melangkah ke kamar mandi.
"Astaga kenapa jantungku berdebar? Tidak, ini tidak boleh terjadi!" Gumam Veronica sambil menggeleng keras.
"Astaga kau membuatku kaget Dimian! Kau sudah selesai mandi? Cepat sekali."
"Kita sudah telat, ayo," ucap Dimian lalu menarik tangan Veronica.
"Eh tunggu," ucapan Veronica membuat Dimian berhenti dan menatap Veronica dengan pandangan bertanya.
"Dasi mu belum benar, sini," ucap Veronica lalu membenarkan dasi Dimian.
"Selesai."
"Thank you beb," ucap Dimian lalu memgecup kening Veronica.
"Kenapa kau selalu menciumku tanpa izin?" Tanya Veronica dengan kesal.
"Berarti kalo izin boleh?" Tanya Dimian dengan wajah menggoda.
"Dasar mesum!" Pekik Veronica lalu memukul Dimian, sedangkan Dimian hanya terkekeh.
Tok... Tok.. Tok...
"Tuan, mobil anda sudah siap," ucapan Jack membuat pukulan Veronica terhenti.
"ASTAGA JAM BERAPA INI?!" Pekik Veronica dengan keras.
"Setengah sembilan," ucap Dimian santai, sedangkan Veronica sudah melebarkan matanya.
"APAAA?! AKU TELAT!" Pekik Veronica lagi membuat telinga Dimian sakit.
__ADS_1
"Kau lupa kalau tunanganmu yang punya mall itu?"
"Aku tidak lupa, tapi tetap saja itu tidak adil bukan? Sudahlah aku berangkat dulu."
"Ayo kita berangkat bareng, kau tenang saja kita tidak akan telat," Veronica hanya menurut saat tangannya di tarik Dimian.
Dimian membawanya ke Helipad dan sudah ada Helikopter disana, Veronica terpana karna biasanya dia hanya akan lihat lewat televisi dan yang biasanya sudah terbang.
"Ayo," tarik Dimian lagi dengan lembut.
Veronica memasuki helikopter dengan Dimian yang duduk di sampingnya, "Aku takut."
"It's okay, ada aku."
Helikopterpun mulai terbang dan jalan, Veronica menarik napasnya perlahan agar membuat dirinya tenang, tiba-tiba ada tangan yang memegangnya, ternyata itu tangan Dimian, Veronica menatap Dimian dan tersenyum lembut.
"Tuan kita sudah sampai di helipad Althaf's Mall," Dimian mengangguk lalu membuka sabuk begitupun dengan Veronica.
"Ayo," Veronica mengangguk.
"Sudah kau antar sampai sini aja, aku akan kebawah sendiri," ucap Veronica sambil tersenyum hangat.
"Tidak aku mau sampai bawah."
"Tidak usah Dimian! Sudah sana hush hush..." ucap Veronica sambil mengibaskan tangannya seperti mengusir kucing.
"Kau mengusirku?"
"YA! Udah sana!" Ucap Veronica dengan ketus, membut Dimian terkekeh lalu mengecup bibir Veronica membuat Veronica merona.
"Aish... kau ini! Kau tak lihat disini ada Jack dan para pengawalmu?"
"Saat bersamamu aku hanya lihat kau," Veronica merona seketika tapi di tutupi oleh wajah kesalnya.
"Dasar tukang rayu."
"Hanya padamu beb," ucap Dimian dengan wajah menggoda.
"Sudah sana!"
"Baiklah, see you jangan genit dengan laki-laki lain oke."
"Iya!" Ucap Veronica ketus, Dimian terkekeh kecil lalu memasuki helikopternya lagi, saat sudah terbang Veronica memasuki Lift yang berada di mall tersebut.
Saat sudah sampai di lantai ia berkerja, Veronica melangkah keluar dari dalam lift, karna terlalu asyik dengan ponselnya dia tidak melihat kedepan alhas dia menabrak seseorang.
Bruk...
"Awshh," ringis perempuan itu.
"Astaga maafkan aku," ucap Veronica dengan menundukan kepala.
"Lia?!" Pekik gadis yang baru saja di tabrak
"Lisa?!" Pekik Veronica dengan mata membulat
++++++++++++++++++++++++++++
-To Be Continue-
__ADS_1