
Aku sudah berdiri bersama Very dengan wajah menunduk, aku takut bukan karna Dimian akan marah, tapi aku takut Dimian melakukan tindakan aneh.
"Perhatian! Mr Althaf akan segara memasuki ruangan," aku semakin menundukan kepala.
Tap... Tap... Tap...
Tunggu, apa Dimian memakai heels? Kurasa tidak mungkin, tapi kenapa suara langkahnya seperti suara sepatu dan heels menjadi satu(?) Aku memberanikan diri mendongakan kepala sedikit dan aku melihat perempuan bernama Grace bersama Dimian, Grace bergelayut manja, sedangkan Dimian hanya diam. Apa benar mereka bertunangan? Kenapa tiba-tiba dadaku sakit?
"Veronica Verisyka," aku menegang namaku disebut, ah sial, apa dia akan memarahi dan memecatku karna telah menjambak tunangannya?
"Maju kedepan," Very menyenggol lenganku dengan lengannya.
Aku hanya menggeleng takut, tiba-tiba Very maju kedepan, "Maafkan aku Mr Althaf, tapi ini kesalahanku, kau bisa menghukumku atau memecatku, tapi maafkan Veronica," ucap Very dengan berani, sial! Kenapa Very polos sekali?! Aku tau ini hanya akal-akalan Dimian saja.
"Aku minta Veronica. Se. Ka. Rang," ucapnya penuh penekanan, dasar pria menyebalkan, aku mendongakan kepalaku dengan kesal dan maju ke depan.
"Apa maumu?!" Tanyaku dengan kesal, semua yang melihat terkejut begitupun dengan Jack, karna tidak ada yang berani dengan seorang Dimian Althaf.
Wajah Dimian yang tadi datar sekarang menampilkan senyumannya, "Ahh... sweetheart, kamu ga apa-apa?" Tanya Dimian seraya memelukku, aku yakin Dimian sengaja.
"Hei jalang! Lepaskan pelukanmu dari tunanganku," bahkan tunanganmu duluan yang memelukku.
Dimian melepas pelukannya dan melihat ke arah Grace tajam, "Apa kau baru saja menyebut gadisku jalang?! Hah?! Kau yang jalang! Pergi dari sini sebelum kuhancurkan perusahaan kecil ayahmu tersayang itu," ucap Dimian tajam, Grace langsung berkaca-kaca dan menangis karna malu lalu pergi.
"Are you okay?" Tanya Dimian sambil menatapku sendu dan memegang kedua pipiku.
Aku menepis tangannya yang berada di pipiku, "Aku marah padamu Ed, jangan bicara padaku!" Ucapku lalu pergi, aku yakin semua orang tercengang melihat aksiku, siapa yang berani dengan Dimian selain aku? Tidak ada.
"Ayolah Jill aku hanya tak suka mereka mencelakai gadisku," aku berhenti dan berbalik badan.
"Aku bukan gadismu," ucapku tajam lalu berjalan seperti semula, tapi tiba-tiba aku merasakan pelukan hangat.
"Kau adalah gadisku, and you only mine," ucapnya penuh penekanan.
"Kau bahkan tak pernah memintamu menjadi kekasihmu," ucapku pelan tapi aku yakin Dimian masih mendengarnya.
"Apa itu sebuah kode?"
"Tidak!"
"Kau ingin aku mengatakan romantis?"
"Tidak!"
"Look at me Jill," aku menurutinya dan menghadapnya.
Tiba-tiba Dimian berlutut tetap memegang tanganku, "A-Apa yang kau lakukan? Berdirilah, semua orang melihat kearah kita Ed," pintaku sambil menarik tangannya.
"Just listen me," aku menggigit bibirku, sial jantungku berdegup kencang.
"Aku akan mendengarmu, tapi berdirilah, kau tidak malu?"
"Veronica Jillia Verisyka, aku tidak ingin kau menjadi kekasihku, tapi aku ingin kita menjalankan yang lebih serius, so... do you want to be my fiance? And to be my wife, to be a mother for my child. Always beside me if I sad, happy, rich, poor, healthy, sick. Every second, every minutes, every hour, every day, and every where?" Ucapan Dimian sungguh membuat hatiku berdebar, Dimian pun mengeluarkan cincin berlian dari kantung Jasnya, dia sedang melamarku?
"A-Are you se-serious?" Tanyaku gugup.
"Aku tidak pernah seserius ini."
"Tapi, aku bukan perempuan kaya, cantik dan aku tidak pantas untukmu, aku hanya perempuan dengan masa lalu buruk, aku anak yang tidak pernah di inginkan oleh orang tuaku, karna katanya aku anak sial, tinggal bersama seorang pria brengsek dan wanita seperti malaikat, tapi sekarang aku di tinggal keduanya," ah sial! Aku yakin mataku berkaca-kaca, kalau saja aku berkedip maka air mata itu pasti akan lolos.
"Siapa yang bilang gadisku tidak cantik?! Bahkan gadisku bukan hanya cantik rupa tapi hatimu juga cantik, masalah harta, aku sama sekali tidak pedulikan itu V, aku tidak peduli, aku tidak peduli dengan omongan orang lain, aku tidak peduli dengan masa lalu mu, aku tidak peduli dengan cemohan orang lain terhadapmu, itu bukan salahmu, itu salah orang tuamu, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu V, aku berjanji," aku melihat tepat di manik Dimian untuk mencari kebohongan, tapi hanya ketulusanlah yang berada di sana.
"Kau janji?"
"Janji."
"Okay, My answer is.... Yes, I do, I will always beside you in all conditions, be a good mother for our child, be your wife and be a friend for your place to tell, when you are happy, angry, sad. to be your encouragement, when you're sad, disappointed, and chaotic," Dimian pun tersenyum bahagia, lalu dia menyelipkan cincin di jari manisku, setelah itu dia berdiri lalu memeluku, aku sungguh bahagia.
__ADS_1
"Thank You V , I love you," ucap Dimian lalu mencium bibirku, aku membalasnya.
Sungguh Dimian tidak membiarkanku bernafas, aku memukul punggungnya, agar dia tau aku kehabisan nafas, Dimian cukup mengerti, dia pun melepaskan ciuman kita.
"Apa kau berniat membunuhku huh?" Dimian terkekeh ah indahnya, jangan cabut kesenanganku tuhan.
Semua orang tiba-tiba bertepuk tangan, aku lupa kalau kita berada di Mall, aku pun memeluk Dimian dan menyebunyikan wajahku yang terasa panas, Dimian terkekeh sambil mengusap rambutku.
Aku memukul punggunya kesal, "Kenapa V?" Tanya Dimian sambil melihat kearahku.
"Jangan tertawa, kau terlihat tampan dua kali lipat ah tidak bahkan seribu kali lipat jika tertawa," ucapku dengan kesal, Dimian malah tertawa lebih kencang.
"Kau lucu, possessive huh?"
"Tidak, ah sudahlah lebih baik bawa aku ke tempat sepi, aku malu Ed."
"Aku suka kau memanggilku dengan sebutan kecil kita," aku tersenyum dalam pelukannya, aku melepaskan pelukanku
"Diam kau atau kau kupukul."
"Baiklah Mrs Althaf," ucap Dimian dengan sedikit kekehan.
Mereka pun langsung menuju keluar Mall karna reporter sudah semakin banyak, mereka langsung masuk ke limosin Dimian, karna memang supir Dimian sudah menunggu di Lobby sejak tadi.
"ASTAGA DIMIAN!" Mendengar teriakan Veronica, Dimian sedikit tersentak tapi Dimian buru-buru menetralkan wajahnya.
"Kenapa?"
"Perkerjaanku bagaimana?" Tanya Veronica dengan pandangan sedih.
"Hey, tidak apa kau bisa berkerja lagi besok, walaupun sebenarnya aku tidak setuju," ucap Dimian sambil menoleh ke Veronica.
"Sungguh?!" Tanya Veronica dengan mata berbinar-binar, Dimian hanya mengangguk.
"Kita mau kemana? Sepertinya ini bukan ke arah penthouse-mu."
"APA?! UNTUK APA?!"
"Memperkenalkan calon istriku."
Veronica terlihat gugup, "Si-Siapa?"
"Seorang gadis cantik, polos, pintar, tapi yang terkadang bodoh, tapi dia yang membuatku tidak bisa berpaling," ucapan Dimian membuat Veronica sakit, siapa gadis itu?
"Oh," satu kata yang keluar dari bibir manis Veronica, Veronica tau kalau Dimian hanya berpura-pura melamarnya tadi, dia yakin setelah ini pasti dia di buang.
"Kau tidak ingin tau siapa namanya?"
"Siapa?"
"Veronica Jillia Verisyka."
Verinica tersenyum tapi sedetik kemudian matanya membulat, "KAU GILA?! Aku tidak ingin terburu-buru Dim."
"Tapi aku ingin, agar kau tidak bisa terlepas dariku," Veronica memutar bola matanya malas.
Holla baby girl, your phone is ringing, someone that calls you, quickly pick up the phone.
Suara ringtone dari ponsel Veronica berbunyi, Veronica pun melihat siapa yang menelfonnya dan ternyata orang yang menelfonnya dalah orang yang menjadi ringtone di ponselnya, Axwell. Veronica langsung mengangkatnya, Axwell salah satu temannya saat dia kuliah. Veronica tau kalau laki-laki di sampingnya mengetatkan rahangnya, matanya melirik layar ponsel Veronica.
Hai Ax what happend?
No, i just want call
my friend, apa itu salah?
Of course not
__ADS_1
You know? I miss you so
much baby
Mee too, I'm miss you so so
much
Apa kita bisa bertemu?
Tentu, kapan?
Weekend? Kau bisa?
Akan ku kabari
Oke I love you V
Love you too Ax
Pip.
"Who is Ax?" Tanya Dimian dengan tatapan mengintimidasi.
"My friend."
"Friend? Just a friend? Tapi kenapa sampai mengatakan love huh?" Tanya Dimian tajam, Veronica memutar bola matanya malas, sifat possessive Dimian keluar.
"Ya we just a friend, well Ax itu sudah sebagai kakakku sendiri jadi aku mengatakan love sebagai kakak oke?"
"Tetep saja aku tidak suka! Jangan mengatakan itu selain padaku."
"Baiklah baik," ucap Veronica pasrah dengan sifat possessive Dimian.
"Good, V sebaiknya kamu ganti baju," ucap Dimian sambil menyerahkan paper bag bertulisan Stradivarius, Zara, Mango, Michael Kors, Chanel dan masih banyak lagi.
Veronica menerimanya dia pun melihat gaun itu dan ternyata harganya masih tergantung di bajunya, Veronica membulatkan matanya saat melihat harga yang tertera disitu.
"Aku tidak mau menerimanya," Dimian menaikan alisnya sebelah.
"Kenapa? Apa kau tidak menyukainya? Mau ganti?"
Veronica menggeleng cepat, "Aku menyukainya sangat, tapi harganya sangat mahal Dimian, seharusnya kau tidak menggunakan uangmu hanya untuk gaun ini."
"Tidak masalah jika ini untukmu."
"Aku tidak mau menerimanya, bisa kau belikan gaun yang lebih murah?"
"Yasudah aku buang saja," ucap Dimian santai sambil menarik paper bag itu lagi.
"KAU GILA?!"
"Apa salahku? Kau kan tidak mau, aku tidak mungkin memakai itu."
"Arghh... kau... baiklah aku akan memakainya, puas?!" Ucap Veronica sebal, Dimian hanya terkekeh.
"Aku ganti baju dimana?" Tanya Veronica bingung saat dia ingin mengganti bajunya.
Dimian mengambil remot dan menekan tombol-tombol yang tertera, seketika kaca-kaca tertutup, sehingga tidak terlihat dari luar.
"Sudah."
"Aku tidak ingin mengganti baju di hadapanmu bodoh," ucap Veronica kesal, Dimian terkekeh, lalu memencet tombol lagi, munculah pembatas yang membatasi antar dua ruang dan terdapat pintu di pembatasnya.
"Masuklah dan ganti baju," Veronica mengangguk lalu masuk ke pintu pembatas tadi.
Setelah selesai mengganti baju Veronica keluar, Dimian mengembalikan mobilnya seperti semula, tapi tiba-tiba mobil Dimian berhenti mendadak.
__ADS_1
Pembatas yang membatasi antara supir terbuka, menampilkan Josh sang supir, "Maaf tuan, tapi ada yang tiba-tiba mencegat kita."