
"Lisa?!" Pekik Veronica dengan mata membulat.
"Astaga aku sangat merindukanmu!!!" Pekik perempuan yang di panggil Lisa atau lebih tepatnya Melissa.
"Aku juga! Kau kemana aja?" Tanya Veronica dengan semangat.
"Seharusnya aku yang bertanya bodoh!" Ucap Melissa sambil menoyor kepala Veronica, membuat Veronica cemberut.
"Aku pindah."
"Pindah? Memang kenapa dengan Apartement-mu?"
"Di jual oleh seseorang," ucap Veronica dengan wajah kesalnya, dia jadi teringat saat Dimian menjual apartementnya tanpa sepengatahuan dirinya.
"Siapa?"
"Nanti akan ku ceritakan, sekarang aku harus berkerja dulu, nanti aku akan memberimu pesan, see you," ucap Veronica lalu melangkah pergi.
Saat Veronica sampai di tempat dia berkerja, seluruh tatapan menuju padanya ada yang memberi tatapan sinis dan juga ada yang bingung.
"Cih! Dari mana saja kau anak haram?! Kau tidak tau Mall buka jam sembilan?!"
"Aku tau, maaf aku telat," ucap Veronica dengan menunduk, ya karna ini memang kesalahannya.
"Karna kau telat, kau bersihkan lantai ini, baru kau bereskan tas-tas nya, aku tau kau hanya ***** Mr Althaf, jadi cepat bersekan!" Suruh Lary sambil memberikan alat bersih-bersih lantai, Veronica hanya menerima dengan pasrah.
Sebenarnya dia kesal karna di bilang ***** dari Dimian padahal Dimian tidak seperti itu, ingin sekali Veronica mencakar wajah Lary, tapi waktunya tidak tepat, jadi dia memilih memendamnya.
"V kau dari mana saja?" Tanya Very dengan nada khawatir.
"Aku? Dari rumah(?)"
"Ck maksudku, kenapa kau telat?" Tanya Very dengan gemas.
"Ada sedikit kendala tadi jadi aku sedikit telat," Very hanya mengangguk mengerti.
"Ah iya hari ini ada pegawai baru dan dia laki-laki, namanya Axwell."
"Wait! What?! Axwell? Axwell Holland?" Tanya Veronica memastikan.
Very mengangguk, "Bagaimana bisa kau tau?"
"He's my bestfriend! Where he is?"
"Dia sedang ke kamar kecil," Veronixa mengangguk mengerti dan menunggu Axwell dengan tidak sabar.
Tak lama pintu kamar kecil terbuka menampakan seorang laki-laki dengan rambut hitamnya.
"V?!"
"Axwell!!!" Ucap Veronica lalu memeluk Axwell dengan erat, tentu saja Axwell membalasnya tak kalah erat.
"Miss you V."
"Miss you too Ax."
Mereka pun melepaskan pelukannya, "Kenapa kau bisa berkerja disini?"
"Entahlah hanya ingin," Veronica menatap Axwell penuh dengen kecurigaan.
"Aku tau pasti ada yang kau sembunyikan," ucap Veronica dengan mata menyipit.
"Tidak princess, aku hanya ingin berkerja disini dan melihatmu," ucap Axwell lalu mencubit pipi Veronica dengan gemas.
"Swakit Ax!"
"What? I can't hear you," bukannya melepas tangannya, Axwell malah memutar-mutar pipi Veronica."Swial! Lepaswkwan Ax!" Ucap Veronica dengan wajah kesalnya dan itu membuat Axwel terkekeh.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah," Axwell pun melepaskan cubitannya membut Veronica mengelus pipinya.
"Aku ingin kembali berkerja, bye," ucap Veronica lalu kembali membawa alat bersih-bersih lantai.
"Saat jam makan siang aku mau berbicara dengamu," ucap Axwell sebelum Veronica melangkah pergi.
"Oke."
+++
Jam makan siang pun datang, tentu membuat Veronica dan Very sangat senang karna sedari tadi perut mereka memberontak meminta makan.
"Very ayo!" Ucap Veronica dengan semangat.
"Baiklah ayo kita cari makan."
"V kau tidak lupa kan?" Tanya Axwell tiba-tiba yang berada di belakangnya dan menyentuh bahu Veronica membuat Veronica tersentak.
"Shit! Kau mengagetiku Ax!"
"Sorry," ucap Ax dengan sedikit kekehan.
"Apa aku boleh mengajak Very?"
"Emm..." gumam Axwell berfikir, sebenarnya dia hanya ingin makan berdua dengan Veronica.
"Ah tidak usah, aku bisa dengan Fanny dan yang lain, sudah sana kalian berdua saja, bye," ucap Very lalu beelari sebelum Veronica menjawab.
"Dasar Very, yasudah ayo Ax, aku sudah lapar," ucap Veronica lalu menarik tangan Axwell menuju food court.
Mereka pun makan siang bersama. Mereka bercanda dan mengenang saat kuliah bersama, rasanya menjadi Veronica rindu dengan itu semua.
"Kau tau Ax? Aku masih mengingat saat kau terjatuh di tangga saat itu karna kulit pisang," ucap Veronica lalu tertawa yang lumayan keras.
"Hell! Kau masih mengingatnya? Sudahlah aku tau, disitu aku seperti orang bodoh," ucap Axwell dengan malas membuat Veronica tertawa kencang.
"V apa aku boleh tertanya?"
"Itu kau sudah bertanya Ax."
"Benar juga, ah tapi maksudku bertanya hal lain."
"Kau ingin bertanya apa?"
"Dimana kau tinggal sekarang?" Veronica menegang, dia harus jawab apa? Tidak mungkin dia berkata tinggal di penthouse Dimian kan? Bisa-bisa dia di anggap wanita murahan yang tinggal bersama laki-laki.
"Emm itu... aku tinggal di... di... ah di rumah temanku, iya aku tinggal disana sampai aku sudah mengumpulkan uang dan bisa membeli apartement baru."
"Tinggal bersamaku aja," tawa Axwell dengan senyuman manisnya.
"Tidak-tidak aku tidak ingin merepotkan banyak orang, but thanks."
"Padahal aku tidak merasa di repotkan," gumam Axwell dengan lesu.
"Emm lebih baik kita kembali ke toko, ini sudah waktunya," Axwell hanya mengangguk, mereka pun berdiri dan membayar bills mereka.
Axwell merangkul Veronica, Veronica sama sekali tak menolak karna mereka sering melakukannya, ya Veronica memang menganggap Axwell sebagai kakaknya tentu itu tidak jadi masalah bukan?
"V bagaimana jika ada seseorang yang menyukaimu?" Tanya Axwell tiba-tiba, Veronica hanya mengangkat alisnya.
"Mana mungkin Ax, tidak akan ada yang menyukaiku, aku kan anak haram, aku miskin, aku tidak cantik, dan masih banyak lagi."
"Kau bukan anak haram V, kau tidak kaya harta tapi kau kaya hati, kau cantik dan hatimu juga cantik, pasti banyak menyukaimu," ucap Axwell sambil melihat mata coklat Veronica yang sangat indah.
"Semoga yang kau katakan benar Ax," ucap Veronica sambil menatap Axwell lembut.
"Yang kukatan memang benar semua," ucap Axwell dengan semangat, Veronica memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Terserah kau saja Ax."
"Tapi aku bertanya serius, bagaiman jika ada yang menyukaimu dari lama?"
"Mungkin aku harus sangat berterima kasih padanya, aku tidak melarang dia untuk mencintaiku."
"Kau tidak mau membalas perasaannya?"
"Entahlah aku belum siap untuk itu, aku terlalu trauma dengan papaku dulu, aku takut di manfaatkan oleh laki-laki seperti mamaku," ucap Veronica pelan, Axwell tau cerita tentang Veronica, Veronica yang selalu di siksa oleh papanya membuat Veronica trauma dengan laki-laki.
"Aku tau, tapi kau juga harus membuka hati bukan?"
Veronica mengangguk semangat, "Ya, aku sudah mencoba buka hati untuk seseorang, sepertinya aku mulai mencintainya," ucap Veronica dengan senyuman manisnya, mendengar hal itu hati Axwell sakit tapi dia harus tersenyum, ya Axweel menyukai atau bahkan mencintai sahabatnya satu ini sejak lama.
"Siapa orang beruntung itu?"
"Aku malu mengatakannya, aku tidak cocok dengannya, dia kaya, tampan dan sempurna, sedangkan aku.... berbalik dengannya," lirih Veronica dengan wajah sedih.
"Siapa orang itu?"
"Dimian Althaf," ucap Veronica pelan sambil tersenyum senang, hany menyebut namanya, hati Veronica mendadak senang.
Wajah Axwell tidak secerah tadi, Axwell menggeram pelan tapi dia harus menahannya.
"Aku yakin dia mempunya perasaan yang sama denganmu," ucap Axwell sambil memeluk Veronica.
"Aku harap begitu."
BUGH...
"Aaaa..." pekik Veronica saat melihat tubuh Axwell terjatuh.
"Jangan. Sentuh. Miliku."
Veronica hafal suara itu, Dimian. Ya laki-laki itu yang menonjok Axwell sampai tersekukur.
"Dimian?" Dimian tidak mengindahkan ucapan Veronica, matanya masih melihat Axwell.
"Well Mr Althaf, we meet again? Miss me?" Tanya Axwell saat sudah berdiri tegap.
Veronica melihat mereka bingung? Mereka saling mengenal? Dari mana mereka kenal?
"Shut up your fucking mouth Holland!" Ucap Dimian lalu menonjok wajah Axwell lagi.
"Dimian sudah, kumohon," lirih Veronica sambil memegang lengan Dimian.
Dimian berusaha merendam amarahnya yang memuncak, Veronica menyuruh Dimian untuk melihatnya, dan Dimian menurutinya, Dimian melihat mata coklat tunangannya yang meneduhkan.
"Jadi? Seorang Althaf lemah karna seorang gadis? Sejak kapan? Bagaimana jika aku memberitahu ke Veronica jika kau seorang pyschopath?" Veronica menatap Dimian dan Axwell bergantian tak mengerti ucapan mereka.
"Axwell sudah! Jangan memancing Dimian lagi!"
"Veronica Jillia Verisyka, kau seharusnya tau kelakuan busuknya dia."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"DIAM KAU BRENGSEK!"
BUGH...
Tonjokan lebih keras mengenai perut Axwell, "Dim... Dimian... ja-jangan berteriak... a-aku takut..." lirih Veronica sambil menyentuh lengan Dimian lagi, matanya berkunang-kunang.
"Maafkan aku Jill," ucap Dimian sambil menatapa Veronica, Veronica yang sudah tidak kuat akhirnya menutup matanya.
+++++++++++++++++++++++++++++
-To Be Continue-
__ADS_1